Sekeping Kenangan

Sekeping Kenangan
Storia 15 : KonfilkTerpendam


__ADS_3

Ayahnya kembali ke rumah tepat di hari berikutnya. Dan mereka membawa ambulance untuk kepulangannya. Semua orang nampak bersedih, semua orang terlihat berduka, meski masih bisa menyembunyikan perasaannya dengan bersikap tegar. “Semua akan baik-baik saja,” tante Maya membisikkannya ke telinga Ryan. Namun dia tahu, tidak ada yang akan lebih baik mulai dari sekarang.


Di rumah, mereka memindahkan perawatannya ke ruangan tengah. Ke tempat yang mendapat lebih banyak sinar matahari kali ini. Dan ibunya juga membuat jadwal penjagaan setiap harinya. Dengan sebagian besar waktu yang tentu saja lebih banyak diserahkan padanya. Yuri atau adiknya Sasa hanya berjaga tiga jam setiap malam. Keadaan mungkin akan sedikit membaik saat Anita, kakaknya datang. Meski ia tidak bisa menghabiskan lebih banyak waktunya di rumah. Karena ia yang katanya harus mengurus keluarganya sendiri atau entah apalah. Namun dari semua jadwal penjagaan di atas, sepertinya hanya Ryan yang tidak pernah dilibatkan. Dia sangat mengerti alasannya. Dan meski dia tidak pernah menyetujuinya sekali pun, dia juga tidak pernah menawarkan diri untuk ikut serta.


Kondisinya semakin memburuk di pertengahan November. Kali ini ayahnya akan nampak hampir selalu tertidur sepanjang waktu. Bahkan di pagi hari saat ia baru saja dimandikan. Tubuhnya terlihat lebih kurus. Tulang-tulangnya semakin banyak yang bermunculan dari balik kulitnya. Ia bahkan hampir tidak punya banyak tenaga lagi untuk bangkit dari tempat tidur. Meski hanya untuk duduk sebentar. Tapi semua itu sebetulnya hanya sedikit perubahan yang mudah sekali terlihat. Sebab di waktu yang sama, kondisinya tiba-tiba saja berpengaruh pada kejiwaannya.


Di siang hari, saat televisi masih menyala, yang sebetulnya lebih banyak televisi yang menontonnya sekarang, ia tiba-tiba tersadar dalam keadaan sangat histeris. Ia mengatakan jika ia baru saja melihat bayang-bayang orang berpakaian serba putih. Mengawasinya, menunjukkan ke arahnya, sesuatu yang seakan tidak kasat mata. Ibunya juga berulang kali menerangkan padanya, “Tidak ada apa-apa Pak…, di sana!” Sahutnya. Di hampir di setiap kesempatan. Namun ayahnya tetap bertahan dalam keadaan yang begitu panik.


Ryan tahu kesadarannya yang terus menurun lah akhir-akhir ini, yang membuatnya lebih banyak berhalusinasi, delusi. Dan dia juga mengerti jika ayahnya tengah menantikan suatu keajaiban atau semacamnya. Apa pun itu untuk menunjukkan tanda persahabatan. Mungkin sekedar percakapan ringan, canda atau pun tawa. Seperti yang biasa dilakukan antara anak laki-laki dengan ayahnya. Namun dia tidak akan pernah, dan tidak akan bisa memberikannya. Tidak dengan isi hatinya yang seperti ini.


Ibunya memang melakukan sesuatu untuk memperbaiki itu. Dengan satu-satunya cara yang bisa ia lakukan, satu-satunya cara yang mungkin bisa menunjukkan sedikit kepeduliannya. Jadi tidak jarang saat Ryan tengah berada di dalam kamarnya ia akan mengetuk pintunya sesekali, yang ia lakukan hanya untuk sekedar mengingatkannya agar makan teratur. Ia juga tiba-tiba bersedia mencucikan pakaian kotornya, berikut mengeringkannya dan juga merapikannya. Kebiasaan-kebiasaan yang sebelumnya memang tidak pernah ia lakukan saat dia tinggal di rumahnya. Kemudian di saat ia akan keluar rumah, tidak lupa pula dia akan selalu mengatakan tujuannya. Meski ia juga tidak mengatakan apa-apa saat ia kembali. Dengan kata lain, ia hanya menciptakan pembicaraan satu arah di antara mereka. Satu-satunya pembicaraan yang hanya bisa dijawab dengan jawaban ya atau tidak. Bahkan jika dia tidak mengatakan apa pun juga, hal itu bukan sesuatu yang kasar.


Namun di suatu waktu, saat Ryan baru saja memulai makan siangnya, ibunya tiba-tiba saja menemuinya di dapur. Dan ini tidak biasanya saat ia tiba-tiba mendekatinya begini. Seakan dia yang baru saja mengumpulkan seluruh keberaniannya. Tapi pastinya, ia juga sangat tahu jika Ryan tidak menyukai kehadirannya di sana. Sebelum ia memaksakan diri untuk memulai pembicaraan.


