Sefia

Sefia
part 2


__ADS_3

Sania turun setelah bik Lim memanggilnya untuk makan malam. Dia menata senyumnya sebaik mungkin dan bersiap dengan pertanyaan yang akan dilontarkan orang tuanya nanti saat melihat plaster luka dilengan dan kakinya.


“malam ma, pa, kak...”


“Malam sayang...” jawab mamanya dengan lembut sementara yang lain hanya melirik bahkan ada yang acuh.


Sania segera duduk disebelah mamanya dan dengan sigap mamanya menyiapkan makanan di piring Sania.


“kamu ingin pakai lauk...”


Belum selesai Tias menghidangkan makanan, ujung nektra Bram menangkap sesuatu yang membuat dirinya menyengritkan dahi dan memotong ucapan istrinya.


“Ada apa dengan sikumu itu?”


Sontak saja semua mata tertuju pada Sania yang membuat tenggorokannya terasa kering mendadak.


“Jatuh disekolah pa. Maaf...”. ucapnya tertunduk membuat Bram menggeleng pelan. Wanita disebelahnya pun segera mengecek lengan Sania.


“Apa ada luka lain,sayang? Bagaimana kamu bisa terjatuh?”. Tanya wanita yang masih terlihat cantik di usianya yang hampir menginjak 50 tahun itu. Dia memang belum sempat melihat Sania sejak pulang dari butiknya karena buru-buru melihat persiapan makan malam yang dibuat pelayan rumah.


Belum juga Sania sempat memberi alasan, Bram sudah lebih dulu mengatakan sesuatu.


“Kenapa kamu ceroboh sekali? Apa lensa kacamu kurang tebal sampai bisa terjatuh?”


Mendengar jawaban itu, Sania tidak berani mengangkat wajahnya lagi dan memilih memainkan jarinya di atas pahanya.


“jadilah gadis yang tenang, tidak banyak masalah, pintar, dan berguna. Jangan hanya bisa membuat mamamu khawatir saja!”


“pa,sudah cukup! Sania sedang sakit malah dimarahi. Ayo sayang kamu makan dulu. Kamu mau pakai lauk apa? Ayam? Daging? Sup?”


Sania mengangkat wajahnya sedikit menatap mamanya sambil tersenyum. “apa aja boleh ma...”


Tias tersenyum melihat putri manisnya masih mau tersenyum padanya dan segera menambahkan lauk di piring Sania. Inilah salah satu alasan Tias sangat menyayangi putrinya itu. Sania sangat sederhana dan Tidak banyak menuntut. Dia juga penurut walaupun minusnya dia sangat pemalu. Mungkin juga ditambah dia selama ini hanya membesarkan 3 anak laki-laki yang dinginnya tidak mengalahkan es kutub Utara sehingga rasa sepinya sedikit terobati dengan adanya Sania. Walaupun gadis itu tidak lahir dari rahimnya sendiri, namun dia sangat menyayangi Sania.


Tidak ada banyak percakapan selama di meja makan. Itupun jika bukan Tias yang memulai bertanya dengan diselingi candaannya.

__ADS_1


“Sayang, apa Mingyu tadi benar-benar sudah menjemputmu?” tanya Tias sambil melirik ke arah putra jangkungnya itu.


“Emm...iya ma. K-kak Mingyu tadi jemput kok...”


“Apa dia berlaku baik? Apa dia mengatakan hal buruk padamu?”


Kali ini Mingyu yang melirik ke arah mamanya dan adik tirinya itu. Was-was dalam hatinya mengingat tadi dia sempat sedikit mengeluh di telfon karena menunggu Sania cukup lama namun setelah semua nak hilang pun Sania masih belum terlihat.


“enggak kok ma...” jawab Sania tersenyum yang mendapat anggukan tenang dari Tias.


“baguslah... Mama khawatir dia mengatakan hal buruk lagi...” ucap Tias sambil melirik kesal pada putranya itu. Dia hafal betul sifat ketiga putranya. Mereka tampan, berkharisma, pintar, seakan tidak terdapat celah sedikitpun untuk kejelekan mereka. Sayangnya, kadang lidah mereka terlalu tajam untuk didengarkan ucapannya.


Sania hanya tersenyum dan melanjutkan makannya sampai dia merasakan HP di sakunya bergetar dan perlahan dia mengeluarkan dan membaca pesannya. Tidak ada aturan tertulis di keluarga ini untuk dilarang memainkan HP di meja makan,kan?


Saat membaca pesan, mata Sania membulat seketika dan langsung bangkit membuat semua mata kembali tertuju padanya.


“Sania! Duduklah saat makan!”


“maaf pa...”. Sania kembali duduk namun wajahnya tidak bisa menutupi rasa bahagianya dengan berita yang baru saja diterimanya.


Sania sedikit melirik papanya baru menoleh ke mamanya menimbang apa bisa dia mengatakan ini pada mamanya.


“pa...Sefia akan datang kesini...”


