
Niken Pov
Udah habis kata-kataku dan berbuat apa lagi akan
tingkah laku Steven.
Dia bilang aku yang nyerang dia, yang benar
Niken park aditama?
Ku pandangi pantulan diriku dicermin, berdiri terpaku menghadap cermin tanpa sehelai benang pun.
Tubuh penuh dengan kissmark Steven, hasil
keusilannya. Wajahku yang memerang srmerah
kepiting rebus menahan malu.
Segera ku isi bathtube ku dengan air dan merendam
diri. Ketika sedang asyik berendam, ku dengar Steven
diluar bicara dengan seseorang.
"Cari siaa...pa?" kata cowok itu
"Loh Stev, kamu disini? Mana Niken?" tanya
seseorang perempuan, suaranya sangat tidak asing.
Bergegas aku selesaikan acara mandiku dan mengenakan pakaian. Setelah selesai berbenah, ku langkahkan kakiku menuju ruang tamu. Terlihat
Steven sedang duduk dimeja makan menyantap makanannya.
Perasaan aku belum masak.
Dan Sesosok wanita dan pasangannya duduk disofa membelakangiku.
"Maaf sia...pa?" mataku terbelalak melihat siapa mereka.
"Ini dia yang kita cari."
"Bunda sama ayah, kapan datang? Kok nggak kasih kabar Niken?" kataku seraya mencium pipi mereka secara bergantian.
"Loh kan bunda telpon tadi pagi, gimana sih?"
"Niken ini kebiasaan, bikinin ayah kopi kek."
"Maaf yah, Niken lupa yah." kataku langsung
berjalan
"Loh Steven kok bisa disini padahal masih pagi?" tanya ayah selidik
Mampus!!
"Habis joging kek sama teman dekat sini, sekalian aja
mampir numpang sarapan. Sekalinya tante Niken
belum masak." jawab Steven dengan penekanan kata
Tante
"Gimana yah liburannya?"
"Tanya bunda mu."
"Liburan apa? Awal aja nik, ujung2x kerjaan lagi.
Maklum workaholic." jawab ibu sambil menyeruput
kopinya.
"Jadi kalian langsung kesini?" Iya sayang, bunda kangen banget sama kamu"
__ADS_1
Ting.tong *bel berbunyi
"Sebentar yah bun, Niken buka pintu dulu."
Aku pun jalan dan membuka pintu, akupun kaget
untuk kedua kalinya.
"Mana Steven? Pasti anak itu disini." "Masuk dulu kak."
Kak ami pun masuk dan segera menghampiri Steven
yang sedang asyik memakan cemilannya.
Nampaknya ia tidak tau ada ayah dan bunda disini.
"Ternyata disini anak nakal ini, lagi-lagi kamu berulah
ya." seru kak Ami dengan tangannya menjewer kuping milik anaknya itu.
"Ampun bun, sakit bun."
"Biarin aja sakit, siapa suruh kamu berulah lagi."
"Kak, anu.."
"Kamu juga Niken, kakak udah peringatin sekian kalinya. Putuskan hubungan kalian, kalian itu tante dan keponakan. Nggak bisa jadi sepasang kekasih
atau lebih."
"Bun, itu.."
"Kamu diam Steven Amstrong. Belum saatnya kamu menjawab."
"Ami Aditama, dengan cara ini kah kamu menyambut kami?" Tanya Ayah, kak Ami langsung menoleh
kearah belakang. Matanya terbelalak melihat Ayah dan Bunda duduk dibelakangnya.
"Dan apa maksudmu, Niken dan Steven pacaran?"
Mampus aku.
Niken pov "Dan apa maksudmu, Niken dan Steven pacaran?"
tanya ayah pada kak Ami
Mampus aku
Saat ini, aku duduk bertiga Steven dan kak Ami
menghadap Ayah, tatapan ayah pada kami penuh
selidik dan bunda hanya menatap kami dengan tatapan penuh harap.
"Sebenarnya kek..." perkataan Steven dengan cepat
dipotong oleh ayah.
"Stev, Kakek nanya sama bunda dan tantemu,
jangan khawatir pasti kamu akan dapat giliran." Kata ayah. Ku tatap bunda untuk meminta pertolongan,
nampaknya bunda mengerti akan tatapan ku
"Tom, biarkan anak-anak dulu. Mereka juga butuh waktu untuk berfikir." Ujar bunda sambil mengelus
bahu ayah pelan. "Ini nggak bisa dibiarin, ntar malahan mereka berlaku
seenaknya." Ehm, yah biar Niken yang jelasin." "Nggak Nik, Kakak aja." Cepat jelaskan." Teriak ayah mengagetkan kami.
Wajahnya nampak kesal melihat kami. "Begini yah, sebenarnya.." kak Ami pun
menyeritakan dengan teliti sampai ia mengatakan
"Ami juga nggak tau kok bisa mereka bisa begini."
__ADS_1
"Kakek Tomi, sebenarnya Steven yang salah, salah karena menyukai bahkan mencintai tante Niken."
"Tidak yah, Niken yang salah. Niken terlalu bodoh sampai bisa mencintai keponakaan sendiri dan itu
seharusnya tidak terjadi."
"Jadi kalian mau bagaimana? Menurut ayah emang ini salah dan seharusnya tidak terjadi."
"Tapi sebenarnya ini nggak apa-apa karena..." ketika bunda ingin mengatakan sesuatu, dengan cepat kak Ami memotongnya.
"Maaf bun, meskipun
begitu tetap saja hubungan mereka nggak wajar."
"Ayah juga bingung, harus bagaimana. Begini saja,
sebaikanya Ami membawa kembali Steven
keSingapore dan Niken tinggal bersama ayah bunda
dirumah. Kamu hentikan semua aktifitas mu
dipekerjaanmu sebagai hukumannya." Ujar ayah menengahi kami.
"Kenapa aku harus kembali keSingapore bersama
bunda, kuliahku bagaimana? Teman-temanku?"
tanya Steven dengan nada cukup tinggi, telapak
tangannya nampak mengepal.
"Kamu lanjutkan disana kuliahmu, masalah teman- temanmu bukannya dulu kamu besar disana, jadi
lebih banyak teman-temanmu." Jawab ayah
"Ya ayah, Ami setuju dengan keputusan ayah"
"Aku nggak setuju bun, Steven bakal gila kalau harus
kembali ke Singapore, bunda tau sendiri pergaulanku
disana seperti apa." "Bunda yakin mereka bisa berubah dan kamu nggak
terlalu bodoh untuk terjerumus untuk kedua kalinya."
Ujar kak Ami
"Aku tetap nggak setuju." Bantah steven, terlihat jelas
dari wajahnya kalau ia kesal sekali. Aku sama sekali
nggak sanggup menatap matanya, hanya bisa menatap ujung kaosku yang sejak tadi ku mainkan
agar aku tidak gugup.
"Nah Niken, keputusan ada dikamu." Tanya ayah
sambil menatapku tajam.
"Tante maksudku Niken, harusnya kamu bisa
memilih yang bisa bahagiakan kamu. Kamu sayang aku kan?" tanya Steven telak membuatku kaget.
Mulai terasa mataku kian memanas menahan
sesuatu yang akan menetes.
"Jaga bicaramu Stev." Sanggah kak Ami
Apa yang harus ku pilih?
"Maaf Stev, aku setuju dengan keputusan ayah Tomi." Jawabku dengan terbata-bata
"Baguslah kamu memilih keputusan yang tepat." Ujar
__ADS_1