
STEVEN PROV Ku lajukan mobil Audy sport ku -hasil menang
taruhan race- menuju sekolah.
Ya gagal dapat breakfast yang enak. Mungkin pagi ini bukan rejekiku bisa membelai
Niken. Emang sih selama kami resmi berpacaran, dia sama
sekali nggak menolak apa yang aku mau. Jujur, aku sangat menyayanginya bahkan
mencintainya. Tapi kalau dipikir-pikir, penolakan olehnya bisa
berpengaruh baik untukku juga. Kalau tadi kami
melakukannya, aku bisa tidak sekolah karena
kelelahan. Biarlah, lagi pula nanti malam aku akan
melakukannya sepuasnya. Sesampai disekolah, ku duduk dibangku depan
kelasku. Siswa-siswi banyak yang menatapku
bahkan berbisik.
Ganteng ya kak Steven.
Kalau gue jadi pacarnya, rela deh gue diapain sama
dia. Murahan loe. Kalau gue sih rela digrepe sama dia.
Sama aja cumi. Ku pasang headset ditelingaku, masih terlalu pagi
untuk mengurusi yang begituan. Ketika sedang mendengarkan musik, ada ide
cermelang untuk nanti malam. Ku search sebuah nama toko, rencananya aku mau
belanja sesuatu untuk tante tercintaku. Berhubung aku sekolah, ku gunakan jasa kurir kepercayaanku. Dan segera ku order pesananku, langsung ku kirim
ke lokasi phoshootnya hari ini. Kring.kring. bel sekolah "Huh. Hampir aja gue telat." Kata Raka dengan nafas
ngos-ngosan. "Gue kira loe gak masuk ka. Kemana loe sampai
telat." "Habis jemput teman gue dibandara. Dia balik
keindonesia karena selesai sekolahnya disingapore.
__ADS_1
Entar aku bawa dia jalan, loe mau ikut? Gak kayanya. Gue mau dirumah bareng cewek gue
lah. Maksud loe, tante loe yang montok semok itu. Gila loe ya, mau gue punya tante kaya gitu, sayang adik
mama gue udah gendut tua lagi. Sabar bro. Takdir loe nggak sebagus gue haha"
kataku lalu dihadiahi jitakan dikepalaku. "Ya loe bisa sombong sekarang, nanti loe bakal iri liat teman gue. Gak kalah deh sama tante Niken loe."
Kata Raka dengan nada setengah berteriak. "RAKA, STEVEN. KALIAN BISA DIAM TIDAK?
ATAU KALIAN PILIH LARI DILAPANGAN 10X?"
Tegur Pak Bono, guru fisikaku. Guru berkepala
plontos yang terkenal galak disekolah. "Ya pak." Kata kami serempak. Pelajaran pun kembali berlangsung, tapi entah
mengapa perasaan ku tidak enak, segera ku pastikan
paketanku sudah ditangan Niken dan ternyata sudah ditangannya. Kembali ku perhatikan pak botak itu sedang mengoceh tentang teori-teorinya.
STEVEN PROV "Aku pulang." Teriakku memenuhi apartemen. Ku
cari sosok gadis yang kusayang tapi gak ada. Ku langkahkan kakiku menuju kamarnya, ketika ku buka kamarnya dia juga tidak ada.
balkon. Ku tekan nomor teleponnya. "Halo.. dimana yank? Masih dilokasi, tadi hujan jadinya pending. Ini udah
dilanjut lagi. Kenapa? Pulang sama siapa? "Paling sama Lyla. Ada apa? Kamu dimana? "aku sudah pulang. Aku jemput ya, tunggu disitu." Tut.Tut. Segera ku menuju mobil, dan ku lajukan menuju
lokasi Niken berada. NIKEN PROV Setelah menerima telepon dari Steven, segera ku
hampiri asistenku, Lyla. "Ly, loe pulang duluan aja, aku dijemput." Loe pulang sama siapa? "Pulang sama Steven." Keponakan loe itu. Yasudah, gue pulang dulu."
Ujarnya seraya meninggalkanku. Yap, asistenku itu belum tahu kalau aku dan
keponakanku itu sedang berpacaran. Tiba-tiba Iphone ku berdering, segera ku angkat. "Halo. Aku sudah didepan basement, kamu dimana yank? Kata Steven dibalik telepon. "Ya bentar. Aku menuju kesana." Ku pun berjalan menuju basement dimana cowok itu
berada. "Sory lama" kataku sambil masuk kemobilnya. Jujur
sampai detik ini, anak itu belum cerita darimana ia
mendapatkan mobil bagus ini. Tapi sudahlah, itu tidak
penting. "Ya gak ap apa, sudah dipake seatbeltnya?" Tanyanya
padaku, ku jawab dengan anggukan. CUP "Stev?" Aku kaget, tiba-tiba ia menciumku. "Aku kangen yank." Katanya, tangan kirinya
__ADS_1
membelai punggung
tanganku. "Bawa mobilnya yang betul." Tanganya ku letakkan di kemudinya kembali. "Yaudah. Oh iya kita ke Starbuck bentar ya." kata Steven "Mau ngapain?" "Mau ketemu Raka yank, katanya mau ngasih
sesuatu." "Apaan?" Gak tahu. . . Sesampai di starbuck, Kami langsung berjalan
menuju meja dekat jendela, nampak disana Raka
bersama seorang gadis berambut panjang
kemerahan. Tiba-tiba Steven menghentikan
langkahnya. "Kenapa yank?" Tanyaku padanya, wajahnya
nampak menegang. "Stev, sini. " teriak sahabatnya itu. "Ayo yank." Digenggamnya tanganku erat-erat lalu
kami pun menuju meja Raka. "Hei bro, ada apa?" Tanya Steven to the poin. "Nyantai bro, gue bete sekalian aja ajak jalan
temanku." "Oh dkira ada apa. Yank, udah kenal Raka kan?"
Tanyanya padaku, tangannya tidak lepas dari
tanganku. "Iya. Pas dia keapartemen, kita kenalan." Jawabku
lalu menatap gadis didepanku. Matanya tak henti
menatap Steven. "Oiya bro, kenalin ini Bianca. Bi, ini Steven yang aku
ceritain dan ini pacarnya steven, Niken " kata Raka
memperkenalkan kami. "Hai, gue Ni.." sapaanku terhenti ketika Gadis yang
bernama Bianca itu mengucapkan sesuatu. "Hai Stev, lama gak ketemu. Apa kabar?" Tanya Bianca pada cowokku "Baik. Kamu pindah kesini?" Tanya balik Steven, tiba-
tiba tangannya merangkul pinggangku dari samping. "Iya kan sekolahku dah selesai, kamu lupa kalau aku
ikut ekselarasi. Kan aku
sekalian cari kamu." Jawaban gadis itu membuat aku dan Raka menengok
kearah Steven, ia hanya duduk santai, sesekali
menatap jalanan diluar.
Ada apa ini? Ada yang aneh.
__ADS_1