Sekeping Kenangan

Sekeping Kenangan
Storia 6 : Malam Untuk Berdua


__ADS_3

Dua minggu setelah kejadian hari itu, sepertinya dari sanalah semua berawal, saat Ryan mulai tidak bisa melewatkan waktunya tanpa pernah memikirkan Sarah.


Dia merasa cukup aneh memang, saat semua berjalan seperti ini. Terlebih saat dia memikirkan kejadian selama beberapa bulan terakhir. Bahkan mengingatnya saja sudah hampir membuatnya gila. Dia tahu sebagian darinya masih berusaha menepikan perasaannya. Dia percaya, bahwa apa yang ia rasakan hanya karena dirinya saja yang sedang merasa terkesan. Namun yang terjadi kemudian justru dirinya yang seakan kehilangan kendali. Bahkan dia tidak bisa mengendalikan apa yang terlintas di dalam pikirannya sendiri.


Dia tahu bahwa ketertarikannya sekarang bukan hanya sekedar ingin melewatkan waktuku bersamanya saja. Tapi lebih ke arah ingin memilikinya. Segala tentang dirinya tiba-tiba saja membuatnya tertarik. Dia tidak tahu sejak kapan perasaan itu mulai ia rasakan. Tapi tetap, ia masih menganggap itu sebagai hal terkonyol yang pernah terjadi di dalam hidupnya. Dia mulai membayangkan bahwa dia akan lebih banyak berurusan dengan ayahnya kelak. Kenyataan lain yang sebetulnya sangat ia hindari. Ditambah lagi jika berbicara tentang teman-temannya lagi. Dia hanya merasa bahwa dia masih belum sepenuhnya siap jika harus berhadapan dengan semuanya. Terlebih dia juga bukan seseorang yang begitu ahli untuk urusan percintaan.


Benar, dia memang pernah jatuh cinta sebelumnya. Terakhir kali kejadiannya bahkan tidak lebih dari dua tahun yang lalu. Saat dia menjalin hubungan dengan seseorang bernama Maria. Dia salah satu mahasiswi di kota Bandung dan berumur dua tahun lebih muda darinya. Mereka bahkan sempat menyatakan keseriusan masing-masing, sebelum Maria yang tiba-tiba pergi dari hidupnya. “Kau tahu, aku selalu menyiapkan waktu untukmu. Aku selalu berusaha untuk berada di dalam kontak. Tapi kau selalu punya alasan untuk menghindar. Aku bahkan tidak tahu apa kau mengharapkan hal yang sama dariku. Namun aku tidak bisa melihat keseriusanmu lagi sekarang.” Itu yang ia katakan di teleponnya yang terakhir. Sebagian diri Ryan juga tahu jika ucapannya ada benarnya. Sebelum ia mengakhiri hubungan mereka setelah tiga tahun dijalani.


Jarak, bagaimana pun juga adalah hal tersulit bagi mereka. Meski Ryan pada akhirnya hanya bisa melihat itu sebagai alasan. Karena tidak lama kemudian, dua hanya mendengar kabarnya yang tiba-tiba menikahi pria lain. Untuk Sarah, mungkin ceritanya akan berbeda. Tapi cinta, bagaimana pun juga adalah hubungan dua arah bukan? Dan dia tidak bisa menempatkan hatinya pada seseorang sementara dan tidak berharap orang tersebut tidak merasakan hal yang sama. Sesuatu yang harus dia cari tahu secara rinci.


Benar saja jika Sarah selama ini selalu memberi sinyal-sinyal yang menyenangkan. Bahkan ia sudah pernah menunjukkannya berkali-kali. Seperti masakan yang sering dibawakannya ke rumah, dia yang lebih suka menghabiskan waktu bersamanya, kenyataan-kenyataan kecil yang jika dikumpulkan akan lebih banyak memberikan arti. Dan jika pun masih ada penghalang lain, sepertinya hanya tinggal prinsip dasar mereka saja yang sepenuhnya berbeda. Dia tahu hal itu akan tetap jadi pertentangan panjang di antara mereka. Sesuatu yang takkan pernah selesai jika tidak mengorbankan perasaan satu atau yang lain. Sesuatu yang tentu dia harus mencari cara untuk membicarakannya kelak di belakang. Jadi tinggal caranya saja bagaimana menghadapinya. Dan inilah bagian yang terpenting.


