
Mereka tidak bertemu lagi setelah hari itu selama sepekan. Karena Ryan yang harus memikirkan perkataan Sarah. Yaitu tentang kemana dia bisa mengajaknya pergi. Dia tahu sekali jika apa yang dimaksudkan Sarah dengan keluar rumah adalah banyak bergaul, tapi pengertian bergaul keduanya mungkin saja sedikit berbeda. Saat dia lebih suka berkumpul dengan teman-teman yang ia kenal akrab, sepertinya yang Sarah maksud dengan keluar rumah adalah lebih mengakrabkan dirinya dengan kehidupan di sana.
Dia harus banyak berkeliling desa agar semua orang bisa melihatnya. Dia harus banyak terlibat dalam klub-klub olahraga. Dia juga harus melambai dan tersenyum pada orang-orang yang lewat bahkan di saat dia tidak mengenal mereka. Dia tahu jika ini yang hampir dilakukan Sarah setiap hari. Tapi baginya, itu suatu kewajaran. Di tempat yang sesempit ini, sulit sekali menemukan orang-orang yang telah lama tinggal di sana namun tidak akrab satu sama lain. Karena kebanyakan mereka yang memang kerabat dekat. Tapi tetap saja, hal itu terasa terlalu sulit jika dia harus memasukkannya ke dalam cara hidupnya. Kadang Ryan juga berpikir, jika dia hanya perlu melakukan itu sebagai keharusan. Tapi dirinya yang lain kembali mengingatkan jika itu adalah pilihan yang salah, selain ini juga demi perwujudan perasaan. Terlebih apa yang dikatakannya juga ada benarnya. Jadi itulah yang ia lakukan kemudian.
“Jadi… akan ke mana kau mengajakku malam ini?” Sarah bertanya dengan nada antusias.
“Kau akan segera mengetahuinya!”
“Kau tidak memberiku petunjuk?”
Lalu dia berdehem. “Sebetulnya…, aku tidak berharap kau terganggu dengan keramaian. Tapi mungkin ini bisa jadi perhatian teman-teman nanti.”
“Maksudmu, kau mengajak kita bertemu mereka?” Ia menatap heran.
“Bukan begitu… maksudku... tapi karena tempat ini tempat terbuka kan, kemungkinan itu pasti ada. Lagipula teman-teman sering ke sana.” Ujarnya seyakin mungkin. Tapi apa yang ia lakukan justru membuatnya lebih penasaran lagi.
Mereka berjalan beberapa menit dari rumahnya. Dan Ryan memang merencanakannya berjalan kaki. Agar mereka punya lebih banyak waktu untuk bicara. Lagipula tempat yang mereka tuju juga tidak sepenuhnya istimewa. Bahkan dia tak perlu merasa was-was lagi menanggapi sikap teman-temannya nanti. Terlebih mereka juga sudah seharusnya tahu segalanya.
Dia mengajaknya makan malam di luar malam itu. Ke salah satu tempat di Welmina yang bahkan tidak punya nama sebagai ciri khasnya. Meski menu yang ditawarkan di sana memang terkenal lezat. Lagipula, hal-hal seperti itu juga tidak jadi masalah di sini. Apalagi jika bukannya pada malam hari. Seperti yang dikatakan, warung di Welmina hampir selalu tutup sebelum pukul delapan malam. Yang membuat mereka yang bisa menjual apa pun tanpa satu pun saingan. Satu-satunya yang menarik sepertinya hanya tempatnya saja yang berada di dekat lapangan desa. Lokasi yang saat itu memang cukup strategis. Di malam-malam tertentu, orang-orang biasa berkumpul untuk melihat acara kesenian atau bazar lokal. Yang kadang ikut mengundang artis-artis dari kota. Jadi karena itulah tempatnya hampir selalu ramai. Bahkan di saat sedang tidak acara apa pun yang benar-benar spesial.
“Kau yakin mau mengajakku kemari?” Sarah tiba-tiba bertanya saat mereka mencari tempat.
“Ya,” sahutnya tanpa berpikir panjang.
