
Tias nampak tersenyum bahagia. Meskipun Sefia hanya berstatus anak tirinya, dia merasa sangat bangga dengan sikap Sefia. Entah bagaimana ibunya selama ini mendidiknya. Ketakutan Bram terlihat sama sekali tidak ada pada dirinya.
Bram sedikit menggeser tubuhnya supaya Sefia bisa melihat ketiga saudara barunya.
“Kenalkan, yang paling atas itu Mingyu. Dia yang menjadi Kaka ketigamu. Yang berbaju hitam itu kakak pertamamu, Jaehyun dan yang terakhir Enwoo, kakak keduamu...” ucap Bram memperkenalkan ketiga saudara tersebut.
“Jaehyun beda 12 tahun dengan kalian, Enwoo lebih muda 3 tahun dan Mingyu 2 tahun setelah Enwoo...” sambung Tias menambahkan.
“Wah...aku gak pernah kepikiran bakal punya kakak...” ucap Sefia diakhiri dengan senyum dimplenya.
“tapi aku itu juga kakakmu!”keluh Sania kesal memukul bahu Sefia.
“Kita Cuma beda 3 menit dan lahir di hari yang sama. Aku juga gak pernah manggil kamu kakak. Lagipula, aku masih lebih tinggi dari kamu!” ucap Sefia bangga dan yang lain tertawa kecuali 3 orang pria itu. Hanya saja Enwoo masih mau menunjukkan senyumnya meski sedikit.
“Sefia...!!”
Sebelum Sania melayangkan pukulannya, Sefia segera berlari menghindar hingga mengakibatkan kejar-kejaran di rumah yang sebelumnya selalu lengang itu. Tias pun terbawa suasana dan menepuk kan tangannya melihat kedua putrinya berlarian. Sudah lama dia tidak melihat hal tersebut mengingat putra-putranya surga sangat dewasa. Melihat mamanya bahagia, ketiga putranya merasa bahagia juga walaupun tidak menunjukkannya secara langsung.
Sefia berlari ke arah Tias dan bersembunyi di balik punggungnya.
“Ma... Monster ya ngamuk!”
“apa?!Sefia...!! Sini kamu!” kesal Sania.
“sudah...sudah kalian berdua. Cukup kejar-kejarannya. Kita harus sarapan dulu. Nanti keburu siang. Sedia, kamu juga ikut. Apa kamu sudah sarapan?” tanya Tias.
“Sebenarnya sih sudah ma...”
Wajah Tias yang awalnya tersenyum berubah sedikit murung seketika. Dia berharap Sefia mau makan masakannya kali ini. Bahkan dia sengaja turun sendiri kedapur untuk memasak secara langsung khusus untuk Sefia.
“tapi, kalau di ajak aku mah masih punya penampungan yang luas...” sambung Sefia sambil mengusap perutnya yang rata membuat senyum Tias kembali mekar.
“Huh...kamu dikasi makan sebanyak apapun gak pernah kenyang!” ledek Sania.
“makan itu salah satu sumber kehidupan. Jadi jangan pernah menolak makanan kecuali dari orang asing...”.Sefia menoleh pada Tias.
“Dan mama Tias juga mamaku,kan?”
__ADS_1
Tias tersenyum terharu dan mengangguk pelan. Anak itu benar-benar bisa menyentuh hati wanita itu hanya dengan kata-katanya saja.
“Iya...mama juga mamamu. Dan mama sangat senang kalau kamu mau menganggap mama sebagai mamamu juga...”
Sefia memeluk Tias dari belakang dan menarik Sania supaya memeluk Tias dari depan. Mereka seperti lapisan sandwich sekarang. Berpelukan hangat penuh masih sayang.
“Don’t cry... I hate when my mom cry...” bisik Sefia membuat Tias kembali mengangguk dan mengusap pipinya.
Bram sangat bangga dengan sifat dewasa Sefia. Anak itu selalu penuh kejutan yang luar biasa baginya.
“Ayo kita sarapan dulu, Sefia, letakkan tasmu dan kita sarapan bersama...”
“oke pa...”
Sefia hendak berjalan menuju kamarnya namun bik Lim menghentikannya.
“Biar bibik yang taruh, non, Bu. Kalian ke meja makan saja...”
Sefia, Sania dan Tias pun memberikan barang mereka pada bik Lim.
“Makasih bik...”
“Ma...biar aku aja. Mama duduk sekarang...”
Sefia segera bangkit dan mengambil sendok dan tempat nasinya.
“Tapi...”
Tangan Tias ditahan oleh Bram yang mengangguk pelan. Sebelum Tias ada di rumah itu, memang biasanya setiap liburan Sefia lah yang menyiapkan semuanya. Mulai dari mengisi piring Bram lalu Tias, Sania dan mulai berjalan ke bagian kakak barunya.
