Sefia

Sefia
part 6


__ADS_3

"wah...ini...”. Tias nampak tak percaya dengan benda di tangannya.


“Papa bilang, mama Tias suka bunga buat taruh di rumah dan butik. Jadi aku fikir buat beli vas nya kemarin waktu liburan di China. Mama suka?”


Tias mengangguk terharu mendengar ucapan Sefia. Bisa-bisanya anak itu memikirkan membeli hadiah untuknya yang belum pernah bertemu bahkan ketika dia sedang liburan. Sekarang dia tahu kenapa Sania dan suaminya sangat percaya pada anak gadis itu. Bik Lim pun tersenyum senang melihat akurnya ibu dan anak baru itu.


“Sefia....!!!”


Suara teriakan itu membuat Sefia menoleh dan baru menyadari ternyata ada banyak pasang mata memperhatikan mereka. Namun kembali lagi, dia hanya fokus pada saudari kembarnya yang terlihat sangat bahagia dengan kedatangannya.


“Sania....!!!” Sefia melambaikan tangan penuh semangat membuat Bram, Tias dan bik Lim tertawa. Tak lupa pak Eko ikut menyaksikan pertemuan dua saudara kembar yang terpisah itu.


Dengan cepat Sania berlari menuruni anak tangga dan melimpah kedalam pelukan Sefia membuat semuanya kaget takut-takut mereka berdua terjatuh. Tapi Sefia memang gadis yang kuat hingga mampu menahan tubuh saudarinya yang memeluknya bahkan menggantung seperti anak koala padanya. Dengan mata terpejam, Sania meneteskan air mata hingga agak terisak didalam pelukan Sefia membuat Tias kaget sementara Sefia hanya terkekeh pelan.


“sebegitunya kamu kangen samaku? Sampai nangis segala. Jangan cengeng, aku gak suka...” ucap Sefia sembari mengusap lembut rambut Sania.


Bram yang mendengar itupun sedikit kaget namun berusaha tersenyum. Tentu bukan hal yang mudah bagi mereka harus jauh lama-lama. Sania adalah anak yang pendiam dan tertutup. Jadi hanya dengan sedia lah dia bisa mencurahkan semuanya tanpa titik.


“Turunlah...aku bawa sesuatu buat kamu!”

__ADS_1


Sania turun dari badan Sefia membiarkannya membuka ranselnya dan mengeluarkan kotak untuk Sania. Kotaknya tidak sebesar milik Tias, tapi warnanya kesukaan Sania.


“Boleh aku bukak?” tanya Sania tidak sabar.


“gak...gausah dibuka. Simpan aja di kamar! Ya boleh lah, San...!!”


Sania yang awalnya murung langsung tersenyum dan membuka kotanya.


Isinya sebuah pena tinta yang terbuat dari kaca beserta beberapa warna tinta dan perlengkapan lainnya membuat Sania membuka mulutnya lebar-lebar.


“baru kemarin aku liat video orang pakai pena ini! Ternyata aslinya cantik banget...!!!” ucapnya kagum dan senang.


Sania menutup kotaknya dan memeluknya.


“suka...banget...!! Gimana kamu selalu bisa tau apa yang aku mau?”


“That’s twins conection!” jawab Sefia tersenyum sambil menunjuk jantungnya dan jantung Sania.Merekapun tertawa senang.


“lalu, mana untuk papa dan saudara laki-lakimu yang lain?” tanya Bram sembari menuruni anak tangga disusul ketiga putranya.

__ADS_1


“ah...itu... Aku gak menyiapkan apapun...” jawab Sefia santai.


“Kenapa? Mereka juga saudaramu. Dan papa?”


“pa...hadiah itu harusnya dari laki-laki ke perempuan. Yang tua ke yang muda. Kalian lebih tua dariku dan laki-laki semua. Untuk apa aku membelikan hadiah? Harusnya kalian yang memberikan hadiah untukku!” seru Sefia lantang membuat Tias dan Sania mengangguk setuju.


Bram tertawa pelan dan berdiri di depan putrinya itu.


“apa yang kamu inginkan? Katakan. Papa akan memberikannya untukmu...” ucap Bram penuh keyakinan membuat Sefia tersenyum.


“Berikan aku doa terbaik dari papa buat aku. Cukup doakan aku bahagia sepanjang hidupku...”


Tias nampak kaget dengan permintaan Sefia. Anak itu bisa meminta apapun pada suaminya namun dia hanya meminta sebuah doa? Bagi anak jaman modern sepertinya, yang tinggal di luar negeri tentu itu seperti tidak lagi seharusnya pernah terpikirkan. Terlihat juga ketiga putranya nampak sedikit mengerutkan alisnya.


Sania dan bik Lim pun tersenyum karena ini bukan pertama kalinya Sefia menunjukkan betapa bermoralnya dirinya. Walaupun dibelakang mereka, mereka Tidka tahu bagaimana Sefia aslinya.


Bram tersenyum dan mengusap kepala Sefia.


“Doa terbaik papa untukmu. Semoga kamu selalu menjadi anak yang kuat dan bahagia sampai akhir hidupmu...”

__ADS_1


__ADS_2