Saya Jatuh Cinta Dengan Keponakan Saya

Saya Jatuh Cinta Dengan Keponakan Saya
Tahajud Cinta Di Kota New York


__ADS_3

Tahajud Cinta Di Kota New York


Part 1


jangan lupa like and share!


Happy reading..


“Huft!”


Seruan lega dihembuskan seorang gadis berkerudung panjang biru muda yang baru saja masuk ke kantin kampus. Berjalan terlalu cepat dari gedung kuliahnya hingga ke kantin ini membuat napasnya terengah-engah. Sembari mengatur napas, ia melangkah perlahan menghampiri kedai makanan yang menyediakan beragam menu makan siang hari ini. Saat ia berjalan, ujung baju terusannya yang lebar dan panjang melebihi mata kaki seolah menyapu lantai. Ia mencangklong tas besar di pundak kanannya dan mengapit dua buku tebal di lengan kirinya.


Gadis berkerudung itu mengambil sebuah baki kemudian memilih makan siangnya. Susah payah ia membawa baki makanannya itu sambil tetap mengapit dua buku tebal di elngan kirinya. Kemudian matanya mengamati seluruh ruang kantin. Ini waktu makan siang. Kantin ini dipenuhi mahasiswa-mahasiswi yang asyik menikmati makan siang masing-masing sambil berbincang-bincang satu sama lain. Agak jauh dari tempatanya berdiri, ia melihat kursi kosong di samping seorang gadis berambut merah. Ia segera berjalan menghampiri kursi itu.


“Sorry, this place is not for you!” Seru gadis berambut merah itu dengan suara ketus sambil meletakkan bagitu saja tas besarnya di atas kursi kosong itu.


Gadis berkerudung itu tertegun sesaat, namun tak berkomentar apa-apa. Ia kembali mengedarkan pandangannya ke seluruh ruang kantin. Ia melihat ada satu kursi lagi yang kosong di hadapan sebuah meja bundar yang sudah di kelilingi dua orang pemuda dan seorang gadis. Ia menghampiri kursi itu, berharap ia diizinkan untuk ikut duduk di kursi itu.


“Excuse me, can I…? (Permisi, bolehkah saya…)” belum sempat gadis itu menyelesaikan kalimatnya, pemuda yang duduk di sebelah kursi kosong itu segera meletakkan tangannya di atas kursi itu.


“Sorry, this is my girlfriend’s seat (Maaf, ini adalah kursi pacar saya),” ucap pemuda itu.


Gadis itu menelan ludah. Ia tampak kebingungan. Bagaimana ini? Kedua tangannya mulai merasa kepayahan memegang baki makanan sekaligus dua buku tebal yang berat.


“Hey Arabian Chinese! Just eat your lunch outside. This place is not for you (Hei Cina Arab! Makan saja makan siangmu di luar. Tempat ini bukan untukmu),” ujar pemuda itu lagi dengan pandangan sinis, lalu ia tertawa bersama dua temannya, seorang pemuda dan seorang gadis yang sama-sama duduk mengelilingin meja itu.


“Bryan, why are you so rude?” tegur seorang gadis berwajah menarik berkulit sawo matang pada pemuda itu.


Gadis berpakaian skinny jeans dengan t-shirt berlengan pendek yang pas di badan itu tiba-tiba saja sudah ada di samping gadis berkerudung yang masih memegang baki makanannya. Gadis itu meraih baki yang dibawa gadis berkerudung panjang itu, kemudian meletakannya di atas meja di depan kursi yang masih kosong.


Pemuda yang disebut Bryan itu tampak terpana melihat aksi gadis yang baru datang itu. Gadis berkerudung itu juga hanya bisa tertegun melihat baki makanannya diambil tanpa permisi.


“Please, sit down here, friend! You can eat your lunch here (Silahkan duduk disini, teman! Kamu bisa menghabiskan makan siangmu disini),” ucap gadis bergaya modis itu.


“But…,” sahut gadis berkerudung itu tampak canggung dan ragu.


