
Setelah lama meninggalkan Bandung, Ryan tidak pernah terpikir unutk kembali. Dan itu bukan hanya karena pekerjaan yang membuatnya tidak ingin melakukan itu, tetapi juga karena merasa tidak ada hal penting lagi yang membuatnya ingin kembali ke rumah. Selain ada beberapa hal yang menyangkut perasaan.
Saat orang-orang menganggap keluarga sebagai ikatan berharga, tempat terjalin emosi yang baik di antara orang-orang di dalamnya, suatu kenangan yang takkan tergantikan dengan mudah, namun bagi Ryan, keluarga hanyalah ikatan hampa dan tak pernah berarti apa pun. Sudah terlalu sering ia mendengar perkataan orang-orang tentang kelembutan seorang ibu, perlindungan seorang ayah, mereka yang akan selalu membesarkan hatimu saat kau terjatuh, sosok yang selalu bisa menjadi teman di dalam menuju kedewasaan, namun dia tidak akan pernah dan tidak akan bisa menemukan hal-hal semacam itu di dalam kehidupannya.
Kadang, dia marah kepada Tuhan. Kepada takdir yang mengatakan jika dia harus hidup seperti ini. Sepertinya akan lebih baik jika dia tidak pernah mengenal mereka sama sekali. Karena dia yang tidak perlu memikirkan keberadaan mereka, bukan? Namun harapan tetaplah harapan. Yang dia tidak bisa mengubahnya lagi.
Namun tepat enam hari, sebelum ulang tahun Sarah akhirnya tiba, dia tiba-tiba mendapat telepon dari Bandung. Pamannya David kali ini menelepon. Dan ia ingin membicarakan sesuatu tentang ayahnya. Dia tidak tahu darimana ia mendapat nomornya. Namun Ryan segera tahu jika apa yang dikatakannya pasti terdengar buruk.
Ayahnya, tengah sakit parah saat ia mengatakannya. Kanker getah bening telah lama menggerogoti tubuhnya. Sebelum menyarankannya untuk kembali ke Bandung dengan segera. Di saat pertama kali mendengarnya, Ryan mungkin tidak tahu apa yang mesti ia lakukan. Bahkan dia tidak bisa menjelaskan bagaimana perasaannya di saat mendengar kabar tersebut. Dia tidak tahu apa dia bersedih, atau merasakan simpati untuknya. Meski kebanyakan, dia hanya merasakan hampa.
Dan itu memang cukup mudah untuk menjelaskannya di sini. Bahwa hubungannya dengan keluarganya yang tidak harmonis, membuatnya tidak punya ikatan emosi apa pun. Pengalaman terus diabaikan, pada akhirnya membuatnya melakukan hal yang persis sama terhadap mereka. Bahkan cukup mudah baginya menganggap berita tersebut terlalu dilebih-lebihkan. Yang membuatnya seketika mengabaikannya. Dengan kata lain, dia hanya ingin merasa tenang menjalani hidupnya di sini. Dan dia tidak ingin hidup dengan keterikatan lagi.
Namun selama tiga hari teleponnya terus berdering. Berulang kali mereka membujuknya, dengan mengatakan jika mereka tetaplah keluarga. Mereka banyak bicara tentang memaafkan, melupakan, sesuatu yang tentu masih sulit ia terima.
Pada akhirnya di hari keempat, tantenya Maya yang sekali lagi menelepon. Namun kali ini nadanya terdengar lembut dan berempati secara bersamaan. Dia juga tidak menemukan nada-nada yang seakan mendiktenya di sana, atau menunjukkan kedudukannya.
“Nak,” ucapnya, membuka percakapan. “Ayahmu memerlukanmu. Semua keluargamu perlu kamu di sini. Coba tengok dia sekali lagi. Mungkin ini bisa jadi kesempatanmu yang terakhir!” Jelasnya lagi.
__ADS_1
Dia mengingatnya dengan baik meski ia tidak merinci keadaannya. Dia bahkan tahu jika mereka tidak coba menyembunyikan kenyataan darinya. Bahwa ayahnya benar-benar sekarat.
Dan di sinilah dia mulai memperdebatkan dilema yang saat itu harus ia hadapi. Sebagian dirinya mengingatkan jika mereka telah bersikap kejam. Jadi apa yang ia lakukan sekarang, menurutnya adalah pantas. Meski dirinya yang lain justru menunjukkan perasaan yang tak tega. Dan lagi selain persoalan di atas, masih ada orang tuanya lagi yang bahkan tidak pernah coba menghubunginya sekali pun. Mereka tidak pernah meneleponnya, atau sekedar mengatakan apa yang saat itu mereka rasakan, dan inilah yang memperburuk masalahnya.
Di malam berikutnya, dia hampir tidak bisa tidur semalaman penuh. Dan dia hanya bisa terus terbaring di dalam kamar, dengan pandangan terus menatap hampa ke arah yang sama. Dia berusaha keras untuk mengendalikan apa yang saat itu ia rasakan, namun apa yang ia lakukan justru membuat pikirannya makin terasa gelap, hingga ia tidak bisa menahan bebannya lagi. Namun anehnya, dia justru teringat semua kenangan bersama ayahnya sesaat ia melakukannya. Yang beberapa bahkan terasa menghancurkan perasaan.
