
Dia kembali menemui Sarah di malam berikutnya, tepat seperti yang dijanjikan. Meski situasinya jadi sedikit berbeda kali ini. Karena di sana tidak ada anak-anak lagi. Dia tahu bahwa situasinya akan terasa lebih menyenangkan. Bahkan, dia tidak perlu merasa kaku lagi kali ini. Dan sama seperti sebelumnya, mereka juga berbincang-bincang di ruang tamunya lagi. Ia mengenakan dress panjang sepanjang lutut. Namun kali ini dengan penampilan yang nampak lebih santai dari pada biasanya.
“Sejujurnya ia orang baik Ryan,” jawab Sarah, saat Ryan menyinggung tentang ayahnya. “Mungkin semua bermula saat ibuku tidak ada. Dan kau bisa lihat kan, ia bisa membesarkan kami sendirian!”
“Kau pasti mencintainya?”
“Semua anak pasti mencintai orang tua mereka kan?”
“Tidak juga,” balasnya cepat-cepat. Yang sejujurnya ia tujukan untuk dirinya sendiri. Namun Sarah tidak menangkap maksudnya ketika itu, dan coba mengabaikannya. Sebelum Ryan yang mengubah topik pembicaraannya lagi.
“Jadi apa yang biasa kau lakukan di rumah, Sarah? Maksudku jika tidak ada pekerjaan kantor?” Lalu tanyanya.
Dan ia nampak tersenyum mendengar pertanyaannya. Sepertinya Sarah juga tidak menyangka jika Ryan tertarik pada kebiasaannya.
“Mungkin membaca buku, menonton televisi, atau menonton film…,”
“Menonton film?”
“Ya, Frans sering meminjamiku DVD terbaru.”
“Oh…, aku tidak tahu kalau kau dekat dengannya?” Sahutnya dengan nada santai. Tidak bermaksud lain selain sekedar menanggapi. Namun Sarah sepertinya mengartikannya lain. Dan itu membuatnya tertawa.
“Kami hanya berteman.” Sahutnya dengan nada penuh rahasia. “Lagipula, aku kan hanya meminjam DVD!” Sambungnya lagi.
Itu bukan respon yang sama sekali diinginkannya. Dan seperti sebelumnya, dia memang tidak pernah terpikir ke sana. Hal itulah yang membuatnya tidak bisa menjawab persis seperti yang ditanyakan. Ia bahkan sedikit mengubah percakapannya ke hal lain.
“Apa kau tidak pernah keluar rumah, Sarah? Bertemu teman-temanmu mungkin?” Lalu dia bertanya lagi.
“Tidak juga,” sahutnya. “Kadang aku bermain badminton, atau menaiki sepedaku …,”
“Bersepeda?”
“Ya. Kenapa?”
“Tidak.” Ujarnya pelan. “Itu hobi yang menarik. Jadi kau benar-benar mengendarainya?”
“Ya, tentu saja. Kau tidak tahu kan, kalau aku biasa bersepeda sore hari? Kau pasti tidak menyukainya kan?” Sarah bertanya lagi.
Sementara Ryan mengangkat bahunya kikuk. “Ku rasa…, aku hanya tidak suka dilihat banyak orang.”
__ADS_1
Sekarang ia yang malah tertawa. “Ya, jelas sekali. Jadi karena itulah kau malam-malam kemari, kan? Terlebih ayahku sedang tidak ada di rumah.”
Dia benar-benar mengerti maksudnya.
“Aku tidak pernah bilang aku takut ayahmu.” Segera sahutnya.
“Benarkah?”
“Ya, itu benar. Maksudku…, sebelumnya memang iya. Tapi seandainya dia ada di rumah juga, aku akan tetap datang.” Balasnya, memastikan nadanya terdengar seyakin mungkin. Tapi apa yang ia lakukan justru membuatnya terdengar lebih meragukan lagi.
Dia masih melihat Sarah yang seakan bertanya-tanya apakah ia bisa mempercayainya atau tidak. Meski dia juga ragu karena sejak tadi ia masih tertawa. Lagipula, jika dia benar-benar mecintainya, dia juga harus menjalin hubungan yang baik dengan keluarganya, bukan? Dia sangat mengerti pemahaman tersebut, tentu saja. Dan lagi, konsep seperti itu juga bukan sekedar prinsip yang ada hanya untuk ia pahami begitu saja. Melainkan juga, ia harus benar-benar mencari cara untuk membuktikannya. Meski untuk itu pun dia masih belum tahu kapan akan mengambil langkah berikutnya.
