Sefia

Sefia
pulang


__ADS_3

Sefia menutup pintu secara perlahan supaya Sania yang baru saja tertidur tidak sampai terbangun lagi. Anak itu sejak pulang sudah kelelahan dan langsung ingin tidur. Untung saja Sania bisa memaksanya mandi dulu sebelum tidur. Untuk makan, mereka sudah banyak sekali makan sejak izin keluar.


Saat Sefia menghela nafas lega, dia merasakan ada yang tengah menatapnya membuatnya menoleh ke samping. Dan benar saja, 3 pria kurang kerjaan bersender di tembok depan kamar masing-masing. Sepertinya mereka tengah saling bercerita atau bertukar fikiran, mungkin? Sefia tidak bisa menerka apa yang mereka lakukan di jam 11 malam itu.


Dengan santainya Sefia tersenyum dan melambaikan tangan pelan.


“Malam kakak-kakak semua. Saya pamit dulu. Jangan ngerokok disini ya kak. Sania gak boleh kena asap roko bisa sesak dia. Terimakasih sudah meluangkan waktu untuk mendengarkan. Saya permisi dulu...”


Sefia berbalik dan melangkah pergi. Tapi baru juga beberapa langkah, suara dari salah satu pria itu menghentikannya.


“kamu tidak menginap?”


Sefia Berbalik dan tersenyum. Entah kakaknya yang mana yang bertanya karena tampang mereka sama semua. Sama-sama datar menyebalkan. Kalau saja Sefia punya teman berwajah sok seperti mereka, mungkin sudah berkali-kali ditaboknya sampai orang itu tersenyum.


“Gak kak. Aku balik ke apartemen. Sekali lagi maaf menganggu dan selamat malam...”


Sedia kembali berbalik namun belum juga melangkah lagi-lagi suara pria menghentikannya.


“ini sudah terlalu malam. Menginap saja...”


Sefia kembali berbalik dan tersenyum dan kembali mendapatkan pajangan 3 wajah tampan namun datar itu memandangnya.


“Tenang kak,aku gak takut gelap. Udah biasa,jadi...aku balik dulu...”


“Mereka benar sayang...”


Tiba-tiba suara tak asing membuat Sefia kembali harus menoleh ke arah berlawanan.


“mama...”. ucapnya nyengir tanpa dosa. Tias pun tersenyum dan mendekati Sefia.


“ini sudah malam. Bahaya nanti kalau kamu pulang malam sendiri. Nanti kenapa-napa di jalan atau ada yang jahatin kamu, gimana?”.


Dari intonasi suaranya, Sefia bisa merasakan kekhawatiran dari mama barunya itu. Persis seperti ketika mamanya khawatir ketika mamanya mendengar kabar kalau dia pingsan disekolah dulu.


“ma...aku udah biasa kok. Papa belum cerita ke mama kalau aku ini jagoan?” ucap Sefia dengan pede nya membuat Tias tertawa pelan. Anak itu benar-benar ada saja tingkahnya yang membuat Tias bisa merasakan kehangatan mengingat 3 anaknya kaku dan satu lagi terlalu pemalu.

__ADS_1


“tapi kamu yakin? Atau, Jaehyun...”


Sontak saja Sefia menahan tangan mamanya itu supaya Tidka melanjutkan ucapannya. Diliriknya 3 pria tadi masih menatap dengan wajah datar mereka.


“benar-benar orang-orang yang membosankan. Gimana bisa sih wanita sebaik ini punya anak macem gitu semua? Apa pernah dikutuk jadi es kali ya sama mama...”


“Ma, just believe me okey? I Will be safe. Aku udah biasa kemana-mana sendiri. Oke? Mama tidur aja, istirahat. Besok aku kesini lagi. Mama dirumah atau ada kerjaan lain?”


Tias menghela nafas dan tersenyum mengusap pipi Sefia.


“Mama besok di butik, sayang. Dari sore baru mama pulang sebelum jam makan malam...”


“okey...!! Besok malam kita ketemu lagi! Aku temenin mama ngobrol besok. Gimana?” tanya Sefia sambil memainkan alisnya dengan wajah tersenyum tengil nya kembali membuat Tias tertawa dan mengangguk.


