Sefia

Sefia
anak baru


__ADS_3

Kembali lagi Sania ke kelas ini. Duduk sendiri dimana teman kelasnya yang lain sibuk bercanda dan berbagi kisah liburan mereka. Sania bahkan bisa melihat wajah bahagia Soobin yang bercengkrama dengan geng nya.


“Apa dia mengingatku? Apa aku juga ada dalam ceritanya?”


Seberkas senyum menghiasi wajah gadis itu sampai akhirnya sebuah tangan menarik paksa kaca matanya membuatnya terperangah kaget.


Tidak salah lagi dugaannya.


“Mitha...tolong kembalikan kaca mataku...” pintanya pada gadis cantik bertubuh lebih tinggi darinya itu.


“aduduh...kenapa? Apa kamu gak bisa lihat tanpa kacamatamu? Dasar tikus tanah rabun!”


Sontak saja teman teman geng nya Mitha tertawa sedangkan anak-anak yang lain hanya menonton kejadian.


“Mitha aku mohon-“


“Mithi Iki mihin...Iki mihin. Aaawwwccch...!!"


Gadis itu berteriak saat ada tangan secara kasar menarik tangannya dan merebut kaca mata Sania. Perlahan tangan tersebut memasangkan kacamata kembali pada Sania dan setelah melihat dengan jelas orangnya, Sania langsung tersenyum bahagia.


“siapa Lo! Berani banget ya Lo masuk ke kelas ini sembarangan!” bentak Mitha kesal sedangkan di sisi lain Soobin tersenyum senang mengetahui ada Sefia disana. Kenapa dia senang? Dia juga tidak tahu. Rasanya setelah perkenalan hari itu, dia selalu ingin bisa bertemu dengan Sefia. Sayangnya ketika esok hari dia berkunjung ke penginapan tempat Sefia, dia sudah tidak ada lagi disana. Sekarang dia bisa melihatnya lagi.


Mendengar ucapan tengil gadis di depannya membuat Sefia berdecih pelan.


“Lo yang siapa? Berani-beraninya Lo gangguin dia? Hebat Lo berani jadi preman disini? Ngerasa cantik Lo?”


Ucapan sarkas Sefia membuat Mitha dan gengnya kaget. Sepertinya dia bukan berhadapan dengan gadis biasa seperti yang ada di kelasnya.


“Lo-lo si-siapa?!” tanya Mitha dengan nada yang lebih rendah dari sebelumnya dan perlahan melangkah mundur menjaga jarak takut dengan apa yang bisa dilakukan gadis di depannya itu. Kata-katanya saja sangat sarkas, bagaimana dengan tindakannya?


“kenapa mendadak latah Lo? Takut? Kalau masih takut, sana balik ke tempat duduk Lo dan gausah sok keras disini. Cuma murid biasa aja belagu banget!”


Mata Mitha membelalak kaget. Baru kali ini ada yang berbicara seperti itu melawannya.


“apa Lo liat-liat? Mau gue colok mata Lo itu? Hah?! Sana balik ke tempat asal Lo. Gausah ngalah-ngalahin setan yang suka gangguin orang!”


Sontak saja murid yang lain tertawa dengan ucapan Sefia. Kesal, Mitha berjalan kembali ke bangkunya dan menatap Sefia kesal.


“Awas aja Lo!” sedihnya kesal.


“awasin aja gue. Mental tahu aja sok keras!”


Sefia meletakkan tasnya di meja dan menoleh ke arah Sania. Kini wajah angkuhnya berubah senyum seketika dan sedikit merasa khawatir tatkala melihat mata Sania berkaca-kaca.


“kamu kenapa? Kaget ya? Maaf San, aku kebawa emosi...” pintanya membuat anak yang lain kaget bukan kepalang. Gadis yang mengoceh dengan sarkas itu mendadak melembut seketika dihadapan murid culun di kelas mereka.


“Kangen...” cicit Sania membuat Sefia tertawa pelan dan memeluknya.


“utu...utu...gak boleh kangen-kangen. Berat. Biar aku aja...” candanya yang mendapat pukulan di punggung oleh Sania. Tidka sakit sih, tapi dia pura-pura meringis. Setelah beberapa saat, mereka melepas pelukannya.


“Sef...di kelas gak boleh pakai topi...” bisik Sania pelan.


“Iya, aku tau. Tenang aja...”