“Tapi tempatnya banyak orang.” Ujar Sarah lagi. Kali ini tanpa melirik ke arahnya.
“Tidak apa kan.” Balasnya. “Maksudku, karena aku di sini bersamamu, aku justru senang menjadi perhatian.” Lalu dia tertawa.
Keduanya harus melewati sejumlah orang lagi sebelum duduk di salah satu kursi, kemudian langsung memesan menu. Omong-omong, mereka hanya menjual menu-menu sederhana. Dan hanya ada hidangan seperti sop di sana, nasi goreng, atau ikan bakar. Bahkan minuman terbaiknya hanya ada teh manis. Mereka lalu mengisi waktu lagi dengan sejumlah pembicaraan, seraya menunggu pesanan datang. Hingga dia tersadar, bahwa Sarah ternyata sedikit rikuh menanggapi orang-orang yang berlalu-lalang di hadapannya.
Dia coba mengalihkan perhatiannya.
__ADS_1
“Apa kau sebelumnya pernah kemari?”
Kali ini perhatiannya mulai kembali. “Ya, beberapa kali.” Ia berhenti sebentar. “Jadi… kenapa kau tiba-tiba terpikir mengajakku kemari?”
“Um…, entahlah. Ku rasa karena penjualnya saja bukan ayahmu.”
Ia tertawa. “Kau terlalu jujur.”
Tak lama kemudian pelayan datang mengantar pesanan. Yang sejenak mengakhiri percakapan mereka berdua. Dan mereka segera menikmati hidangannya sesaat hidangan itu disajikan. Di luar, bulan baru saja keluar dari belahan bumi yang lain. Sinarnya yang penuh seketika saja memancar ke segala arah. Tepat di hadapan mata. Sementara tanpa Ryan sadari, dia baru saja membangun hubungan yang sesempurna ini.
Dalam hati dia mulai membayangkan bahwa mudah sekali percakapan ringan hadir di antara mereka, membuat keduanya saling tertawa. Dan itu sudah jadi kenyataan yang baik untuk perkembangan ini. Namun tetap saja ada satu hal yang membuatnya terus waspada. Sesuatu yang dia harus mencari cara untuk mengetahuinya. Sesuatu yang dia harus menanyakannya.
“Apa ayahmu tahu kalau kamu keluar bersamaku, Sarah?” Lalu ujarnya.
Sebagian alasannya bukan saja karena Sarah yang masih menyembunyikan sesuatu. Ryan bahkan tahu jika Otto masih tidak menyukainya. Sementara dia memerlukan fakta itu untuk menentukan langkah selanjutnya. Namun bukannya langsung menjawab, Sarah malah berpaling sebentar. Nampak sekali seperti sedang berpikir keras.
“Aku kurang tahu. Ku rasa tidak. Tapi karena dia tidak pernah melihatmu akhir-akhir ini kan, mungkin ceritanya bisa lain.”
Dia teringat saat Sarah menyuruhnya menunggu di ujung jalan rumahnya. Suatu pertanda yang sama sekali tidak sulit dilihat. Tapi sekali lagi, ia sejenak mengabaikannya di sini. Sebelum jawabannya kembali membuatnya tertekan.
“Menurutku, kau memang harus mendekatkan dirimu lagi padanya, Ryan! Lagipula dia kan atasanmu.” Lalu sahutnya. Dan tanpa memperhatikan sedikit pun ekspresinya.
“Aku? Bagaimana bisa?”
“Ya, kau hanya perlu bekerja lebih rajin saja kan!” Nadanya terdengar halus dan lembut secara bersamaan. Membuatnya tahu jika Sarah masih menganggapnya kurang bertanggung jawab. Bahkan jelas sekali jika ia coba melempar semua kesalahan itu padanya. Meski bukan dia yang memulainya lebih dulu. Tentu saja ini bukan sesuatu yang ia harapkan dari pertemuan ini. Namun Ryan memilih tidak menjawabnya. Kali ini pembicaraan sejenak berhenti. Dan keduanya kembali sibuk dengan gelas kami masing-masing.
