Sekeping Kenangan

Sekeping Kenangan
Storia 16 : Sebuah Foto


__ADS_3

Ryan sudah berada di Welmina saat ayahnya meninggal dunia. Dan dia baru tahu kabarnya setelah dua minggu berada di sana. Namun sama seperti teman-temannya yang lain, rasanya memang mustahil meminta izin Otto untuk pergi lagi. Karena dia yang masih marah atas apa yang ia lakukan. Karna itulah dia tidak bisa menghadiri pemakamannya dengan segera. Tapi Sarah sekali lagi, jadi penyelamatnya di sini. Ryan tidak tahu apa yang ia lakukan, atau apa yang dibicarakannya kepada Otto sebelumnya, tapi situasinya benar-benar berubah saat Ryan menjelaskan keadaannya padanya. Bahkan sebelum memintakan bantuan.


Namun penerbangan kembali ke Bandung benar-benar terasa hampa. Hanya kenangan pahit yang ia ingat sepanjang jalan. Dia tiba-tiba teringat semua kejadian yang sempat terjadi di antara mereka sebelum ini. Dan dia tiba-tiba merasa menyesal atas caranya memperlakukan ayahnya di malam terakhir sebelum dia pergi lagi. Dia berharap untuk bisa menemaninya hingga saat-saat terakhir. Memberikan apa yang saat itu ia inginkan. Yang dia takkan bisa melakukannya lagi. Semua perasaan itu tiba-tiba saja membuatkannya semacam alasan bahwa dialah yang justru menyebabkannya meninggal dunia. Sepanjang perjalanan, dia hanya bisa menatap ke luar jendela, dengan pandangan yang terus berkaca-kaca. Tapi sejauh apa pun dia menyesal, dia takkan pernah bisa membuatnya kembali.


Hari sudah gelap saat Ryan sampai di rumah. Dan dia kembali menghadapi ibunya di depan sesaat pintu akhirnya terbuka. Meski dia juga tidak mendapat sambutan apa pun. Bahkan ia tidak lagi terlalu terkejut melihat kedatangannya. Ryan tahu ibunya masih belum bisa menghapus ketegangan yang terjadi di antara mereka. Dan dia juga tidak tahu apa ibunya masih mengharapkan kedatangannya atau tidak. Meski ia juga tidak bisa melakukan apa pun untuk menghentikannya. Kebingungan, pada akhirnya membuat keduanya hanya melewatkan waktu dalam diam. Dia segera melangkahkan kakinya ke dalam kamarnya. Dan memilih untuk menyendiri lagi.


Keesokan harinya, barulah semua perasaannya yang layaknya orang asing di rumah itu terurai. Pamannya Thomas, kali ini ia mulai banyak bertanya tentang pekerjaannya. Sebelum mengarahkan pembicaraannya kepada ayahnya. “Ikhlaskan!” ujarnya membuka pembicaraan. Dan di sanalah ia mengucapkan kenyataan yang sejenak membuat tenggorokannya kembali tercekat.


“Aku kemari karena ayahmu. Dan itu karena ada sesuatu yang dititipkannya padaku. Jadi akan sangat salah jika aku tidak menyampaikannya.” Ia berhenti sebentar, mencari cara untuk mengatakannya lagi. “Aku tahu seperti apa hubungan kalian. Tapi tidak seharusnya bukan, sesama keluarga saling tidak akur? Dia hanya ingin menyampaikan kata maafnya, Ryan. Namun dia tidak bisa mengatakannya sekarang. Karena itulah aku yang menyampaikan pesannya. Dan dia benar-benar menaruh harapan besarnya kepadamu. Bahkan dia sama sekali tidak berdaya hanya untuk menyampaikan permintaan terakhirnya sendiri.”

__ADS_1


Hal itu terdengar mengejutkan, hingga dia tidak mampu berkata-kata lagi.


“Aku tidak bermaksud untuk ikut campur urusan kalian. Aku hanya menyampaikan pesannya. Lagipula tak ada salahnya bukan, jika kau mengabulkan permintaan orang yang sudah meninggal? Coba ingat kebaikan dia selama dia masih hidup. Mungkin kau masih bisa menemukannya.”


Tambahnya lagi, untuk terakhir kalinya.


Untuk sejenak, dia tiba-tiba merasakan tekanan yang cukup besar di dalam perutnya, yang seketika meningkat ke arah dada, dan tak meninggalkan apa-apa lagi di sana selain penyesalan yang semakin dalam. Kemudian dari sana, dia seakan bisa merasakan berada di posisinya sekarang. Saat dia memandang sisa-sisa hidupnya dalam bayang-bayang horor. Sekarat, namun semua orang memilih tidak peduli. Bahkan oleh anaknya sendiri. Terlebih kenyataan yang paling menyakitkannya adalah saat kata-kata terakhirnya yang harus diwakilkan oleh orang lain.