Untuk itulah dia kemudian berencana menemui Sarah tepat di rumahnya. Dan dia juga tidak berencana meneleponnya terlebih dahulu sebelum datang ke sana. Yang dia lakukan untuk mengikuti kebiasaan Sarah setiap datang ke rumah.


Dia kemudian merencanakan kencannya pada malam hari. Dan bukan hanya karena malam hari adalah waktu tersantai tentu saja, tapi juga karena malam memang saat yang menarik untuk dilalui berdua. Terlebih setelah mempertimbangkan fakta bahwa Welmina memang tempat yang paling aman di muka bumi. Angka kriminalitas di sana memang sangat rendah. Bahkan kejahatan terkejamnya pun sepertinya hanya pencurian ayam. Yang bahkan para korbannya juga memang pantas mendapatkan itu. Itu karena ayam-ayam di sini memang suka di lepas sembarangan. Mereka biasa naik ke dahan-dahan tertinggi setiap malam hari. Yang menjadikan setiap orang harus ekstra hati-hati setiap saat mereka melintas. Sebab meski tertidur lelap sekali pun, ayam-ayam tolol itu tentu saja tidak peduli lagi pada siapa yang lewat di bawah kaki mereka. Dan jika pun ada kejahatan lain, sepertinya hanya kasus kehilangan sandal yang biasa terjadi di sana. Yang sering terjadi di tempat-tempat ibadah. Tapi sama seperti kasus yang pertama, kejahatan semacam itu juga tidak ada yang pernah melaporannya di Welkmina. Yang tentu akan jadi catatan terkonyol sepanjang sejarah kepolisian jika itu sampai terjadi.


Sebetulnya, dia juga tidak terlalu yakin apa akan mengajak Sarah jalan-jalan atau tidak, tapi jika harus bicara di rumahnya saja juga, hal itu sudah jadi permulaan yang bagus. Meski dia harus punya rencana lain saat berhadapan dengan ayahnya kelak. Mengingat semua kesalahannya di masa lalu. Tapi jarak rumahnya dengan rumah Sarah memang cukup jauh. Bahkan dia harus bermandi keringat sebelum sampai ke sana. Terlebih dia yang harus melakukannya dengan berjalan kaki.


Dia segera mengetuk pintu sesampainya di sana, menunggu sebentar, kemudian mengetuk lagi. Bahkan dia sudah merasa was-was karena akan segera menghadapi Otto tepat di depan rumahnya. Dalam hati dia mulai mengingat-ingat kembali berapa lama dia berada di Dulin. Seraya membayangkan alasan apa yang membuatnya datang kemari. Tapi beruntungnya, beruntungnya memang bukan Otto yang membukakan pintu terlebih dahulu, melainkan Sarah.


“Ryan,” sahutnya sesaat pintu terbuka. “Ku pikir tadi siapa.” Sambutannya sama antusiasnya seperti setiap saat ia mampir ke rumah. Ryan tahu Sarah juga sedikit terkejut melihat kedatangannya. Meski ia juga terlihat senang dengan kehadirannya. Ia lalu menatap ke belakangnya sebentar, kemudian bicara lagi. “Ada apa malam-malam begini?”


“Oh…, tidak ada…, aku hanya ingin bicara saja!”


Sarah terdiam sebentar, nampak sekali memikirkan keadaannya barusan. “Kamu jalan kaki ke sini? Rumahmu kan jauh?” Lalu ujarnya.