Mendadak Bram tersedak membuat yang lain menoleh dan Tias segera membantu memberikan air pada Bram.


“Astaga pa...pelan-pelan makannya...”


Bram meminum air yang diberikan Tias dan mengatur nafasnya. “terimakasih Tias...”


“Sama-sama pa. Sefia itu bukannya saudara kembarmu itu kan,sayang?”. Kini Tias kembali mengalihkan atensinya ke Sania.


“iya ma...”


Senyum Tias mengembang sempurna. Ia ingat bagaimana sedihnya saat pernikahannya dengan Bram karena salah satu putri Bram sama sekali tidak bisa hadir walaupun mantan istrinya hadir disana. Bukan karena larangan ataupun penolakan. Masalahnya saat itu Sefia sedang mewakili sekolahnya untuk mengikuti olimpiade dan sampai sekarang pun Tias juga anak-anaknya belum pernah bertemu dengan Sefia.

__ADS_1


Dia belum bisa membayangkan bagaimana ekspresi Sefia saat bertemu dengannya mengingat si kembar ini bukan hanya kembar tidak identik, tapi juga memiliki watak yang sedikit berbeda, kata Bram.


“apa dia akan menginap?” tanya Tias antusias membuat Bram sedikit harap-harap cemas dengan situasi tersebut.


Walaupun sejak berpisah dia jarang bertemu Sefia karena hak asuhnya ada pada mamanya, tapi Bram tau anak itu bukan anak sembarang. Dia pintar, cerdik, dan keras seperti dirinya. Ditambah lagi mantan istrinya yang membebaskan Sefia melakukan apapun yang dia inginkan dengan alasan tidak mau mengekang bakat putrinya meskipun Bram sudah berkali-kali kehabisan kesabaran mendengar alasan Clara itu. Bagaimanapun, dia khawatir dengan lingkungan pergaulan serta perkembangan Sefia yang tidak bisa dia kontrol.


Iya, dia ingin mengontrol semuanya. Karena itulah Clara menyerah bertahan dengannya mengingat wanita itu sejak kecil adalah wanita yang bebas berekspresi dan tidak suka seseorang mengaturnya. Entah bagaimana dulu mereka bisa menikah yang hanya bertahan kurang dari 5 tahun lamanya sehingga Sania dan Sefia harus terpisah jarak dan waktu.


Meskipun begitu, Bram benar-benar masih merasa bertanggung jawab sebagai ayah atas Sefia. Mengingat sampai saat ini mantan istrinya tidak juga memilih pasangan dan sibuk dengan pekerjaan juga hobi-hobinya.


“Dia bilang, dia mau berkunjung sebentar ma. Soalnya dia mau beres-beres di apartemennya...”


Sontak saja jawaban Sania membuat Bram dan Tias kaget dan sedikit gagal faham.


“Apartemen? Apa mereka pindah kesini?” tanya Tias lagi sambil menoleh melihat ekspresi kaget suaminya.


Sania menggeleng pelan.


“Dia pindah kesini sendiri. Katanya udah izin mama Clara buat sekolah disini...”


Sontak saja Bram kesal bukan main dengan mantan istrinya itu. Bagaimana dia bisa membiarkan anak gadis mereka tinggal sendiri di kota besar ini tanpa pengawasan ataupun setidaknya berbicara dengannya dulu? Apa dia fikir Sefia tidak memiliki siapapun dinegara ini sampai harus tinggal di apartemen sendiri? Dia masih papanya dan berhak juga atas putrinya.


Bram meminum airnya dan hendak bangkit guna ingin meluruskan dan menanyakan tujuan juga niat dari wanita yang dia anggap gila itu. Namun niatnya terhenti ketika Tias menahan tangannya dan mengusap lembut dibarengi dengan senyuman hangat.


“Pa...bicara baik-baik. Kita tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya jadi jangan gunakan emosi saat berbicara dengan Clara...”


Sania sedikit merasa lega dengan ucapan Tias,mamanya. Inilah yang dia sukai dari mama tirinya itu. Tias sangat tenang, sabar dan selalu penuh kehangatan dan keceriaan. Pantas saja papanya yang luar biasa kerasnya bisa dibuat nyaman dengannya.


“I-iya pa. Sefia pasti juga gak suka kalau ribut-ribut. Nanti dia malah ngambek lagi...” terang Sania khawatir juga jika kembarannya itu membatalkan rencananya tinggal di kota ini.


Bram menarik nafas dalam menenangkan dirinya.


“akan aku usahakan. Kalian lanjut saja makannya. Nanti aku akan kembali...”


Bram mengusap pelan kepala Tias yang dibalas dengan senyuman hangat istrinya lalu pergi dari ruang makan.

__ADS_1


“ayo lanjutkan makannya, sayang. Enwoo, tambah sayurnya jangan hanya daging saja...”. Tias segera menambahkan sayur di piring putra tengahnya itu membuat Enwoo sedikit menghela nafas dan sedikit senyuman melanjutkan makannya.


__ADS_2