Sefia

Sefia
rahasia


__ADS_3

Terlihat betapa tenangnya gadis yang sudah berganti dengan baju pasien itu tertidur setelah beberapa saat yang lalu mendapatkan suntikan pereda rasa nyeri. Wajah cantik dihiasi rambut panjang kitam terurai membuatnya terlihat bak putri tidur.


Tidak ada yang terlalu parah padanya. Tulangnya semua aman. Tapi memang benturannya bisa dipastikan cukup keras hingga meninggalkan bengkak yang lumayan.


Jam sudah menunjukkan pukul 3 malam saat mereka semua masih terjaga. Lucas dan Enwoo menunggu di depan, Kun dan Jaehyun yang sedang menyelesaikan administrasi, dan tinggal Mingyu Sania yang ada di kamar. Pelan, Sania mengusap punggung tangan saudarinya tanpa berniat melepaskannya sedikitpun. Air bening menetes dari ujung matanya menandakan betapa khawatirnya dia dengan saudarinya itu. Sefia yang biasanya selalu melindunginya dan selalu terlihat kuat, kini terbaring dengan memar di punggungnya.


“Apa sebenarnya yang kamu alami?”


Mingyu menoleh ke sumber suara yang lemah itu. Matanya sayu melihat gundah di wajah Sania.


“kamu Cuma nunjukin sisi niatmu setiap saat nutupin dengan baik masalahmu. Apa sulit buat berbagi cerita sama aku? Aku tau, aku gak berguna dan gak akan bisa bantu kamu. Tapi aku juga sakit tau kamu gak jujur sama aku...”


Mingyu menghela nafas pelan dan mendekat pada Sania. Diusapnya lembut Surai adiknya itu sambil menatap Sefia yang bahkan masih bisa menunjukkan senyum dalam tidurnya. Iya, sepertinya Mingyu sadar kalau itu kebiasaan Sefia. Tertidur dengan wajah tersenyum. Sebelumnya Mingyu juga pernah melihat itu saat Sefia tertidur di sofa kamar Jaehyun dan sempat membuatnya berfikir kalau gadis itu Cuma pura-pura tidur. Dalam hatinya, dia merasakan ketakutan. Takut Sefia tidak akan membuka matanya lagi. Berlebihan memang. Tapi jujur dia sudah merindukan ocehan dan tingkah aneh anak itu.


Keabsurd-tan yang sekarang dia ketahui diajarkan oleh Lucas. Karena ketika mereka berdua disatukan, tawa semua orang akan pecah karena ulah mereka. Diakuinya, Kun dan Lucas benar-benar sudah membantu membesarkan gadis itu sehingga terlihat jelas sifat dari kedua pria itu sedikit menurun pada Sefia.


Pintu ruang rawat terbuka dan masuklah seorang kakek yang diduga Mingyu merupakan kakek dari Sefia dan Sania ditemani Suho, Lucas, Enwoo dan dua pria berpakaian rapi seperti pengawalnya. Sania langsung berdiri dan Mingyu segera merengkuh bahunya untuk mendekat saat kakek itu mendekat ke arah Sefia dengan tatapan sedihnya. Diusapnya wajah cucu tercintanya itu dengan tangan gemetar. Lagi,pintu rawat terbuka lalu masuklah Kun dan Jaehyun.


“Sudah berapa kali kakek bilang, tapi kamu tidak pernah mendengarkannya. Apa kamu suka sekali membuat kakekmu yang sudah tua ini khawatir? Apa kakek benar-benar harus mengurungmu di sell rumah supaya kamu kapok dan menuruti ucapanku?”


Kun mendekat dan mengusap punggung kakeknya pelan.


“kek...Sania ...” bisiknya membuat kakek menoleh ke arah yang ditunjuk Kun.


Terlihat Sania menatapnya kaku. Tentu saja, sudah sangat lama sejak terakhir kali pria tua itu bertemu dengan cucunya satu lagi. Selama ini dia hanya bisa melihat Sania dari fotonya saja dari para mata-mata yang dia tugaskan mengawasi cucunya itu.