“It’s okay,” ucap gadis yang menolongnya sambil tersenyum lebar.


“And you, Bryan! I am not your girlfriend! Remember that! (Dan kau, Bryan! Aku bukan pacarmu! Ingat itu!)” ujar gadis itu pada pemuda bernama Bryan.


“I just… keep this seat for you, Darling (Aku hanya… menjaga kursi ini untukmu, Sayang),” sahut Bryan disertai seulas senyum yang lebih mirip seringai.


“Don’t ever call me darling! I am not your darling, Bryan! Can you go now. I saw you have finised your lunch. (Jangan pernah menyebutku ‘sayang’! Aku bukan pacarmu, Bryan! Kau bisa pergi sekarang. Kulihat kau sudah menghabiskan makan siangmu),” ujar gadis itu lagi dengan tegas.


Bryan hanya mengangkat bahu. Sementara dua temannya yang masih duduk di hadapan meja itu malah menertawainya. Temannya gadis berwajah India bangkit dari duduknya.


“Okay, I’m done here. Bye, Enjoy your lunch with your new friend,” ucap gadis berwajah India itu terdengar seperti sindiran.


Gadis yang disebut itu tak peduli dengan sindiran halus itu, ia hanya mengangguk.


“See you around, Prilly and Aliando,” sahut, masih bersikap sopan membalas ucapan temannya gadis keturunan India dan kekasihnya Aliando, seorang pemuda Afro-Amerika, sementara Bryan enggan ia sapa.


Bryan membuka mulutnya tampak ingin bicara sesuatu, namun tatapan tajam ke arahnya membuatnya urung bersuara. Ia membalikkan tubuhnya kemudian ikut melangkah pergi bersama Prilly dan Aliando.


Gadis berkerudung itu sudah duduk di kursi yang diberikan padanya. ikut duduk di samping gadis itu, melanjutkan makan siangnya yang terputus karena tadi harus menerima telepon dari keluarganya di Indonesia.

__ADS_1


“Thank you. Is okay give me a seat here? Teman-temanmu sepertinya tidak suka aku duduk di sini,” ucap gadis berkerudung itu tampak sedikit cemas.


“Don’t worry about them. Maafkan sikap teman-temanku tadi. Aku sedikit ketus pada Bryan supaya dia sadar, jangan seenaknya saja bersikap tidak sopan pada orang lain,”


“You are not American, right? (Kamu bukan orang Amerika, kan?”


“No, I am not. I am Indonesian. I am a student here (Bukan, aku orang Indonesia. Aku mahasiswa di sini),”


“You are great. You have many friends here. (Kau hebat. Kamu punya banyak teman di sini),” ucap gadis berkerudung itu lagi.


“Aku berteman dengan siapa saja. Dari Negara mana saja, rasa pa saja, agama apa saja. Karena itu aku tak suka tiap kali melihat ada yang melecehkan orang lain hanya karena tampil berbeda dengan mereka. This is America. Anyone accepted here (Ini Amerika. Siapapun diterima di sini),”


memandangi gadis berkerudung itu. Penampilan gadis itu memang lain daripada yang lain. Tak banyak gadis yang memakai kerudung sehari-hari di kampus ini. pernah melihat ada seorang gadis Iran yang juga memakai kerudung di kampus ini, tetapi gadis itu tampak lebih supel daripada gadis yang ada di hadapannya ini. sering beberapa kali melihat gadis ini. Penampilannya memang mencolok karena sangat berbeda dibanding penampilan mahasiswi lainnya. Gadis ini selalu memakai kerudung yang menutupi kepalanya. Saat di Indonesia, sering melihat gadis-gadis muslim memakai kerudung. Tetapi saat ini cara mereka memakai kerudung tampak trendi. Sedangkan gadis di sampingnya ini masih memakai kerudung dengan cara yang sederhana.


