Sefia

Sefia
tak asing


__ADS_3

Hari ini benar-benar Tidak sesuai ekspektasi Jaehyun. Lucas benar-benar menunjukkan sisi posesifnya begitu juga Kun yang mulai tidak bisa mengontrol diri untuk tidak mengeluarkan sisi yang coba dihilangkannya itu. Setidaknya untuk selama liburan ini saja.


Kun sebenarnya tidak ingin membuat jarak antara Sefia dengan saudara tirinya tapi lagi-lagi yang namanya refleks tentu saja tidak bisa di duga. Seperti saat Sefia kedinginan setelah main arung jeram hingga bajunya basah total, Kun sadar ketiga saudara itu mencoba mendekat tapi dia langsung menarik cepat Sefia kedalam pelukannya. Tidak tega rasanya dia kalau adik kesayangannya itu disentuh orang lain selain dia dan keluarganya tentunya.


Keluarga? Bukankah mereka semua keluarga? Yah, bisa di bayangkan lah. Mereka baru saling kenal dan selama ini Sefia tidak bersama mereka. Satu lagi. Kun sadar secara hukum mereka termasuk bukan keluarga karena Sefia ada di pihak keluarga ibu berbeda dengan Sania yang ada di pihak keluarga ayah yang tentunya hukum menyatakan mereka dan Sania keluarga. Tapi tidak dengan Sefia.


Kun juga mulai merasakan tatapan ketiga pria itu sangat berbeda ke Sefia setiap saat dia memergokinya. Jika saja Sefia tidak cerita dimintai tolong oleh mama Tias nya, mungkin Kun sudah tidak mendukung acara ini. Lagipula, semakin cepat mereka membaur dengan Sania, semakin cepat juga Sefia selesai dengan janjinya. Itu kenapa sesekali Kun sering memberikan dorongan pada mereka untuk melakukan hal-hal kecil pada Sania. Seperti ketika naik ATV di awal, Jaehyun bersama Sania. Flying fox dengan Mingyu karena Sania sedikit ketakutan. Dan satu boat dengan ketiga kakaknya itu saat rafting. Terlihat juga mereka mulai mengajak bicara Sania walaupun hanya sekedar bertanya “apa kamu baik-baik saja?”. Simple tapi itu cukup untuk menjadi awal semuanya.


Walaupun begitu, Kun masih tidak yakin itu yang menjadi alasan Sefia memilih pindah kesini. Rasanya alasan itu tidak kuat hingga harus membuatnya repot-repot pindah kemari.


Selesai makan malam, Sefia langsung mengajak Sania ke atas karena terlihat jelas saudarinya itu sudah sangat mengantuk. Jadi dia mau menidurkannya dulu. Siapa tau dia juga bisa ketiduran kalau beruntung. Karena memang Sefia yang biasa tidak tahu diam juga akan terbiasa melakukan kegiatan seperti ini.


Hp Kun berdering mengalihkan atensi semua orang yang sedang bersantai di lantai dua itu.


“siapa ge?” tanya Lucas penasaran.


“tante Clara...”


Kun segera mengangkat panggilan video dari mama si kembar itu.


“Halo Tante...”


“Halo Kun. Sayang, Sefia dan Sania ada disana? Kenapa Sefia gak angkat telfon Tante ya?”


Jelas dari suaranya Clara sangat khawatir. Terutama pada Sefia. Karena dia satu-satunya yang dimiliki oleh Clara. Dia satu-satunya yang bisa membuat Clara siap meninggalkan dan mengorbankan apapun untuk putrinya itu. Kun ge teringat sesuatu dan tersenyum.


“Iya Tante. Tadi batre hp Sefia habis. Mungkin sekarang masih dicharger dan dimatikan. Tante tenang saja, mereka baik-baik aja kok. Baru aja mereka istirahat...”


“Syukurlah kalau begitu. Tante bisa tenang sedikit. Kun, Tante titip Sefia disana sama Lucas juga bilang Tante minta tolong. Kamu tau kondisi adikmu itu sedang tidak aman. Tante rada was-was juga dengannya...”


Sontak saja itu membuat Enwoo, Jaehyun dan Mingyu saling menoleh kebingungan dengan maksud Clara. Ucapannya rasanya tidak ada bedanya dengan apa yang Suho katakan sebelumnya. Hal buruk apa yang sedang sedang terjadi pada Sefia? Seandainya mereka tahu, mereka kan juga bisa membantu sebisa mereka.


Lucas segera turun dari ayunannya dan mendekat ke arah kamera.


“siap Tante, tenang saja. Sefia aman dengan kami. Dia gak akan lepas dari pengawasan!”


Jawaban Lucas membuat Jaehyun berdecih pelan.


“Kemarin saja anaknya sampai bisa kabur ke kantor. Gimana bisa dipercaya coba?”


“Iya sudah, Tante percaya dengan kalian. Baik-baik disana ya! Nikmati liburan kalian Tante tutup dulu...”


“Iya Tante...”


“dada Tante cantikku!!”


