
Bohong jika Sania hanya memiliki pikiran buruk tentang ketiga kakak tirinya itu. Walaupun sama-sama dingin dan tampan, tapi Sania memiliki penilaian yang berbeda-beda tentang mereka.
Yang tertua, Jaehyun. Dia yang paling dingin. Bahkan Sania berani bersumpah belum pernah dirinya melihat pria itu tersenyum meskipun sudah 2 tahun mereka serumah. Ekspresinya hanya datar dan sesekali menaikkan alisnya, namun benar-benar membuat orang penasaran.
Yang tengah, ada Enwoo. Bahkan tanpa tersenyum, orang bisa merasakan aura cerah pada dirinya. Ibaratkan price charming sejati. Sania pernah beberapa kali mendapatkan senyuman darinya dan itu benar-benar membuat dunia terasa musim semi seketika.
Ketiga, si paling-paling jangkung yang menjemput Sania tadi. Mingyu. Dia sedikit berbeda dari saudaranya. Bukan masalah tampannya karena mereka memiliki ciri khas ketampanan masing-masing. Sedangkan si Mingyu ini memiliki kulit lebih coklat dari dua saudaranya yang lain. Namun dengan itu dia malah terlihat jauh lebih maskulin dan sporty. Persis seperti kesehariannya yang dimana Sania pernah mengintip ke kamarnya dan melihat banyak sekali sepatu juga peralatan olahraga disana. Entah itu kamar atau tempat gym. Padahal dirumah besar itu sudah ada ruang gym terpisah. Mungkin saat dia menonton tv, sambil mengangkat barbel kali ya? Atau sikat gigi sambil memainkan hand grip nya?
Selain ketampanan, ada hal lain yang membuat mereka sama. Yaitu betapa menurutnya mereka dengan mamanya. Mengingat sejak masih kecil mamanya berjuang membesarkan mereka karena papanya pergi entah kemana. Cukup sering juga Sania melihat tingkah konyol yang ketiga pria itu lakukan saat mamanya sedang mengomeli mereka.
__ADS_1
Lagi-lagi hp Sania berdering membuat Sania sedikit kaget.
“Siapa sayang?” tanya Tias menoleh pada layar hp Sania yang masih diletakkan di atas meja. Terlihat jelas nama Sefia muncul di layar itu. Sania menoleh pada mamanya seakan meminta izin untuk menerima panggilannya.
“Angkat saja...” jawab Tias tersenyum lalu melanjutkan makannya. Mendapat izin, Sania segera menerima panggilan dari Sefia.
“Halo?” sapa Sania sambil melirik ke yang lain khawatir menganggu.
“Iya... Tapi,kemana?”
__ADS_1
“Adalah pokoknya. Punya SIM gak?” tanya Sefia lagi membuat Sania menyadari usianya sudah legal untuk memiliki kartu kecil anti tilang tersebut.
Sayangnya, Sania sama sekali belum bisa mengendarai satu kendaraan pun. Jangankan kendaraan mesin, sepeda saja Sania masih belum bisa. Papanya sangat mengatur jadwal kegiatan Sania dengan belajar dan les sehingga dia tidak bisa melakukan apapun selain belajar.
“e-enggak...” jawab Sania pelan membuat saudarinya bisa mengetahui suasana hatinya saat itu juga.
“ah...tenang... Aku ada! Entar kita jalan-jalan. Nge drift kalau bisa! Mau?!”
Wajah sedih Sania berubah cerah membayangkan betapa menyenangkannya dirinya jika bisa keluar dengan saudarinya itu. Walaupun jadwalnya tetap padat saat hari libur pun, tapi kalau sudah Sefia yang meminta, papanya pasti menyerah juga.
__ADS_1
Bram selalu mewujudkan keinginan Sefia mengingat jarangnya dia bisa berinteraksi dengan anaknya yang jauh disana. Bahkan terakhir kali Sania ingat papanya berhenti merokok karena Sefia mengambil rokoknya dan mengeluh juga menasehati papanya dengan kesal namun wajahnya lucu. Iya, Sefia memang sulit diajak terlalu serius. Dia tegas namun bukan membentak. Dia menasehati, namun tidak menyakiti. Selalu saja ada lawakan dan tingkah aneh yang dilakukan saudarinya itu setiap kali menasehati papanya. Membuat Bram bisa tertawa entah karena Sefia lucu atau heran dengan tingkah salah satu putrinya itu. Benar-benar saat-saat yang indah bagi Sania bisa bersama Sefia karena hanya saat itu dia bisa mendengar dan melihat tawa papanya yang setiap hari stres dengan pekerjaan di perusahaan.