Sekeping Kenangan

Sekeping Kenangan
Storia 12 : Bukan Lagi Rahasia


__ADS_3

Hidup, saat orang-orang kembali membayangkan masa lalu, sepertinya yang akan lebih banyak diingat adalah kenangan di masa kanak-kanak. Tumbuh dan berkembang di lingkungan keluarga, mengikuti semua perkembangan di dalamnya, hingga sampai dalam tahap yang disebut kedewasaan. Pernikahan, membangun keluarga, tetap saja akan jadi batasan tersendiri dalam siklus kehidupan. Teman-teman bicara banyak tentang pernikahan, istri atau suami yang jadi pasangan hidup meraka, atau pengalaman membesarkan anak-anak. Bagaimana pun juga, wanita selalu punya rentang biologis tertentu di dalam kehidupan mereka. Yang membuat mereka harus berhati-hati dalam menentukan rencana hidup. Sederhananya, 25 tahun adalah batas optimal sebelum bertransisi ke kehidupan yang baru. Namun manusia selalu berkembang dengan pemikiran mereka masing-masing, bukan?


Temannya Melia, ia bahkan berusia 28 tahun saat Erik menikahinya. Yang beritanya baru tersebar beberapa minggu yang lalu. Dan jika masih belum mengerti, coba bayangkan apa yang harus dihadapi orang-orang seperti Sarah saat melihat rekan-rekannya menikah lebih cepat. Terutama jika membayangkan dirinya yang sudah sedikit masuk waktu terlambat.


Hampir 26 tahun usianya sekarang. Namun hingga saat itu pun juga, dia masih belum mendapatkan kepastian. Tentu, masih ada Ryan di sana. Yang untuk beberapa alasan mungkin membuatnya tertarik. Dia tidak tahu apa kedekatan itu bisa disebut spesial. Namun dia tidak pernah merasa keberatan saat bisa menghabiskan waktu bersamanya, dia suka saat mereka bisa bicara akrab, tawa ringan dan semua cerita yang datang adalah kenyamanan yang ingin terus ia rasakan hingga hari ini. Meski ada beberapa alasan yang membuatnya tidak berani mengambil langkah lebih jauh.


Wanita memang selalu mengandalkan perasaan. Kenangan buruk, mungkin menjadi kegagalan yang akan terus terbayang di dalam membuka lembaran yang baru. Sesuatu yang mungkin tidak bisa ia ubah, bahkan sejauh mana ia mengusahakannya. Sesuatu yang mungkin juga menjadi sebab kesalahannya karena justru menjadikan pria semakin menjaga jarak. Sementara di lain sisi, Ryan justru merasa perasaannya yang seakan terombang-ambing.


Ada suatu waktu saat ia ingin mengakhiri semua ketidakpastian itu. Namun ia kembali ragu, jika saja ini bukan jawaban yang selama ini ia inginkan. Benar, Sarah telah menunjukkan sebagian tanda-tandanya. Pernyataan ulang tahun itu misalkan, meski dia tetap merasa ada yang hilang dari cara Sarah memperlakukannya akhir-akhir belakangan. Ia bahkan baru teringat, jika Sarah tidak pernah menyempatkan waktunya lagi untuk mampir ke rumah. Ia yang tidak pernah lagi memasakkannya sesuatu, atau dia yang tidak pernah antusias saat Ryan menelpon, yang menjadikan semua itu seperti kebiasaan lama yang tiba-tiba hilang.


Tentu saja dia tidak pernah berharap lebih. Hanya saja, saat dua orang saling mencintai, segala hal yang membawa banyak kedekatan, sesuatu yang lebih romantis, harusnya lebih sering terjadi, bukan? Apakah wajar mempertanyakan sikapnya sekarang? Apa wajar menuntut penjelasannya? Ketidaktahuan membuatnya takut melakukan sesuatu yang salah.


Dia tahu dia tidak bisa menyalahkan Sarah atas semua itu. Akan sangat salah jika dia sampai melakukannya. Karena hingga saat itu pun juga, dia masih belum menunjukkan kemesraan itu di hadapan orang-orang. Sebagian dirinya mengatakan bahwa dia akan memperbaikinya di saat kesempatan itu benar-benar ada. Namun berapa banyak sudah yang Sarah berikan untuknya. Sementara waktu yang tersisa itu semakin sedikit.


Hingga datanglah undangan itu. Undangan pernikahan Erik dan Melia. Yang bentuknya bahkan didisain dengan susunan acara yang sangat mewah.