Malam berikutnya, dia kembali ke rumah Sarah lagi. Kali ini dengan pembicaraan yang tidak jauh berbeda dari kemaren. Kembali membahas hubungan Sarah dengan ayahnya. Mengingat hanya tinggal mereka berdua saja sekarang yang masih tinggal di rumah yang sama. Selain itu, dia juga merasa perlu mengenal Otto lebih jauh dari sebelum ini. Apa dia persis sama seperti yang dipikirkan orang-orang.
“Ya, tentu saja. Aku sering menghabiskan waktu bersama ayahku. Kenapa kau menanyakan itu?” Ia baru saja meminum minumannya, kemudian membalas pertanyaannya.
“Tidak…, aku hanya ingin tahu kedekatan kalian saja. Karena kau satu-satunya perempuan yang masih tinggal bersama ayahmu, kan. Maksudku… aku hanya ingin tahu apa saja yang biasa kalian lakukan?”
Kali ini ia tersenyum mendengar pertanyaannya. Meski kemudian ia terlihat seperti berpikir keras. Dia tahu, jawabannya memang tidak banyak.
Kadang, seorang anak memerlukan kedekatan tersendiri dalam membahas sesuatu hal. Yang beberapa di antaranya mungkin dipengaruhi oleh jenis kelamin tertentu. Terutama jika menyangkut rahasia atau semacamnya. Setidaknya konsep seperti itulah yang selama ia ku pahami.
“Sebetulnya tidak banyak,” Sarah mulai bicara. “Karena ia biasa duduk di meja kerjanya. Selain melayani pasien tentunya. Tapi kami biasa bicara jika kami punya waktu. Kami biasa membahas pekerjaan kantor, atau mungkin bergantian mengerjakan tugas rumah. Bersih-bersih, atau mungkin memasak… Ayahku memang tidak seperti yang dikenal oleh orang kebanyakan, Ryan. Tapi ia mudah dekat dengan siapa saja. Terlebih dia orang yang cukup tua di sini, jadi orang-orang juga menghormati keberadaannya.” Sahutnya panjang lebar. Sepertinya, Sarah juga mulai mengerti mengapa Ryan tiba-tiba menanyakannya.
“Lalu bagaimana dengan kabar ibumu Sarah? Apa kau masih sering bertemu dengannya?”
Ryan tidak tahu mengapa dirinya terpikir menanyakan itu. Dan dia juga tidak melakukannya karena tertarik, tapi lebih karena tidak tahu harus berkata apa lagi. Menurutnya, mereka pasti masih menjalin kontak. Sesuatu yang tentu saja dia tidak memikirkannya dengan cara yang rumit. Namun Sarah terdiam beberapa saat lagi sebelum akhirnya menjawab.
“Sebetulnya, dia sudah meninggal dunia, Ryan.” Sahutnya pelan.
“Oh,” nadanya mengingat jika dia sekali lagi membangkitkan kenangan yang sangat buruk. Membuatnya lagi-lagi merasa bersalah. Dan tanpa dia minta sekali pun, Sarah kemudian mulai bercerita.
“Sebelumnya pernah ku ceritakan bukan, kalau ia meninggalkan kami saat aku masih berusia mungkin enam tahun.” Ujarnya lagi, sementara Ryan mengingat percakapan mereka di malam sebelumnya. “Aku tidak tahu kenapa ia pergi begitu saja. Aku juga tidak pernah ingin mengetahuinya. Tapi aku memang tidak pernah melihatnya lagi sejak saat itu. Aku hanya tahu jika ia pernah menikah dengan pria lain. Sebelum aku mendengar kabarnya meninggal dunia empat tahun yang lalu.”
Empat tahun yang lalu, pikirnya dalam hati. Sepertinya kejadiannya tidak terlalu lama.
Sebagian dari dirinya juga ingin menanyakan bagaimana perasaannya lagi ketika itu. Untuk tahu apakah ia masih mencintainya atau tidak. Tapi apa pun yang ia lakukan takkan membuatnya bisa menerima itu tanpa merasakan semakin kecewa. Dia juga tahu jika Sarah hanya sekedar menanggapi apa yang ditanyakan. Bahkan dia tidak melihat adanya kesedihan atau semacamnya. Yang mungkin bisa saja suasana hatinya justru lebih buruk lagi. Bahkan, dia tidak sadar jika dia baru saja melakukan hal-hal yang salah selama beberapa hari terakhir. Sesuatu yang harusnya ia hindari.
“Kau pasti merasa beruntung karena punya ayah seperti ayahmu. Dia luar biasa karena bisa menghadapinya sendirian.” Ujarnya. Coba membesarkan hatinya.
