Sefia

Sefia
pengakuan


__ADS_3

Jaehyun meregangkan tubuhnya dengan mata masih terpejam. Sedetik kemudian matanya langsung terbuka lebar dan bangkit melihat sekeliling. Tidak ada siapapun. Hanya dirinya sendiri. Pria itu menghela nafas panjang dan tertunduk.


“Aku rasa itu memang Cuma mimpi...” Gumamnya pelan.


“Mimpi apa kak?”


Sontak saja mendengar suara khas itu membuat Jaehyun mengangkat wajahnya dan langsung tersenyum. Segera dia melompat turun dari kasur dan memeluk Sefia.


“Aku fikir aku Cuma mimpi. Mimpi kamu tidur denganku dan berjanji tidak akan pergi...” ucapnya sedikit merengek.


Untuk pertama kalinya setelah ratusan purnama, seorang Jaehyun merengek lagi seperti anak kecil.sebegitukah impact dari kehadiran Sefia dalam hidupnya? Entahlah...yang dia tahu dia tidak mau terima jika ini semua benar-benar hanya mimpi.


“aku Cuma ambil pesanan makanan tadi. Ini udah sore. Habis makan kak Jae harus pulang...”


Jaehyun terdiam.


Pulang? Itu artinya mereka harus berpisah.


Lagi?


“Bolehkah aku tidak pulang supaya kamu juga tidak pergi?”


Sefia menggeleng dan melepas pelukan Jaehyun.


“besok hari pertamaku sekolah di tempat baru. Ada banyak hal yang harus aku selesaikan disana...”


“kamu pulang ke apartemen?”


Sefia mengangguk pelan sambil tersenyum.


“Setelah makan, bisa aku minta tolong antarkan aku ke apartemen? Aku naik taksi online tadi kesini...”


Jaehyun tersenyum dan menangkup wajah manis gadisnya itu.


“dengan senang hati...”


“terimakasih. Sekarang kak Jae cuci muka dulu. Aku tunggu di meja...”


Sefia melangkah keluar kamar tersebut dan Jaehyun segera masuk ke kamar mandi. Kurang dari lima menit dia sudah datang dengan penampilan rapi lagi dan wajah yang kini lebih segar. Tentu saja, dia sudah bisa tidur nyenyak setelah beberapa hari. Kini dia duduk disebelah Sefia yang sudah siap menyuapinya.


“kamu tau darimana aku belum istirahat?”


“Mama...”


Jaehyun mengerutkan alisnya.


“mama?”


“iya,mama. Mama bilang kak Jae sekarang makannya gak pernah habis. Terus mama sering ngintip ke kamar kalau kak Jae belum tidur padahal udah lewat jam...” jawab Sefia santai sambil mengunyah makanannya.


“Apa mama juga yang menyuruhmu kesini?” kali ini Jaehyun merasa lega karena Sefia menggelengkan kepalanya.


“pengen aja mumpung aku bisa kabur tadi dari seisi rumah...” ucapnya bangga membayangkan bagaimana keluarga dan para penjaganya stres mencarinya. Jaehyun pun hanya bisa menggeleng pelan mendengar tingkah Sefia. Senyumnya sedikit luntur saat dia mengingat wajah kakek Sefia saat di rumah sakit.


“kakekmu sangat khawatir padamu,Sefia. Jika saja hanya ada kamu dan dia disana, mungkin dia sudah menangis melihatmu terbaring waktu itu...”


Sefia tersenyum santai tanpa beban membuat Jaehyun sedikit bingung.


“Kakek emang gitu. Dia udah biasa ngadepin anak kayak aku. Lebih tepatnya, ngadepin mama dulu. Kakek emang khawatir aku kenapa-napa. Tapi kakek jauh lebih takut kalau keluarganya gak bahagia. Itu kenapa kakek gak berani keras sama aku meskipun aku banyak tingkah...” senyum penuh kebanggaan menghiasi wajah gadis belia itu.

__ADS_1


Jaehyun pun mengangguk setuju. Dilihat dari Kun, Lucas dan Sefia sekarang, mereka terlihat bebas tanpa beban. Melakukan apapun yang ingin mereka lakukan tanpa menambahkan embel-embel keinginan papa atau mama seperti anak keluarga lain. Lalu Jaehyun? Dia ada disini memang karena keinginan dan hasil kerja kerasnya. dengan mimpi dan tujuan ingin membahagiakan keluarga.


Sedangkan adik-adiknya yang lain hanya mengikuti jejaknya entah karena terpaksa atau memang kemauan mereka.


Adik. Jaehyun kembali menatap ke arah gadis di depannya. Gadis itu juga terhitung adiknya,kan? Tapi kenapa hatinya menolak untuk menyayangi Sefia sebagai adiknya? Haruskah dia membuang jauh perasaannya dan mengubur mimpinya untuk bisa memiliki gadis yang dicintainya itu? Dan... Apa Sefia memberikan perhatian padanya memang murni sebagai adik ke kakaknya? Karena jika dia ingat kembali, Sefia juga sangat intens kedekatannya dengan Lucas dan Kun. Mereka biasa saling memeluk, cium dan berpegangan tangan seperti yang Sefia lakukan dengannya. Apakah cintanya bertepuk sebelah tangan?


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Tias mengetuk pintu kamar putra tertuanya itu.


“Masuk...”


