
Pagi ini keluarga Ustadz Faizar sedang sarapan bersama di meja makan bersama anak-anaknya. Terlihat putranya, Hazza sedang buru-buru menghabiskan makanannya, karena ia ingin segera cepat pergi kuliah sekaligus ingin tahu keadaannya, Ayleen.
Karena kemarin malam sangi Abi melarangnya untuk pergi menemui Ayleen, ia hanya bisa berharap Ayleen tidak kenapa-kenapa. Jika ada terjadi sesuatu dengan sosok perempuan yang begitu ia sayangi itu, ia tidak akan memaafkan dirinya.
"Az, pelan-pelan dong makannya," ucap Huzaira saudara kembarnya.
Hazza tidak menggubrisnya, ia tetap mempercepat makannya. Namun, saat dirinya tengah menikmati makanannya. Tiba-tiba saja sang Abi berucap sesuatu yang membuatnya jadi over thinking.
"Hari ini Hasan dan Husein akan masuk ke Islamic School Aswad dan mereka akan meng-asrama di sana," ujar sang Abi.
Hazza merasa terkejut, ia langsung menoleh pada adik-adiknya. Apa itu benar? Kapan kedua adik kembarnya membicarakan hal tersebut dengan sang Abi, dan kenapa dirinya tidak tahu?
"K-kapan kalian membicarakan tentang sekolah itu?" tanya Hazza pada sang adik.
"Udah lama sih, Bang. Dan rencananya memang hari ini pindah ke sana," sahut Hasan dan Husein hanya mengangguk saja setuju.
"Memangnya kenapa Az, kok kamu yang kaget?" tanya Almaira, sang Umi.
"Apa kamu mau sekaligus Abi antar ke pesantren juga?" ucap Ustadz Faizar, sang Abi.
Hazza langsung menggelengkan kepalanya, ia tidak ingin masuk ke pesantren, jangan sampai! Karena, masih banyak keinginan-keinginannya yang akan ia lakukan bersama, Ayleen.
"Maka dari itu, jangan langgar apa yang pernah Abi katakan padamu," tutur ustadz Faizar.
Jangan melanggar? Sepertinya Hazza tidak bisa memastikan dirinya untuk itu. Dan ia akan berusaha semampunya agar tidak diketahui sang, Abi.
"Oke, kalau begitu Az berangkat ya, Assalamu'alaikum." Pamitnya, mencium punggung tangan kedua orang tuannya. Lalu, bergegas mengambil kunci motornya yang ada di atas meja ruang tamu.
"Semuanya, Abang duluan ya!" teriaknya.
Ustadz Faziar dan Almaira hanya menggelengkan kepala mereka melihat Hazza begitu terburu-buru. Padahal, biasanya tidak seperti ini, dan selalu terlambat malah.
"Oiya, Iz, bagaimana kuliahmu?" tanya Ustadz Faizar.
"Alhamdulillah, baik kok Bi." Sahut Huzaira.
"Alhamdulillah." Susul Ustadz Faizar.
"Apa kakak tidak bosan dengan mempelajari peralatan medis? Padahal alat-alat yang berhubungan dengan rumah sakit itu banyak banget!" celetuk Azam, adik terakhir.
"Tidak kok, Zam. Malah, kakak suka banget," terang Huzaira. Sepertinya Huzaira ini mewarisi keinginan sang Umi. Karena jujur saja, Almaira sang Umi dulu juga sempat kuliah kedokteran. Hanya saja berhenti, karena sebuah perjodohan.
Sang Abi hanya tersenyum mendengar obrolan anak-anaknya. Berbeda dengan Almaira yang kini tengah melamunkan sesuatu.
"Jika Huzaira akan menjadi seorang Dokter suatu saat nanti ... bagaimana jika ia akan mengetahui penyakit yang aku derita ini?" batin Almaira.
Kemudian, Ustadz Faizar memegangi pelan tangan sang istri, sehingga Almaira menjadi tersadar akan lamunnya.
