
ada rencana. Join ya loe?" Kata Raka ketika
menghampiriku
"Rencana apa?"
"Kita party dipenthouse gue yang baru."
"Penthouse yang baru?"
"Biasa hadiah kelulusan." Terus?
"Ya party. Kita undang Teman - Teman semua
Dresscodenya ala pantai, Terus kita
undang Dj, penari Stripties, banyak alkohol juga, apa nggak sip." Kata Raka dengan tatapan menggoda.
"Hem ntar gue pikir dulu." Sekalian gue mau kenalin cewek gue."
"Bosan gue liat loe gonta-ganti cewek."
"Ini yang terakhir bro, anggap aja PJ(pajak Jadian).
"Kapan emang?
"Malam ini."
"Oke deh. Gue ikut karena hargai loe karena loe teman gue ya."
"Oke bro. Loe pasti bahagia disana."
.
Malam pun tiba, ku lirik jam yang terletak didinding
kamarku. Pukul 9 rupanya.
Ku langkahkan kakiku menuju ruang tamu, mencari sosok Niken. Namun sejak pulang sekolah tadi aku
belum melihat sosok Niken .
Ku putuskan menuju basement tempat mobilku
berada. Ku kemudikan mobil sport milikku menuju
kawasan apartemen elite ditengah kota dimana
penthouse milik Raka berada. Jalanan ibukota terlihat masih ramai karena ini malam minggu.
30 menit kemudian sampai lah aku diapartemen. Setelah ku
parkirkan, berjalan menuju lift yang naik ke lantai
paling atas apartemen itu.
Ketika aku tiba dilantai itu, terdengar suara hingar
bingar dentuman musik Dj. Ku buka pintu besar itu, aku disambut sama Raka. Ia mengenakan kaos polos
berwarna putih dipadukan dengan celana jeans
selutut.
"Hai bro. Datang juga loe." Sapa Raka dengan
senyuman sumringahnya dan kami pun high five.
Digiringnya tubuhku menuju ruang berskat kaca dimana acara berlangsung.
Mataku disuguhkan keadaan yang riuh. Pria dan
wanita berbaur menjadi satu, dipojok dekat kolam
seorang dj yang cukup terkenal dijakarta asyik
meremix musik.
Terdengar musik berdentum keras, berapa orang yang mengenal kami menyapa ku.
Ditengah kolam, ada tiang yang dimana dua orang
penari sedang meliukkan tubuhnya dengan erotis,
__ADS_1
hanya mengenakan bikini berwarna hitam trasparan.
Sekali-sekali terlihat beberapa orang menyelipkan
sejumlah uang di bra bahkan underware milik mereka.
Gila ini party, niat banget si Raka.
"Bro, pesan aja minuman dibar pojokan itu. Gue mau
jemput seseorang dulu, jangan nakal ya." Kata Raka
seraya menyolek pipiku. Ku putar bola mataku
pertanda malas. 30 menit pun berlalu, namun Raka nggak muncul juga.
Gila Raka ini, dianggurinya kita.
Ku putuskan ku cari cowok itu, setelah cukup
mengelilingi penthouse miliknya ku temukan ia sedang asyik ngobrol dengan 2 wanita. Kedua wanita itu membelakangi ku. Yang satu berambut warna
kecoklatan tergerai dan yang satunya kemerahan
tapi modelnya dicepol.
Tapi rasanya dilihat dari tubuh keduanya, mereka
nggak asing bagiku.
Kok nggak asing ya? Tapi ku buang semua pikiran itu dan ku sapa Raka.
"Ka, dicariin juga sekalinya asyik disini."
Mereka pun menoleh, mataku terbelalak kaget
melihat wajah kedua wanita itu.
"Niken? Bianca?"
Niken Pov
Jujur aku nggak tega harus bersikap kasar sama Steven, tapi harus ku lakukan itu supaya dia sadar akan kesalahan.
"Halo. Ada apa?"
"Gue lagi dilokasi photoshoot."
"Kemang. Ada apa? To the point."
"Lalu?
"Kita ketemu dicoffee shop dekat lokasi gue, ntar gue sms alamatnya."
Tut tut Rasanya malas sekali harus bertemu Bianca apalagi
setelah yang dia lakukan padaku.
Tapi aku penasaran dengan apa yang dia mau
katakan, aku harus tetap waspada dengan gadis berambut kemerahan itu.
Saat ini aku sedang menunggu Bianca disebuah
coffee shop dekat lokasiku, kebetulan schedule ku
kosong sampe lusa.
Sesekali ku minum caramel machiato ku.
Cling-cling #belpintu
"Sory gue telat, tadi ada fashion show. Udah lama menunggu? Tanya Bianca padaku. Ku balas dengan anggukan malas.
Bianca pun memanggil pelayan dan memesan Hot Coffee Late. Pesannya pun datang.
"Ada apa loe pengen ketemu? Tanyaku to the point
"Hmm.. ini tentang Steven Nik.." "Ada apa? Apa kalian berkelahi setelah kalian
balikan? Tanyaku bernada sinis
"Kayanya loe salah paham. Gue nggak balikan sama Steven!
__ADS_1
"Maksudnya?
"Waktu ditaman itu aku ketemu Steven untuk membicarakan sesuatu. Memang benar sempat aku
minta balikan ke cowok itu, tapi aku ditolak sama dia."
Ditolak?
"Gue minta maaf atas kelakuan gue kemarin dan gue
sudah putuskan sesuatu dalam hidup gue."
"Keputusan?
"Ya gue putuskan untuk move on dari Steven Gue capek harus berprilaku murahan ke Stev, gue sadar
kalau dia nggak bisa jauh dari loe."
"Tapi pelukan itu.?
"Haha itu pelukan perpisahan dan tanda aku mau move on."
"Kenapa harus seperti itu?"
"Mungkin loe nggak tau, dinegara ku, seperti itu sudah biasa. Dan aku lupa kalau diindo nggak sama.
Niken, steven sangat sayang sama kamu. Gue pengen loe balikan sama dia. Loe yang pantas buat dia."
Tanpa sadar, air mataku menetes perlahan. Gadis
dihadapanku menyodorkan tisu. Segera ku raih dan
menyapu bekas air mata diwajahku.
"Kita bisa teman? Tanya Bianca seraya
menggenggam tanganku. "Dari awal gue juga nggak ada niat bermusuhan sama
loe."
"Sebagai tanda pertemanan kita, ayo kita kagetkan
Steven."
"Caranya?
"Dengan kejutan." .
Gue putuskan mengikuti ide Bianca dan tetap dengan kewaspadaan.
Dibawanya aku menuju sebuah area apartemen elite
ditengan kota.
"Kita mau kemana? Tanyaku heran, Kita ke penthouse nya pacarku."
"Tapi.."
"Tenang loe kenal kok sama dia."
Terlihat Bianca mengakses kode pintu penthouse itu
dan kami pun masuk.
"Yank, kamu dimana?" Teriak gadis itu, nampak dia cari seseorang.
"Aku didapur yank." Sahut seorang cowok
Ada apa sih ini?
"Masak apa yank?" Tanya Bianca seraya memeluk
tubuh cowok itu dari belakang.
Lalu cowok itu mengecup bibir gadis itu dalam-dalam. "Yank, jangan sekarang. Disini ada Niken."
"Astaga. Hai Niken."
"Loe?"
"Yap. Ini gue Raka.. loe masih ingat?" Tanya cowok
berwajah chinese
__ADS_1