Perlahan dia buka pintu kamarnya dan masuk lalu menutupnya kembali. Dilihatnya Jaehyun duduk di sofa kamarnya sambil sibuk mengetik sesuatu.


Jaehyun menoleh dan menggeleng dengan senyuman tipisnya.


“aku sudah makan tadi sebelum pulang...”


“Dengan Sefia?”


Jaehyun mengangguk pelan. Dia cukup kaget mamanya bisa mengetahuinya. Apa itu hanya sekedar tebakan atau dia benar-benar tahu?


“Mama tahu darimana?”


“Sefia tadi menelfon katanya dia akan datang ke kantormu untuk menemuimu...”. kini Tias duduk disebelah putra sulungnya itu. Diraihnya tangan Jaehyun dan diusapnya pelan. Tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mamanya membuat Jaehyun ikut membisu. Tias menatap tangan putranya dan tersenyum teduh.


“dulu, tangan ini sangat kecil. Tangan yang masih bisa mama genggam. Tapi lihat sekarang. Tangan yang dulunya selalu minta diraih untuk digandeng, kini sudah jauh lebih besar dan berotot...”


Tias mengangkat wajahnya dan menatap putranya itu.


“putra mama sudah sangat dewasa. Sudah masanya jatuh cinta...”


Jaehyun terdiam mendengar ucapan mamanya. Teringat lagi dia akan kisahnya saat ini yang benar-benar sekalut benang tak terurai.


“Kamu mencintainya?”


Sontak saja mata Jaehyun membulat mendengar pertanyaan itu. Kepalanya terasa berat tapi tubuhnya terasa dingin.


“siapa maksud mama?”.

__ADS_1


Tentu dia tidak mau sampai salah kaprah dan malah membuatnya terjebak sendiri. Seingatnya, dia tidak pernah menunjukkan apapun yang mencurigakan di depan orang lain. Tias tersenyum dan mengusap pelan pipi putranya itu. Teringat lagi dia akan mendiang suaminya,papa Jaehyun. Wajahnya persis seperti papanya. Tampan dan gagah dengan sorot mata tajam khas nya.


“kamu ingin main tebak-tebakan dengan mama mu? Oke...”


Tias menganggu setuju sedangkan Jaehyun berusaha menahan tubuhnya supaya tidak sampai gemetar. Tentu saja dia takut. Bagaimana jika mamanya tahu dia mencintai adik tirinya sendiri? Mama pasti akan marah dan kecewa padanya.


“dia satu-satunya gadis yang bisa membuatmu melakukan segalanya. Apapun dengan mudah. Dia bisa membuat sifat dinginmu mencair hanya untuknya. Dia bisa membuatmu terikat pada dirinya seorang. Dia gadis yang awal kehadirannya kamu anggap penganggu, tapi sekarang dia malah jadi candumu. Sefia Greyson...”


Sontak saja Jaehyun tidak bisa mengontrol tubuhnya lagi dan langsung berlutut di bawah kaki Tias. Dia takut. Sangat ketakutan. Bahkan tanpa sadar dia mulai menangis terisak membuat Tias kaget bukan main.


“Jae-“


“maafkan aku ma. Aku tidak sengaja. Tolong maafkan aku...”


Tias terdiam,siap untuk mendengarkan pengakuan yang akan dikeluarkan oleh putranya itu.


“Aku tau aku salah. Aku memang tidak tahu aturan. Aku sama sekali tidak ada benarnya melakukan ini. Tapi ma, aku tidak bisa merubahnya. Mama boleh memukulku, mencaciku, ataupun memarahiku sepuas hati mama. Tapi jangan membenciku atau mendiamiku setelah ini. Iya...aku jatuh cinta pada Sefia. Aku sangat jatuh cinta sedalam-dalamnya padanya. Aku tidak bisa jauh darinya ma. Aku tersiksa. Aku sudah mencoba menepis perasaanku, tapi itu semua percuma. Semua itu malah memeprdalam perasaanku padanya. Aku mencintainya ma...aku mencintainya...”.


Isak tangis Jaehyun seakan mengoyak hati Tias. Setelah bertahun-tahun lamanya, putranya kembali menangis dan kali ini untuk seorang gadis.


Tias mengangkat dagu putranya supaya Jaehyun mau menatapnya.


“Lihat mama sayang...”


Perlahan Jaehyun menatap mamanya. Dengan wajah berantakan dan pucat. Sebegitu ketakutannya dia.


“kamu sungguh-sungguh mencintainya?”


Jaehyun mengangguk pelan.


“Kamu mau berjanji tidak akan menyakitinya?”


Jaehyun kembali mengangguk.


“mama percaya padamu. Sekarang, dengarkan mama. Serahkan ini semua pada mama...”


“Mak...maksud mama? Mama Tidak marah padaku?”


Tias tersenyum dan menggeleng pelan.


“mama yakin dia orang yang tepat untukmu. Tapi,kamu harus pastikan dulu. Apa dia juga mencintaimu atau tidak. Jangan memaksakan. Kalau dia juga mencintaimu, katakan pada mama. Mama akan mengurus sisanya...”


Jaehyun menatap sendu sekaligus bahagia. Segera saja dia memeluk mamanya dengan erat.


“Terimakasih ma... terimakasih banyak...”


Tias tertawa pelan dan menepuk pelan punggung putranya itu.


“Sama-sama sayang. Apapun asal kamu bahagia...”


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2