Sefia

Sefia
again


__ADS_3

Soobin melamun di teras lantai atas. Bayang-bayang aneh itu muncul lagi diotaknya membuatnya sempat merasa tidak nyaman. Lamunannya terhenti ketika sebuah tangan mendarat di bahunya dan membuatnya kaget lalu menoleh cepat.


“Astaga, kak Seokjin! Kakak mengagetkanku saja!”


Pria itu tertawa dan duduk disebelah adik kecil yang setinggi langit itu.


“Ada apa? Apa kepalamu sakit lagi?”. Soobin mengangguk pelan.


“mungkin karena tadi aku kepelset jadi syok dikit...” jawabnya sambil tertawa pelan mengingat kejadian memalukan tadi. Dia juga baru menyadari ketika sudah sampai di dalam penginapan kalau layar hpnya sedikit retak.


“kak Jin...”


Soobin menyalakan layar hpnya dan menunjukkannya pada kakaknya itu. Tidak lupa embel-embel wajah sedih ditunjukkannya karena itu adalah kelemahan kakaknya. Seokjin pun tertawa dengan tingkah adiknya.


“nanti kita perbaiki. Kamu sudah minum obatmu?”


“sudah pak dokter. Tenang saja! Aku gak akan ngelewatin satupun jam minum obatku sampai aku pulih!”


Seokjin mengangguk pelan sambil mengusap kepala Soobin. Bukan asal Soobin memanggil kakaknya pak dokter karena memang kakaknya adalah seorang dokter di salah satu rumah sakit besar kota ini. Apalagi sejak Soobin mengalami kecelakaan, disusul papa mamanya yang meninggal karena sakit. Tinggallah ia dirawat oleh kakaknya seorang. Bersyukur dia masih ada kakaknya saat itu. Kalau tidak entah bagaimana nasibnya sebagai yatim piatu berpenyakit.


“Soobin...”


“Iya kak?” jawab Soobin menoleh pada kakaknya.


Wajah Seokjin terlihat serius kali ini. “kakak mendapatkan berita baru mengenai kejadian itu...”


.


.


.


.


.


.


.


Sefia berjalan menyusuri jembatan di tengah malam. Untung saja jembatan itu disinari lampu kecil yang melintang sepanjang jembatan. Ia pun berhenti di satu titik dan tersenyum.


“Kak Jaehyun. Aku tau kakak ngikutin aku!” Ucap Sefia berbalik dan benar saja Jaehyun keluar dari balik pohon.


“Bagaimana kamu bisa tau? Padahal aku sudah berusaha tidak menimbulkan suara sama sekali...” Puji Jaehyun kagum akan kehebatan gadis itu.


“kalau mau jadi penguntit, pastiin kakak tau juga cara menguntit yang benar. Gimana gak ketahuan kalau kak Jae pake parfum terus sembunyi di arah angin bertiup. Ya kecium lah...” mereka berdua pun tertawa pelan.


Perlahan Jaehyun mendekat dengan kedua tangan dimasukkan dalam sakunya.


“Kamu bahkan hafal dengan parfumku...” pria itu mengangkat tangannya dan mengusap kepala lalu turun ke pipi Sefia. Matanya tidak berpaling menatap manik indah milik gadis dihadapannya itu.


“aku udah pernah nemenin kak Jae beberapa kali. Kalau yang ngikutin aku itu orang yang belum aku kenal, aku gak akan bisa nebak...”


“kalau Mingyu? Enwoo?”


“Aku udah tau aroma parfum mereka. Hidungku ini canggih udah upgrade kemampuannya!” bangga Sefia sambil menoel hidungnya sendiri membuat Jaehyun gemas dan menarik pelan pipinya.


“ayo kita kembali ke penginapan. Disini sudah mulai dingin...”


“Kak Jae aja yang balik. Aku masih mau disini...” tolak Sefia sambil terus memandang ke arah pemandangan bawah bukit yang terlihat dari tempat mereka berdiri.


“Iya sudah kalau kamu menolak...”


Jaehyun berpindah dan memeluk Sefia dari belakang membuat gadis itu kaget.


“kak Jae, gak perlu repot-“


“Aku Cuma mau memastikan kamu tetap hangat. Kalau kamu sakit, mama akan mengomel nanti...”


Suara kekehan terdengar merdu di telinga Jaehyun. Sementara Sefia mulai membayangkan sesuatu.


“Jadi kangen mama...”


“Mama yang mana?”


“semua mamaku...”


“mamamu menelfon Kun kemarin menanyakanmu...”


“Hhmmm...Kun ge udah cerita dan aku udah nelfon mama tadi...”

__ADS_1


“Lalu?”


“Biasa... Ngomel session...”


Tawa mereka mengisi kesunyian tempat itu.


“Sefia...”


“Hhmmm...”


“boleh aku bertanya sesuatu?”


“tentu...”


“Maukah kamu menjawabnya dengan jujur?”


“Aku usahain...”


Jaehyun melepas pelukannya dan membalik tubuh Sefia menghadapnya.


