Sefia

Sefia
part 5


__ADS_3

Sefia menjalankan motornya dan memarkirkannya di tempat parkir motor yang tersedia. Berbaris dengan motor milik pak Eko.


Setelah melepas helmnya, Sefia menggulung rambutnya dan menutupnya dengan topi biru navy ya lalu segera masuk kedalam rumah.


Di dalam terlihat bik Lim lewat hendak menaiki tangga membuat Sefia tersenyum jahil.


“pakkkeettt....!!!”


Bik Lim langsung menoleh dan kaget sekaligus senang.


“Nona Sefia!!”


Bik Lim segera berjalan cepat menghampiri Sefia dan langsung disambut pelukan oleh gadis tinggi itu.


“Bibik...aku kangen...!!” ucapnya sambil bergerak kanan kiri memeluk bik Lim.


Mendengar suara yang cukup keras dari ruang tamu, Tias yang sedang berada di dapur pun datang dan merasa senang. Dia yakin gadis yang ada di depannya adalah Sefia mengingat bagaimana dia sangat akrab dengan baik Lim.


Dalam hatinya dia merasa sedikit khawatir takut Sefia tidak menyukainya namun dia berusaha menyingkirkan fikiran buruknya supaya tidak mempengaruhinya.


Sefia berhenti tersenyum saat melihat Tias dan sedikit kebingungan lalu melepas pelukannya pada bik Lim. Tanpa mereka ketahui, ada beberapa pasang mata yang memperhatikan mereka dari lain tempat.


“Bik...”. bik Lim menoleh pada Tias yang tersenyum ke arah mereka.

__ADS_1


“Non, itu nyonya Tias...”


“aaaa....”. Sefia mengangguk paham lalu mendekat ke Tias dengan wajah yang sulit diartikan membuat Tias sedikit khawatir.


Beberapa detik sedia berdiri di hadapan Tias membuat suasana makin dingin bagi Tias. Ia berusaha menunjukkan senyum terbaiknya.


“pernah nemenin Sania tidur?”


Tias kebingungan namun menganggukkan kepalanya pelan.


“pernah...”


Sefia mengangguk pelan.


Tias kembali mengangguk pelan makin kebingungan dengan pertanyaan aneh Sefia.


“sering...”


Senyum Tias sedikit menurun tanpa disadarinya. Kekhawatiran yang sebelumnya ia buang jauh kini makin lebih besar dari sebelumnya.


Sefia tersenyum dan meregangkan tangannya kedepan.


“terus peluk akunya,kapan?”

__ADS_1


Tias dan yang lain nampak kaget hingga membuat Tias menoleh sekilas pada bik Lim yang dijawab anggukan dan senyuman dari bik Lim.


Tias tertawa pelan dan memeluk Sefia. Walaupun ini pertama kalinya mereka bertemu, Tias sangat yakin Sefia benar-benar seperti apa yang dibayangkan olehnya sebelumnya. Gadis ceria yang banyak ulahnya.


“Makasi udah mau terima papa sama Sania...” ucap Sefia di tengah sesi berpelukan mereka. Tias mengangguk pelan. Entah kenapa dia bisa merasakan cinta dalam pelukan anak gadis yang bahkan terlihat bagai anak motor itu. Bahkan sampai sekarang saja Sania tidak pernah mencoba lebih dulu untuk memeluknya seperti ini.


Mereka saling melepaskan pelukan namun tidak dengan jabatan kedua tangan mereka.


“itu sudah seharusnya... Dan bukan hanya Sania, Sefia juga akan mama terima disini kapanpun kamu datang...” ucap Tias tersenyum membuat Sefia merasa lega memiliki mama yang baik untuk Sania.


“Oh iya, tunggu sebentar...”


Sefia melepaskan tasnya dan mengeluarkan sebuah kotak dari tasnya.


“ini buat hadiah ucapan selamat dari aku...”


Sefia memberikan kotak berwarna emas itu kepada Tias membuat wanita itu tertawa pelan.


“kamu seharusnya tidak perlu membawa hadiah, sayang. Kedatanganmu saja sudah merupakan kejutan besar buat kami...”


Sefia tersenyum menunjukkan dimple nya.


“mama buka dulu, kalau mama gak suka, nanti aku siapin hadiah yang lain...”

__ADS_1


Tias tersenyum curiga dengan Sefia lalu membuka kadonya. Betapa senangnya Tias saat melihat vas keramik antik dengan ukiran yang cantik dan mewah mengisi kotak tersebut.


__ADS_2