Sefia melepas topinya membuat rambut indahnya terurai begitu saja.


“Selesai,kan?”


Sefia melanjutkan membuka jaketnya memamerkan lekuk tubuhnya karena memang model pakaian yang pas di badannya. Sontak saja Sania kagum dengan saudarinya itu. Rasanya makin lama Sefia makin cantik saja. Tak kalah dengan Sania, murid yang lain pun sama takjubnya mengagumi salah satu maha karya indah nan cantik itu.


“mm...rambutmu gak kamu iket Sef?”


“gak...sakit nanti kepalaku cepet pusing...”


Sefia mendahului duduk dan disusul oleh Sania.


“kamu kesini sendiri?”


Sefia tersenyum dan menggeleng pelan sambil merapikan jaket dan topinya ke dalam kolong mejanya.


“dianter guru piket. Katanya gurunya telat..."


Sania mengangguk pelan dan tanpa sengaja melihat Soobin yang tersenyum ke arah mereka membuat wajah Sania terasa panas seketika.


“Tenang San...jangan GeEr...!!”


Sania menepuk pelan bahu Sefia membuatnya menoleh.


“kenapa?”


“Soobin...” bisiknya sambil menunjuk dengan dagunya membuat Sefia menoleh ke arah yang ditunjukkan.


Senyumnya merekah seketika dan melambaikan tangan pada Soobin membuat Soobin tersenyum menahan malu. Malu? Kenapa dia jadi mendadak malu begini?


“Kamu pindah kesini?” tanya Soobin mencoba mengalihkan perasaannya membuat anak lain kaget karena Soobin tidak pernah mengajak orang bicara lebih dulu. Paling-paling dia hanya tersenyum jika tanpa sengaja berpapasan.


“hhmmm...senang bisa sekelas denganmu!” jawab Sefia tersenyum menambahkan nilai untuk kecantikannya.


Oke. Sania yakin mata-mata anak yang melihat saudarinya pasti terpesona dengannya.


“hhmmm...senang juga bisa sekelas denganmu...”


Semua anak berpaling saat seorang guru masuk kedalam kelas itu. Pak Jungkook,guru matematika yang muda dan menawan. Gurunya idola para murid tapi tidak dengan mata pelajarannya.


“Dia ramah saat hari biasa, tapi tidak disaat ulangan...” bisik Sania membuat Sefia mengangguk pelan.


“Masih lebih tampan Gege dan kakak-kakak kita...” jawab Sefia membuat Sania menoleh kaget.


Benar-benar anak itu asal jeplak bicaranya. Walaupun emang gak salah sih.


Jungkook meletakkan bukunya di atas meja dan berdiri di depan kelas. Tak lupa senyum gigi kelincinya menambah ketampanannya.


“selamat pagi anak-anak...”


“pagi pak...”


“Maaf bapak minta waktunya sebentar. Tadi guru piket bilang, ada murid baru di kelas ini dan bapak harap yang bersangkutan bisa berdiri dan memperkenalkan diri didepan semua teman-temannya...”


Jungkook mensiagakan matanya untuk mencari siapa yang akan berdiri karena dia sendiri belum tahu yang mana anaknya.


Sefia pun mau tidak mau berdiri membuat seluruh mata tertuju padanya. Bohong jika Jungkook tidak memuji kecantikan gadis 17 tahun itu. Namun dia harus bersikap profesional sebagai seorang guru disekolah.


“Silahkan perkenalkan dirimu...”


“selamat pagi semuanya. Perkenalkan, nama saya Sefia Greyson. Saya pindahan dari Whitney High School. Semoga kita semua bisa berteman baik. Senang bisa bersama kalian disini...”


Sefia membungkuk sedikit tanpa melepas senyumnya.


“Greyson? Bukannya Sania juga Greyson?” celetuk seorang murid membuat Jungkook memalingkan pandangannya pada adik tiri temannya, Jaehyun.


“benar juga...”


“oh, itu. Aku saudara kembarnya Sania...”


“Hhhaaaahhh....???!!!”

__ADS_1


sontak semua murid berteriak kompak.


“kamu...kalian kembar?” tanya seorang perempuan yang duduk di depan Sania.


“Iya...kami kembar. Jadi, saya harap semua bisa diajak bekerja sama,ya. Karena masalah Sania sekarang akan menjadi masalah ku juga...”