“kemarilah, sayang...”


Sania menoleh pada Kun yang dijawab anggukan pelan. Perlahan Sania mendekat pada kakek Sefia yang tidak lain kakeknya juga.


“Kamu sudah sangat besar, walaupun tidak setinggi saudarimu yang nakal ini...”


Ucapan kakek cukupmembuat Sania terkekeh.


“kamu lihat. Saudarimu sangat-sangat nakal dan keras kepala. Persis seperti mamanya. Kakek tidak tahu harus bagaimana lagi mengaturnya supaya menurut. Papamu beruntung, karena kamu sangat penurut padanya...”


Sania menoleh kaget. Apa kakeknya itu tahu? Tapi Sania yakin mereka belum pernah bertemu sebelumnya. Entah ketika dia masih kecil,mungkin.


Pria bernama Ardas itu menoleh dan memahami kebingungan cucunya.


“apa kamu fikir kakekmu ini tidak tahu apapun tentangmu? Kakek selalu mengawasimu dari jauh. Mulai dari kebiasaanmu sepulang les mampir di toko kue untuk membeli kue yang sama, strawberry cheese cake, sampai seringnya mobil supirmu yang memutar melewati taman kota tanpa berhenti disana. Apa Sefia sudah membawamu ke taman itu?”


Sania mengangguk dan tersenyum terharu.


Ternyata kakeknya mengawasinya tanpa dia ketahui.


“aku rasa, aku lebih mudah mengawasimu daripada mengawasi saudarimu yang nakal ini...” ditatapnya Sefia yang masih tertidur dengan suara parau.


“dia selalu saja berhasil mengelabuhi orang yang aku tugaskan mengawasinya, kakak-kakaknya, serta keluarganya. Padahal sebenarnya dia lah yang harusnya paling dijaga saat ini...”


Sania menarik pelan baju kakeknya supaya kakeknya menoleh padanya.


“apa yang terjadi dengan Sefia? Apa dia pernah melakukan kesalahan sebelumnya sampai kakek khawatir dengannya?” tanya gadis itu pelan. Dia tahu, dia bertanya pada orang yang tepat sekarang.


“tidak. Dia tidak melakukan kesalahan saat itu. Dia hanya terlalu sempurna hingga ada yang membencinya. Dia terlalu kuat hingga musuhnya tidak bisa mengalahkannya. Dia terlalu cerdik untuk dibodohinya. Dan dia terlalu pintar untuk ditebak isi fikirannya. Dia...dia terlalu muda untuk hidup dengan masalahnya...” lirih Ardas menatap ke arah Sefia. Sania sedikit faham sekarang.


Ada masalah yang besar yang sulit dijelaskan oleh semua orang karena sepertinya mereka juga tidak tahu betul asal usul masalah ini dimulai.


Pintu ruangan kembali terbuka dan terllihat Bram juga Tias datang dengan wajah paniknya.


Bram menoleh ke semua orang termasuk Sania, memastikan semua anak dan keponakannya baik-baik saja sampai akhirnya menatap ke arah Sefia yang berbaring di ranjang pasien. Inilah yang ditakutkannya. Sefia jatuh tanpa dia ketahui masalahnya. Sebagai seorang papa, dia merasa sangat gagal. Mingyu menyingkir memberikan jalan pada Bram untuk mendekat.


Diusapnya pelan kepala gadis itu dan satu tangannya lagi mengusap pelan punggung tangan Sefia.


“senyumnya sama sekali tidak pernah luntur...” lirihnya.Bram mengangkat wajahnya menghadap ke mantan mertuanya.


“pa... Ada yang harus kita bicarakan dan aku ingin tahu semuanya...”


Ardas menghela nafas panjang dan jelas dia tahu apa yang akan ditanyakan mantan menantunya itu.


