Sekeping Kenangan

Sekeping Kenangan
Storia 17 : Hati Untuk Yang Lain


__ADS_3

Ada pengobanan untuk setiap cinta. Dan ada harga untuk setiap pengorbanan. Ryan merasa apa yang telah ia perjuangkan terhadap Sarah selama ini adalah layak. Bahkan dia tidak pernah keberatan jika harus melakukan lebih. Dia tahu jika ada banyak perubahan yang sebetulnya terjadi. Dan dia juga tidak punya firasat apa pun mengenai hal itu. Namun kejadian di awal Desember lah yang mengubah segalanya. Meski saat itu masih saat-saat terburuk demi perasaannya. Sebab setelah semua yang terjadi, dia akan kehilangan satu hal lagi yang sama berharga dengan semuanya. Pengharapan, impian di masa depan, semua angan-angan tersebut akan segera musnah dari dalam hidupnya.


Tepat di hari kamis, di hari pertama saat Ryan masuk kerja kembali, dia tiba-tiba merasakan hal yang aneh sesampainya di kantor. Dan ini tidak biasanya saat Sarah tidak masuk kerja begini, terlebih keanehan itu juga diikuti ayahnya. Dia mulai meneleponnya sekali, dua hingga tiga kali selama beberapa jam berikut, namun ia mendapat apa pun di sana, selain teleponnya yang terus-terusan tak terjawab. Dia tidak tahu kesibukan apa yang menyebabkannya begini. Tapi tetap saja semua itu harus memaksanya untuk lebih menahan diri lagi.


Sebetulnya, suasananya berjalan sedikit menyenangkan. Karena Otto yang sedang tidak ada di ruangannya lagi. Yang menjadikan pekerjaan sedikit lebih enteng untuk dijalani. Tidak ada ketegangan, tidak ada pekerjaan yang membutuhkan lebih banyak tenaga, bahkan mereka bisa menghabiskan waktu dengan duduk santai berjam-jam lamanya. Semua orang benar-benar mulai menunjukkan kebiasaan lamanya saat akar masalah itu pergi. Dan Ryan bisa mendengar percakapan Susi dan Melia yang bercerita banyak tentang rumah tangga mereka. Mengeluhkan suami mereka yang tidak sama seperti yang sebelumnya mereka bayangkan. Yuni dan Nina yang membahas tetangga sebelah rumah mereka. Atau Tami yang hanya sekedar mendengarkan. Dia tahu itu sama sekali bukan urusannya. Tapi rasanya memang cukup sulit untuk membatasi pendengarannya, karena jaraknya dengan mereka yang sama sekali tidak jauh. Gosip adalah obsesi yang berbeda jika yang dibicarakan adalah isi pikiran wanita. Ini yang selama ini ia pahami. Setidaknya hingga nama Sarah mulai masuk ke dalam percakapan.


Tami mulai menatap ke arahnya, sebelum mengarahkan percakapan seperti itu. “Dan kamu sendiri Ryan, kapan ada rencana menikah?” Serunya. “Sepertinya tinggal kamu seorang yang sekarang masih belum berkeluarga?”


Dia segera membayangkannya sesaat, sebelum menemukan fakta bahwa keseluruhannya tidak benar. Ia merasa masih ada Frans di sana, Eddie, dan tentu saja Sarah. Yang membuatnya menanggapinya dengan cara yang santai.

__ADS_1


“Jika waktunya datang, tentu saja.” Sahutnya. Dan ia bisa melihat Tami yang sedikit tersenyum.


“Sarah sebentar lagi menyusul loh?” Ujarnya lagi, tanpa mengubah topik pembicaraan. Sebelum Ryan menatapnya heran. Wajahnya benar-benar menunjukkan keterkejutannya.


“Kau belum tahu…? Tomy Harris calon suaminya. Mereka akan menikah Pebruari ini. Undangannya bahkan ada di papan pengumuman jika kau ingin melihat.” Sekali lagi ia mengatakannya. Bahkan masih perlu waktu sekian detik agar ia benar-benar memahami apa yang terjadi.