“Kapan kamu kembali ke Kalimantan, Ryan?” Ujarnya, memulai pembicaraan ramah.


Ryan tahu ia coba membangun suasana yang baik ketika itu. Mengingat ini percakapan mereka yang pertama sejak dia datang ke rumah. Namun, dia tetap tidak bisa menanggapinya dengan sikapnya yang lembut.


“Kenapa? Kehadiran saya sudah tidak diterima, ya?” Lalu sahutnya, enteng saja. Membuatnya tanpa sadar menarik dirinya ke belakang.


Namun, ia masih bisa mengendalikan dirinya di sini.


“Ibu tidak pernah berkata begitu. Semua anak ibu bebas tinggal di sini. Ini tentang ayahmu. Kamu tahu kan…, ia sedang sakit parah?”


“Ya…, saya tahu,” dan lagi balasnya ketus. Tanpa sedikit pun menunjukkan sikap peduli. Ibunya mulai menelan ludahnya berkali-kali kali ini.


“Ayahmu perlu teman bicara, Ryan. Coba temui dia sesekali. Bicara sebentar padanya!”


“Jadi apa yang harus kami bicarakan, bu?”


“Kamu bisa bicara apa saja. Mungkin bercerita tentang pekerjaanmu, keadaan di sana, apa saja untuk menunjukkan kedekatan kalian…” Usulnya lagi. Yang membuatku semakin kesal.


“Saya tidak pernah tahu jika bicara baik buat dia, bu. Lagipula kondisinya juga tidak akan menjadi lebih baik lagi. Semua orang tahu itu.” Kemudian balasnya. Suaranya penuh dengan nada sarkastik lagi.


Dan dia mulai bisa merasakan ketegangannya kemudian. Saat ibunya hampir kehilangan kendali. Untuk sesaat, ia merasakan detak jantungnya yang berdebar cepat. Namun inilah keributan yang telah lama ia tunggu. Bahkan, dia tidak perlu bersusah payah untuk memancingnya kemari.


Namun kata-katanya yang berikutnya sudah hampir tak jelas karena ia mulai berurai air mata.


“Jadi… begini ya kamu sekarang … Tega kamu dengan ayahmu…, dengan ibumu!”


Dia kembali menatapnya, pura-pura menunjukan kebingungan. “Tidak ada yang salah dengan ucapan saya kan, bu? Saya hanya mengatakan yang sebenarnya. Karena itulah rumah sakit mengusirnya, kan?”


“Tapi ayahmu hanya ingin bicara, Ryan! Kamu selalu menjauh! Kamu bahkan tidak pernah coba menemuinya. Apa kamu tidak peduli keadaannya? Apa kamu tidak kasihan?”


Ia tersenyum. Berpikir itu lucu, namun tidak ada sesuatu yang lucu. “Tapi bukan saya yang bisa menyembuhkan dia bu...” Sahutnya, ringan saja. “Kalau dia sakit, urusannya ke rumah sakit. Lagipula bukan saya yang membuat dia begini.” Tambahnya lagi, seraya mengangkat bahu.

__ADS_1


Ryan tahu ucapannya benar-benar kejam, saat dia meletakkan argumennya seperti itu. Tapi dia hanya merasa melampiaskan perasaannya. Semua kemarahan yang ia pendam sejak lama. Dan ia bisa melihat wajahnya memerah kemudian. Sementara bibir bawahnya mulai bergetar. Seakan ia benar-benar menguatkan dirinya untuk kata-katanya yang berikutnya.


“Jadi bagitu ya kamu sekarang…?” Ujarnya, saat ia mulai bisa bciara lagi. “Sudah merasa hebat? Karena sudah bisa mencari uang sendiri… Tapi jangan lupa nak…, ibumu yang dulu melahirkan kamu… Dan jika bukan karena ayahmu juga, kamu tidak akan pernah ada….” Sahutnya, seketika membuat wajahnya membara.


Dan Ryan benar-benar benci pada penggunaan kata-kata demikian. Ucapan-ucapan seakan seorang anak selalu berhutang segalanya.


Dia tidak tahu mengapa, tapi kebanyakan orang yang lebih dewasa memang lebih suka menggunakan kata-kata itu untuk melindungi kepentingan mereka sendiri. Seakan mereka tidak boleh dituntut apa pun atas kesalahan yang pernah mereka perbuat. Dan itu benar-benar pemahaman yang sangat egois.


Lalu dia kembali tertawa sinis. “Jadi ibu ingin menjadikannya pembenaran kah?” Ia membalas.


“Apa maksudmu?”


“Oh, ibu tidak mengingatnya lagi, kah? Saya merasa, kalian bahkan tidak pernah memandangku sebagai anak. Menurut ibu, mengapa saya sampai pulang ke rumah sekarang, hah? Hanya untuk melihat orang yang bahkan tidak pernah ada untukku. Kalian bahkan tidak pernah melihat kesalahan kalian. Seharusnya aku tidak pernah melakukannya. Dan lagi, agar ibu tahu, saya tidak merasa bahwa saya berhutang apa pun. Lagipula kalian sudah membuangku kan, jauh-jauh hari?” Dia mengatakan sambil tersenyum. Meski kemarahannya mengambil kendali kali ini.


