Sefia

Sefia
part 4


__ADS_3

Sania meletakkan hpnya di kantong setelah panggilan mereka akhiri membuat Tias penasaran.


“kalian mau keluar besok?”


Sania menjawabnya dengan anggukan kepala.


“Besok aku kenalin mama sama Sefia. Dia juga mau kenalan sama mama...”


Tias langsung tersenyum senang penuh semangat. Tidak pernah dibayangkannya bisa bertemu salah satu putrinya yang baru itu. Melihat dari senyum bahagia di wajah Sania dan suaminya setiap selesai bertelepon dengan Sefia membuat Tias makin penasaran dengan anak itu.


Dia masih segan untuk menelfon sendiri Sefia karena khawatir menganggu kesibukannya disana. Dia hanya pernah sekali mendengar suaranya saat mengucapkan selamat di pernikahan mereka lewat telfon Clara. Masih teringat suaranya yang penuh semangat dan terdengar bahagia tanpa beban membuat Tias yakin Sefia tidak sesulit itu untuk didekati.


“bagus...besok kita semua libur. Kita bisa sarapan bersama dengannya besok. Mama akan masak spesial untuknya. Dan kalian bertiga!” ucap Tias sambil menodongkan garpu ke arah ketiga putranya.


Sontak saja ketiga pria tampan itu menoleh sedikit kaget karena intonasi suara yang digunakan Tias. Bahkan Enwoo menelan kasar makanannya seakan itu tekanan terakhir baginya membuat Sania berusaha mati-matian menahan tawanya.


“besok jika kalian mengeluarkan sedikit saja kata-kata yang menyakiti Sefia, maka mama tidak akan memasakkan makanan kesukaan kalian selama sebulan penuh! Faham?”


Ketiga pria itu mengangguk kompak seperti tentara yang menerima tugas dari sersan nya. Lagi-lagi hal itu membuat Sania menggigit bibirnya menahan senyumnya.


“baik, ayo cepat habiskan makannya supaya kita cepat istirahat...”

__ADS_1


.


.


.


.


Seorang penjaga yang duduk terpejam di pos nya terusik akan sesuatu yang menganggu dan membuat gatal di hidungnya. Beberapa kali dia mencoba menepis dan menggaruknya dengan mata terpejam namun usahanya seakan tidak menghilangkan sesuatu yang mengganggu itu. Dengan kesal dia membuka matanya dan...


“Pagi pak...!!!”


“astaga nona Sefia! Bikin saya kaget saja!” keluh penjaga tersebut sembari mengusap dadanya. Sefia pun tertawa sambil meletakkan satu box makanan dan beberapa botol kopi di jendela pengawas itu.


“nih pak, buat sarapan biar gak ngantuk!” ucap Sefia tanpa menghilangkan senyum di wajahnya yang membuat dimple imut dikedua belah pipinya menambah manis wajahnya.


“wah....makasih nona! Lama gak kesini! Lagi liburan?” tanya penjaga sambil meletakkan makanan di meja kerjanya.


“iya pak. Mulai hari ini, aku bakal sering gangguin pak Eko. Jadi, siap-siap yah pak! Oh iya, sekalian pak minta tolong bukain gerbangnya. Mau jemput Sania!”


Pak Eko mengerutkan alisnya dan menengok keluar. Tidak ada kendaraan yang diduganya datang bersama Sefia melainkan hanya sebuah motor matic jenis PCX yang terparkir.

__ADS_1


Sefia tersenyum dan menaiki motornya lagi lalu menstater motornya. Pintu gerbang pun terbuka otomatis sedangkan pak Eko keluar dari pos nya kebingungan dan khawatir lalu mendekati Sefia.


“Non mau jemput nona Sania pake motor,non?” tanyanya dengan nada agak berbisik khawatir didengar seseorang. Siapa tahu saja kan bos besarnya ada disana.


“iya pak, kenapa pak?” tanya Sefia dengan sedikit penasaran dengan jawaban pak Eko. Padahal dia tahu apa yang ada di fikiran pria itu saat ini.


“aduh non! Mana diizinin sama tuan besar non! Tuan kan protektif banget sama non Sania. Terus liat non kayak gini, tuan besar pasti bakal ngomel non!” ucap pria itu sedikit mengkhawatirkan Sefia meskipun dia tahu Sefia Tidak akan gentar dengan bos besarnya.


“ah, gampang pak! Ayo kita taruhan! Kalau aku bisa bawa Sania keluar...(menunjuk pintu rumah) terus keluar naik motor ini...(memukul stir motornya) pak Eko harus balap lari sama aku dari ujung komplek ke sini! Gimana pak?” ajak Sefia sambil memainkan alisnya jahil.


“tapi non...” pak Eko nampak agak ragu dengan tantangan Sefia. Dia tentu tau kemampuan fisik gadis itu pasti lebih baik darinya mengingat usianya yang masih muda, jadi dia tidak terlalu pikir menang kalahnya. Tapi masalahnya gang komplek cukup jauh dari rumah besar itu.


“Gimana pak? Berani gak? Kalau bapak menang, besok saya bawain pizza 2 kotak!”


Mata pak Eko langsung membulat seketika tergiur dengan tawaran Sefia.


“Oke lah non! Bener ya, 2 kotak non!” tanya pak Eko sambil menunjukkan 2 jarinya.


“Gampang itu pak! Emang aku pernah bohong masalah makanan sama pak Eko? Aku masuk dulu pak!”


“oke non!”

__ADS_1


__ADS_2