__ADS_1
“Ya, tentu saja. Aku selalu menganggapnya ayah yang hebat.” Kembali ucapnya bangga.
Dalam hati dia mulai beranggapan jika mereka mungkin punya sedikit kesamaan. Yang membuatnya sudah cukup untuk bisa saling mengerti satu sama lain. Meski kehebatan yang ia katakan tentang ayahnya, Ryan tetap tidak bisa memandangnya sehebat ayah-ayah yang lain. Lagipula sepertinya memang tidak pernah ada bukan, seseorang yang dengan sadar merendahkan keluarganya sendiri? Bahkan termasuk Ryan di saat ayah ibunya tidak pernah baik padanya.
“Kalau kamu sendiri Ryan, bagaimana kabar keluargamu?” Kali ini Sarah yang tiba-tiba menanyakannya.
Dia tidak ingin menjawab persis seperti yang ditanyakan, tapi memang mustahil mengalihkan percakapannya ke arah lain. Selain dia yang tetap menganggapnya sebagai sebuah aib.
“Mereka ada di Bandung,” lalu balasnya singkat. Namun Sarah justru tersenyum lembut mendengar jawabannya.
Tangannya masih berada di tangkai gelas miliknya. “Ya, kalau itu kan aku sudah tahu. Maksudku bagaimana kabar mereka?” Ujarnya sekali lagi.
Ada jeda sebentar sebelum Ryan bicara lagi.
“Sejujurnya…, kami tidak pernah bicara lagi.” Lalu ujarnya. “Dan ini sudah terjadi dua tahun terakhir. Sejak pertama kali aku datang kemari.”
Ia menatapnya heran. “Kenapa bisa begitu?”
Dia tidak ingin bercerita. Sungguh.
“Itu karena…, karena hubungan kami sedang tidak baik kan…” Sahutnya, seraya menunjukkan sikap kurang antusiasnya. Berharap dia tidak perlu menjelaskan lagi. Ternyata Sarah memang tidak menangkap isyaratnya ketika itu.
“Aku masih belum mengerti.” Dan sahutnya.
Pada akhirnya Ryan memang harus terpaksa menjelaskannya.
“Aku tidak tahu bagaimana mengatakannya, Sarah.” Lalu sahutnya. “Tapi aku memang tidak pernah mengenal sosok orang tuaku sama sekali. Maksudku, orang tuaku memang masih ada. Tapi mereka tidak sebaik seperti yang diperlihatkan oleh kebanyakan orang tua seharusnya. Aku bahkan dibesarkan dengan cara yang teramat buruk. Karena itulah aku memilih keluar dari keluargaku. Dan memilih kehidupanku sendiri.”
Dia bisa melihat Sarah sedikit tertarik pada ceritanya. Meski dia juga merasa cemas menantikan responnya. Bahkan, ini pertama kalinya dia pernah bercerita pada orang lain. Perasaannya terhadap Sarah yang membuatnya lebih mudah melakukan itu.
“Tapi kau kan tidak bisa membalas keburukan dengan keburukan pula,” kemudian usulnya pula.
“Aku tidak yakin. Lagipula kan bukan aku yang memulainya.”
Ia kembali memegang gelasnya sebentar, meski tidak meminumnya di sana.
“Ku kira kau harus belajar memaafkan Ryan. Lagipula mereka kan orang tuamu. Orang-orang yang membuatmu ada di dunia. Menurutku, kau hanya mengikuti amarahmu sendiri.” Nadanya seakan tengah mengguruinya sekarang. Yang tiba-tiba saja membuatnya kesal.
Sebab terus terang, memang tiada lain yang bisa ia harap darinya selain ia yang bisa lebih memahami perasaannya. Tapi kenyataannya tidak begitu.
__ADS_1
Dan Sarah kembali melanjutkan. “Jika kau ingin tahu yang sebenarnya, ibuku juga bahkan meninggalkanku saat aku berumur lima tahun. Tanpa sebab yang aku tak tahu mengapa. Tapi setelah itu, ia bahkan tidak pernah meluangkan waktunya untuk menemuiku. Atau sekedar ingin tahu bagaimana keadaan kami. Kadang aku ingin sekali membencinya, tapi kau baru akan mengerti arti kehilangan saat ia benar-benar tidak ada. Aku mengatakan ini karena aku juga peduli padamu Ryan.”
Dia mengerti sekali maksud Sarah. Dan jauh di dalam lubuk hatinya juga dia sangat menghargai kebaikannya. Meski masih sulit untuk melakukannya sekarang. Setidaknya ada beberapa hal yang menurutnya perlu ia selesaikan dahulu. Dan itu berarti tidak sekarang.