Saya Jatuh Cinta Dengan Keponakan Saya

Saya Jatuh Cinta Dengan Keponakan Saya
Saya Mencintai Keponakan saya Bab 6


__ADS_3

yang biasa.


"Sekarang gue akan katakan ini untuk terakhir


kalinya stev. Gue sayang sama loe, loe mau nggak


kita memulai kembali hubungan kita?"


"Bi.. udah gue katakan, gue..."


"Ya, aku tau itu. Dan gue sudah berjanji pada diriku sendiri kalau loe nolak gue kali ini, gue bakal jauhin


loe Stev. Gue udah muak dengan semua ini, sesak


rasanya melihat orang yang kita sayangi tertawa


bersama gadis lain. Penuh tatapan cinta. Jujur aku iri dan marah, ingin rasanya aku berada diposisi Niken.


Dimana bisa tertawa lepas bersamamu. Tapi Bii, jangan dengan cara loe menjauh dari gue.


Masih banyak cara agar kita bersama walaupun


tanpa hubungan spesial.


"Apa maksud loe?" Bianca berdiri dari posisi


duduknya, ia berdiri menghadapku.


"Bii.. gue udah anggap loe kaya adik gue yang nggak pernah gue miliki. Kita bisa memulai dengan


berteman seperti dahulu."


"Teman? Tapi gue udah jahat sama loe dan Ni..


Niken."


Aku pun berdiri dihadapannya, mengelus puncak


kepalanya. "Ya gue tau, loe jahat terus nyebelin. Tapi gue udah


nggak ambil pusing dengan itu semua.. So.. we are


friend?" Tanyaku seraya menjulurkan tanganku pada


Bianca, nampak gadis itu meneteskan air mata.


"Boleh minta satu syarat?"


"Apa Bii?" "Give me Hug. Pelukan terakhir."


"Yes.. came here."


Digapainya tanganku lalu didekapnya tubuhku erat.


Aku pun membalas pelukannya dengan erat, sesekali


ku elus puncak kepalanya.


Krekk. *suara ranting terinjak* Kami pun menoleh kearah sumber suara tadi.


Dihadapan kami berdiri Niken. Matanya yang


berkaca-kaca menatap kami dalam-dalam. Terlihat


dari ujung matanya menetes air mata yang tak dibendungnya.

__ADS_1


"Niken, ini nggak seperti yang kamu lihat." Ujarku pelan seraya berlari menuju kearahnya.


"Stev, aku mau kita putus." Kata Niken ditengah isakannya lalu berlalu menuju taxi dan pergi


meninggalkan ku.


Betapa bodohnya aku.


Niken Pov


"Kedaerah pak." Kataku pada supir taksi.


Ku buang pandanganku kearah luar. Walau hari ini


sudah mendekati sore tapi jalanan ibukota makin


ramai saja.


Namun taksi yang ku tumpangi semakin lama semakin pelan jalannya.


"Pak, bisa cepatan sedikit gak?"


"Maaf neng, didepan lagi ada kecelakaan. Jadinya macet. Loh eneng kan model iklan itu kan?"


"Haha iya itu saya. Betulan gak bisa lebih cepat lagi?"


"Mau gimana lagi neng. Ini aja lg nyari jalan alternatif. Maklum jakarta gak ada hari gak macet."


Ku coba menahan emosi dan kesabaran. Gambaran


kemesraan mereka terlintas terus menerus


dikepalaku. Andaikan dikepala ku ini ada tombol


Delete mungkin sudah ku tekan hingga jebol.


"Loh neng kok nangis? Ini neng tisu. Kayanya urgent


nih kalo sampe nangis. Duh saya jadi gak enak."


"Gak papa pak. Ini udah biasa."


"Pantes anak saya ngefans sama eneng, eneng udah


cantik baik lagi. Makasih ya pak."


Perlahan tapi pasti taxi yang ku tumpangi mulai


melaju, rupanya sudah masuk jalan tol.


"Bentar ya neng, bentar lagi nyampe." Ujar supir taksi


itu yang ku balas dengan senyuman.


. Beberapa saat kemudian, kami pun sampai ditaman


itu. Ketika hendak ku bayar argo taxi itu, si pak supir


itu menolaknya.


"Loh pak kenapa ditolak bayaran saya? Apa kurang?"


Tanyaku penuh dengan kebingungan.


"Gak usah neng. Anggap aja saya bahagiain anak saya dengan cara menolong idolanya. Tenang aja

__ADS_1


neng, saya rahasiakan kok. Tapi boleh minta


sesuatu?" Tanya bapak itu seraya menyodorkan secarik kertas.


"Saya minta tandatangan eneng aja buat anak saya"


"Oh baik pak. Nama anaknya siapa ya pak?" Tanya ku sambil mentandatangani kertas itu.


"Nama anak saya Anisa. " "Salam ya pak buat Anisa. Ini ada tiket buat Anisa, itu


acara gala premier film saya."


"Makasih banyak neng." Ucap bapak itu lalu pergi meninggalkanku.


Segera ku masuki taman yang asri itu, udaranya


sangat sejuk. Terdengar suara kicauan burung yang riang gembira. Akupun berjalan lurus namun tiba-tiba


terhenti. Mataku menangkap sosok seseorang yang kucari.


Segera ku cari tempat untuk bersembunyi. Nampak


jelas dihadapanku saat ini, Bianca sedang berdiri


dihadapan Steven yang tengah terduduk. Lalu cowok itu berdiri dan mengulurkan tangan, alangkah


kagetnya aku melihat Biaca memeluk tubuh Stev dan


cowok itu membalasnya.


Tak sanggup lagi ku lihat apa yang terjadi, serasa


runtuh badanku hingga menjadi lemas. Mataku kian


memanas dan mulai meneteskan air mata. Takut ketahuan, dengan perlahan ku pergi meninggalkan


mereka berdua.


Krekk. *ranting terinjak*


Bodohnya. Kenapa harus ada ranting sih?


Refleks sepasang wanita menoleh kearahku, mata


Steven terbelalak kaget. "Niken, ini gak seperti yang kamu lihat!" Kata cowok


itu sambil berlari menghampiriku.


"Stev, aku mau kita putus." Kataku ditengah isakan tangis.


Aku pun segera berlari kepinggir taman dan


mencegat taksi. "TAKSI.." teriakku dan taxi pun berhenti. Segera ku


naiki.


"NIKEN.."


Ku dengar dengan jelas Steven berteriak memanggil


namaku. Hatiku ingin kembali tapi tubuhku menolak.


Biarlah ego ku yang ambil kendali, aku pusing. "Mau kemana neng?" Tanya supir taxi.


"Ke apartement Citra Intan pak" jawabku.

__ADS_1


Dan taxi yang ku tumpangi mulai melaju.


__ADS_2