Harris katanya…? Salah satu keluarga ternama dan berpengaruh di Welmina. Tanyanya dalam hati. Mereka punya banyak uang, berikut bisnis yang menjadi pengendali hidup orang-orang di sana. Keluarga Harris, orang kuat yang juga berpengaruh dalam perkembangan di desa. Mereka bahkan ikut melicinkan proyek telekomunikasi dan kelistrikan di Welimina. Hingga namanya masuk berita dari surat kabar setempat.


Sebagian dirinya berusaha menampiknya, tidak ingin mempercayainya, dengan menganggapnya sebagai Sarah yang lain. Lagipula, nama seperti Sarah adalah nama yang cukup logis ditemukan di dunia di belahan bumi mana pun. Tapi saat dia melihat nama Sarah Elisa Murti terukir di sana, terlebih gambar yang sama menunjukkan foto dirinya, dia tahu hanya ada satu orang di dunia ini yang memiliki itu. Dua kenyataan tersebut tiba-tiba saja membuat dunianya hancur berkeping-keping.

__ADS_1


Untuk sesaat, segalanya tiba-tiba berjalan lambat, dan dunianya seketika saja berubah kosong. Dia bahkan tidak pernah tahu jika ia menyukai orang lain. Dia tidak ingin menerimanya. Tak bisa membayangkan akan kehilangannya. Namun seburuk apa pun kenyataan tersebut, dia tahu dia tidak bisa menghindarinya lagi.


Lebih dari sekali dia mengulang-ulang kebersamaan mereka selama satu tahun terakhir. Dan dia tidak melihat tanda sedikit pun Sarah yang akan pergi darinya. Yang bahkan ia terlihat menikmati semuanya. Yang menurutnya juga menunjukkan harapan yang sama seperti yang selama ini ia inginkan. Tapi saat semua harus berjalan dengan cara yang lain, dia mulai merasakan kisah yang berubah begitu ironis sekarang. Hal-hal yang dengan mudah memancing kemarahan.


Ribuan bisikan mulai bergema di sekeliling telinganya. Mengapa dia bisa melakukan semua itu? Apa dia telah merencanakannya? Setelah semua yang telah ia lakukan, semua waktu yang mereka luangkan bersama. Dia sangat yakin jika Sarah sangat mengerti perasaannya, tapi bagaimana mungkin itu yang terjadi? Tapi yang paling membuatnya marah adalah tentu saja mengapa ia yang tetap menjaga kedekatannya untuknya. Tidak pernah mengatakannya sejak awal.


Di waktu yang bersamaan, dia ingin meneleponnya. Ingin bicara langsung padanya. Menuntut agar ia menerangkan semuanya. Tapi kesempatan itu bahkan tidak pernah datang dalam waktu yang dekat. Selain Sarah yang juga tidak pernah menjawab semua teleponnya. Atau bahkan sekedar menjelaskannya melalui pesan. Tidak hingga keesokan hari, tidak hingga beberapa hari berlalu.


Dia mulai membencinya. Sangat membencinya. Dan dia merasa bahwa Sarah tengah mentertawakannya di sana. Karena ia yang sudah mempermainkannya sejauh ini. Apa pun itu, yang ia lakukan untuk membuat perasaannya lebih baik. Dan tidak sulit baginya untuk memikirkan hal-hal terburuk di saat menemui orang yang telah merebutnya tersebut, mengajaknya berkelahi. Karena hanya itulah satu-satunya yang ia perlukan demi memuaskan harga dirinya. Namun dia juga tidak melakukannya. Atau menemuinya, atau bahkan meneleponnya. Dan memilih untuk memendamnya demi dirinya sendiri.

__ADS_1


Sebab dia telah sepenuhnya sadar sekarang. Bahwa dia hanya memperjuangkan seorang wanita, yang sebenarnya sama sekali tidak layak.


__ADS_2