
Ayah pelan.
"Nik, kamu.." Steven menatapku dengan tatapan
penuh tanya.
"Maaf Stev, aku."
"AKU NGGAK BISA TERIMA ITU SEMUA."
Plak. Teriak Steven yang langsung dihadiahi tamparan oleh
kak Ami
"Dewasalah nak, ini untuk kebaikan kita semua.
Jangan sampai tahu ayahmu tentang ini, ia pasti
marah besar sama kamu." Kata kak Ami, suaranya
terdengar serak seperti menahan tangis. "Ami, jangan begitu. Dia anakmu juga." Teriak bunda
yang akhirnya berbicara.
"Ahh aku capek dengan semua ini." Teriak Steven
mengisi apartemenku, tiba-tiba ia menarikku berdiri
dan menggiringku keluar apartement, terdengar
teriakan ayah dan kak Ami yang meneriaki namaku maupun Steven. Namun laki-laki ini tidak bergeming
dan tetap menyeretku keluar. Ntah mengapa aku
nggak bisa menolak ataupun melawan, pikiranku
sangat kalut untuk berpikir.
"Stev.." kataku pelan, yang kudapatkan hanya
keheningan hingga kami memasuki mobil. Kami pun membelah jalan ibukota yang ramai meski
hari sudah menjelang sore.
Kami hanya diam, keheningan mengisi mobil yang
dikendarai keponakanku itu. Matanya nampak focus
pada jalanan.
. Kami tiba di taman yang dulu ku lihat Steven bersama
Bianca. Cerita lama.
Digiringnya tubuhku menuju bangku putih
menghadap danau buatan itu. Tanganku
digenggamnya dengan erat hingga kami duduk
dibangku itu. "Aku nggak setuju dengan keputusan kakek Tomi."
"Tapi Stev, itu baik untuk kita."
"Baik untuk keluarga kita, tapi nggak baik buat kita
Niken."
"Stev, bersikaplah dewasa. Aku juga nggak mau
pisah dari kamu, tapi aku sayang mereka." "Aku juga sayang mereka, tapi aku lebih kamu."
"Kamu egois Stev, lebih memilih diri kamu sendiri
bukan berkorban buat mereka."
"Aku egois karena sayang sama kamu Nik."
"Kalau kamu sayang aku, tolong mengerti Stev."
Kataku setengah berteriak. Segera ku langkahkan kakiku meninggalkan Steven, namun tanganku dengan
cepat ditarik hingga aku jatuh dipelukannya, dan
cowok itu dengan cepat mencium bibirku sedangkan
tangannya menahan tengkuk leherku agar wajahku
__ADS_1
tetap dekat dengannya.
Hujan perlahan jatuh membasahi tubuh kami. Kesadaranku pun kembali seiring hujan kian deras.
Segera ku dorong dada Stev dengan keras hingga
tubuhnya tersentak.
"Cukup Stev dengan segala keegoisanmu, aku
capek." Teriakku disela-sela suara gemuruh hujan.
Aku pun berdiri namun Iphoneku yang berada disaku jaketku berdering.
"Halo.."
"Apa bun?"
Iphoneku pun perlahan jatuh dari genggamanku, ku biarkan saja, nggak peduli akan rusak kena air.
Tubuhku lemas, tatapanku kabur hingga ku terjatuh
terduduk dirumput yang basah. Terdengar langkah
kaki Stev yang berlari mendatangiku, dipegangnya
kedua bahu sambil bertanya
"Kamu kenapa Niken?" "..."
"Jawab Niken, kenapa?"
"Ayah Tomi Stev." Kataku terbata-bata
"Kakek kenapa?"
"Ayah masuk UGD." Kataku dan tangisku pecah,
tubuhku langsung didekapnya erat.
Steven Pov
Saat ini ku lajukan mobilku menuju rumah sakit
dipusat kota.
disampingku, wajahnya nampak jelas kalau dia frustasi. Semakin menambah kepanikanku, ku coba membawa mobil dengan laju diatas rata-rata namun
tetap terkendali.