Dia teringat saat ia masih kanak-kanak. Di saat ayahnya yang akan selalu mengantar dan menjemputnya sekolah. Dan dia akan selalu menanyakan uang jajan yang saat itu ia punya. Sebelum memberi tambahkan agar uang saku itu tetap ada. Kemudian, di saat keluarganya tengah berkumpul kembali, dia tahu bahwa ayahnya lah yang akan selalu melewatkan waktu untuknya. Dia bahkan bisa mengingatnya dengan jelas dari foto-foto yang pernah diambil. Yang sedikit berlawanan dengan ibunya karena ia yang lebih memilih saudarinya yang lain. Kemudian di saat sekolah berakhir, hanya dia pula lah yang selalu hadir di acara pengambilan raport. Ryan juga tahu jika dia tidak pernah menunjukkan kekesalan padanya. Karena dia yang memang tak pernah menunjukkan hasil yang buruk meski sekali pun. Namun dari kesemuanya, sepertinya kejadian saat ia membuatkan sejumlah mainan lah yang terasa paling menyenangkan. Ia biasa menerbangkan layang-layang untuknya. Karena dia yang bahkan takkan pernah punya kesempatan untuk memainkannya.
Kemudian di hari terakhir, saat ulang tahun Sarah akhirnya tiba, dia meminta Sarah untuk kembali bertemu. Dia mengajaknya ke suatu tempat bernama Roca Restoran kali ini. Suatu restoran yang juga memiliki keunikan tersendiri karena suasana makan malamnya. Tempatnya di bangun di atas kolam, dan dihubungkan oleh sejumlah selasar. Orang-orang bahkan bisa melihat ikan-ikan hias berenang tepat di bawah mereka. Dan dia juga cukup beruntung malam itu, karena tempatnya tidak dalam keadaan penuh. Di sana lah dia mulai menyampaikannya padanya. Sementara Sarah mendengarkan dengan baik saat dia bercerita.
“Ku rasa kau juga sudah seharusnya pulang Ryan. Lagipula sudah lama kan, kau tidak menjenguk mereka?” Saran Sarah padanya.
Tentu saja dia tidak pernah meminta izin Otto untuk pergi. Bahkan saat dia mengajak Sarah keluar Welmina juga itu berarti dia kabur dari tugas lagi. Dia juga menjelaskan kepadanya, mengenai hadiah ulang tahunnya yang harus datang terlambat. Tapi jawabannya lagi-lagi persis sama seperti yang ia dengar kesekian kalinya.
“Makan malam ini juga sudah sangat luar biasa, Ryan. Ini malam yang istimewa untukku.” Sahutnya. “Dan…, terima kasih karena sudah mengajakku kemari.”
Dia tersenyum. Meski menurutnya dialah yang harusnya berterima kasih.
__ADS_1
Berikutnya, dia merogoh kantong sakunya. Mengambil potongan katalog kecil yang ada di dalamnya. Yang isinya adalah gambaran dari hadiah ulang tahunnya Sarah. Sebelum menunjukkannya lagi tepat ke hadapannya. Dia tahu itu satu hal bodoh lainnya lagi yang kembali ia lakukan. Namun ketakutan akan kehilangan Sarah benar-benar mengacaukan seluruh cara berpikirnya. Bahkan Sarah sedikit tercengang saat ia menunjukkan gambaran hadiah itu padanya. Sepertinya, jam tangan merk Alexander Cristie sama sekali tidak berlebihan.
“Astaga. Kau tidak seharusnya membelikanku itu kan?” Ujarnya, seakan tidak percaya dengan apa yang ia lakukan. Sinar matanya benar-benar mengatakan itu padanya.
“Tidak apa-apa. Tadi sudah ku bilang kan, kalau aku yang mau?”
“Ya, tapi kan harganya pasti mahal.” Ia berusaha mengatakannya sewajar mungkin. “Aku juga tidak akan kecewa, meski kau tidak menghadiahkan apa pun.” Lalu sambungnya lagi.
“Tidak apa, Sarah. Sungguh. Lagipula aku yang sudah memutuskankan. Aku hanya merasa bahagia saja jika kau menyukainya.” Ia berusaha tersenyum.
Namun kali ini Sarah tidak menjawab. Dan hanya tertegun tepat di hadapannya. Meski dia juga tak mengharap balasan secara berlebihan. Selain dia yang bisa sedikit mempertimbangkan perasaannya.
“Kau pasti menganggapku konyol, bukan? Memperlihatkan gambarnya seperti ini. Maksudku, harusnya hadiah seperti itu kan rahasia.” Ucapnya lagi. Bahkan ia juga tidak percaya ia sampai melakukannya.
“Tidak…, aku tidak menganggapnya begitu. Menurutku, kau baik sekali, Ryan.” Lalu sahutnya ramah.
Dan Ryan menangkap ketulusan dari nada bicaranya. Membuatnya tak tahu apa yang harus ia lakukan. Dan dia terus menatap matanya, sementara Sarah juga tidak mengalihkan pandangan darinya. Di wajahnya nampak seutas senyum.
__ADS_1
Begitulah malam yang indah itu berakhir.