SEBUAH KESEPAKATAN

SEBUAH KESEPAKATAN
BAB 19 KESEPAKATAN bag. 3


__ADS_3

Oke baik to the point aja begini bu Dira keadaan ibu anda baik seperti biasa tapi ada satu perihal yang ingin saya sampaikan untuk membantu agar syaraf ibu anda bisa berkembang dengan cepat ada sebuah rumah sakit di daerah Jakarta pusat rumah sakit yang lumayan terkenal dan ternama, di sana telah mendatangkan sebuah alat dari luar negri untuk perkembangan syaraf, saya hanya sekedar memberi tahu jika ibu bersedia kita bisa dengan cepat melihat perkembangan baik ibu anda.


Untuk biaya nya dok, , jawab Dira , , Itu juga masalahnya untuk biaya sedikit lebih mahal, itu pun jika anda berkenan lebih baik anda fikirkan terlebih dahulu jika keputusannya sudah di tangan anda hubungi saya secepatnya, , baik dok , , terima kasih sebelumnya. langkah kaki Dira seakan berat semua yang datang dengan secara bertubi-tubi membuat gadis berumur 27 tahun itu merasakan bahwa ini kehidupan yang sesungguhnya , Dira hanya bisa memandang wajah tenang ibunya yang telah tertidur sangat damai.


Bu semua benar benar berat bukan ??jawab bu Dira mohon , , , membayangkan ini semua , Dira teringat akan hal yang telah terjadi dengan sore ini, pernyataan Ari yang sempat lewat di pikiran Dira. Bertepatan dengan nada pesan yang berasal dari tas sandang yang di Pakainya . Ari: maaf dengan kejadian sore ini, , tapi saya harap kamu lebih memikirkan lagi dan saya tunggu keputusan kamu secepatnya.


Dira yang seakan bingung ntah apa yang harus dia perbuat dengan keadaan dan situasi yang sangat-sangat sulit, di satu sisi jika dia menerima tawaran Ari sama saja dia telah melukai harga dirinya dan telah mempermainkan pernikahan jika tidak di sisi lain dia sangat ingin melihat ibunya bisa pulih seperti dulu lagi. Dira yang hanya diam mematung tanpa sadar kelelahan dan kebimbangan membawa dia kealam mimpi.

__ADS_1


***


Siang itu Dira telah tampak berfikir begitu keras, bagaimanapun keputusan yang akan diambil adalah keputusan yang sama sekali tidak tepat, gadis berusia 27 tahun itupun telah berencana untuk mengambil kesempatan yang di tawarkan Ari yaitu menjadi pengantinya demi kebahagian sang ayah begitupun juga Dira rela untuk mengorbankan kebahagiannya demi kesembuhan ibunya. Mengeluarkan telephone genggam dari tas mini yang tersandang di bahu kirinya, , ,


Memanggil Ari , , , tutt, , , tuttt, , , tuttttt


Ya ri ini saya Dira , , ya ada apa Dira ??ada yang mau saya bicarakan penting kamu ada waktu gak hari ini , , hmm oke kalau gitu nanti saya tunggu di café tempat biasa ya , , oh oke nanti kabarin saya kalau kamu udah mau otw ya , , oke , , , tutt, , , tutt, , tuttt (percakapan terputus seketika).

__ADS_1


Dira yang hari itu hanya menunggu kabar dari Ari sambil menikmati martabak mini yang tersedia di hadapannya, Dira yang seakan tegar untuk menguatkan hati dengan keputusan yang dianggap tepat pada saat itu membuat Dira terlihat berfikir teramat keras ditandai lingkar hitam di matanya yang terlihat amat jelas. tangan kanan yang sedari tadi hanya memutar balikan handphone menunggu panggilan dari Ari .


Apa mungkin Ari lupa ?? fikir Dira , , ,


Satu , , dua , , , tiga , , , empat, , , lima, , , Dira yang seperti orang kebingungan menghitung orang yang lalu lalang dihadapannya , , bulir bening terlihat tampak menjamah di pipi kanan kirinya , entah apa yang di fikirkannya membuat Dira tampak seperti orang yang menahan kekecewaan yang teramat dalam, sembari mengambil dompet di tas mini yang di sandangnya dan mengeluarkan selembar foto laki-laki yang berparas setengah baya, dengan tatapan mata yang tajam senyuman yang penuh dengan kesedihan beserta perawakan yang di tandai dengan dunia yang penuh dengan ketidakadilan itulah pandangan Dira tentang foto ayahnya pada saat itu, foto yang di cetak setelah dua hari kepergian ayahnya membuat Dira terlihat tampak begitu sangat hancur ditambah lagi bumbu dengan rintik hujan yang sedikit demi sedikit telah membasahi jalan pertanda semesta menatap lekat ke dalam situasi drama hidup Dira.


BERSAMBUNG,,,

__ADS_1


__ADS_2