Kalimat simple tapi jelas berisi ancaman terutama karena Sefia mengakhirinya dengan tepat menatap ke arah Mitha. Walaupun tersenyum, Mitha bisa bergidik ngeri padahal baru saja tadi gadis itu membentaknya dengan wajah menyeramkan.


“Baiklah, Sefia. Perkenalkan, saya pak Jungkook, guru matematikamu di kelas ini. Apa piala kemenanganmu sudah kamu terima?”


Sontak semua murid menatap bingung dengan apa yang dikatakan Jungkook.


“sudah pak...”


“Bagus...semoga kamu bisa menjadi contoh bagi yang lain supaya semangat untuk bisa mengikuti ajang olimpiade hingga tingkat internasional sepertimu juga. Dan Soobin, pesaingmu sudah ada disini,belajarlah lebih giat. Sekarang kamu, Sefia, silahkan duduk. Kita akan mulai pelajarannya...”


Ya. Setelah Jungkook mengingat-ingat lagi nama itu, dia sadar kalau nama itu tidak asing baginya. Beberapa bulan lalu, nama Sefia sangat sering muncul di timeline berita hingga masuk ke group chat guru karena prestasi nya yang gemilang di kancah internasional.


Makin menjadi buah bibirlah Sefia diantara teman-temannya.


“pantesan dia berani sekali. Ternyata dia sudah punya nama rupanya...”


“Terimakasih pak...”


Sefia segera duduk dan mengeluarkan bukunya. Dia menoleh ke arah Soobin yang diam-diam memberikan tanda jempol padanya sambil tersenyum dan dibalas juga oleh Sefia dengan mimik wajah konyolnya membuat Soobin menahan tertawa sambil menggeleng pelan.


“dia mengingatkanku pada seseorang yang entah siapa itu. Seseorang yang rasanya sangat dekat denganku...”


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Hp Jaehyun berdering tanda pesan masuk membuat pria itu mengalihkan atensinya dari laptopnya ke hp disebelahnya.


“Jungkook? apa yang dia kirim?”


Jaehyun membuka pesannya dan sangat kaget melihat foto Sefia duduk berseragam dengan rambut terurai.



Jungkook


Adikmu cantik juga. Buat aku ya?


“Sefia kenapa harus cantik sekali disekolah? Pasti dia pakai rok pendek juga seperti seragam Sania. Nanti banyak yang menyukainya, bagaimana? Statusku saja belum jelas dengannya. Tapi dia sudah membuatku ketakutan setengah mati disana...”


Segera Jaehyun mengetik pesan balasan untuk Jungkook.


^^^Jaehyun^^^


^^^Jangan macam-macam atau aku, Enwoo dan Mingyu akan melupakan hubungan pertemanan kita!^^^


Di sisi lain Jungkook terkekeh pelan membaca balasan sahabatnya itu. Saat ini dia baru saja selesai memberi tugas pada muridnya setelah selesai mengajak mereka mengingat materi lama dan memberikan soal latihan.


“Pak...”


Sontak saja Jungkook melonjak kaget dengan suara mendadak itu. Bukan bagaimana, tapi pria itu tidak mendengar sama sekali suara langkah kaki begitu juga teman-temannya yang kaget melihat Sefia sudah berdiri di depan.


“Iya, Sefia. Ada yang bisa saya bantu?”


Jungkook merutuki kalimat yang baru saja keluar dari mulutnya. Pertanyaan macam apa itu? Dia terlalu syok karena baru saja selesai membicarakannya dengan Jaehyun dan tiba-tiba anak itu sudah berada di dekatnya. Belum lagi senyum manisnya membuat tenggorokan Jungkook terasa sedikit kering seketika.


“ini sudah selesai punya saya pak...” ucapnya sambil mengulurkan bukunya pada Jungkook.


“o-oh...iya... Saya cek dulu ya...”


Jungkook memberikan 5 soal dan semua sudah diselesaikan oleh Sefia dengan cepat. Sangat cepat malah. Tapi itu wajar. Anak didepannya adalah pemenang olimpiade matematika tingkat internasional sebanyak 3x.


“Baiklah semuanya. Poin tertinggi sudah didapatkan oleh Sefia. Yang lain segera selesaikan jangan mau kalah!” ucap Jungkook membuat yang lain kaget tak percaya.


“Ini bukumu. Silahkan duduk kembali...”


