Sefia

Sefia
ulah Sefia


__ADS_3

Sania dan Sefia berjalan keluar kelas karena jam pulang sudah selesai. Mereka sengaja keluar paling akhir karena sama-sama tidak suka berdesakan. Sania tahu sejak mereka di kelas,Mitha beberapa kali menatap kesal pada mereka tapi wajahnya berpaling saat Sefia menoleh padanya membuat Sania tertawa.


Mungkin memang benar apa kata Sefia. Gadis itu hanya sok keras. Tapi ketika ada yang berani melawan, dia akan ciut juga. Sania juga heran dengan mental adiknya itu. Jelas sekali saat dia menghadapi Mitha ataupun Jeno, Sania sama sekali tidak melihat rasa takut di wajahnya. Bagaimana mamanya membesarkan saudarinya itu sampai-sampai sebegitu kuat mentalnya? Sangat jauh jika dibanding dengannya.


Wajah mereka yang awalnya tertawa berubah menjadi kaget saat melihat Jeno dan geng nya di lorong seakan menanti mereka. Bukan mereka sih, paling lebih tepatnya Jeno menunggu Sefia.


Pria itu dengan senyum khasnya mendekat ke arah mereka.


“Sefia...mau pulang bareng?” tanya Jeno memberi tawaran yang disambut senyum oleh Sefia.


“Kamu mau Anter aku pulang? Emang kamu naik apa?” tanya Sefia sambil meletakkan tangannya di bahu Jeno seperti menggodanya membuat Sania menutup matanya malu. Saudarinya itu benar-benar bermental baja.


“Hhmmm... Porsche...”


Jawab Jeno sambil mengusap pelan pipi Sefia membuat Sania merasa jijik sendiri.


“Habis ini Sefia harus mandi kembang tujuh rupa satu kebun pake sabun anti bakteri...”


“ajakanmu menarik juga. Apa kamu pintar mendekati wanita?” tanya Sefia sambil menatap intens Jeno membuat pria itu benar-benar gila pada sorot mata gadis itu. Bahkan kini Jeno bisa mencium aroma yang memabukkan dari Sefia. Padahal ini sudah siang. Tapi aroma gadis itu masih sangat kuat dan menggodanya.


“kamu akan jadi yang terakhir...” jawab Jeno berbisik pelan dengan suara baritonnya.


Sania sampai-sampai ingin muntah mendengar omongannya.


“hah...tapi maaf dulu. Kakakku sepertinya sudah menjemput kami. Mungkin lain kali saja ya, Jeno...” ucap Sefia mendayu sambil mengusap kedua mata Jeno hingga membuatnya terpejam sambil tersenyum lalu Sefia segera menarik Sania pergi.


Jeno bersorak riang dan berbalik lalu mengibaskan rambutnya.


“Gadis itu benar-benar membuatku gila!” keluhnya senang. Sementara Chenle, Mark dan Haechan hanya bisa menggeleng heran. Seberani itu Sefia menggoda Jeno. Dan semudah itu juga dia meninggalkan begitu saja. Ini rencananya Jeno yang ingin menggodanya, malah dia membalikkan keadaannya tanpa disadari oleh mereka.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


“kamu gila banget Sef! Sampe pegang-pegang gitu! Berani banget sumpah!”


Sania dan Sefia tertawa puas. Sania sudah menduga saudarinya itu hanya mengerjai Jeno saja.


“biar pernah dia ngerasain roda berputar...”


Sania tertawa lalu menoleh menatap Sefia yang masih tertawa.


“kamu tahu Sef? Sebelumnya pulang sekolah aku akhiri dengan monoton. Pulang terakhir dan langsung masuk ke mobil...”


Sefia menoleh dan terdiam melihat raut wajah sendu pada Sania.


“gak ada yang berdiri di sekitarku apalagi sampai ngerangkul aku kayak gini. Tapi sekarang, aku gak kesepian lagi...”


Senyum diwajah Sania sama dengan senyum di wajah Sefia.


“berjanjilah, kamu bakal terus ada di sampingku dan aku juga janji bakal terus ada sama kamu...”


Mereka menautkan jari kelingking mereka sambil berbalas senyuman. Sama sekali tidak terlihat seperti sepasang kembar melainkan sepasang sahabat.


“Sefia...”


“Sania...”


Suara itu hampir bersamaan dan membuat kedua gadis itu menoleh. Kun dan Enwoo ternyata sudah menunggu mereka berdua.


“Ssseeeffiiiaaaaa.....!!!”


Sania dan Sefia saling menatap dengan mata terbelalak sedangkan Kun dan Enwoo sangat kaget mendengar suara teriakan itu.

__ADS_1


Mereka melihat kebelakang dan terlihat di ujung koridor Jeno berlari ke arah mereka. Segera saja mereka berlari ke arah Kun dan Enwoo.


“ayo kabur...!!”


Enwoo dan Kun pun ikut panik dibuatnya dan segera masuk ke mobil lalu tancap gas melarikan diri dari sekolah itu.


.


.


.


.


.


.


.


.


Sefia dan Tias tertawa sementara Bram menggeleng pelan. Di lain sisi, tiga pemuda lain terdiam keheranan mendengar cerita Sania.


