
yang biasa.
"Sekarang gue akan katakan ini untuk terakhir
kalinya stev. Gue sayang sama loe, loe mau nggak
kita memulai kembali hubungan kita?"
"Bi.. udah gue katakan, gue..."
"Ya, aku tau itu. Dan gue sudah berjanji pada diriku sendiri kalau loe nolak gue kali ini, gue bakal jauhin
loe Stev. Gue udah muak dengan semua ini, sesak
rasanya melihat orang yang kita sayangi tertawa
bersama gadis lain. Penuh tatapan cinta. Jujur aku iri dan marah, ingin rasanya aku berada diposisi Niken.
Dimana bisa tertawa lepas bersamamu. Tapi Bii, jangan dengan cara loe menjauh dari gue.
Masih banyak cara agar kita bersama walaupun
tanpa hubungan spesial.
"Apa maksud loe?" Bianca berdiri dari posisi
duduknya, ia berdiri menghadapku.
"Bii.. gue udah anggap loe kaya adik gue yang nggak pernah gue miliki. Kita bisa memulai dengan
berteman seperti dahulu."
"Teman? Tapi gue udah jahat sama loe dan Ni..
Niken."
Aku pun berdiri dihadapannya, mengelus puncak
kepalanya. "Ya gue tau, loe jahat terus nyebelin. Tapi gue udah
nggak ambil pusing dengan itu semua.. So.. we are
friend?" Tanyaku seraya menjulurkan tanganku pada
Bianca, nampak gadis itu meneteskan air mata.
"Boleh minta satu syarat?"
"Apa Bii?" "Give me Hug. Pelukan terakhir."
"Yes.. came here."
Digapainya tanganku lalu didekapnya tubuhku erat.
Aku pun membalas pelukannya dengan erat, sesekali
ku elus puncak kepalanya.
Krekk. *suara ranting terinjak* Kami pun menoleh kearah sumber suara tadi.
Dihadapan kami berdiri Niken. Matanya yang
berkaca-kaca menatap kami dalam-dalam. Terlihat
dari ujung matanya menetes air mata yang tak dibendungnya.
__ADS_1
"Niken, ini nggak seperti yang kamu lihat." Ujarku pelan seraya berlari menuju kearahnya.
"Stev, aku mau kita putus." Kata Niken ditengah isakannya lalu berlalu menuju taxi dan pergi
meninggalkan ku.
Betapa bodohnya aku.
Niken Pov
"Kedaerah pak." Kataku pada supir taksi.
Ku buang pandanganku kearah luar. Walau hari ini
sudah mendekati sore tapi jalanan ibukota makin
ramai saja.
Namun taksi yang ku tumpangi semakin lama semakin pelan jalannya.
"Pak, bisa cepatan sedikit gak?"
"Maaf neng, didepan lagi ada kecelakaan. Jadinya macet. Loh eneng kan model iklan itu kan?"
"Haha iya itu saya. Betulan gak bisa lebih cepat lagi?"
"Mau gimana lagi neng. Ini aja lg nyari jalan alternatif. Maklum jakarta gak ada hari gak macet."
Ku coba menahan emosi dan kesabaran. Gambaran
kemesraan mereka terlintas terus menerus
dikepalaku. Andaikan dikepala ku ini ada tombol
Delete mungkin sudah ku tekan hingga jebol.
"Loh neng kok nangis? Ini neng tisu. Kayanya urgent
nih kalo sampe nangis. Duh saya jadi gak enak."
"Gak papa pak. Ini udah biasa."
"Pantes anak saya ngefans sama eneng, eneng udah
cantik baik lagi. Makasih ya pak."
Perlahan tapi pasti taxi yang ku tumpangi mulai
melaju, rupanya sudah masuk jalan tol.
"Bentar ya neng, bentar lagi nyampe." Ujar supir taksi
itu yang ku balas dengan senyuman.
. Beberapa saat kemudian, kami pun sampai ditaman
itu. Ketika hendak ku bayar argo taxi itu, si pak supir
itu menolaknya.
"Loh pak kenapa ditolak bayaran saya? Apa kurang?"
Tanyaku penuh dengan kebingungan.
"Gak usah neng. Anggap aja saya bahagiain anak saya dengan cara menolong idolanya. Tenang aja
__ADS_1
neng, saya rahasiakan kok. Tapi boleh minta
sesuatu?" Tanya bapak itu seraya menyodorkan secarik kertas.
"Saya minta tandatangan eneng aja buat anak saya"
"Oh baik pak. Nama anaknya siapa ya pak?" Tanya ku sambil mentandatangani kertas itu.
"Nama anak saya Anisa. " "Salam ya pak buat Anisa. Ini ada tiket buat Anisa, itu
acara gala premier film saya."
"Makasih banyak neng." Ucap bapak itu lalu pergi meninggalkanku.
Segera ku masuki taman yang asri itu, udaranya
sangat sejuk. Terdengar suara kicauan burung yang riang gembira. Akupun berjalan lurus namun tiba-tiba
terhenti. Mataku menangkap sosok seseorang yang kucari.
Segera ku cari tempat untuk bersembunyi. Nampak
jelas dihadapanku saat ini, Bianca sedang berdiri
dihadapan Steven yang tengah terduduk. Lalu cowok itu berdiri dan mengulurkan tangan, alangkah
kagetnya aku melihat Biaca memeluk tubuh Stev dan
cowok itu membalasnya.
Tak sanggup lagi ku lihat apa yang terjadi, serasa
runtuh badanku hingga menjadi lemas. Mataku kian
memanas dan mulai meneteskan air mata. Takut ketahuan, dengan perlahan ku pergi meninggalkan
mereka berdua.
Krekk. *ranting terinjak*
Bodohnya. Kenapa harus ada ranting sih?
Refleks sepasang wanita menoleh kearahku, mata
Steven terbelalak kaget. "Niken, ini gak seperti yang kamu lihat!" Kata cowok
itu sambil berlari menghampiriku.
"Stev, aku mau kita putus." Kataku ditengah isakan tangis.
Aku pun segera berlari kepinggir taman dan
mencegat taksi. "TAKSI.." teriakku dan taxi pun berhenti. Segera ku
naiki.
"NIKEN.."
Ku dengar dengan jelas Steven berteriak memanggil
namaku. Hatiku ingin kembali tapi tubuhku menolak.
Biarlah ego ku yang ambil kendali, aku pusing. "Mau kemana neng?" Tanya supir taxi.
"Ke apartement Citra Intan pak" jawabku.
__ADS_1
Dan taxi yang ku tumpangi mulai melaju.