“katakan dengan jujur padaku. Apa pria yang malam itu menyerangmu, adalah orang yang menyebabkan kamu diawasi oleh keluargamu sekarang?”


Sefia tidak menjawab pertanyaan Jaehyun dan pandangannya malah terarah ke tempat lain.


“Sefia, katakan dengan-“


Sefia memeluk Jaehyun dan menariknya kebawah membuat mereka berdua terjatuh dari jembatan dan berguling menuruni bukit yang memang agak terjal sampai ketika sebuah pohon membentur punggung Sefia cukup keras hingga membuatnya meringis kesakitan.


“Sefia!”


Jaehyun langsung panik dan berusaha duduk di posisi tanah yang miring itu. Menjadikan pohon sebagai pijakan dan menarik perlahan Sefia untuk duduk di pangkuannya.


“Sefia! Kamu baik-baik saja? Apa sakitnya parah?”


Sefia menggeleng pelan namun dengan wajah menahan sakit.


“Kak Jae gapapa?”


Jaehyun menggeleng cepat.


“kenapa kamu mendadak menarikku tadi?”


Jaehyun sangat terkejut mendengar penuturan Sefia. Entah betul atau tidak. Tapi Sefia Tidak mungkin berbohong hingga harus menyakiti dirinya sendiri. jika benar, siapa yang melakukannya?


“Apa pria malam itu?”


Sefia mengangguk pelan.


“Tebakankku juga dia...”


“tapi-“


Sefia menutup mulut Jaehyun dan mendorong tubuhnya hingga membuat Jaehyun berbaring dengan dia berada di atasnya. Tidak di pungkiri, jantung pria itu berdetak kencang saat ini. Bukan hanya karena Sefia berbaring di atasnya tapi juga kondisi mereka yang sepertinya masih darurat sekali.


Kedua tangan Sefia menarik tangan Jaehyun supaya melingkar di pinggangnya membuat nafas pria itu makin tidak beraturan lalu dia melanjutkan mengambil sesuatu dari kantongnya dengan mata memindai sesuatu. Sekali lagi Jaehyun dibuat kaget dengan skill gadis yang sedang dipeluknya ini. Di depan matanya, Sefia mengeluarkan karet yang disangkutkan diantara dua jarinya juga sebuah jarum?! Jarum apa itu?!


Sefia menjepit jarum itu di tangan kirinya lalu kembali meraba kantongnya untuk mengeluarkan kertas. Di depan matanya, Jaehyun melihat sendiri Sefia merakit panah buatan dengan peralatan seadanya lalu menargetkan sasarannya. Persis seperti sniper sejati namun bukan dengan pistol. Jaehyun menebak, pria itu ada disini mencari mereka dan Sefia ingin menyerangnya. Tapi bagaimana dia menyerang dengan sebuah jarum kecil saja? Pria itu hanya bisa berdoa berharap rencana apapun yang dibuat Sefia akan berjalan lancar. Ditariknya kertas berisi jarum itu dengan karet sebagai pegasnya lalu...


“aaaaaahhh....!”


“Kena!” cicit Sefia bangga dan beberapa detik kemudian terdengar suara sesuatu terjatuh berguling melewati mereka. Jaehyun yakin itu manusia. Target terkalahkan membuat Jaehyun menatap Sefia kagum.


“Apa yang kamu lakukan padanya?”


“cuma sedikit obat...”


Mata Jaehyun membulat seketika mendengar ucapan Sefia. Sebenarnya tujuan gadis itu melingkarkan tangan Jaehyun padanya adalah supaya dia tidak sampai terguling saat tangan dan matanya fokus pada targetnya. Dia waspada. Sangat waspada dan sudah menduga dimana tempat terbuka disana dia diserang oleh pria breng**k itu!


Ah....mengingatnya saja, ingin sebenarnya dia langsung mengakhirinya. Tapi dia masih punya hati nurani, sayangnya.


Setelah berjuang keras mereka berhasil naik kembali ke tanah yang lebih lurus. Bohong jika Sefia tidak merasakan nyeri luar biasa pada punggungnya hingga membuatnya meringis menahan sakit. Jaehyun yang melihat itu segera tanggap dan menahan tubuh Sefia.


“Sakit sekali?”


“Lumayan. Kita balik ke penginapan aja kak. Aku mau baring...”


Jaehyun langsung berlutut membelakangi Sefia.


“naiklah...”


“Gak perlu kak. Aku berat...”

__ADS_1


Pria itu menoleh sambil terkekeh pelan melihat wajah ragu Sefia.


“kalau Lucas saja bisa mengangkatmu,kenapa aku tidak? Ayo. Semua pasti sudah menunggu...”.


Mau tidak mau Sefia akhirnya menaiki punggung Jaehyun dan melingkarkan tangan pada lehernya.


“Terimakasih. Kalau saja kamu tidak cepat tadi, mungkin aku bisa celaka...” ucap pria itu berbisik pelan yang pastinya bisa di dengar jelas oleh Sefia.


“Hhmmm...targetnya aku bukan kak Jae. Aku yang harusnya minta maaf karena kak Jae harus terlibat juga...”