20menit kemudian, sampailah aku didepan rumah
sakit dimana kakek Tomi dirawat.
Dengan cepat, aku dan Niken berjalan menuju UGD
setelah menanyakan dimana Kakekku berada. Ku lihat kakek terbaring lemah dikasur dengan jarum
infus tertusuk dipergelangan tangannya. Nenek
tiriku, nenek Park menangis seraya menggenggam
tangan kakek.
Tiba-tiba
Plak.. *suara tamparan Ku pegang pipiku yang memanas dan menatap
seseorang itu dan membuat mataku terbelalak kaget.
"Anak bodoh, apa yang kau lakukan? Ayah sama
bunda kirim kamu ke indo supaya kamu konsen
sekolah, bukannya menambah masalah. Apa coba
yang kamu pikirkan haa? "Ayah? Bukannya ayah?"
"Ayah langsung kesini setelah mendengar kakekmu
koma. Kamu nggak pikir apa akibat kelakuanmu itu
haa, stupid boy."
"Ayah nggak tau apa-apa, jadi nggak usah.."
"nggak usah apa? Kamu pikir ayah nggak tau apa yang terjadi. Maksudmu apa mengencani tante mu sendiri?"
__ADS_1
"Aku mencintainya yah, ayah nggak tau kalau itu.."
Plaakk
"Cukup Stev, terakhir ini ayah menamparmu. Kamu semakin nggak tau attitude, semakin nggak tau arah." "Josh, stop it. Ini rumah sakit, dia juga nggak bisa
dikasih tahu. Otaknya masih eror." teriak bunda
"Pah, bangun. Maafin Niken pah." ujar Niken disela
tangisannya.
"Sudah sayang, ayah cuma butuh istirahat."
kata nenek haenim seraya tangannya mengusap - usap puncak kepala gadisku.
Dengan cepat, Niken mendekap tubuh bundanya dan
menangis tersedu-sedu. Terus nenangis dan sambil
berkata..
"Aku nggak mau kehilangan ayah bun, aku sayang ayah."
Ku lihat ia sangat terguncang yang seketika
membuatku berfikir tentang keputusan kakek Tomi
tempo hari.
Aku sayang Niken tapi aku juga harus pikirin
keluarga ini. Semoga ini yang terbaik. "Baiklah ayah, aku ikutin kemauan kakek Tomi. Aku
akan ikut kembali kesingapore." kataku dengan sekali
tarik nafas yang seketika membuat orang-orang
dikamar ini menoleh ke arahku dengan cepat.
Niken dengan matanya yang sempat menatapku
bingung dan kaget, wajah nenek Haenim yang menegang. bunda yang menarik simpul senyuman
diwajahnya dan ayahku menatapku dengan tatapan
kau anakku.
"You're my son. Thanks God." ujar ayah dan
menarikku kedalam dekapannya. Niken Pov
"Baiklah ayah, aku ikutin kemauan kakek Tomi. Aku
akan ikut kembali kesingapore." kata Steven tiba-tiba
yang membuat aku terlonjak kaget dan bingung.
Apa sih yang bocah ini pikirkan?
"You're my son. Thanks God." ujar kak Josh dengan aksennya.
Mereka pun berpamitan pulang, ku tatap wajah Stev
yang terus menunduk. Dan mereka pun berlalu. Aku
dan bunda memutuskan menjaga ayah bersama-sama sambil menunggu kak Zacky yang mau kesini.
. Drrtt..drrttt.. *hap bergetar
Dengan mata setengan tertutup, ku buka pesan yang
masuk. Membaca dan pesan itu membuat mataku
terbelalak kaget.
From :Steven
To : Niken Hay my auntie, sory aku cuma mau pamit. Setelah
jam makan siang ini aku fly ke singapore. Mungkin mendadak, tapi inilah yang terjadi. Salam buat kakek
dan nenek ya, maaf aku buat kekacauan selama
diindo. :)
Jaga mereka ya, jangan nakal hehe. Oiya satu lagi. I will miss you. I still loving you now
__ADS_1
and later.