Kerudung gadis itu tebal dan lebar, dilipat menjadi bentuk segitiga. Ia pasang simetris menutupi rambutnya, lalu hanya diberi peniti tepat dibawah dagunya dan sebuah bros berbentuk bunga dipasang untuk merapatkan sisi kanan dan kiri kerudungnya itu. Kerudung itu menutupi bahu, dada dan punggungnya. Lengan bajunya juga panjang, sedikit menggembung di bagian ujung dekat pergelangan tangan. Kerudungnya biru muda polos, baju terusannya biru tua polos. Betapa sederhananya penampilan Adiba Liu. Gadis ini juga pendiam. Ia terlihat hampir selalu sendirian.


“Aku pernah melihatmu beberapa kali di kelas yang sama denganku,”


“Really? Kamu jurusan manajemen bisnis juga?” tanya gadis itu tampak seperti sedang mengingat-ingat wajah.


“Kau pasti tak memperhatikan aku, ya? Tapi aku ingat kamu, penampilanmu sangat mencolok,” setelah mengangguk beberapa kali.


Gadis itu tampak terperanjat.


“Penampilanku mencolok? Aku tidak pernah berdandan,” sahutnya heran.


“Kerudungmu itu yang membuatmu mencolok. Tidak banyak gadis yang memakai kerudung du kampus ini. Kau pendiam sekali, membuat orang yang melihatmu jadi menduga-duga kau punya rahasia apa di balik kerudung panjangmu. Aku juga muslim, tapi kau lihat sendiri, penampilanku berbaur dengan yang lainnya. Sedangkan kamu tampak seperti orang asing di sini,”


Gadis berkedung itu menatap agak lama, kemudian mengeryit kedua matanya yang berkelopak tipis, membuat matanya tampak semakin tipis hampir menyerupai garis.


“Buatku penampilanmu tidak masalag. Di Indonesia banyak gadis muslim yang memakai kerudung. Aku sudah biasa melihatnya. Tapi di New York, kamu memang harus maklum dipandang aneh. Di sini tidak banyak wanira yang memakai kerudung,” sambil tersenyum sebagai tanda ia bisa menerima pilihan gadis berkerudung itu untuk tampil berbeda.


“Di sini temanku memang belum banyak. Tapi aku punya beberapa teman di pengajian kampus yang baik padaku,” ucap gadis berkerudung itu lagi.


“Wah, ada pengajian di kampus ini?” tanya tampak takjub.


Gadis berkerudung itu mengangguk. tak menyangka masih ada mahasiswa yang berminat mengaji di sini.


“Hanya sekelompok kecil. Tapi cukup membantu memberi kami pencerahan dan memperikat tali persaudaraan muslim di antara kami. Kami saling mendukung satu sama lain,” jawab gadis berkerudung itu.


“Hey, what’s your name?” kemudian saat ia tersadar, ia belum tahu nama gadis temannya makan siang kali ini.


“My name is Adiba Liu,” jawab gadis berkerudung itu.


Gadis itu meletakkan sendok yang baru saja ia pegang kembali ke makanannya, lalu ia mengulurkan tangan kanannya kepada menerima uluran tangan gadis berkerudung dengan itu.


“I’m Paramitha. Tadi aku sudah bilang aku dari Indonesia, kan? Kau pernah mendengar tentang Indonesia?”


Gadis yang mengaku bernama Adiba Liu itu mengangguk.


“Aku tahu Indonesia. Sebuah Negara di Asia Tenggara yang memiliki penduduk beragama Islam paling banyak di seluruh dunia,” jawab Adiba Liu.


hanya tersenyum. Dalam hati ia malu, ia termasuk Warga Negara Indonesia yang beragama Islam. Tapi ia akui, ia bukanlah penganut Islam yang tekun beribadah. Apalagi di New York ini. Ia semakin jarang salat. Bahkan saat bulan Ramadan di kota ini, ia tak sanggup ikut berpuasa enam belas jam lamanya.


“Kamu dari China ya?” tebak melihat wajah khas Adiba Liu.

__ADS_1


“Ya, aku dari Ningxia Hui, China,” jawab Adiba Liu.