Sesaat, pertanyaan itu tidak segera mengembalikan Ryan pada dirinya sekarang. Dan dia lebih focus pada pakaian yang dikenakan Sarah. Yang membuatnya tidak menjawab persis seperti yang ditanyakannya.


Lalu ia bergumam. “Kamu mau keluar rumah sekarang?” Tanyanya.


Ia mengenakan blus biru dan celana panjangnya. Jenis pakaian yang sepertinya tidak terlalu akrab dikenakan di dalam rumah. Mungkin ia ingin pergi ke sesuatu tempat atau semacamnya di sini. Sebelum kedatangan Ryan menghentikannya sejenak.


“Tidak juga…,” sahutnya. Memperhatikan ke arah dirinya sebentar.


“Oh…, jadi apa aku mengganggumu?”


“Tidak…,” sahutnya, dan Sarah tertawa. “Aku hanya ingin menghirup udara segar, ku rasa itu saja. Tapi keburu kau datang…”


Sesaat, dia mungkin sempat mempertanyakan ucapan Sarah. Di Welmina, sepertinya memang tidak ada tempat untuk sekedar nongkrong-nongkrong atau semacamnya di sana. Yang sedikit membuatnya bingung. Namun dia memilih mengabaikannya kemudian. Hingga ia mulai bicara lagi.


“Jadi…, kau mau kita duduk di luar atau bicara di dalam?” Sambungnya. Dan inilah yang sebenarnya sangat Ryan nantikan.


Dia melirik ke arah dalam sejenak. Dan segera tahu jika ada anak-anak di sana. Mungkin mereka bisa bicara di luar rumah untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan terjadi. Terlebih pilihan itu juga sebetulnya tidak terlalu buruk.


Lalu Ryan bergumam. “Kalau kau memperbolehkanku masuk, ku rasa tidak masalah.” Sahutnya.


Pada akhirnya mereka duduk di dalam rumah, dan memilih ruang tamu untuk bicara, sebelum Sarah pergi meninggalkannya sebentar. Sejenak, Ryan mengira jika ia ingin memberitahu ayahnya atau apa di dalam, sebelum memanggilnya kemari. Dia bahkan bisa merasakan rasa gugupnya semakin menjadi-jadi sekarang. Seraya memikirkan bagaimana caranya menghindar. Dia ingat jika dia sudah berada di Dulin cukup lama, dan Otto sudah lama tidak melihatnya dalam beberapa minggu berakhir. Dia pasti berpikir bahwa dia telah menjalankan tugasnya dengan benar kali ini. Pikirnya dalam hati. Tapi nyatanya bukan itu yang dilakukan Sarah kemudian. Dia justru membawa dua gelas minuman saat datang kembali. Sebelum duduk di kursinya lagi. Kali ini dengan posisi yang sedikit berjauhan.


Lalu Ryan bergumam. “Ayahmu tidak ada di rumah?”


“Kau tidak tahu?” Balas Sarah bingung. “Ayahku sedang pergi ke luar kota.”


“Ke luar kota?”


“Ya…, tadi pagi.”


“Oh…,” sahutnya. Nadanya menunjukkan seakan itu kejutan yang menyenangkan untuknya. Bahkan, dia tidak sadar jika Sarah baru saja menangkap ekspresinya barusan.


“Kau sepertinya senang saat ayahku tidak ada di rumah?” Lalu sahutnya. Yang seketika menjelaskan apa yang saat itu ia rasakan. Namun Ryan tidak menjawab. Dan mereka lalu duduk di tengah keheningan selama beberapa saat.


Dia lalu meratapi foto-foto di dinding. Coba mencairkan suasananya. Bahkan beberapa saat yang lalu, dia sudah sangat mantap saat memaksudkannya sebagai kencan. Tapi sekarang dia tiba-tiba sudah di sini, dan dia tidak tahu cara mengatasi kecanggungannya sendiri. Dalam hati dia mulai membayangkan akan sampai kapan situasi ini berlanjut. Jelas sama sekali bukan sesuatu yang dia harapkan. Tapi beruntungnya, justru Sarah yang kembali bicara padanya. Di mana dia langsung mengarahkannya ke topik pembicaraannya.


