Saya Jatuh Cinta Dengan Keponakan Saya

Saya Jatuh Cinta Dengan Keponakan Saya
Saya mencintai keponakan saya Bab 5


__ADS_3

Bianca Prov Perkenalkan aku Binca, panggil saja Bii. Aku kelahiran Singapore tapi aku campuran


indonesia dan chinese. Kalian pasti bingung, aku kenal Steven dari mana? Yap aku dulu juniornya diSenior High School of


Singapore. Aku suka wajahnya yang tampan dan matanya yang dingin. Jujur ya, aku sedih banget putusan sama dia. Emang sih, itu salahku karena aku berselingkuh


dengan Demon, sahabat baiknya Steven. Aku dan Demon backstreet dibelakang Steven, karena Demon


menberikan apa aja yang aku mau. Meski Steven


juga begitu, tapi dia tidak seroyal temannya itu.


Bulshit kalo aku nggak suka. Puncaknya, kami ketahuan. Steven datang


keapartemen Demon saat aku dan dia sedang


making out. Dan sejak itu, aku enggak pernah ketemu cowok itu.


Yang aku dengar dia dikirim ke indo. Itu juga alasan mengapa aku ke Indonesia dan


kebetulan sekolahku sudah selesai. Mungkin ini my lucky day, ternyata Raka, sahabat ku


dari kecil berteman dengan Steven. Enggak akan ku


sia-siakan kesempatan ini. Sayangnya ada Niken,


pacar Steven saat ini. Yang ku dengar dari Raka,


Niken itu sebenarnya tante Steven, adik dari mommy


Stev. Tekad ku sekarang, akan ku rebut Steven dengan cara apapun..


Steven Prov Saat ini aku sedang duduk diteras depan kelas,


nonton anak-anak bermain bola. Sebenarnya aku diajak bergabung, tapi karena aku enggak terlalu


suka berolahraga, jadi ku tolak. Tiba-tiba BUG "MAKSUD LOE APA ?" Teriak seseorang


yang memukul pelipis ku. Ku toleh kearah suara itu,


ternyata Raka. "Loh ada apa loe giniin gue?" Tanya ku mencoba


menahan emosi. "Loe gila. Ngapain loe ninggalin Bii malah


pacaran sama tante loe itu." "Oh gara-gara itu. Calm dude. Jangan emosi. Loe gak

__ADS_1


malu liat kita jadi tontonan." Kata ku pelan sambil


tersenyum. Raka pun melihat sekeliling, siswa-siswi


banyak yang menonton kami bahkan ada yang berbisik.


Liat dua cowok most wanted kelai. Gue iri deh sama cewek yang di ributin, coba itu gue.


Nyadar say, loe gimana, mending gue.


Yey dimana-mana mendingan gue.


Wah ngajak ribut Aku hanya bisa tersenyum mendengar celotehan


para siswa. "ADA APA INI, SUDAH BEL MASIH RIBUT DISINI?


BUBAR." Kami pun serempak bubar, aku dan Raka pun


berjalan menuju taman belakang. Kami duduk


disebuah bangku didekat pohon yang cukup rindang. "Loe tadi kenapa bro?" Tanya ku dengan nada heran. "Gue mau nanya, loe ngapain nyakitin Bianca?


Ninggalin dia begitu aja!" Tanya Raka balik,


terdengar dia mulai terpancing emosinya. "Gue ninggalin dia karena dia berselingkuh sama


making out bareng teman gue. Apa nda gila." "Awas loe kalau itu cuma bualan loe aja." "Wait a minute, alasan loe marah begini?" "Karena gue su.... Ah loe ngapain ngalihkan


pembicaraan." Kata Raka, suaranya tiba-tiba


mengecil dan terdengar panik. "Haha sudah gue tebak. Loe suka sama Bii." Aku pun


tertawa terbahak-bahak melihat wajah cowok itu


nampak blushing. "Apaan sih loe? Lupain yang gue bilang." Haha sumpah loe lucu bro. Tapi gue punya nasihat


buat loe. Apa? Terus berusaha perjuangkan perasaan loe bro. Gue tau kalo Bii itu batu, tapi dia bakal luluh kok." Setelah


mengucapkan itu, aku berjalan menuju kelas


meninggalkan Raka sendirian. "Woy loe kok pergi, gue belum selesai." Teriak Raka


membahana. "Gue ngantuk. Mau cabut." Jawabku.


Raka Prov Entah apa yang ku pikirkan sampai bisa memukul

__ADS_1


Steven. Mungkin hati dan mataku sudah dibutakan sama


perasaan ku pada Bii. Aku tau emang, kalau perasaanku ini bertepuk


sebelah tangan. Karena Bii hanya menganggapku


temannya dari kecil. Aku jatuh cinta pada tatapannya, senyumannya dan


tutur katanya. Mungkin karena beranjak remaja, Bii berubah. Dia lebih bersolek, kasar dan jutek. Tapi dia


tetaplah Bianca ku, aku juga benci melihat senyuman


indah itu menghilang dari bibir indahnya. Flashback On "Bii, loe dimana?" tanyaku pada Bii saat ku hubungi


dia, rencananya aku ingin ngajak dia ke pantai. "Ha..lo. hiks.. gue diapartemen! Ada apa ka?"


Jawabnya pelan dan tidak jelas, terdengar sesekali ia


berisak. "Bii, loe kenapa? Tunggu gue disitu, gue ontheway."


Setelah ku tutup telepon, segera ku lajukan mobil


bmw sport metalik hitam ku menuju apartemen


Bianca. Tak ku herankan suara klason mobil-motor yang tak


terima karena ku bawa laju mobilku. Sesampai ditempat parkiran, ku berlari menuju lantai


10, letak kamar Bianca. Ku masuk kekamarnya tanpa


ku ketok dahulu. Dihadapanku, Bianca sedang berdiri dibalkon


menghadap keluar. Tangannya tengah memegang


sepuntung rokok. "Bii, loe kenapa? Sejak kapan loe ngerokok?" tanyaku


seraya membuang puntung rokok dari gadis itu.


Loe kok berubah sih Bii? "Steven, kamu kesini sayang. Aku kangen." Jawaban


Bii membuatku terbelalak, tercium aroma alkohol


dari bibirnya.


Rupanya mabuk dia, liat saja botol beer terhambur

__ADS_1


disana-sini. Segera ku bopoh tubuh Bii menuju ranjangnya supaya


ia bisa beristirahat.


__ADS_2