"Kenapa melamun?" tanya Ustadz Faizar.
"Emm." Senyumnya. "Tidak ada apa-apa kok, Mas." Sambungnya. Dan kembali membalas senyuman dari sang suami.
*****
Hazza melajukan motornya agar cepat sampai ke kampusnya. Dan sesampainya ia di sana, dirinya memarkirkan motornya. Ketika Hazza melepaskan helmnya, ia melihat Ayleen yang bergegas berlari menjauhi dirinya. Hazza yang bingung dengan tingkah Ayleen, ia dengan cepat mengejar perempuan yang selalu ia khawatirkan itu.
"Ay! Tungguin gue," teriak Hazza.
Ayleen berpura-pura tidak mendengarnya, ia terus mempercepat jalannya sembari melepaskan ikat rambutnya yang sebelumnya ia kuncir kuda dan sekarang sudah tergerai begitu saja untuk menutupi wajahnya.
Ketika Hazza sampai mengejar Ayleen, ia langsung memegangi lengan Ayleen. Tapi, Ayleen malah tidak mau menatapnya. Ia berusaha mengalihkan pandangan serta wajahnya ke lain arah.
__ADS_1
"Ay! Lo kenapa sih?" Heran Hazza. Ingin menyibak rambut Ayleen yang menutupi wajah cantik temannya itu.
"Eugh!" Ayleen mengibaskan tangan Hazza, agar tidak menyingkap rambutnya. Namun, tangannya yang lain masih di pegang erat oleh, Hazza.
"Lepasin tangan gue, Az!" Sentak Ayleen, dan tangannya langsung terlepas dari genggaman Hazza. Ia menaikkan pandangannya sejenak sebelum beranjak pergi. Tetapi, Az yang menyadari sesuatu dari Ayleen, saat angin menerpa rambut di wajah Ayleen. Hazza, kembali meraih tangan Ayleen dan memegangi wajah perempuan itu.
"Ay! Mata lo?" Syok Hazza yang menatap wajah Ayleen, tepatnya di bagian bawah matanya.
"Lepasin, gue nggak kenapa-napa!" ucapnya dengan melepaskan tangan Hazza dari pergelangan tangannya. Kemudian, ia langsung bergegas pergi meninggalkan, Hazza.
Hazza hanya terdiam saat melihat bawah mata Ayleen yang lebam membiru. Hazza merasa dirinya sudah sangat bersalah tidak menolong Ayleen, kemarin malam. Andai dirinya datang, mungkin Ayleen tidak seperti itu. Melihat Ayleen, sosok perempuan yang ia cintai dan fisiknya itu sudah disakiti, itu membuat Hazza menjadi lebih ingin menjaga Ayleen, di waktu selanjutnya. Tapi, di sisi lain sangat bertentangan akan apa yang dikatakan sang, Abi. Harus bagaimana dirinya?
Tidak lama kemudian, Samudera yang merupakan mantan pacar dari Ayleen datang menghampiri Hazza.
"Keren ya, beda warna bagian kanan sama kiri bawah matanya, Ayleen." Tuturnya, sembari mengunyah permen karet, diiringi dengan kekehan.
Hazza hanya diam, ia tidak ingin membuat keributan di pagi hari begini. Yang ada di pikirannya saat ini ialah, bagaimana caranya dirinya bisa menjaga Ayleen.
"Kasihan, lo cuman bisa ngamatin dia aja. Udah gue bilang, jangan deketin Ayleen! Bikin lo capek aja." Senggol Sam, pada lengan Hazza.
Hazza tidak peduli dengan ucapannya, Samudera. Ia pun langsung bergegas pergi meninggalkan Samudera dan pergi ke kelasnya ingin meminta penjelasan pada Ayleen.