Ucapan Lucas membuat Clara tertawa sampai akhirnya panggilannya berakhir. Lucas memang dekat dengan Clara. Clara juga lah yang membantu lucas bisa menjadi model majalah saat ini.


Sebenarnya Sefia juga sudah terjun ke dunia modeling hanya saja dia belum seserius Lucas karena dia masih sekolah. Masih ada batasan-batasan pakaian yang diizinkan mamanya untuk digunakan Sefia melakukan foto shoot karena itu Sefia Tidak terlalu sering mengambil job.


“Kalau kalian tidak keberatan, bisakah kalian menceritakan. Ada masalah apa sebenarnya. Kenapa sepertinya Tante Clara, dan paman Suho seakan mengkhawatirkan sesuatu pada Sefia?”


Pertanyaan Enwoo tentu membuat Kun dan Lucas saling melempar pandangan. Mereka fikir Sefia sudah menceritakan pada keluarga papanya itu. Tapi sepertinya mereka salah total. Anak itu masih pilih diam begitu juga artinya mama Clara yang tidak menceritakan pada mantan suaminya.


“Kalian ceritakan saja pada kami. Kami pasti akan membantu kalian semaksimal mungkin. Sefia juga anak dari papa kami dan kesayangan mama kami. Jika terjadi sesuatu padanya, mama pasti juga akan sedih...”


Lucas menengok ke arah Kun dan membuat Kun menghela nafas panjang.


“maaf. Tapi kami tidak bisa menceritakannya. Kami tidak bisa menceritakan jika dia saja menolak untuk membicarakannya...”


“tapi kan...”


“kalau kalian ingin tahu. Bujuk saja dia untuk bicara sendiri. Kami tidak mau dia membenci kami hanya karena menceritakan masalahnya pada orang lain tanpa izinnya...”


Kun naik ke atas ranjang dan berbaring memejamkan mata begitu juga dengan Lucas yang segera kembali ke ayunannya.


Ketiga pria itu pun hanya bisa menghela nafas pasrah. Tidak ada jawaban yang mereka dapatkan dari siapapun.


“apa yang terjadi padamu, Sefia?”


.


.


.

__ADS_1


.


.


.


.


.


Sefia mengambil jaket yang sudah kering di jemuran. Dengan senyum sumbringah dia membawa jaket itu masuk kedalam penginapan.


“Jaket itu sudah sangat lusuh. Kenapa kamu masih memakainya?” tanya Enwoo membuat Sefia kaget.


“aku kira kak Enwoo ikut mereka jalan-jalan tadi...”


“Aku kembali lagi karena bosan...”


Enwoo mengalihkan pandangannya ke jaket di tangan Sefia.


“bagaimana kalau nanti kita beli jaket yang baru?”


Sefia menggeleng tersenyum sambil mengeratkan tangannya pada jaketnya.


“jaket ini punya seribu satu cerita. Jadi ini spesial!” Jawab gadis itu sambil menempelkan jaketnya pada wajahnya penuh sayang kembali membuat Enwoo tersenyum gemas.


“kamu sangat suka memakai barang lama. Setia sekali kamu dengan barang-barangmu...”


“tentu. Aku orangnya setia. Teruji klinis!”


Keduanya tertawa bersama sampai akhirnya mereka mendengar suara teriakan seseorang.


Kompak mereka saling menoleh dan berlari keluar mencari sumber suara dan ternyata ada seorang anak laki-laki yang sepertinya terjerembab disebelah penginapan mereka.


Sefia tertawa melihat anak itu meringis membuat sikorban menoleh dan terkekeh malu.


“Selamat siang...” ucapnya menutupi rasa malunya karena tidak tahu harus bicara apa lagi.


Enwoo juga hanya bisa menggeleng pelan. Memang kondisi tanah disana tidak rata dan beberapa bagian tanah cenderung miring jadi harus berhati-hati jika malam gelap. Tapi itu masih terang bagaimana anak itu bisa terjatuh kesana?


Sefia mengulurkan tangannya ke anak laki-laki itu sementara Enwoo memegang tangan Sefia yang lain takut-takut dia kehilangan keseimbangan dan ikut terjatuh.


Anak laki-laki itu meraih tangan Sefia dan naik ke bagian yang bertanah rata. Anak itu masih tersipu malu atas kesalahannya sendiri sampai tidak sadar kalau Sefia memperhatikan tangannya.


“Sikumu Berdarah. Tunggu disini...!”


“eh tunggu...!!”


Sefia abai dan berlari ke dalam penginapan lalu datang lagi dengan membawa kotak p3k ukuran sedang dan sebotol air.


“sini...!!”


Ditariknya tangan anak itu ke tempat duduk terdekat lalu menyiram lukanya hingga membuat anak itu sedikit meringis.


“tahan sedikit...” ucap Enwoo menenangkan.


Sefia mulai mengobati luka anak itu dan tanpa sadar anak itu terus memperhatikan gerak gerik Sefia.