Barulah keesokan hari, saat perasaannya mulai sedikit lebih baik, dia kembali melewatkan waktunya untuk menyelinap ke kamar ayahnya lagi. Duduk dan termenung di tempat tidurnya. Dua minggu lebih sudah ia meninggal dunia, namun dia seakan masih bisa merasakan kehadirannya di sana. Di atas meja, tepat di samping ranjangnya, Ryan tanpa sengaja kemudian menemukan album foto dari keluarga mereka. Kepingan kenangan yang terbentuk seumur hidup keluarga ini.

__ADS_1


Dia lalu membuka covernya yang telah lama usang, dan menemukan banyak foto di dalamnya. Namun entah mengapa, yang pertama kali ia perhatikan justru foto-foto mereka yang diambil saat dia masih kanak-kanak. Yang salah satunya adalah foto keseluruhan keluarga ini secara lengkap. Sepanjang ingatannya, hanya itulah satu-satunya foto terbaik yang pernah diambil untuk keluarga ini. Dia bisa melihat ibunya yang berada di tengah saudarinya yang lain, sementara ayahnya yang lebih mendekatkan dirinya ke arahnya. Kenyataan yang sebetulnya cukup mudah ia ingat. Seakan dia yang ingin menunjukkan kebanggaannya di sana. Dia lalu mengamatinya secara lekat, kemudian mengingat-ingat kembali perasaannya di waktu-waktu itu. Bahkan, dia seakan bisa merasakan waktu yang seakan kembali membawa dirinya ke sana. Saat dia bisa merasakan hangat tangan ayahnya yang ia rangkulkan ke arahnya. Dan inilah satu-satunya kenangan terbaik yang pernah tercipta di antara kami.


Dia melepaskan foto tersebut dari albumnya, bersama foto lain yang ikut melibatkan dirinya di sana, lalu menaruh sisanya lagi ke dalam lemari. Sebelum perhatiannya kemudian teralihkan pada pakaian ayahnya yang juga tersimpan rapi di dalam. Yang salah satunya adalah pakaian yang ia kenakan di malam terakhir sebelum ia benar-benar pergi. Bahkan ia masih bisa membayangkan tangannya yang bergetar saat berpura-pura memainkan remot televisi di tangannya. Yang sebetulnya terasa begitu mengecilkan hati, karena inilah satu-satunya pemandangan terakhir saat dia melihatnya masih hidup. Ingatan yang kembali tersebut tiba-tiba saja membuatnya tak bisa menahan air matanya lagi. Yang untuk sejumlah alasan, air mata tersebut seakan takkan pernah berhenti. Dan sepanjang ingatannya, inilah penyesalan terbesar yang akhirnya ia rasakan seumur hidup.


Dia lalu membawa semua hal yang ia perlukan tersebut sebelum berangkat lagi ke welmina. Masa depan membuatnya harus melakukan hal-hal yang menyakitkan. Di dalam pesawat, tiada lagi pula yang bisa ia lakukan kemudian selain menatap foto yang ia simpan di dalam sakunya tersebut. Dan dia terus menatapnya di sana, merasakan saat keluarga ini masih sebuah keluarga. Karena hanya inilah satu-satunya hal yang ia perlukan untuk mengenang semuanya. Sebab setelah semua yang terjadi, dia tahu dia takkan pernah kembali lagi.


Pada akhirnya empat minggu sudah berlalu sejak ayahnya meninggal dunia, arus kehidupan membuatnya kembali menginjakkan kakinya lagi di Welmina. Meski kali ini dia sudah punya tujuan hidup yang ingin segera dipenuhi. Dan dia merasa bisa memulainya lagi terhadap Sarah. Mengenai hadiah ulang tahunnya yang berkali-kali datang terlambat. Dan untuk kebetulan pula jika hadiah yang ia maksudkan itu akhirnya datang.


Dan dia tidak pernah mengatakannya tentu saja. Yang ia maksudkan sebagai kejutan. Mungkin lewat sekali atau dua kali makan malam. Dia bahkan sudah merasa begitu antusias untuk menantikan kesempatan tersebut. Dia tidak tahu mengapa, tapi menantikan kehidupan ini benar-benar semacam obsesi baginya. Dia sangat ingin menjalani hidup bersamanya, menginginkan sebagian besar waktunya, perhatiannya, yang dia menginginkannya lebih dari apa pun.

__ADS_1


Mungkin terdengar pamrih saat Ryan mengharap balasan di saat dia mencintainya, tapi bagaimana tidak? Bukankah seperti itu yang harusnya terjadi jika seseorang tengah mencintai? Waktu yang mereka habiskan berdua, bagaimana pun juga akan selalu menjadi bukti pengikat yang sangat kuat di antara mereka. Yang membuatnya yakin dengan pilihannya. “Tapi Tuhan, mengapa ia bisa melakukan ini.” Suatu waktu, bisiknya dalam hati. Bahkan dia tidak pernah menyangka jika Sarah akan membalasnya seperti ini.


Tepat melukai hati dan perasaannya.


__ADS_2