Saya Jatuh Cinta Dengan Keponakan Saya

Saya Jatuh Cinta Dengan Keponakan Saya
saya jatuh cinta dengan keponakan saya Bab 12


__ADS_3

Ayah pelan.


"Nik, kamu.." Steven menatapku dengan tatapan


penuh tanya.


"Maaf Stev, aku."


"AKU NGGAK BISA TERIMA ITU SEMUA."


Plak. Teriak Steven yang langsung dihadiahi tamparan oleh


kak Ami


"Dewasalah nak, ini untuk kebaikan kita semua.


Jangan sampai tahu ayahmu tentang ini, ia pasti


marah besar sama kamu." Kata kak Ami, suaranya


terdengar serak seperti menahan tangis. "Ami, jangan begitu. Dia anakmu juga." Teriak bunda


yang akhirnya berbicara.


"Ahh aku capek dengan semua ini." Teriak Steven


mengisi apartemenku, tiba-tiba ia menarikku berdiri


dan menggiringku keluar apartement, terdengar


teriakan ayah dan kak Ami yang meneriaki namaku maupun Steven. Namun laki-laki ini tidak bergeming


dan tetap menyeretku keluar. Ntah mengapa aku


nggak bisa menolak ataupun melawan, pikiranku


sangat kalut untuk berpikir.


"Stev.." kataku pelan, yang kudapatkan hanya


keheningan hingga kami memasuki mobil. Kami pun membelah jalan ibukota yang ramai meski


hari sudah menjelang sore.


Kami hanya diam, keheningan mengisi mobil yang


dikendarai keponakanku itu. Matanya nampak focus


pada jalanan.


. Kami tiba di taman yang dulu ku lihat Steven bersama


Bianca. Cerita lama.


Digiringnya tubuhku menuju bangku putih


menghadap danau buatan itu. Tanganku


digenggamnya dengan erat hingga kami duduk


dibangku itu. "Aku nggak setuju dengan keputusan kakek Tomi."


"Tapi Stev, itu baik untuk kita."


"Baik untuk keluarga kita, tapi nggak baik buat kita


Niken."


"Stev, bersikaplah dewasa. Aku juga nggak mau


pisah dari kamu, tapi aku sayang mereka." "Aku juga sayang mereka, tapi aku lebih kamu."


"Kamu egois Stev, lebih memilih diri kamu sendiri


bukan berkorban buat mereka."


"Aku egois karena sayang sama kamu Nik."


"Kalau kamu sayang aku, tolong mengerti Stev."


Kataku setengah berteriak. Segera ku langkahkan kakiku meninggalkan Steven, namun tanganku dengan


cepat ditarik hingga aku jatuh dipelukannya, dan


cowok itu dengan cepat mencium bibirku sedangkan


tangannya menahan tengkuk leherku agar wajahku

__ADS_1


tetap dekat dengannya.


Hujan perlahan jatuh membasahi tubuh kami. Kesadaranku pun kembali seiring hujan kian deras.


Segera ku dorong dada Stev dengan keras hingga


tubuhnya tersentak.


"Cukup Stev dengan segala keegoisanmu, aku


capek." Teriakku disela-sela suara gemuruh hujan.


Aku pun berdiri namun Iphoneku yang berada disaku jaketku berdering.


"Halo.."


"Apa bun?"


Iphoneku pun perlahan jatuh dari genggamanku, ku biarkan saja, nggak peduli akan rusak kena air.


Tubuhku lemas, tatapanku kabur hingga ku terjatuh


terduduk dirumput yang basah. Terdengar langkah


kaki Stev yang berlari mendatangiku, dipegangnya


kedua bahu sambil bertanya


"Kamu kenapa Niken?" "..."


"Jawab Niken, kenapa?"


"Ayah Tomi Stev." Kataku terbata-bata


"Kakek kenapa?"


"Ayah masuk UGD." Kataku dan tangisku pecah,


tubuhku langsung didekapnya erat.


Steven Pov


Saat ini ku lajukan mobilku menuju rumah sakit


dipusat kota.


disampingku, wajahnya nampak jelas kalau dia frustasi. Semakin menambah kepanikanku, ku coba membawa mobil dengan laju diatas rata-rata namun


tetap terkendali.