“Hm, Ningxia Hui di China,” baru kali ini ia mendengar nama daerah itu, tetapi ia enggan bertanya lebih jauh, itu hanya akan memperlihatkan pengetahuannya tentang Negara China yang terbatas.


“Maaf, kamu baru masuk Islam?” tanya lagi.


Sejak pertama kali melihat sosok Adiba Liu, penasaran ingin tahu. Gadis itu berwajah oriental, tetapi memakai kerudung seperti gadis-gadis dari Saudi Arabia dan Negara mayoritas muslim lainnya.


“Tidak, aku sudah muslim sejak lahir. Aku keturunan suku Hui yang mayoritas beragama Islam. Tempat tinggalku daerah otonom Ningxia Hui sering disebut sebagai provinsi Muslim di China, karena banyak suku Hui yang tinggal di sana. Ayahku berpikiran cukup modern, walau pun aku hanya seorang wanita, ayahku mengirimku kuliah di Amerika, berharap ilmuku setelah lulus nanti bisa semakin memajukan perusahaan ayahku,” jawab Adiba Liu panjang lebar.


mengangguk-angguk. Tanpa ia tanyakan, akhirnya Adiba menjelaskan sendiri tentang daerah tempat tinggalnya. Ini adalah informasi baru untuk. Ia memang pernah mendengar ada suatu wilayah di Negara China yang warganya banyak beragama Islam.


“Nah, untunglah ayahmu berpikiran modern. Seorang wanita itu bukan ‘hanya’. Kita juga bisa tak kalah hebatnya dengan laki-laki manapun jika kita mau sungguh-sungguh berusaha. Kau jangan kalah dengan ayahmu, kamu juga harus lebih modern sedikit. Jangan terlalu pendiam di kampus ini. Jangan hanya bergaul dengan teman pengajianmu. Bertemanlah dengan semua anak dari Negara, agama dan ras mana pun. Di sini banyak mahasiswa yang berasal dari Negara lain. Berteman dengan beragam orang akan memperluas wawasanmu. Mulai saat ini kita berteman, okay?” memberi masukan pada Adiba Liu yang masih tampak lugu ini.


Mata Adiba Liu berbinar-binar mendengar ajakan. Sudah enam bulan ia kuliah di kampus ini, tapi baru kali ini ada seorang gadis selain teman pengajiannya yang bersedia menjadi temannya. Senyum Adiba mengembang. Ia merasa hari ini adalah hari keberuntungannya.


“Alhamdulillah, Thanks,” ucap Adiba Liu terlihat senang.


Ia memandangi dengan tatapan penuh syukur.


Enam bulan kemudian…


Gadis bertopi bundar itu menghela napas panjang. Sudah hampir tiga jam ia berkeliling Century 21 Department Store, tetapi barang yang diinginkannya belum juga ia temukan. Ini adalah pusat perbelanjaan yang cukup luas, terletak di dekat Freedom Tower, bekas menara kembar WTC yang kini telah runtuh, tepatnya di 22 Cortlandt Street, New York. Cukup melelahkan berkeliling tempat seluas ini, untunglah ia sudah menyiapkan diri memakai sepatu kets yang nyaman, sehingga kakinya tidak terasa sakit walau sudah berjalan berjam-jam lamanya.


Kemudian matanya menangkap sebuah outlet pakaian yang sebelumnya luput dari pengamatannya. Di depan outlet itu tertulis sususan huruf besar membentuk kata, “Burberry”. Pakaian yang membalut tubuh manekin yang dipajang di depan outlet itu menarik perhatian gadis itu.


“Ah, ini dia!” ujar gadis itu dengan mata membelalak.


Gadis itu bergegas masuk. Seorang wanita muda berambut coklat dan bermata hijau menyambut gadis itu.


“Can I help you, Miss?” tanya wanita itu dengan suara sopan.