“Ryan, tadi kau bilang ada yang ingin kau bicarakan kan?” Tanyanya kemudian.


“Ehm…, sebetulnya tidak.”


“Jadi kenapa kau kemari?”


“Sebetulnya..., aku hanya ingin bertemu denganmu, itu saja.” Sahutnya jujur. Sementara Sarah mulai tertawa.


“Lalu kenapa tadi tidak meneleponku?” Tanya Sarah lagi.


“Oh... itu..., ku kira... aku sedikit kelupaan.”


“Kau jadi aneh sekarang,” celetuknya, dan ia kembali tertawa.


Kali ini Ryan tidak menjawab. Dan dia hanya menggumamkan jika Sarah lah yang membuatnya demikian. Tapi tak lama kemudian seorang anak tiba-tiba datang menghampiri mereka, sebelum duduk tepat di sampingnya Sarah. Dan dia langsung tahu namanya Vira saat Sarah kemudian memanggilnya. Perhatian keduanya perlahan beralih pada anak kecil itu lagi. Namun Ryan cukup lega dengan keberadaannya di sana. Meski dari sorot matanya dia tahu jika Vira juga tidak menyukainya. Dia bahkan jadi sedikit terkejut karena sikap Otto bisa diwariskan begini.


“Dia keponakanmu?” Ujarnya mengisi waktu.


Sarah mengangguk, tanpa menyadari ada yang aneh dari pertanyaannya. “Ya, semua anak kecil di sana keponakanku.”

__ADS_1


“Oh..., sepertinya sekarang hanya kau sendiri yang belum berkeluarga.” Godanya sekarang.


Kali ini Sarah yang tidak menyahut, namun dia suka saat Ryan memperlakukannya begini, dan dia hanya tersenyum pada dirinya sendiri. Karena itulah Ryan yang kemudian bicara lagi. “Lalu apa yang ingin kau lakukan setelah ini Sarah? Maksudku… rencana masa depanmu?”


“Maksudmu?”


“Maksudku, kau pasti punya keinginan ke depan bukan? Apa saja yang ingin kau raih? Harapan atau semacamnya?” Baru kali ini dia terpikir menanyakan kehidupannya secara langsung. Dan sepertinya itu bisa sedikit mengurai kecemasan yang ia rasakan sekarang.


Lalu Sarah bergumam. “Entahlah. Membangun rumah mungkin. Membeli sesuatu.” Sahutnya.


Dia berkedip. Membayangkan bagaimana cara otak Sarah bekerja. Dia bahkan tidak tahu jika ucapannya kurang mengena. “Kau tidak berencana menikah? Maksudku, aku pernah mendengar keinginanmu untuk itu.” Katanya akhirnya, dan ia kembali tertawa.


“Semua orang di usiaku pasti ingin menikah Ryan. Yang jadi pertanyaan kan adalah seberapa siap.”


“Oh…, jadi pilihanmu sekarang sudah ada ya?” Tanyanya lagi.


Kali ini dia tidak melihat Sarah terlalu terkejut dengan pertanyaannya. Yang menurutnya Sarah juga tahu kalau pertanyaan tersebut ditujukan untuk dirinya sendiri. Dia bahkan tidak memberinya pilihan untuk tidak berkata tidak serius kali ini. Namun bukannya langsung menjawab, Sarah justru memalingkan wajahnya sebentar. Membuatnya berpikir jika dia baru saja mendapat penolakannya.


Tapi sekali lagi, dia kembali memberi kejutan ringan di sana. Dengan sinyal-sinyal menyenangkan lewat senyum kecilnya.


“Ya, jadi kau harus mengucap selamat untukku. Karena aku masih belum punya.” Sahutnya dan ia tertawa.