“anak itu benar-benar luar biasa tingkahnya...” Tias menyeka air matanya yang keluar karena tertawa.


“siapa yang mengajarinya melakukan itu? Dia bahkan tidak mencoba menghindar sama sekali. Malah meladeni anak brandal itu...”


Bram sudah tidak habis fikir membayangkan tingkah putrinya itu sementara di lain sisi Jaehyun sudah mengepalkan tangannya. Kesal dan cemburu. Itulah yang dia rasakan sekarang. Pagi tadi, Jungkook. Sekarang anak bernama Jeno itu. Kenapa kisah cintanya harus dibayang-bayangi ketakutan kehilangan Sefia bahkan sebelum bisa memilikinya?


Tias mengusap kepala Sania dan tersenyum teduh.


“kamu bahagia bisa bersama Sefia?”


Sania mengangguk semangat.


“aku gak ngerasa kesepian lagi. Dia selalu jaga aku disekolah dan juga bantu aku buat belajar materi yang aku gak ngerti. Bahkan dia jauh lebih ahli rasanya dalam menjelaskan daripada guru mapel disekolah. Singkat dan ebih mudah dimengerti...”


Tias menoleh pada Bram dan dibalas senyuman oleh Bram. Dia merasa seharusnya sejak awal dia menolak memisahkan Sefia dan Senia. Mereka diciptakan memang untuk saling melengkapi.


“Sefia sangat menyayangimu,kamu harus ingat itu Sania. Dan kamu harus juga menjaga perasaannya. Kita masih belum tahu masalah apa sebenarnya yang terjadi padanya dan papa harap kamu juga jangan sampai menyakitinya...”


Sania mengangguk faham.


“Kalau terjadi sesuatu disekolah pada kalian, segera hubungi kami. Oke?”


“oke kak Mingyu!”


Mingyu dan Sania bertukar senyum dan melanjutkan makan mereka.


Bram melihat sekeliling dan merasa lega. Keluarganya terasa lebih normal sekarang. Tapi, pikiran itu masih mengganggunya.


“Apa yang terjadi sebenarnya?”


.


.


.


.


.


.


.


.


Kun membuka pintu kamar gelap remang-remang itu. Denga cepat aroma lavender dari kamar itu seakan menyeruak hingga bisa memenuhi ruang tamu.


“Sayang?”


Sefia yang tengah melukis di ipadnya menoleh dan tersenyum.


“Gege...ada apa? Apa Gege perlu bantuan?”


Kun menggeleng dan mendekati gadis yang masih terduduk di dekat jendela itu. Sekali lagi gambar dengan tema gelap itu dibuat oleh adiknya.


“tidak bisakah gambarmu ditambahkan warna? Gege selalu melihat warna itu dan Gege sudah bosan...”

__ADS_1


“tapi aku masih belum punya warna yang aku suka untuk lukisanku,ge...”


Kun menghela nafas panjang dan merangkul pindah Sefia supaya menyender padanya.


“Kamu belum menemukannya?”


“bisa dibilang begitu...” jawab gadis itu lirih. Matanya kini terpejam di depan dada Kun. Sedangkan tangan Kun terus membelai rambutnya.


“Boleh Gege mengatakan sesuatu?”


“tentang apa?”


“Jaehyun...”


Sefia mengangguk pelan.


“dia menyukaimu...”


“...”


“gege bisa melihat itu. Gege juga pria sama sepertinya dan Gege tahu dia sudah jatuh cinta padamu...”


“Lalu apa yang Gege ingin aku lakukan?”


“buka hatimu untuknya dan lupakan masa lalu sayang...”


“Dia bahkan belum menemukanku begitu juga denganku. Bagaimana aku bisa yakin dia sudah bukan milikku lagi?”


“Kamu sudah lama mencarinya dan belum juga menemukannya. Gege lelah melihatmu seperti ini...”


“Aku sudah menemukannya ge. Hanya saja dia yang belum menemukanku...”


Kun terdiam sejenak.


“Bagaimana bisa dia belum menemukanmu?”


“entahlah, aku juga belum yakin. Tunggu sebentar lagi. Setelah dia menemukanku, akan aku selesaikan semuanya dan kalian Tidka perlu lagi khawatir padaku...”


“bagaimana jika dia tidak mau lagi bersamamu?”


Hening sejenak.


“Maka aku akan memikirkan ucapan Gege tadi...”


“Dia bukan pilihan, sayang...”


“ Gege sendiri yang memulainya lebih dulu...”


Kun hanya bisa menghela nafas panjang. Keputusan adiknya itu sudah tidak bisa diganggu gugat lagi.


“ge...”


“iya sayang?”


“bisa temani aku tidur malam ini. Aku takut...”


Kun mengangguk pelan.


“apa perlu kita mengajak Lucas?” tawar Kun sambil menahan tawanya.


“Jangan! Aku gak mau kita berakhir di lantai nanti...”


Kun tertawa dan mempererat pelukannya pada Sefia.


“jika bukan karena Gege menyayangimu, Gege akan mengabaikan untuk membantumu...”


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2