Gadis itu cukup takjub dengan pelayanan toko ini. sekarang ini musim pusat perbelanjaan Century 21 ini dipenuhi pengunjung. Banyak orang yang memburu pakaian dan segala keperluan untuk musim panas dan sisa-sisa model pakaian musim semi yang didiskon besar-besaran. Tetapi penjaga outlet ini masih menyambutnya dengan ramah dan menawarkan bantuan. Luar biasa!


“I want this, please?” jawab gadis itu sambil menunjuk pakaian yang dipajang di manekin itu.


Wanita penjaga toko itu mengangguk. Kemudian menanggalkan pakaian yang dikenakan manekin itu, lalu menyerahkannya pada gadis itu.


“I am sorry, Miss. Model yang ini hanya tinggal ini satu-satunya. Ini sisa desain musim semi. Sudah ada desain terbaru untuk musim panas jika Nona tertarik,” kata wanita itu.


“It’s okat. Aku suka yang ini,” sahut gadis itu sambil menerima pakaian yang diberikan wanita penjaga outlet, lalu segera masuk ke kamar pas yang tersedia dan mencoba pakaian yang akan dibelinya itu.


“Alhamdulillah, ukurannya pas untukku. Sedikit longgar tetapi justru bagus,” gumam gadis itu saat ia menatap bayangan tubuhnya di cermin dalam kamar pas.


Pakaian itu berupa blus berbahan katun yang nyaman dan sebuah rok lebar yang panjangnya semata kaki. Gadis itu tersenyum puas. Senyuman paling bahagia yang pernah ia rasakan. Lebih bahagia daripada saat ia mendapat kabar diterima di jurusan manajemen bisnis Universitas Columbia setahun lalu. Menemukan barang yang dicarinya selama berjam-jam membuat perasaannya tak terjelaskan saking senangnya. Mungkin sama rasanya dengan saat menemukan harta karun.


Benda yang dipegangnya ini adalah sebuah blus polos berwarna fuschia lembut sepanjang paha, dengan lengan pajang sedikit menggembung di pergelangan tangan. Blus panjang berlengan panjang seperti ini mungkin akan mudah ia temukan di Pasar Tanah Abang, Jakarta, jauh dari tempatnya berada ini. Tetapi, mencari pakaian atasan serba panjang dan tertutup seperti ini di kota New York saat musim panas, bukanlah pekerjan mudah. Di musim yang penuh sinar mentari seperti sekarang ini, orang-orang lebih suka memakai pakaian yang serba terbuka. Pakaian berlengan pendek, bahkan kebanyakan tanpa lengan. Kalau pun ada yang berlengan panjang, bagian punggungnya terbuka atau berleher sangat rendah, terbuat dari bahan tipis hingga menerawangkan bentuk tubuh.


“Harganya juga tidak terlalu mahal setelah didiskon lima puluh persen. Alhamdulillah,” gumamnya lagi.


Gadis itu merasa sangat beruntung. Ia juga membeli dua potong scarf. Satu scarf berwarna krem dengan motif bunga-bunga kecil warna-warni berukuran cukup lebar, sekitar tujuh puluh sentimeter kali tujuh puluh sentimeter. Satu scarf lagi berukuran lebih kecil berwarna merah tua polos tanpa motif.


“Untuk hari ini cukup segini dulu,” ucapnya dalam hati.


Setelah membayar semua yang dibelinya, gadis itu berjualan ke luar toko itu dengan langkah ringan dan wajah ceria. Segala kelelahannya selama berjam-jam berkeliling Century 21 Department Store seolah terbayarkan setelah akhirnya ia mendapatkan barang yang ia inginkan. Gadis itu bergegas melanjutkan persinggahannya menuju Central Park. Di sanalah ia berjanji bertemu dengan seseorang tepat pukul lima sore. Dan itu tinggal dua puluh menit lagi. Ia tak ingin terlambat, ia sudah tak sabar ingin menyampaikan kabar gembira ini pada seseorang yang telah memberinya inspirasi selama enam bulan ini. Seseorang yang telah membuatnya berani dan yakin untuk berubah menjadi pribadi baru yang seolah terlahir kembali.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2