Baiklah, semua rekan-rekan diundang, tentu saja. Dan Ryan juga, kemudian melihat itu sebagai jalan keluar. Karena itulah, dia kemudian datang kepada Sarah dengan rencana yang ia maksud.


Hal pertama yang ia lakukan adalah datang ke rumahnya Sarah. Dan seperti biasa, jawaban yang ia ucapkan adalah dia yang merasa tidak bisa ikut. Namun Ryan berhasil membujuknya untuk bicara dengan ayahnya, selain mengatakan jika ini juga ada hubungannya dengan ulang tahunnya. Dan saat ia mengatakan bahwa ini adalah saatnya untuk menunjukkan kedekatan mereka, sepertinya Sarah mulai mengubah sedikit perasaannya padanya.


Mereka membeli hadiah pernikahannya secara online kemudian. Dan hampir menghabiskan Rp 300.000,- untuk membelikannya hadiah. Sebuah album foto hitam keemasan, yang menurut Sarah pilihannya terlihat sangat modern. Namun di saat itu pulalah Ryan menemukan benda yang mungkin cocok untuk ulang tahunnya Sarah. Meski dia tetap merahasiakannya darinya. Setidaknya hingga waktu itu benar-benar tepat.

__ADS_1


Dia juga tidak pernah mengatakan apa-apa pun pada teman-temannya. Yang menurutnya adalah hal terbaru jika mereka sampai mengetahuinya. Sarah bahkan sempat menanyakan padanya akan bagaimana reaksi mereka nanti. Meski dia lebih suka mengatakan agar ia jangan terlalu peduli.


Namun pernikahan itu benar-benar kelihatan sangat megah. Keadaannya bahkan sudah sangat ramai sesaat mereka baru saja tiba. Mereka menyewa sebuah gedung, berikut sejumlah kamar hotel untuk tamu undangan, yang tentu dengan harga fantastis. Semua keluarga mempelai laki-laki menggunakan jas rapi, sementara yang perempuan menggunakan kebaya seragam. Bahkan hampir tak ada ruang lagi untuk memarkir sepeda motor di luar. Karena kebanyakan hanya diisi kendaraan roda empat.


Di dalam, hampir seluruh ruangannya bernuansa biru malam, hitam-putih, dan juga keemasan. Sementara karpet merah terus memanjang dari pintu masuk utama. Dan udara semakin berasa wangi dikarenakan bunga-bunga segar yang tertata rapi di dalam ruangan. Sementara di hadapan semua orang, di sanalah Erik dan Melia duduk di kursi singgasana mereka. Sarah bisa melihat Melia mengenakan gaun putih sutra miliknya. Semua yang ditampilkan sepertinya hanya tentang uang. Kemudian berapa lama mereka menghabiskannya. Namun setelah mengenal Erik dan Melia selama tiga tahun terakhir, dia jadi mengerti banyak tentang kehidupan mereka. Yang menurutnya memiliki pertimbangan yang sangat ringan dalam membelanjakan uang.


“Pernikahan yang luar biasa,” Sarah mulai berkomentar saat keduanya baru saja mengisi buku tamu. Dan dia benar-benar mengagumi dekorasinya. Matanya semakin melebar setiap keduanya meneruskan langkah demi langkah. Bahkan langit-langit ruangan mendapat perlakuan yang sangat meriah. Sementara Ryan kemudian mengangguk.


“Apa kau pernah memimpikan pernikahan seperti ini, Sarah?”


“Jangan bercanda.” Sahutnya, dan matanya menyipit ke arahnya. “Tentu saja itu mustahil.” Ia lalu tertawa di sini.


Mereka mulai berjalan, meneruskan langkah lagi ke arah Erik dan Melia, kemudian mengucap selamat dan mengantar hadiah. Dan Ryan juga bisa melihat keduanya sangat senang dengan kedatangannya. Meski dia juga menangkap isyarat nakal dari senyum keduanya. Di sekelilingnya, musik terus mengalun. Keadaannya juga sangat ramai dengan bermacam percakapan. Omong-omong, Ryan sudah mengenakan pakaian terbaiknya Ketika itu. Sementara Sarah mengenakan kemeja batik bermotif bunga. Dia tahu penampilannya memang masih terlalu sederhana. Tapi setidaknya, ia memoleskan lebih banyak make up lagi ke wajahnya. Yang lebih menonjolkan sesi feminimnya lagi. Namun persis seperti yang ia bayangkan, Sarah benar-benar kelihatan cantik seperti yang sebelumnya ia ingat.


“Aku belum melihat teman-teman yang lain?” Sarah berbisik.