“aku tidak tahu lengkapnya. Tapi aku akan menceritakan apapun yang aku ketahui. Bagian kosongnya, kamu harus tanyakan sendiri pada Sefia. Karena dia sama sekali tidak pernah mau mengungkapkannya pada siapapun...”


Ardas memberi kode pada Suho dan diangguki olehnya.


“Ayo kita keluar semua. Biarkan kakek, Bram dan Tias disini...” ajak Suho.


“Kenapa?”


Kali ini Enwoo angkat bicara.


“Kenapa kita semua tidak boleh mengetahui masalahnya. Bukankah sedia anak papa dan kami juga keluarga papa? Bukankah lebih baik kita semua tahu supaya kami bisa menjaga Sefia juga?” sambungnya.


“Enwoo benar. Kita semua harus tahu semuanya dan-“


“Dan aku tidak mengizinkannya...”


Suara tegas itu terdengar membuat semua menoleh pada gadis yang matanya masih tertutup itu. Perlahan ia membuka matanya dan menatap semua orang . Kini bukan senyum. Namun tatapan yang tajam dengan aura yang sangat-sangat berbeda seakan menyeruak dari gadis itu.

__ADS_1


“aku tidak mengizinkan kakek menceritakan apapun...”


“sefia! Papa harus-“


“Pa...semakin sedikit yang tahu, semakin aku merasa nyaman. Kalau kalian semua ingin tahu, silahkan. Tapi aku akan pergi dari kota ini ketempat yang lebih jauh!” ancamnya penuh penekanan dan keyakinan. Ardas mengangguk faham. Cucunya itu memang persis mamanya.


“Bram...pulanglah dengan yang lain. Sefia biar aku yang mengurusnya. Saat ini suasana hatinya sedang tidak bisa diajak berkompromi...”


Bram tidak tahu harus berkata apa lagi. Sebenarnya, dia mengenal putrinya atau tidak, dia juga tidak tahu. Kemarin dia merasa seakan dia mengenal Sefia. Tapi hari ini, Sefia yang dia kenal sepertinya tidak dia kenal juga. Tias mendekat mengetahui isi hati dan kegelisahan suaminya. Diusapnya pelan lengan Bram lalu tersenyum ke arah Sefia.


“Kami akan pulang. Jaga dirimu baik-baik sayang . Mama percaya padamu...”


Sefia menoleh ke arah Tias dan sedikit senyum kembali mengembang.


“Terimakasih ma...”


Tias mengangguk pelan. Dia tahu, akan ada saatnya mereka tidak boleh melewati batas yang dibuat oleh orang lain. Semua orang memiliki privasinya sendiri begitu juga dengan Sefia.


Sania mendekat dan mengelus pelan tangan Sefia.


“kapan kita akan bertemu lagi?”


Sefia tersenyum teduh menghadapi saudarinya itu.


“Disekolah. Kita akan bertemu disekolah dan aku akan berdiri memperkenalkan diriku di depan kelasmu. Aku janji itu...”


Kedua gadis itu menautkan jari kelingking mereka membuat Ardas tersenyum dan mengusap kedua kepala cucunya.


“Kamu pulanglah dan istirahat ya sayang...”


“Hhmmm...kakek jaga Sefia,ya?”


“iya, kakek akan menjaganya...”


“Ayo sayang...”


Merekapun kelaut dari ruangan itu. Jaehyun yang terakhir menatap Sefia sambil mengangkat alisnya seakan menanyakan keseriusan gadis itu. Sefia tidak bisa menahan senyumnya melihat wajah lucu Jaehyun.


“Terimakasih...” ucapnya membuat Jaehyun mengangguk dan sedikit tersenyum.


“Aku permisi dulu. Kakek, Kun, Lucas. Titip Sefia...”


Kun mengangguk pelan dan Jaehyun pun keluar dari ruangan itu.