Sefia membaringkan kepalanya di bahu lebar pria itu sambil menutup matanya. Aroma parfum yang lembut menyegarkan khasnya mampu membuat Sefia merasa lebih tenang. Jaehyun pun bisa merasakan lembut dan hangat kemudian nafas adik tirinya itu. Seberkas senyuman terukir di wajahnya karena bisa sedekat ini dengan Sefia. Apa dia sudah jatuh cinta? Sesal muncul bersamaan.


Bagaimana dia bisa jatuh cinta dengan adik tirinya? Dari banyak wanita yang pernah ditemuinya, kenapa harus Sefia? Dia akui, keanehan Sefia memiliki daya tarik yang kuat. Jaehyun tidak pernah melihat Sefia dari segi kecantikan atau kemolekan tubuhnya. Murni dia tertarik pertama kali karena segala keanehan yang ditunjukkan gadis itu. Aneh yang benar-benar seharusnya para wanita hindari untuk dilakukan malah semua dilakukan oleh Sefia.


Salahkah aku jika aku jatuh cinta padamu? Hati tak bisa ditebak, cinta tak bisa dipilih. Semua mengalir begitu saja dan semakin lama aku semakin terjebak dalam fikiran tentang dirimu. Egoiskah aku jika aku mengharapkanmu? Ma, pa, aku minta maaf karena telah jatuh cinta dengan saudariku...


“Sefia...!!!”


Suara teriakan Lucas membuat Enwoo yang duduk bersamanya di halaman menoleh ke arah sorot mata pria itu. Bahkan sampai mengagetkan yang lain yang ada di dalam penginapan.


Segera saja Lucas berlari ke arah Jaehyun dan mengusap pelan kepala adiknya itu penuh kekhawatiran.


“Apa yang terjadi? Kenapa ini?” paniknya.


Sefia tersenyum dan mengusap pipi Lucas dengan wajah lemas karena benar-benar punggungnya tidak bisa diajak kompromi. Sakitnya berdenyut-denyut. Kun dan yang lain pun sudah terlihat keluar dari penginapan. Melihat Sefia lemas diatas punggung Jaehyun, membuat Kun sangat panik dan mendekat.


“aku gapapa kak. Tadi kita jatuh dari jembatan terus punggungku sedikit bentur sama pohon. Nyeri dikit...” jawabnya tersenyum.


“jatuh dari jembatan? Jaehyun, bagaimana bisa kalian jatuh dari jembatan?!” tanya Kun dengan ekspresi marah luar biasa. Kini Jaehyun bisa melihat aura menyeramkan dari seorang Kun.


“itu salahku. Si breng**k itu nyerang kita tadi jadi aku panik dan reflek narik kak Jae buat nunduk sampai jatuh...”


Wajah Lucas memerah sambil mengepalkan tangannya.


“si buruk rupa itu..!!” ucap Lucas penuh emosi.


“kita harus bawa Sefia ke rumah sakit segera kak. Aku takut lukanya serius...” ucap Sania khawatir sambil mengusap tangan Sefia. Ini pertama kalinya dia merasa ketakutan separah ini dengan keadaan Sefia.


“Jaehyun, bawa Sefia ke mobil. Aku dan yang lain akan mengemasi barang dulu...”


Jaehyun mengangguk faham dan Mingyu datang membawakan kunci mobilnya.


Tangannya terangkat dan mengusap pelan punggung gadis yang masih setia tersenyum itu.


“tahan sebentar ya...” ucapnya diakhiri dengan kecupan pada kening Sefia. Panas. Itulah yang Jaehyun rasakan. Tapi dia tidak bisa melakukan apapun.


“Kami ke mobil dulu...”


“Hhmmm...”


Setelah mendapat anggukan dari yang lain, Jaehyun pun segera membawa Sefia ke parkiran.


“maaf merepotkan...”Ucapnya sambil terkekeh pelan.


“bahkan kalau kamu mau aku menggendongmu sampai rumah, aku tidak akan masalah...” jawab pria itu lembut tidak mau membuat gadisnya merasa bersalah terus menerus.


“hhmmm...kalau gitu nanti setelah kita pulang, kak Jae gendong aku dari depan komplek sampai rumah,ya? Aku masih ada janji balapan lari sama pak Eko soalnya...” jawaban Sefia membuat Jaehyun tertawa pelan.


“Hhmmm... Kita akan lari bersama...”


Jaehyun membuka pintu mobil dan membaringkan Sefia. Pria itu bisa mendengar cicitan kecil merintih dari mulut Sefia yang sepertinya dia tahan.


Dielusnya kepala gadisnya itu dan diberikannya kecupan hangat pada keningnya.


“tahan ya... Nanti setelah di beri obat pasti rasa sakitnya berkurang...”


Sefia mengangguk tersenyum dengan mata sayunya. Jujur saja dia sudah kehabisan tenaga dan matanya ingin terpejam. Tapi dia takut malah jadi tidak sadarkan diri dan membuat semua orang makin khawatir sehingga dia berusaha mati-matian menahan matanya agar tetap terbuka.


“Kakek akan menjadikanku daging giling nanti...”


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2