Tentu saja dia juga menyukai kabar barusan. Yang membuatnya ikut tersenyum pula. Sebagian dari dirinya juga ingin membawanya lebih jauh ke dalam perasaannya. Untuk mencari tahu apa kesempatan itu benar-benar ada atau tidak. Sekaligus menjajaki situasi yang saat itu ia hadapi. Tapi sesuatu dalam dirinya kembali mengingatkan bahwa dia tidak seharusnya melakukannya terburu-buru. Karena itulah Ryan memalingkan wajahnya ke arah dinding rumahnya kemudian. Tidak tahu apa yang mesti ia katakan. Tapi sejenak, dia justru jadi sedikit tertawa saat tahu kecantikan Sarah ternyata ia dapat dari ibunya. Kenyataan kecil yang tiba-tiba membuatnya sedikit senang.


“Kenapa kau tertawa?” Sarah tiba-tiba bertanya. Pertanyaan itu seketika saja mengembalikan kesadarannya.


“Tidak, aku baru tahu saja kalau kau cantik seperti ibumu!” Sahutnya, seraya menunjuk ke arah fotonya di dinding. Sejenak, dia segera sadar bahwa baru saat itulah dia secara terang-terangan memujinya.


Dia menunggunya mengatakan sesuatu hal, seraya melihat pengaruh dari kata-katanya yang terakhir, tapi ia hanya diam dan tidak mengatakan apa pun. Selain hanya menyembunyikan rasa senangnya di balik senyumnya lagi. Sejujurnya, dia juga tidak ingin menghilangkan kebahagiaan itu dari sana ketika itu. Namun sepertinya itulah yang kemudian tanpa sadar ia lakukan.


“Oh ya Sarah… apa ibumu ikut ke luar kota juga bersama ayahmu?” Lalu ia bertanya.


Dan dia bisa melihat Sarah berpikir sekali untuk menjawab pertanyaannya. Dia bahkan tidak bisa menebak apa yang sedang ia pikirkan. “Jadi kau belum tahu?” Malah sahutnya, balik bertanya. “Sebetulnya…, ayah dan ibuku sudah lama berpisah.”


“Oh…, maaf.” Kembali balasnya halus.


“Tidak apa-apa, Ryan. Kau tidak perlu minta maaf.”


“Maafkan aku karena bertanya.”


Bahkan setelah bekerja bertahun-tahun pun, dia tidak pernah tahu seperti apa kehidupan Otto selama ini. Bukan hanya karena konflik terjadi di antara mereka saja, tapi juga karena siapa pun memang malas melakukan itu. Kemudian tiba-tiba saja dia menyadari jika dia tidak pernah melihat Otto bersama orang lain yang mungkin saja istrinya. Bahkan di saat dia sering lewat di depan rumah mereka. Dia tidak pernah mampir ke rumahnya, atau berencana datang ke sana, yang membuat kehidupan mereka benar-benar terasa asing di telinga Ryan.


Cara Sarah mengatakan itu bukan dengan maksud memperlihatkan masalahnya atau berbagi perasaan, tapi lebih sekedar menjelaskan apa yang saat itu dia tanyakan. Yang entah bagaimana caranya justru hal itulah membuatku semakin tidak enak lagi.


Dia lalu mulai membayangkan kehidupan Sarah selama waktu-waktu itu. Saat ia dibesarkan ayahnya sendirian. Sepertinya, kehidupan kami memang tidak jauh berbeda. Pikirnya dalam hati. Meski tetap saja ada perbedaan mendasar yang terjadi di antara keduanya. Kemudian tiba-tiba saja cerita Sarah melunturkan semua gejolak yang saat itu dia rasakan. Bahkan, dia tiba-tiba menyesal karena tidak pernah memperlakukannya baik selama ini. Termasuk saat dia sering mengatainya di belakang. Dan dia melihat Sarah menggendong Vira ke atas pangkuannya lagi sekarang. Jelas sekali untuk menjernihkan pikirannya. Sebelum pandangannya berpindah ke arah dinding lagi. Memperhatikan jam dinding yang terpajang di sana. Bahkan dia sudah merasa sangat tidak enak saat ia terus melakukan itu di hadapannya. Hingga ucapannya kembali membuatnya terkejut.


