
Bianca Prov Perkenalkan aku Binca, panggil saja Bii. Aku kelahiran Singapore tapi aku campuran
indonesia dan chinese. Kalian pasti bingung, aku kenal Steven dari mana? Yap aku dulu juniornya diSenior High School of
Singapore. Aku suka wajahnya yang tampan dan matanya yang dingin. Jujur ya, aku sedih banget putusan sama dia. Emang sih, itu salahku karena aku berselingkuh
dengan Demon, sahabat baiknya Steven. Aku dan Demon backstreet dibelakang Steven, karena Demon
menberikan apa aja yang aku mau. Meski Steven
juga begitu, tapi dia tidak seroyal temannya itu.
Bulshit kalo aku nggak suka. Puncaknya, kami ketahuan. Steven datang
keapartemen Demon saat aku dan dia sedang
making out. Dan sejak itu, aku enggak pernah ketemu cowok itu.
Yang aku dengar dia dikirim ke indo. Itu juga alasan mengapa aku ke Indonesia dan
kebetulan sekolahku sudah selesai. Mungkin ini my lucky day, ternyata Raka, sahabat ku
dari kecil berteman dengan Steven. Enggak akan ku
sia-siakan kesempatan ini. Sayangnya ada Niken,
pacar Steven saat ini. Yang ku dengar dari Raka,
Niken itu sebenarnya tante Steven, adik dari mommy
Stev. Tekad ku sekarang, akan ku rebut Steven dengan cara apapun..
Steven Prov Saat ini aku sedang duduk diteras depan kelas,
nonton anak-anak bermain bola. Sebenarnya aku diajak bergabung, tapi karena aku enggak terlalu
suka berolahraga, jadi ku tolak. Tiba-tiba BUG "MAKSUD LOE APA ?" Teriak seseorang
yang memukul pelipis ku. Ku toleh kearah suara itu,
ternyata Raka. "Loh ada apa loe giniin gue?" Tanya ku mencoba
menahan emosi. "Loe gila. Ngapain loe ninggalin Bii malah
pacaran sama tante loe itu." "Oh gara-gara itu. Calm dude. Jangan emosi. Loe gak
__ADS_1
malu liat kita jadi tontonan." Kata ku pelan sambil
tersenyum. Raka pun melihat sekeliling, siswa-siswi
banyak yang menonton kami bahkan ada yang berbisik.
Liat dua cowok most wanted kelai. Gue iri deh sama cewek yang di ributin, coba itu gue.
Nyadar say, loe gimana, mending gue.
Yey dimana-mana mendingan gue.
Wah ngajak ribut Aku hanya bisa tersenyum mendengar celotehan
para siswa. "ADA APA INI, SUDAH BEL MASIH RIBUT DISINI?
BUBAR." Kami pun serempak bubar, aku dan Raka pun
berjalan menuju taman belakang. Kami duduk
disebuah bangku didekat pohon yang cukup rindang. "Loe tadi kenapa bro?" Tanya ku dengan nada heran. "Gue mau nanya, loe ngapain nyakitin Bianca?
Ninggalin dia begitu aja!" Tanya Raka balik,
terdengar dia mulai terpancing emosinya. "Gue ninggalin dia karena dia berselingkuh sama
making out bareng teman gue. Apa nda gila." "Awas loe kalau itu cuma bualan loe aja." "Wait a minute, alasan loe marah begini?" "Karena gue su.... Ah loe ngapain ngalihkan
pembicaraan." Kata Raka, suaranya tiba-tiba
mengecil dan terdengar panik. "Haha sudah gue tebak. Loe suka sama Bii." Aku pun
tertawa terbahak-bahak melihat wajah cowok itu
nampak blushing. "Apaan sih loe? Lupain yang gue bilang." Haha sumpah loe lucu bro. Tapi gue punya nasihat
buat loe. Apa? Terus berusaha perjuangkan perasaan loe bro. Gue tau kalo Bii itu batu, tapi dia bakal luluh kok." Setelah
mengucapkan itu, aku berjalan menuju kelas
meninggalkan Raka sendirian. "Woy loe kok pergi, gue belum selesai." Teriak Raka
membahana. "Gue ngantuk. Mau cabut." Jawabku.
Raka Prov Entah apa yang ku pikirkan sampai bisa memukul
__ADS_1
Steven. Mungkin hati dan mataku sudah dibutakan sama
perasaan ku pada Bii. Aku tau emang, kalau perasaanku ini bertepuk
sebelah tangan. Karena Bii hanya menganggapku
temannya dari kecil. Aku jatuh cinta pada tatapannya, senyumannya dan
tutur katanya. Mungkin karena beranjak remaja, Bii berubah. Dia lebih bersolek, kasar dan jutek. Tapi dia
tetaplah Bianca ku, aku juga benci melihat senyuman
indah itu menghilang dari bibir indahnya. Flashback On "Bii, loe dimana?" tanyaku pada Bii saat ku hubungi
dia, rencananya aku ingin ngajak dia ke pantai. "Ha..lo. hiks.. gue diapartemen! Ada apa ka?"
Jawabnya pelan dan tidak jelas, terdengar sesekali ia
berisak. "Bii, loe kenapa? Tunggu gue disitu, gue ontheway."
Setelah ku tutup telepon, segera ku lajukan mobil
bmw sport metalik hitam ku menuju apartemen
Bianca. Tak ku herankan suara klason mobil-motor yang tak
terima karena ku bawa laju mobilku. Sesampai ditempat parkiran, ku berlari menuju lantai
10, letak kamar Bianca. Ku masuk kekamarnya tanpa
ku ketok dahulu. Dihadapanku, Bianca sedang berdiri dibalkon
menghadap keluar. Tangannya tengah memegang
sepuntung rokok. "Bii, loe kenapa? Sejak kapan loe ngerokok?" tanyaku
seraya membuang puntung rokok dari gadis itu.
Loe kok berubah sih Bii? "Steven, kamu kesini sayang. Aku kangen." Jawaban
Bii membuatku terbelalak, tercium aroma alkohol
dari bibirnya.
Rupanya mabuk dia, liat saja botol beer terhambur
__ADS_1
disana-sini. Segera ku bopoh tubuh Bii menuju ranjangnya supaya
ia bisa beristirahat.