Sementara Ryan menatap ke sekeliling, dan segera tahu jika kebanyakan tamu adalah teman lama Erik dan Melia. Kemudian tentu saja, sahabat dari keluarga mereka masing-masing. Namun dia juga tahu, jika teman-temannya tentu sudah berada di sini. Jadi tinggal masalah waktu saja hingga mereka bertemu.


Dia hanya mengangkat bahu untuk menjawab, sebelum bergumam dan mengubah topik pembicaraannya. “Oh ya, Sarah. Kau tahu kan, jika Melia sedikit lebih tua daripada Erik saat ia menikah?”


“Ya, jadi kenapa?”

__ADS_1


“Tidak, aku hanya merasa ceritanya menarik saja. Apalagi Melia seorang dokter kan, sementara Erik sendiri hanya perawat sepertiku.” Ujarnya, berharap perhatiannya berbalik ke arahnya.


Namun rupanya Sarah tidak menangkap basa-basinya sebelum ini.


“Kau sepertinya suka membanding-bandingkan mereka. Lagipula kalau mereka saling mencintai kan tidak masalah,” sahutnya kemudian.


Dia tidak tahu mengapa, tapi terkadang Sarah kurang memahami situasi di sekelilingnya. Yang membuat isyarat kadang berakhir percuma. Mau tidak mau dia mengatakan yang sebenarnya.


“Bukan begitu maksudku. Aku kan membahas usia keduanya. Kalau Melia lebih tua daripada Erik.” Sahutnya akhirnya. “Dan kalau kau sendiri, jika pasanganmu sedikit lebih muda darimu, apa yang akan kau lakukan, Sarah?”


Namun sekali lagi, Sarah tidak menjawab pertanyaannya di sini. Ia hanya meliriknya sebentar. Sebelum memperlihatkan senyum nakalnya. Dan seperti sebelumnya, dia memang suka menarik-ulur perasaannya di sini.


Namun tadinya, Ryan juga mengira jika mereka hanya akan menghabiskan waktu berdua saja selama waktu tersisa. Sebelum dia melihat teman-temannya datang bersama rombongan yang lain. Bahkan dia tidak pernah diberitahu jika mereka membuat kelompok bersama. Yang entah bagaimana caranya membuatnya seakan bukan bagian dari mereka lagi. Kenyataan itu bahkan membuat perasaannya jahu lebih berkecamuk daripada terus diacuhkan Sarah. Mereka lebih dahulu menghampiri Erik dan Melia sesampainya di sana, sebelum mencari tempat duduk masing-masing. Bahkan Ryan sempat menyembunyikan wajahnya agar mereka tidak melihatnya di sini. Namun Sarah yang tiba-tiba telat mikir seketika saja melambaikan tangan, hingga mereka menyadari keberadaannya. Bahkan tak perlu membayangkannya berkali-kali untuk tahu jika mereka bahwa benar-benar berjalan ke sana.


“Wow, lihat ada kejutan baru di sini?” Ujar Eddie memulai.


Dan seperti yang dia duga sebelumnya, mereka takkan pernah menyia-nyiakan peluang itu tanpa tidak membuatnya terpojok. Mungkin karena situasinya yang seperti tertangkap basah ketika itu. Yang menjadikan mereka semakin berani lagi. Kemudian tanpa menunggu persetujuannya, mereka segera duduk di antara Sarah dan Ryan.


Mereka tiada hentinya membualkan kata demi kata. Dengan topik pembicaraan yang tidak jauh dari Erik dan Melia. Bahkan Sarah bisa terlihat akrab. Sementara ia yang menatap Ryan sesekali, sebelum kemudian tersenyum sendiri. Jelas-jelas mengharap keajaiban atau apa pun di mana Ryan mengatakan sesuatu, namun dia juga tidak melakukannya.


Tapi tetap saja ada berita baik dari seluruh perkembangan ini. Dan berita baiknya adalah teman-temannya yang akhirnya tahu segalanya. Yang menurutnya akan memperlancar proses penjajakan yang ia akan lakukan. Tapi tantangan akan lebih sulit lagi dari yang pernah ia bayangkan. Bahkan setelah dia menunjukkan hubungan mereka secara terang-terangan. Namun ini bukan teman-temannya lagi yang jadi masalah. Melainkan tentang keluarga. Dan ini pertama kalinya sejak Ryan tidak mendengar kabar mereka lagi setelah tiga tahun terpisah. Meski dia juga tidak berharap akan mendengarnya seperti ini.

__ADS_1


__ADS_2