“Kau sudah makan malam Ryan?” Tanyanya, di saat ia kembali menoleh ke arahnya.


Untuk sesaat, dia hampir saja tidak menangkap maksudnya. Bahkan nyaris saja berbuat kesalahan.


“Um… sebetulnya belum.” Sahutnya, polos.


Mendengar jawabannya, Sarah sejenak mengangguk. Sebelum tersenyum dan mengajaknya ke ruang makan.


Dalam hatinya, dia mulai berpikir bahwa dia bisa lebih leluasa sekarang.


Suasana sejenak terasa ramai, saat kami berjalan melewati ruang tengahnya, sebelum meneruskan langkah menuju dapur lagi. Dari dalam, kami juga sempat melewati anak-anak di ruang televisi. Aku bisa melihat isi rumahnya secara keseluruhan dari dalam. Dan kesemuanya benar-benar kelihatan rapi. Di dinding, di salah satu lorong yang mengarah ke dapur, aku kembali menemukan foto keluarga mereka. Yang salah satunya adalah foto Otto saat masih muda. Dia yang masih bersama keluarga lengkap. Dengan Sarah kecil yang berada di antara mereka. Bahkan dia seakan bisa merasakan suasananya saat foto keluarga kecil itu di ambil. Di hari di mana suasananya masih penuh dengan tawa.


Sebagian dari dirinya juga masih merasa bersalah atas pertanyaannya barusan. Ketidaktahuan, hampir saja membuat hari itu berakhir dengan kesalahan. Dan dia tidak ingin menyakiti Sarah berkali-kali. Yang membuatnya harus lebih berhati-hati.


Lebih jauh ke dalam, dapurnya tidak kelihatan besar. Tapi masih sama nyamannya seperti ruangan yang lain. Semua perabotannya terbuat dari kayu pilihan. Yang beberapa di antaranya diukir dari kayu mahoni atau ulin. Hampir tidak ada sisi modernnya sedikit pun dari tempat itu. Satu-satunya yang baru sepertinya hanya keberadaan kulkas di tempat itu saja. Yang keberadaannya mungkin hampir sama seperti keberadaan listrik di Welmina. Tapi semua kelihatan selaras. Dia lalu duduk di salah satu meja, sementara Sarah menyiapkan hidangan.


“Kau pernah mencicipi daging rusa?” Tanyanya, sesaat ia membukakan tupperware kecil untuknya, sementara Ryan menggeleng. Dia lalu meletakkannya di atas meja. “Rasanya enak. Kau harus mencobanya!” Sambungnya lagi.


Bahkan aromanya nyaris membuat air liur meleleh.


Ini bukan pertama kali dia mendengarnya, namun tetap saja itu momen yang tak biasa. Bukan hanya karena jumlahnya yang sedikit, tapi juga karena memerlukan jarak dalam mencarinya. Penduduk biasa membelinya dari para pemburu. Itupun dengan harga yang selangit.


Dia lalu mengambil suapan pertamanya, dan mulai berkomentar. “Kau benar. Ini enak sekali.” Ujarnya. “Rasanya seperti daging kambing.”


“Daging sapi pastinya.” Ia memprotes. “Tapi dengan tekstur yang sedikit lembut.”


Ryan mengamati wajahnya sekilas, “Ya… sepertinya, dan kau seperti koki ya sekarang.” Sahutnya.


“Ya…, memang begitu kan? Kau pikir siapa yang memasak di keluarga ini? Lagipula itu kan mudah.” Balasnya dan ia tertawa. Dan Ryan tidak memberikan balasan apa pun melainkan tertawa pula.


Berikutnya, dia mengambil beberapa suapan lagi, seraya mengamati Sarah yang hanya duduk tepat di hadapannya. Namun yang mengejutkannya adalah dia yang sama sekali tidak menyentuh makanannya.