“kak Jaehyun. Segini cukup?” tanya Sefia tanpa menoleh.
“hhmm... Terimakasih...” jawab Jaehyun dingin namun tetap mendapatkan senyuman dari Sefia.
“Sama-sama...dan kak Enwoo.... Segini?”
“Iya, terimakasih Sefia...” jawab Enwoo sambil sedikit tersenyum.
__ADS_1
Sefia tersenyum makin cerah.
“Sama-sama kak. Sering-sering senyum biar makin manis...”
Sontak saja semua orang kaget dengan ucapan Sefia. Dia memang tidak salah memberikan pujian hanya saja sebelumnya belum pernah sejak mereka berkumpul ada yang meminta seperti itu padanya. Hal itu cukup membuat Enwoo sedikit berdehem menahan rasa yang entah tidak bisa dia jelaskan sementara Bram dan Tias berusaha menahan senyumnya.
“kak Mingyu...wah... Kak Mingyu tinggi sekali. Atlet apa kak?” ucap Sefia sambil meletakkan nasi di piring Mingyu sampai Mingyu mengangkat tangannya tanda cukup.
“bukan...” jawba Mingyu dingin membuat Sefia sedikit mengerutkan alisnya.
“terimakasih...” ucap Mingyu diakhir.
“kalau begitu kak Mingyu pasti suka olahraga sampai setinggi itu. Keren...” puji Sefia sambil menunjukkan jempolnya membuat Sania menundukkan wajahnya. Rasanya saudarinya yang berbicara tapi dia yang malu. Sementara Tias makin antusias dan tidak sabar untuk berbincang dengan Sefia. Kali ini dia mendapat teman bicara yang tepat di rumah besar itu.
Sepanjang kegiatan makan, Sefia dan Tias terus berbincang satu sama lain dan didengarkan oleh yang lainnya.
Obrolan mereka terhenti tatkala Bram mengangkat suaranya.
“Sefia...kamu akan pindah kemari?” tanya Bram membuat Sefia menoleh dan tersenyum.
“iya pa. Aku mau sekolah disini sama Sania...” jawabnya sambil menoleh dan mendapatkan senyuman bahagia dari Sania. Tentu saja da sangat senang mendengar berita itu. Setidaknya dia tidak akan kesepian lagi di jam istirahat.
“lalu, kenapa kamu tidak mengabari papa? Dan kenapa kamu malah setuju pada mamamu untuk tinggal di apartemen?” tanya Bram lagi.
“pa... Mama ngizinin aku kesini juga ada syaratnya dan itu salah satunya. Jadi, mau gak mau aku Cuma bisa nurut aja pa. Lagian itu apartemen mama udah kosong lama. Kasihan kalau barang-barang didalamnya rusak katanya kalau gak dipake...”
“tapi Sefia... Kamu sendirian disana. Bagaimana mamamu bisa berfikir melepasmu sendiri begitu saja? Kamu bisa tinggal disini lebih aman dengan kita...”
“pa, come'on. Jangan bikin ini makin rumit banget. Mama setuju aja udah mati-matian aku ngebujuknya. So, papa sebagai aja. Aku bakal sering kesini kok dan selalu laporan sama papa!” Ucap Sefia menenangkan papanya yang membuat papanya hanya bisa menghela nafas panjang. Bram tahu, mantan istrinya itu selalu mempersuli Bram untuk dekat dengan Sefia. Berbeda dengan Bram yang membiarkan Sania bebas dijenguk mamanya. Bram merasa Clara diam-diam ingin memonopoli hidup Sefia. Tapi dia rasa Sefia bukan anak yang semudah itu untuk dimonopoli oleh mamanya. Bram sadar kalau Sefia gadis yang lebih pintar dan cerdik dari dugaannya.
“baiklah, papa tidak akan berdebat dengan mamamu lagi kalau begitu menurutmu. Tapi ingat! Jaga dirimu baik-baik. Kalau ada apa-apa, kamu bisa hubung papa atau mama disini. Faham?”
Sefia meletakkan garpu dan sendok ya lalu memberi hormat macam anak buah kapal.
“ayoyo kapten!”
Hal itu sontak membuat Sania dan Tias tertawa dengan tingkah ajaibnya. Tentu saja ajaib, diusianya yang sudah masuk masa remaja, Sefia nampak belum tahu malu sama sekali.entah belum tahu atau tidak tau malu lagi.
__ADS_1
Sefia pun ikut tertawa melihat dua wanita disebelahnya tertawa. Tanpa mereka sadari, ada mata yang diam-diam memerhatikan intens.