“iya...kalau kamu besok pagi gak kesini, inget sarapan ya? Jangan makan makanan instan. Atau mau mama bawakan sarapan ke apartemen?” tawar Tias.


Bagaimanapun wanita itu merasa lebih cepat akrab karena Sefia sendiri memperlakukannya dengan baik juga. Pertanyaan Tias mendapat gelengan sebagai jawaban dari Sefia.


“gak perlu ma. Aku udah beli bahan makanan. Aku juga kalau gak mager banget, gak akan makan diluar. Gak sehat...” jawab Sefia tanpa menghilangkan senyumnya.


Tias memang memanjakan anaknya masalah makan. Itu karena Tias tidak mau anak-anaknya jajan sembarangan apalagi si bungsu Mingyu pernah keracunan makanan dan membuat ketiga pria itu sempat trauma jajan diluar. Dan rasanya itu juga masih mereka hindari sampai sekarang.


“bisa dong ma! Kan aku udah bilang aku jagoan! Mama minta bantuan apa, aku pasti bisa bantu!” ucap Sefia kembali bergaya lucu membuat Tias tertawa lagi.


“Hhmm...kalau begitu, hati-hati di jalan. Sampai di apartemen, kabari mama. Okey?”


Sefia mengangguk tersenyum dan mencium kening mama barunya itu membuat Tias merasa terharu. Sefia sering melakukan itu pada mama Clara karena mama Clara juga lebih pendek darinya. Lagipula sedia juga ingin mamanya merasakan kasih sayang dan selalu ingat kalau masih ada dirinya yang selalu menyayanginya.


Sefia tumbuh dengan penuh kasih sayang dan pendidikan moral yang lebih baik. Walaupun Clara wanita pekerja, dia selalu menekankan pada Sefia bahwa dia tidak perduli dengan prestasi seorang,jika orang itu tidak bermoral akan terlihat lebih buruk baginya.


“good night ma, aku pergi dulu...”


Sefia perlahan berjalan pergi meninggalkan kehangatan pada hati Tias. Senyum lembut merasakan bagaimana kasih sayang dari putri yang tidak dibesarkannya saja membuatnya sangat bahagia.


“mama harap, suatu saat nanti kalian bisa mendapatkan wanita seperti dia. Penuh dengan kasih sayang dan kebahagiaan. Kalian akan bersyukur saat kalian sudah berada diusia mama nanti...”

__ADS_1


Jaehyun, Enwoo dan Mingyu saling menoleh satu sama lain. Entah kenapa ini pertama kalinya mamanya menambahkan tipe calon mantu idamannya walaupun tidak secara terang-terangan.


Tias berbalik dan tersenyum melihat ketiga putranya yang nampak kebingungan.


“Istirahatlah, besok kalian bekerja...”


“iya ma...”


Tias tersenyum dan berjalan menuju kamarnya.


“sudah lama aku tidak melihat mama setenang itu. Aku bisa merasakannya hanya dari suaranya saja...”


“Hhmm...anak aneh itu benar-benar makin terasa aneh bagiku...” jawab Mingyu sambil menyenderkan tubuhnya lagi ke dinding.


“aku rasa dia hanya anak biasa yang terlalu bebas. Lihat gayanya tadi? Berantakan seperti tidak tahu cara memilih pakaian yang pantas. Topinya yang selalu terpasang dan senyum sebagai tameng. Aku rasa dia tidak ada bedanya dengan perempuan lain, yang cengeng saat sedikit saja terluka...” ucap Jaehyun dingin.


Enwoo terdiam dan melihat ujung kakinya. Entah apa yang ada di fikiran pria itu. Dia senang, mamanya mendapatkan kebahagiaan, dia merasakannya. Dia benar-benar ingin mamanya bisa selalu bahagia dan tertawa lepas seperti tadi saat bersama gadis aneh itu.


Yah, walaupun aneh, gadis itu bisa membawa tawa lepas lagi untuk mamanya setelah bertahun-tahun. Bahkan Enwoo mengakui keanehan anak itu pula yang menjadi salah satu penyulut tawa mamanya. Diam-diam dia menyunggingkan sedikit senyum.


“anak aneh...”


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2