Di sekeliling mereka, kerumunan mulai sedikit berkurang. Dan Sarah juga tengah mencari cara untuk mengatakan sesuatu sekarang. Untuk mencairkan suasananya. Namun Ryan tidak tahu jika dia akan menanyakannya seperti itu.
“Jadi, apa rencanamu setelah ini, Ryan? Maksudku, aku pernah dengar keinginanmu untuk keluar dari sini kan?” Lalu tanyanya.
Kadang-kadang, jalan pikirannya memang sukar dimengerti.
__ADS_1
“Ya, itu tentu saja. Maksudku, jika kesempatan itu ada. Tapi hal-hal semacam itu memang mustahil.”
“Kenapa bisa?”
“Karena orang-orang sepertiku adalah orang buangan kan?” Sahutnya, dia mengatakanmnya seraya mengangkat bahunya. “Karena aku tidak punya keluarga di sini, makanya aku terlempar ke sini. Bahkan dulu, semasa tes dahulu, kami sempat dijanjikan jika penempatan berdasar peringkat. Jadi jelas sekali jika keberadaanku di sini adalah kesalahan. Belum lagi dari mereka yang bahkan tidak sampai setahun sudah bisa ke luar kota. Kau bisa melihatnya sendiri, mereka seperti Thomas, Esti, Sandra, atau yang terakhir, Lynda. Menurutku, kalau mereka bisa semena-mena, ku rasa aku juga bisa melakukannya.” Dia mengatakannya dengan nada lugas.
“Tapi bukan berarti itu jadi alasan untuk tidak bekerja dengan benar kan?” Sahutnya secara lembut pula.
Dan seperti sebelumnya, dia benci saat Sarah menyinggung persoalan itu lagi dan lagi. Dan memilih memendamnya untuk dirinya sendiri. Kadang, dia juga merasa bahwa jalan pikiran mereka akan terus selamanya berseberangan. Tak peduli berapa banyak dia akan bercerita tentang ketidakadilan. Dia bahkan jadi sedikit ragu apa Sarah benar-benar mengharapkan hubungan ini. Kenyataan yang sebetulnya sedikit membuatnya berkecil hati.
“Apa kau pernah mencobanya? Maksudku, kau meminta tempat yang lebih dekat atau semacamnya. Lagipula kau sudah cukup lama di sini, kan?” Tanya Sarah lagi.
“Ya, pernah. Tapi mereka memperlakukanku… um… ‘rasis’.” Dia coba tersenyum untuk kata tersebut. Sadar jika sebaiknya tidak mengatakannya.
“Aku tidak paham?”
Kemudian Ryan bergumam. “Bagaimana ya, Sarah. Sebetulnya…, aku juga tidak mau membahas hal itu! Tapi kau tahu sendiri kan, kata-kata seperti ‘orang pribumi’ atau apa lah. Lagipula, kenyataannya juga aku hanya seorang pendatang.”
Dia menghela nafas sejenak. Tidak tahu cara melanjutkan lagi. Meski dia benar-benar mengatakan apa yang ia alami selama ini. Namun Sarah sekali lagi memalingkan wajahnya ke lain hal.
Dia tidak tahu mengapa, tapi orang-orang memang suka membandingkan asal-muasal belakangan ini. Sebelum menjadikannya persoalan besar. Dan dia merasa bahwa cukup egois tentunya, saat membawa klise tersebut ke dalam kehidupan sehari-hari. Suatu ironi yang sungguh terjadi di negeri ini.
“Tapi, ku rasa aku mulai bisa membetahkan diri sekarang.” Ujarnya lagi. Sementara Sarah kembali menatapnya. “Kau mau tahu, apa yang membuatku sedikit betah?”
“Apa itu?”
Dan dia sengaja membuatnya menunggu sebentar sebelum dia benar-benar mengatakannya. Membiarkannya terlarut dalam kesenangannya.
Namun kata-katanya berikutnya memang sudah ia pikirkan sejak lama.
“Itu adalah kamu!” Lalu ujarnya.
__ADS_1
Dan dia baru saja membuat wajahnya merona sekarang.