Ardas mengerutkan alisnya dan menatap Sefia menyelidik dengan tangan terlipat di depan dadanya. Tidak mau kalah, Sefia juga melipat tangannya di depan dadanya adu tatap dengan kakeknya.


“Kenapa?”


“kakak tiri Sania...”


“bukan kakak tirimu?” tanya kakek dengan nada suara yang terdengar menggoda cucunya itu.


“Minta mama menikah lagi dengan duda beranak. Maka dia akan jadi saudara tiri ku...”


Kakek mengangguk faham. Cucunya itu tidak menganggap anak tiri dari Bram sebagai saudaranya juga. Jadi...


“apa kamu menyukainya?”


Lucas dan Kun terbelalak kaget dengan pertanyaan kakeknya itu lalu menoleh ke arah Sefia menunggu jawaban.


“dia temanku. Tentu aku menyukainya. sebagai teman...”


“Bukan sebagai kakak?” goda Ardas lagi.


“hah...terserah kakek lah mau mikir gimana. Aku juga tau kakek pasti otaknya udah kemana-mana...” keluh Sefia lalu kembali memejamkan matanya.


Ardas bisa melihat kalau Sefia jujur dalam berbicara. Dia tidak melihat tanda cucunya itu menyukai pria itu secara lebih. Sefia juga berbicara dengan santai menepis fikirannya kalau mereka punya hubungan spesial. Tanpa ragu tanpa malu.


Tapi, Ardas jadi penasaran dengan pria itu. Ardas bisa melihat dan merasakan kekhawatiran yang besar darinya untuk Sefia. Bahkan dia mengatakan 'titip setia’ seakan dia tidak rela jika harus jauh dari cucunya itu. Apa pria itu menyukai Sefia?


“menarik...”


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


.


.


.


.


.


Beberapa hari sudah pasca kejadian itu. Sefia sudah pulang dari rumah sakit dan sampai sekarang belum pernah berkunjung lagi. Hanya sesekali dia menelfon Tias dan Sania untuk menanyakan kabar mereka.


Jaehyun? Galau. Hatinya gelisah. Dia pernah mendatangi apartemen Sefia namun hasilnya nihil. Gadis itu tidak ada disana dan sepertinya dia tinggal dengan kakeknya. Ingin sekali rasanya Jaehyun datang kesana untuk memeluk gadis itu. Dia rindu. Sangat rindu dengannya. Apakah dia harus nekat datang kesana? Dia sudah tidak bisa menahan dirinya lagi. Dia sudah ada di fase sulit tidur, tidak enak makan, tidak enak bekerja.


walaupun suasana di rumah memang sudah membaik. Dia dan ketiga saudaranya sudah mau berbincang di meja makan dengan yang lain. Terutama Mingyu. Dia menjadi teman debat mamanya sekarang. Mungkin ributnya dengan Lucas sangat mempengaruhi juga. Sedangkan Enwoo? Dia sering tertawa dan menengahi dikala debat mereka tak berujung juga. Ya. Kun sepertinya juga mempengaruhinya karena sebelumnya setiap Lucas dan Mingyu ribut tanpa henti, Kun selalu menjadi pemisahnya.


“Aku harus menyegarkan wajahku dulu...”


Jaehyun masuk ke dalam kamar pribadinya yang tersedia di ruangan itu dan menuju kamar mandi untuk membasuh wajahnya. Satu kali, dua kali, dan ketiga kalinya dia baru mengusap wajahnya lalu membuka matanya. Dia kaget melihat wajah Sefia tersenyum dari pantulan kaca ke arahnya.


“hah...apa sebegitu nya aku merindukanmu? Aku fikir, semua itu hanya omong kosong belaka. Tapi aku benar-benar bisa melihatmu di cermin dan saat aku berbalik kamu pasti akan hilang. Bolehkah aku Tidak berbalik dan menatapmu dari sini supaya kamu tidak hilang?”


Sefia tersenyum simpul.


“Apa harus aku peluk kak Jae supaya kak Jae mau menoleh ke aku?”