“sudah selesai. Besok-besok kalau mau jatuh, cari tempat yang lebih curam biar greget!” ledek Sefia sambil tertawa sementara anak laki-laki itu memandangnya penuh tanya. Dia merasa tidak asing dengan gadis yang sedang menertawakannya itu.


“Aku seperti pernah melihatmu sebelumnya. Tapi dimana ya?” anak itu mencoba mengingat kembali dengan wajah polosnya membuat Sefia tersenyum simpul.


“Hhmmm... Kamu anak yang kejebak di tengah tawuran itu,kan?”


Soobin langsung ingat dan tertawa malu.


“ah...lagi-lagi kamu membantuku. Aku malah belum berterimakasih tentang bantuan kemarin...”


Enwoo yang melihat itu cukup kaget. Ternyata Sefia bisa membuat orang mengenalnya tanpa harus tahu namanya. Luar biasa baginya.


“itu bukan masalah..lagipula, wajahmu terlihat lucu sekali waktu ketakutan...”


Soobin kembali dibuat malu mengingat kejadian itu.


“Kenalkan, namaku Soobin...” ia mengulurkan tangannya ke arah Sefia dan dibalas olehnya.

__ADS_1


“Sefia...”


Soobin mengerutkan alisnya. Nama itu seperti tidak asing baginya.


“So-Soobin?”


Ketiganya langsung menoleh dan terlihat Sania datang dengan yang lain. Soobin terdiam beberapa saat sampai dia mengingat wajah Sania.


“ah...kamu yang duduk di ujung itu,kan?”


Sefia mengerutkan alisnya bingung.


“kalian sekelas? Tapi kenapa kamu kayak gak kenal dia?”


“Ah...itu... Aku jarang di kelas dan dia juga gak pernah bicara dikelas kayaknya. Jadi aku gak tahu namanya...”


Sefia mengalihkan pandangannya ke Sania dan melihat saudarinya itu tertunduk menyembunyikan sesuatu.


“ah, kalau gitu aku kasi tau sekarang dan harus kamu inget karena dia temanmu juga. Namanya Sania Greyson. Ingat baik-baik. Kalau perlu,dicatat...!” canda Sefia diakhiri dengan tawa pelan.


“Greyson? Hhmmm...aku akan mengingatnya...” jawab Soobin sambil menunjuk kepalanya.


“Sefia Greyson...”


Suara itu terdengar seperti cicitan namun bisa didengar oleh Sefia dan Enwoo yang ada didekatnya. Soobin sendiri seperti tidak sadar mengucapkan nama itu lalu dia memegangi kepalanya yang terasa agak pusing.


“So-Soobin...!!”


Sefia segera menahan Soobin agar tidak sampai terjatuh. Yang lain pun nampak khawatir juga melihat Soobin yang mendadak oleng.Ia mengangkat wajahnya dan menatap Sefia sambil mengerjapkan matanya sesekali.


“kamu baik-baik saja? Padahal kita di darat bukan di kapal. Kenapa kamu malah oleng?” Sefia terkekeh pelan membuat Soobin tersenyum.


“maaf, mungkin aku kurang enak badan. Aku akan ke penginapanku dulu. Sampai jumpa lagi, Sefia...”. entah mengapa tangan Soobin seakan reflek mengusap kepala Sefia namun dibalas senyuman oleh Sefia. Disisi lain semua kakak-kakak yang melihat perlakuan Soobin sedikit merasa kurang nyaman.


“berani sekali dia melakukan itu pada Sefia!”


“jangan terperosok lagi! Ingat...!!”


Terlihat Soobin menggeleng sambil tersenyum berlari ke penginapannya sementara Sania masih syok melihat kehadiran Soobin dari jarak yang sangat dekat.


“ada apa sama tuh muka? Syok banget kayaknya...” langsung saja Sefia mengalungkan tangannya di bahu Sania hingga membuat saudarinya itu terkejut dan sedikit kikuk.


“bu-bukan. Cuma aku emang gak pernah ngomong...”


“Sama dia? Kenapa? Ngomong aja biasain. Kamu harus aktif di kelas supaya banyak punya temen. Setahun lagi lulus loh!”


Sania tersenyum dan menoleh ke arah Sefia.


“Nanti kan ada kamu jadi temenku di kelas. Itu aja udah cukup kok...”. jawaban Sania membuat Sefia tertawa heran.


“Jadi kalau aku udah dikelasmu, kamu gak mau main lagi sama temen-temenmu yang lain, Cuma mau main sama aku,gitu?”


Sania hanya tersenyum tipis.


“Temen siapa. Aku gak punya temen sama sekali disana. Semua ngejauhin aku gara-gara gengnya Mitha yang selalu ngeledekin aku dari dulu. Jadinya semua orang ngejauhin aku juga...”


“sudah, jangan difikirin. Aku udah laper. Makan yok?!”


Lucas mendekat dan merangkul Sefia lalu mengusap kepalanya tepat dimana Soobin mengusap kepala Sefia tadi.


“Biar bersih! Enak aja dia pegang-pegang adik gue!”


“Ayo!”


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2