*****
Setelah semua anak-anaknya pergi ke sekolah dan ke kampus. Ustadz Faizar pun pamit pada istrinya untuk mengajar ke pesantren. Jadwal hari ini sangatlah padat, beliau berpesan pada sang istri agar jika ada apa-apa langsung saja telepon beliau. Karena, untuk hari ini Ustadz Faizar bisa saja pulang saat sore bahkan bisa jadi malam, pun juga ada kabar bahwa malam ini ada rapat antar Ustadz di rumahnya Kyiai.
"Assalamu'alaikum, Mi." Mengulurkan tangan beliau.
"Wa'alaikumsalam," cium Almaira pada punggung tangan sang suami.
Walaupun usia mereka tak lagi semuda dulu, namun keromantisan mereka tidak berkurang sedikitpun. Terkadang pun anak-anak mereka yang melihatnya merasa iri akan kedekatan orang tua mereka satu sama lain. Maupun Ustadz Faizar atau Almaira, mereka selalu meluangkan waktu untuk mereka berdua. Di mana di waktu itulah yang membuat cinta mereka selalu semakin berkembang, hingga belasan tahun lamanya.
Ustadz Faizar pun masuk ke mobilnya dan berangkat menuju pesantren. Almaira kembali menutup pintu rumahnya, lalu mengecek kamar anak-anaknya satu persatu. Dari kamar Azam, Hasan dan Husein dan Huzaira. Kamar mereka tampak sudah rapi dan bersih. Itu karena Ustadz Faizar selalu mengingatkan pada anak-anaknya setelah shalat subuh agar segera dirapikan kembali. Namun, di lain itu anak-anaknya yang lain, hanya Hazza yang sangat susah untuk diperingatkan agar merapikan kamarnya kembali. Benar-benar sangat susah!
Almaira tidak bisa membayangkan, bagaimana jika Hazza benar-benar akan di masukkan ke pesantren oleh suaminya nanti. Bisa-bisa putranya itu akan stress karena banyak aturan, tapi itulah yang namanya kedisiplinan.
Ketika Almaira membereskan meja belajar putranya, ia tidak sengaja melihat tanggal hari ini pada kalender yang ada di samping lampu belajar.
"Astaghfirullah ...," Almaira bergegas merapikan buku-buku tersebut. Setelah selesai merapikan kamar putranya, ia bergegas naik ke atas, ke kamarnya.
"Bu, ada apa, kenapa buru-buru?" tanya Bi Lida, asisten rumah tangga yang baru.
"Tidak ada apa-apa kok, Bi," sahut Almaira sebentar dan lalu kembali melangkahkan kakinya menaiki anak tangga.
Sesampainya ia di kamar, Almaira membuka lemarinya dan memeriksa salah satu botol kecil yang sudah lama dirinya simpan.
"Iya benar ... sudah habis, hari ini memang jadwalnya aku harus ke rumah sakit," ucap batinnya, menatap botol kecil yang menjadi tempat untuk menyimpan obat miliknya.
Kemudian, Almaira menelepon putranya Hazza. Kapan Hazza akan pulang, apakah cepat dari biasanya atau tetap seperti biasa. Ia meletakkan botol tersebut sembarang. Lalu, berjalan ke arah meja nakas untuk mengambil ponselnya.
"Assalamu'alaikum, Az?"
"Wa'alaikumsalam, iya ada apa Umi?"
Almaira menelepon putranya bukan ingin meminta Hazza mengantarkan ke rumah sakit. Tapi, ia hanya memastikan agar sang anak jika pulang, dirinya sudah berada di rumah. Tentang penyakitnya? Almaira, tidak mengatakannya pada siapapun. Baik itu suaminya maupun anak-anaknya.
"Kamu hari ini pulang jam berapa?" tanya sang Umi.
"Ada apa Umi, apa Umi butuh batuan, iya?"
"Bukan, Umi hanya bertanya, Sayang."
__ADS_1
"Kayaknya Az hari ini bakal pulang sore," terangnya.
Almaira tersenyum sejenak, itu artinya putra dan suaminya tidak ada di waktu jam siang ini. Kesempatannya untuk pergi ke rumah sakit meminta obat sekaligus check up tentang kesehatannya.