Sefia menerima bukunya dan tersenyum lalu kembali ke mejanya untuk membantu Sania. Dimplenya sangat jelas terlihat mengingatkan Jungkook pada Jaehyun. Walaupun sahabatnya itu jarang sekali menunjukkan senyumnya. Paling tidak, pernah lah dia beberapa kali melihat dimple milik Jaehyun.


“dia sangat cocok menjadi model. Tubuhnya tinggi semampai. Aku rasa dia typenya Mingyu sekali...”


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Lagi dan lagi. Gebrakan meja terdengar di kantin tersebut membuat Sania dan penghuni kantin kaget. Kali ini bukan Mitha dan gengnya saja tapi juga pacarnya, Jeno dengan gengnya.


“Mana kembaran Lo itu?! Berani banget dia marahin cewek gue!” bentak Jeno dengan suara baritonnya.

__ADS_1


Jeno adalah pentolan disekolah itu. Ketua tim basket tampan yang auranya benar-benar bisa memikat semua wanita yang dilewatinya.


“Ye...ditanyain malah diem! Mana sodara Lo yang sok jago itu!” bentak Mitha kesal. Membuat Sania hampir menangis.


Mitha menarik kencang lengan Sania sampai dia kesakitan dan lolos air matanya.


“Nangis Lo! Nangis! Bagus doang bisanya!” bentak Mitha lagi.


“Berani banget Lo bikin kakak gue nangis!”


Suara pelan tapi penuh penekanan membuat semua orang menoleh ke sumber suara. Jeno dan kelompoknya langsung kaget melihat Sefia yang menatap tajam ke arah mereka.


Mitha yang memang takut dengan Sefia bersembunyi dibalik lengan Jeno.


“Dia yang bentak aku tadi pagi,sayang...” rengek Mitha sedangkan Sefia mengepalkan tangannya erat melihat Sania menyeka air matanya.


Jeno mendekat dan berdiri tepat di depan Sefia. Dilihatnya gadis itu dari ujung rambut ke ujung kakinya dan dibalas tatapan yang tak kalah tajamnya dari Sefia.


“lo cantik, body Lo bagus... Tapi sayang, gue harus ngancurin itu. ..”


Mitha membulat kan matanya kaget. Pacarnya malah memuji gadis lain di depannya?!


“gini aja. Gue kasi Lo 3 pilihan. Pertama Minta maaf sama pacar gue dan bakal gue maafin Lo. Kedua,Lo jadi pacar kedua gue, dan gue maafin Lo juga. Dan kalau Lo gak mau dua-duanya. Gue sendiri yang bakal ngasi Lo pelajaran disini...”


“what...?!! Jeno! Lo mau ngeduain gue,hah?! Sama ni cewek?!”


Jeno mengabaikan ucapan Mitha. Tapi jika seandainya gadis itu mau dengannya, dia rasa dia tidak akan membutuhkan Mitha lagi dan bersenang-senang dengan gadis barunya.


Sefia tersenyum tipis dan mengelus pipi Jeno membuat yang lain menarik nafas dalam-dalam sedangkan Jeno bisa merasakan kelembutan sentuhan Sefia dan aroma wangi bahkan hanya dari tangannya saja. Dia yakin dia akan bisa memiliki gadis di depannya itu.


“Lo ganteng, dan tawaran kedua kayaknya menarik...”


Semua orang syok sedangkan Sania menggeleng lemas. Mana setuju dia jika Sefia dengan Jeno. Dia tahu Jeno anak playboy disekolah itu. Brandal, banyak tingkah pula. Pokoknya dia gak terima kalau saudaranya malah jadian sama Jeno.


“Tapi sayang... Air mata kakak gue jauh lebih berharga dari tawaran Lo...”


Sefia langsung menarik paksa tangan Mitha lalu dipepetnya diantara tubuhnya dan meja. Cepat tangannya mengambil nampan untuk dicekik kan pada leher Mitha membuat semua orang kaget dan Mitha ketakutan.


Jeno bahkan dibuat sangat kaget dengan kecepatan gadis itu.


“lo udah bikin kakak gue nangis. Sekarang biar gue yang bikin Lo nangis...”


Sefia memiringkan nampan yang masih berisi makanan dan minuman itu hingga jatuh ke arah Mitha hingga seluruh wajah dan pakaiannya kotor seketika. Sontak saja itu membuat beberapa anak yang memang tidak menyukai Mitha langsung bersorak riang lalu menertawakannya sedangkan Mitha berteriak geli dan menangis.


