Sefia

Sefia
part 1


__ADS_3

Suara erangan kesakitan yang tersisa setelah anak-anak brandal itu puas melampiaskan “hoby” mereka meninggalkan seorang anak perempuan berusia 17 tahun itu terbaring di tanah halaman belakang sekolah.


Anak itu berusaha bangkit lalu mengambil kacamatanya yang terlepas sebelumnya.


Dilihatnya seragam yang sudah kotor dan beberapa bagian tubuh yang lecet membuatnya makin meringis merasakan lukanya.


Dilihatnya sekeliling. sedikit berharap ada seseorang yang datang dan membantunya namun rasanya nihil. Dia tidak memiliki satu teman pun disekolah yang benar-benar peduli padanya.


Dalam hatinya, ingin sekali dia bisa melawan dan membela diri sendiri seperti cerita-cerita di film. Sayangnya tubuhnya yang lemah tidak menyanggupi untuk digunakan barang ikut dalam kegiatan bela diri.


Lagipula, jadwalnya sudah sangat padat dengan berbagai macam les tambahan. Papanya juga tidak mengizinkan dia ikut kegiatan seperti itu. “tidak penting” katanya.


Saat hendak melangkahkan kaki, tiba-tiba hp di dalam tas Sania berdering. Dengan cepat Sania mengambil hpnya dan buru-buru mengangkatnya.


“I-iya,halo kak?” ucapnya berusaha menetralkan suaranya setidaknya agar orang di seberang tidak mencurigainya walaupun rasanya tidak mungkin juga dia mengharapkan belas kasihan untuknya.

__ADS_1


“dimana kamu?! Cepat! Waktuku Tidka banyak!” ucap pria diseberang dengan nada dingin khasnya yang bahkan membuat Sania bisa membayangkan bagaimana ekspresinya kala itu.


“I-iya kak. Maaf lama.tunggu sebentar...”


Panggilan diakhiri sepihak dan Sania segera mengeluarkan jaket dari dalam tasnya untuk menutupi bagaimana kacaunya dia sekarang. Setelah yakin dirinya sudah rapi dan tidak mencurigakan, Sania segera berlari paksa menahan perih menuju depan sekolah.


Dilihatnya mobil hitam sport mewah milik salah satu kakaknya sudah mejeng keren disana.


Segera ia mendekat dan masuk kedalam mobil lalu memakai sabuk pengaman dan membetulkan kaca matanya. “maaf”. Ucapnya sambil sedikit membungkuk pada pria ice prince di sebelahnya itu.


Setibanya di rumah, Sania segera mengucapkan terimakasih dan turun dari mobil. Tanpa menunggu lama, mobil itu segera pergi meninggalkan Sania yang mematung melihat ujung belakang mobil tersebut.


Senyum tipis terukir di wajahnya merasa sedikit lega. Setidaknya dia merasakan ada sedikit rasa peduli dari saudaranya untuk menjemputnya. Walaupun itu bukan kesehariannya, karena biasanya dia akan dijemput oleh supir keluarga namun sepertinya saat ini mamanya juga sedang tidak ada di rumah dan membuatnya yakin kalau mamanya pasti memaksa kakaknya untuk menjemputnya disekolah.


“Nona Sania,Kenapa berdiri disana?”

__ADS_1


Suara khas wanita berusia hampir 50 tahun itu membuat Sania berbalik dan tersenyum senang melupakan hal buruk yang sudah terjadi padanya. Bik Lim, satu-satunya tempat Sania berbagi keluh kesah datang menghampiri dengan wajah khawatir. Dipandanginya putri tuannya dari Jung kaki hingga ujung kepala dan dia tahu ada yang salah dengannya.


“kotor sekali nona. Habis ngapain tadi disekolah?”


Sania tersenyum dan menggeleng tidak ingin membuat bibik kesayangannya merasa makin khawatir.


“Jatuh bik di bukit belakang sekolah tadi. Keguling-guling...”


Bik Lim langsung menghela nafas khawatir.


“iya sudah, ayo nona kita masuk dulu. Nanti bibik bantu bersihin. Ada luka gak? Ad ayang sakit gak?” tanya bik Lim seraya melihat sekali lagi menelisik ke seluruh sudut tubuh Sania.


“Dikit bik. Iya udah bik ayo kita masuk. Aku juga udah mau mandi, bauk!” ucapnya sambi terkekeh pelan guna mengurangi cemas yang dirasakan bik Lim.


“Iya sudah, ayo non...”.

__ADS_1


merekapun segera masuk kedalam rumah besar bernuansa putih layaknya istana tersebut. Rumah yang mungkin orang fikir adalah rumah impian sejuta umat, namun tidak ada yang bisa mengetahui apa dan bagaimana sebenarnya yang terjadi di keluarga tersebut. Terutama pada gadis belia bernama Sania itu.


__ADS_2