20menit kemudian, sampailah aku didepan rumah


sakit dimana kakek Tomi dirawat.


Dengan cepat, aku dan Niken berjalan menuju UGD


setelah menanyakan dimana Kakekku berada. Ku lihat kakek terbaring lemah dikasur dengan jarum


infus tertusuk dipergelangan tangannya. Nenek


tiriku, nenek Park menangis seraya menggenggam


tangan kakek.


Tiba-tiba


Plak.. *suara tamparan Ku pegang pipiku yang memanas dan menatap


seseorang itu dan membuat mataku terbelalak kaget.


"Anak bodoh, apa yang kau lakukan? Ayah sama


bunda kirim kamu ke indo supaya kamu konsen


sekolah, bukannya menambah masalah. Apa coba


yang kamu pikirkan haa? "Ayah? Bukannya ayah?"


"Ayah langsung kesini setelah mendengar kakekmu


koma. Kamu nggak pikir apa akibat kelakuanmu itu


haa, stupid boy."


"Ayah nggak tau apa-apa, jadi nggak usah.."


"nggak usah apa? Kamu pikir ayah nggak tau apa yang terjadi. Maksudmu apa mengencani tante mu sendiri?"

__ADS_1


"Aku mencintainya yah, ayah nggak tau kalau itu.."


Plaakk


"Cukup Stev, terakhir ini ayah menamparmu. Kamu semakin nggak tau attitude, semakin nggak tau arah." "Josh, stop it. Ini rumah sakit, dia juga nggak bisa


dikasih tahu. Otaknya masih eror." teriak bunda


"Pah, bangun. Maafin Niken pah." ujar Niken disela


tangisannya.


"Sudah sayang, ayah cuma butuh istirahat."


kata nenek haenim seraya tangannya mengusap - usap puncak kepala gadisku.


Dengan cepat, Niken mendekap tubuh bundanya dan


menangis tersedu-sedu. Terus nenangis dan sambil


berkata..


"Aku nggak mau kehilangan ayah bun, aku sayang ayah."


Ku lihat ia sangat terguncang yang seketika


membuatku berfikir tentang keputusan kakek Tomi


tempo hari.


Aku sayang Niken tapi aku juga harus pikirin


keluarga ini. Semoga ini yang terbaik. "Baiklah ayah, aku ikutin kemauan kakek Tomi. Aku


akan ikut kembali kesingapore." kataku dengan sekali


tarik nafas yang seketika membuat orang-orang


dikamar ini menoleh ke arahku dengan cepat.


Niken dengan matanya yang sempat menatapku


bingung dan kaget, wajah nenek Haenim yang menegang. bunda yang menarik simpul senyuman


diwajahnya dan ayahku menatapku dengan tatapan


kau anakku.


"You're my son. Thanks God." ujar ayah dan


menarikku kedalam dekapannya. Niken Pov


"Baiklah ayah, aku ikutin kemauan kakek Tomi. Aku


akan ikut kembali kesingapore." kata Steven tiba-tiba


yang membuat aku terlonjak kaget dan bingung.


Apa sih yang bocah ini pikirkan?


"You're my son. Thanks God." ujar kak Josh dengan aksennya.


Mereka pun berpamitan pulang, ku tatap wajah Stev


yang terus menunduk. Dan mereka pun berlalu. Aku


dan bunda memutuskan menjaga ayah bersama-sama sambil menunggu kak Zacky yang mau kesini.


. Drrtt..drrttt.. *hap bergetar


Dengan mata setengan tertutup, ku buka pesan yang


masuk. Membaca dan pesan itu membuat mataku


terbelalak kaget.


From :Steven


To : Niken Hay my auntie, sory aku cuma mau pamit. Setelah


jam makan siang ini aku fly ke singapore. Mungkin mendadak, tapi inilah yang terjadi. Salam buat kakek


dan nenek ya, maaf aku buat kekacauan selama


diindo. :)


Jaga mereka ya, jangan nakal hehe. Oiya satu lagi. I will miss you. I still loving you now

__ADS_1


and later.


__ADS_2