"Ya sudah, baiklah. Tapi, kamu pulang sore bukan berarti sedang-"
"Umi tenang aja, kalau gitu Az tutup ya telepon nya." Alihnya langsung.
Almaira menghela napasnya, ia percaya pada putranya. "Ya sudah, iya."
"Assalamu'alaikum,"
"Wa'alaikumsalam," balas Almaira.
Kemudian dirinya pun bersiap-siap untuk segera pergi ke rumah sakit. Kalau tentang anak-anaknya yang lain, itu bisa diatur. Karena, sebelumnya pun ia juga melakukan hal itu.
Sedangkan Hazza saat ini dirinya bersama Ayleen, di sebuah kantin. Hazza terus bertanya, bagian mana yang terasa sakit bagi Ayleen. Tapi, Ayleen terus diam dan tidak mau memberitahu.
"Ay, bilang aja kenapa sih," pintanya pada Ayleen, agar teman perempuannya itu mau bercerita.
"Ay! Please, ngapain juga lo tutupin. Kan gue juga udah tau tentang lo," Hazza berucap sembari menatap Ayleen yang sedang menikmati makanannya.
"Iiih! Lo bisa diem gak sih. Gue lagi makan, Az!"
"Tapi, lo cerita ya sama gue." Memunculkan jari kelingkingnya di depan wajah, Ayleen.
"Nggak!" Tolak Ayleen, menjauhkan jari milik Hazza.
"Ok, kalau gitu gue laporin aja ke pih-"
"Az! Please deh, jangan bikin gue nggak nafsu makan!" pekiknya, melotot pada Hazza.
"Makanya lo cerita! Kalau nggak-"
"Iya, iya! Nanti gue cerita." Rengutnya.
Hazza pun tersenyum, sambil menatap Ayleen, yang kini mau dibujuk untuk menceritakannya. Tapi, hatinya juga teriris saat melihat bawah mata Ayleen yang terlihat lebam. Mungkin, sebagian orang jika melihatnya dari kejauhan, itu tidak akan nampak. Namun, jika dilihat dari dekat, sangat terlihat ada bekas memar di sana. Bahkan, sudut bagian putih matanya Ayleen ada bercak darah beku karena akibat pukulan keras.
"Dasar kurang ajar!" batin Hazza.
Kemudian, Hazza mencoba menyentuh bawah mata Ayleen dan seketika Ayleen langsung meringis.
"Awh! Sakit, Az!"
Padahal Hazza hanya menyentuhnya pelan, tapi Ayleen sudah mengatakan kalau itu sakit. Tidak bisa dibayangkan betapa kerasnya pukulan itu menghantam wajah Ayleen.
Selesai makan di kantin, mereka pun ke taman. Karena, dari tadi Hazza terus menagih hutang cerita. Mau tidak mau Ayleen kembali bercerita seperti beberapa bulan yang lalu, saat dirinya juga pernah menceritakannya pada Samudera.
"Gue siap jadi pendengar, buruan Ay!" Desaknya.
"Iya, iya sabar Az!"
Ayleen menaruh tasnya di belakang tubuhnya dan mulai menguncir rambutnya. Ketika Ayleen hendak menyingkap lengan bajunya, tiba-tiba ponsel milik Hazza berdering.
"Tuh, bunyi!" Tunjuk Ayleen pada saku celana, Hazza.
Hazza pun merogoh saku celananya dan memeriksa siapa penelepon tersebut.
Saat layar ponsel sudah dilihatnya, Hazza langsung berdiri dari duduknya. Ayleen yang melihat itu, ia berekspresi santai. Jika Hazza begitu, sudah di pastikan itu pasti telepon dari sang Abi.
"Abi?" cicit Hazza, menoleh pada Ayleen. Dan Ayleen terkekeh melihat ekspresi gugup, Hazza.
__ADS_1
Silakan mampir ya kak 🤗🙏🏻
🌹🌹🌹