“Kau tidak ikut makan?”


“Aku tidak lapar.” Sahutnya. “Maksudku, sebetulnya aku sudah makan.”

__ADS_1


“Oh…, jadi…, kau hanya akan menemaniku?”


Ia lalu mengangguk. Sementara Ryan bergumam.


“Aku tidak terbiasa saat orang memperhatikanku makan. Jadi kenapa tidak mencicipinya sedikit?”


“Aku tidak lapar. Sungguh.”


“Ayolah… Kau harus menemaniku sekarang! Lagipula kau juga tidak akan gemuk jika hanya mengambil sesuap atau dua suapan. Maksudku …, kau akan tetap cantik dengan tubuhmu yang seperti itu.”


Dia membiarkan komentarnya sejenak merasuk ke arahnya, dan membiarkannya tertawa. Kenyataan baru lagi saat dia kembali memujinya.


“Jika itu kau maksudkan sebagai pujian, baiklah…” Lalu sahutnya.


Ia meletakkan piringnya di atas meja, lalu duduk lagi tepat di samping meja, sebelum menaruh hidangannya di sana. Kali ini lebih sedikit dari porsi Ryan. Dan ia mulai menyuapkannya ke mulutnya sendiri sekarang.


“Kenapa?” Ia bertanya saat Ryan masih menatapnya. “Kau memintaku menemanimu kan?” Dan saat dia mengangguk, keduanya melanjutkan makan malam lagi di tengah keheningan.


Rasanya sangat menyenangkan bisa makan berdua, di dalam rumahnya, dan hanya mereka sendiri. Bahkan hidangannya terasa sangat lezat. Irisan daging kecil, dengan campuran bumbu yang kuat, dia bahkan tidak tahu jika Sarah bisa memasak sebaik ini. Mereka tidak banyak bicara lagi selama waktu-waktu itu. Hanya sendok dan piring mereka berdua yang terus berbunyi.


“Jadi anak-anak di sana, apa kau tidak mengajak mereka makan, Sarah?” Tanyanya tiba-tiba. Bahkan sejenak, dia baru tersadar telah melakukan kesalahan.


“Aku tidak tahu. Ku kira mereka sudah makan. Lagipula mereka hanya akan mengganggu,” sahutnya, dengan nada penuh rahasia. Dan Ryan suka melihat ekspresinya barusan. “Kamu tahu kan, anak-anak suka berantakan.” Tapi tambahnya lagi.


Ada jeda sebelum mereka bicara lagi.


“Apa mereka semua akan tidur di sini?” Tanyanya kembali.


“Tidak! Mereka biasanya pulang ke rumah jika filmnya selesai.”


“Oh…, lalu bagaimana orang tua mereka?”


“Ya…, tentu saja mereka datang.” Sahutnya, namun dia bisa melihat Sarah mencermati kata-katanya kemudian. “Oh…, maksudmu kau takut mereka menemukanmu ya? Tenang saja! Mereka juga takkan membunuhmu hanya karena melihatmu di sini!” Tambahnya lagi dan ia tertawa. Jelas sekali tidak menangkap maksud dari ucapannya barusan. Namun dia tidak meresponnya.


“Apa kau selalu takut pada keluarga dari teman-teman wanitamu?” Kali ini masih Sarah yang bertanya.


“Tidak. Hanya ayahmu saja.” Lalu sahutnya, tanpa serius menjawab. Dan Sarah juga menanggapinya dengan tertawa pula.


Mereka selesai makan malam tak lama kemudian, dan keduanya cukup puas dengan hidangannya. Sejenak, Ryan membantu Sarah merapikan meja, sementara Sarah mencuci semua peralatan di pencucian, sebelum sekali lagi menuju ruangan tamunya. Meski mereka tidak terlalu banyak bicara lagi kali ini. Yang kebanyakan hanya bergelut dengan pikiran mereka masing-masing.