Seutas senyuman terukir di wajah Sefia dan menoleh ke arah Jeno.


“jangan ngelindungin yang salah. Lo Cuma dijadiin tameng sama ni cewek. Gue udah banyak liat benalu modelan dia. Syukur-syukur cewek Lo gak gue banting di meja. Sania, ayo...”


Sania kaget dan segera bangkit menuju Sefia yang langsung mengajaknya pergi sementara Jeno masih terpaku dengan gadis itu.


“ Elegan. Cantik. Penyayang. Menawan. Berkharisma. Gue suka yang model gitu!” soraknya semangat.


“Sayaaanngg...!!!” teriak Mitha kesal mendengar kekasihnya memuji wanita lain.


Jeno memutar bola matanya malas pada Mitha.


“Gue gak ada urusan lagi sama Lo. Mulai hari ini kita selesai!”


Jeno langsung pergi dari kantin diikuti gengnya sementara Mitha menangis disoraki oleh anak-anak lain. Bahkan penjaga kantin pun bahagia melihat gadis angkuh itu kalah. Sedangkan di sisi lain Soobin tertawa syok dengan ulah Sefia.


“anak itu benar-benar next level...”


.


.


.


.


.


.


.


Sania duduk tertunduk dihadapan Sefia yang berdiri menatapnya kesal sambil berdecak pinggang. Sefia sengaja membawa Sania ke taman belakang sekolah yang agak sepi menunggu penjelasan kakaknya itu.


“maaf...” lirih pelan Sania bahkan hampir terisak membuat Sefia memejamkan matanya kesal. Dia juga tidak ingin seperti ini namun ini cara satu-satunya supaya kakaknya mau mengakui semuanya.


“aku-“


“Aku sudah tau sejak awal...”


Sania mengangkat wajahnya dan menatap adiknya itu.


“aku tau mereka merundungmu setiap saat mereka mau bahkan sering memukulimu kan? Mereka menjadikanmu pelampiasan untuk emosi mereka. Aku tahu itu. Karena itulah aku ada disini...”


Lagi-lagi Sania dibuat tercekat dengan jawaban adiknya itu.


“kamu sudah tahu?” tanya Sania sambil merapikan posisi kaca matanya.


“Iya, aku tau. Menurutmu apa aku diam saja selama ini? Aku curiga sama bekas-bekas luka di beberapa badanmu. Aku pernah lihat ada baju seragammu di lemari yang sobek. Aku tanya ke bik Lim dan dia bilang sering liat kamu pulang dalam keadaan berantakan dan kotor. Bahkan gak jarang ada noda darah di seragammu...”


“Sefia...”


“Sania...please... If you need help just tell me! Udah berapa kali aku bilang, aku gak suka kamu nangis dan aku gak suka ada yang nyakitin kamu sedikitpun itu! Dan, kamu bayangin gimana perasaan aku waktu aku tau kamu dibully disini? Tadi sebenernya pengen banget aku patahin tangan tu cewek setelah ngasarin kamu!” Sefia kesal sambil ngedumel malah terlihat lucu dengan bibirnya yang manyun membuat Sania terkekeh pelan.


“Kamu lucu kalau lagi kesel ngambek gitu...”


Sefia menoleh kesal namun saat melihat Sania tertawa membuatnya luluh juga. Itu lah yang ingin dia lihat. Tawa dari saudarinya itu. Yang seharusnya dia lakukan setiap hari, ada atau tidak ada dirinya.


Sefia berlutut di depan Sania dan menangkup wajah kakaknya itu.


“mulai sekarang, lakuin apa yang mau kamu lakuin. Habisin satu tahun terakhir ini buat ngelakuin hal-hal yang belum pernah atau mau kamu coba di sekolah ini. Kamu gak perlu khawatir sama apapun lagi. Aku, Sefia bakal selalu jagain kamu...”


Sania tersenyum dan merekapun berpelukan. Sania merasa sangat hidup jika bersama Sefia. Sefia memberinya keamanan dan bisa membuatnya bebas menjadi dirinya sendiri. Dia mungkin seorang adik, tapi dia menjadi seorang kakak untuk Sania.


“entah kapan, tapi aku harap suatu saat nanti, aku bisa balas semua kebaikan kamu ke aku,Sef. Aku juga akan melakukan apapun untukmu...”


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2