“Hhmmm...peluk saja aku. Kamu tidak tahu bagaimana gilanya aku merindukanmu. Hah...tentu saja kamu tahu. Kamu hanyalah halusinasi ku...”


Jaehyun memejamkan matanya dan tertunduk sedih sampai akhirnya dia benar-benar merasakan sepasang tangan menyentuhnya dan merambat naik ke kedua bahunya. Pria itu mengangkat wajahnya dan melihat dari cermin senyum Sefia memeluknya. Segera dia berbalik kaget. Sefia benar-benar ada dihadapannya. Langsung saja dia memeluk erat gadis itu seakan tidak ada hari esok.


“aku merindukanmu. Sangat merindukanmu...” ucapnya lirih.


“hhmmm...aku tau. Kak Jae udah bilang itu tadi...” tawanya dengan nada meledek namun Jaehyun tidak perduli. Dia bisa mencium aroma bayi menenangkan itu lagi. Sefia melepaskan peluknya dan ingin memberi jarak namun Jaehyun menahannya.


“tolong...biarkan seperti ini...”


“Kak Jae gak mau kerja?” tanya Sefia sambil mengusap pelan punggung dan rambut pria itu dan dijawab dengan gelengan kepala.


“aku hanya ingin tetap seperti ini. Aku rindu. Aku tidak bisa jauh lagi darimu. Aku candu dan kamu canduku...”.


Kini Sefia merasakan bahwa Jaehyun sedang menangis saat bahunya mulai terasa basah. Hatinya terketuk dan merasa bersalah. Perlahan dia mundur hingga bertemu dengan ranjang di kamar itu dan mendudukkan Jaehyun masih dalam posisi pria itu memeluknya. Dia tidak mau melepaskan Sefia sedikitpun.


“Istirahatlah. Kak Jae orang tidur kan?”


Jaehyun mengangguk dan baru melepaskan pelukannya. Wajahnya nampak kacau. Sefia tersenyum dan mengeluarkan saput tangan dari tasnya lalu mengusap wajah berantakan itu.


“Kak Jae tidur,ya?”


Jaehyun menggeleng keras. “saat aku bangun,kamu akan hilang...” tolak nya. Dia sangat yakin Sefia akan hilang saat dirinya terbangun nanti. Sefia tersenyum lalu berlutut membuka sepatu dan kaos kaki Jaehyun.


“Aku temenin sampai kak Jae bangun. Aku janji...”


“Kamu sudah berjanji...”


“iya...aku udah janji. Ayo tidur sekarang...”


Jaehyun yang memang sudah beberapa hari kurang tidur dan kini matanya main memberat karena menangis akhirnya membaringkan dirinya. Dia kaget saat Sefia ikut berbaring dihadapannya.


“Boleh aku peluk?”


Sefia tersenyum dan mengangguk lalu Jaehyun segera menariknya dalam pelukannya. Dia bisa mencium aroma strawberry pada rambut yang kini ditutupi topi rajut itu. Memang kali ini tampilan Sefia terlihat agak berbeda. Pakaiannya lebih rapi berwarna dan terlihat lebih feminim. Tentu saja dia itu karena pengaruh bersama kakeknya.


“kenapa kamu tidak datang sejak awal?”


“Mama dateng dan mereka menceramahiku berhari-hari. Bisa bayangin rasanya?” ucapnya tertawa pelan membuat Jaehyun tersenyum.


“berarti kamu juga perlu istirahat...”


Jaehyun mengeratkan pelukannya dimana wajah Sefia menghadap ke dada bidangnya yang tercetak jelas dibalik kemeja ketatnya.


“Tidurlah...” ucap Sefia sambil jari telunjuknya berputar-putar abstrak di dada Jaehyun menimbulkan rasa sedikit geli namun menenangkan baginya. Pria itu memejamkan matanya dan terus berharap kalau semua ini bukan mimpinya saja.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2