Di luar, jalanan semakin sepi. Dari semua tempat, sepertinya hanya rumah Sarah sekarang yang hingga saat ini masih terbuka. Bahkan di saat jam baru lewat sedikit pukul sembilan malam. Namun waktu pada akhirnya membuatnya cukup tahu diri untuk tidak terus berlama-lama di sana. Meski dia sangat menginginkannya lebih.


Dia coba memperbaiki perasaannya di saat-saat itu, memasukkan tangan ke kantong berkali-kali, sebelum bangkit dari tempat duduk. Sementara Sarah juga mengikuti gerakannya di sana. “Ku rasa aku harus segera pergi!” Ucapnya akhirnya.


“Jadi kau akan pulang?” Tanyanya lagi, dan Ryan mengangguk.


Keduanya berjalan perlahan ke luar pintu kemudian, berdiri sebentar di bawah penerangan teras rumahnya, sebelum dia kembali memaksakan keberaniannya. “Apa kita bisa bertemu lagi besok, Sarah?” Ujarnya berbasa-basi.


Namun Sarah membiarkan komentarnya berlalu sejenak, dan sedikit lama mencerna ucapannyya di sana. Sekilas, Ryan baru saja melihat keraguannya.


“Bahkan jika ayahku datang?” Lalu sahutnya.


“Maksudmu ia akan datang besok…?” Balasnya. Dia bahkan tidak menyembunyikan keterkejutan dari nada bicaranya. Kesimpulan yang datang dengan sangat cepat.


Namun Sarah kemudian malah tertawa. Membuatnya tahu jika Sarah baru saja bercanda padanya.


Bulan kelihatan penuh. Dan tidak ada awan yang menghalanginya. Cahayanya benar-benar membuat malam di Welmina terang-benderang. Namun dia masih menantikan jawaban Sarah di sini. Mungkin dia sudah lupa pertanyaannya.


“Jadi…, kau tidak terlalu repot kan, esok hari Sarah? Ku kira aku bisa datang ke rumahmu lagi.” Ujarnya kembali.


“Oh…, ya, tentu saja. Aku akan sangat menyukainya.”


Jawaban yang sejak tadi ia tunggu-tunggu. Kemudian tentu saja, menyenangkan. Sementara dia kembali melangkahkan kaki.


“Kau yakin pulang jalan kaki?” Tanyanya, saat dia baru saja melewati pagar rumahnya.


“Ya,” dan dia mengangguk.


“Malam-malam begini?”


Dan dia mengangguk sekali lagi.


“Um… tapi rumahmu kan jauh. Ku kira kau bisa membawa kendaraanku jika kau mau! Asal kau bisa menjemputku esok pagi! Karena aku juga harus berkerja kan?” Ujarnya pelan. Kembali menunjukkan perhatiannya.


Dia tahu Sarah bermaksud baik. Tapi dia tidak tahu caranya menolak dan tanpa melukai perasaannya. Setidaknya tidak hari ini.


Lalu dia bergumam. “Tidak apa. Ku rasa, aku hanya ingin menikmati malam dengan jalan-jalan sejenak. Tapi terima kasih.” Sahutnya sembari tersenyum.


Sarah sejenak memikirkan kata-katanya. “Baiklah..., kalau itu yang inginkan.” Lalu sahutnya.


Dan dia sudah berjalan sedikit lebih jauh saat mengintip ke belakang sebentar. Menemukan rumah Sarah yang sudah dalam keadaan tertutup. Sementara yang terus berputar di dalam kepalanya hanya kejadian barusan. Dia yang bisa bicara lancar tepat di hadapannya, Sarah yang mengajaknya makan malam di rumahnya, terlebih sikapnya yang sangat menikmati pertemuan itu, baginya itu sudah awal yang bagus. Persis seperti yang sebelumnya ia harapkan. Dia bahkan sudah tidak sabar menantikan pertemuan-pertemuan mereka selanjutnya.

__ADS_1


__ADS_2