“Siapa yang berkata kami membuangmu? Kamu lah sendiri yang memilih pergi dari rumah.” Balasnya, menggelengkan kepala. “Dan biar ibu mengingatkanmu sesuatu sekarang… Jika kamu beranggapan bahwa kami membuangmu, jika kamu merasa bahwa ayah dan ibu tidak pernah mencintai kalian, harusnya kalian tidak pernah menjadi siapa-siapa. Jadi siapa yang dulu memberimu pakaian, tempat tinggal, dari mana kau mendapat makanan untuk perutmu. Apa semua itu tiba-tiba datang dari langit? Siapa yang membayar biaya sekolahmu…? Dan sekarang kau sudah mendapat pekerjaan yang mapan, lalu kau melupakan segalanya.”


“Ya…, dan ibu bahkan hanya mencariku selama seminggu.”


“Itu karena kau sudah memiliki kehidupanmu sekarang. Kau bisa berdiri dengan kemampuanmu sendiri… Kami kira kau tidak membutuhkan kami lagi.” Kali ini ia yang menaikkan nada bicaranya. Masih berusaha membela diri. Dan Ryan benci saat ia terus melakukan ini lagi dan lagi.


Dia bangkit dari tempat duduknya. Melangkah ke tempat pencucian piring. Sebelum melempar semua makanannya ke pembuangan. Dia ingin ibunya melihat kemarahannya di sana. Namun rupanya itu tidak juga memberinya efek apa pun. Sementara ia terus melanjutkan.


“Kami selalu berharap kau mendapat kehidupan yang jauh lebih baik dari kami. Semua orang, dan bahkan tetangga juga tidak jarang menanyakan kabarmu. Dan kami selalu mengatakan di mana kau berada, serta betapa bangganya kami dengan pekerjaanmu. Bahkan rumah juga tidak pernah kami ubah. Agar kau merasa betah seandainya saja kau datang. Kami sekeluarga selalu berharap kau kembali, Ryan. Tidak masalah kau mau pergi jauh, tapi kau bahkan tidak pernah berpikir untuk kembali ke rumah.”


“Lalu apa masalahnya?”


Kali ini Ryan mengangguk. “Oh…, baiklah. Saya mengerti sekarang. Jadi ibu ingin saya berterima kasih, kan? Baiklah…, saya sangat berterima kasih kalau begitu. Saya berterima kasih atas semua kebaikan yang kalian beri. Terima kasih karena kalian punya alasan untuk bertidak kasar padaku, memukulku, saya yang bahkan tidak pernah mendapat sekolah seperti yang saya inginkan. Terima kasih karena kalian tidak pernah menyayangiku seperti saudaraku yang lain…”


“Tidak… Itu tidak benar…, ibu dan ayahmu selalu menyayangi kalian …!”


“Benarkah…? Tapi saya tidak melihatnya begitu, kan?” Sahutnya, dan dia kembali tiba-tiba tertawa sendiri. “Kalau begitu kemana saja kalian? Saat aku membutuhkan kalian? Ibu mengira aku bangga dengan pekerjaanku? Kalian bahkan tidak pernah tahu kesulitan yang ku rasakan. Kalian bisa-bisanya menikmati kehidupan kalian dengan tenang, dan tak pernah memikirkan apa pun. Bahkan jika aku mati sekali pun juga, ku rasa kalian takkan pernah mencariku. Aku tidak pernah merasa jika aku punya keluarga. Kalian membuatku layaknya orang asing.”


“Tidak, itu tidak benar…”


“Kalau begitu buktikan…!” Kali ini dia benar-benar membentaknya. Memukulkan tangannya ke arah dinding. “Buktikan kalau kalian menganggapku penting. Buktikan sampai aku bisa merasakannya… Aku bahkan tidak pernah merasa jadi bagian dari keluarga ini. Karena itulah selama ini aku diperlakukan berbeda kan? Aku seakan dikorbankan demi kepentingan yang lain.”


Ryan melihatnya kembali menggeleng. Namun ia belum mengatakan apa pun. Sementara dia terus melanjutkan.


“Satu-satunya alasanku pergi dari rumah adalah untuk melarikan diri. Dan ini adalah pembalasan atas perlakuan kalian. Ibu masih ingat kan, saat aku tamat SMU, kalian hanya berkata bahwa kalian tidak punya uang untuk sekolahku. Saat Yuri dan Sasa bisa mendapat kuliah yang mereka mau, aku bahkan harus berusaha keras dengan tenagaku sendiri. Mereka bisa sekolah sampai paska sarjana dengan perhatian kalian. Sementara aku? Dan jangan pernah katakan bahwa kalian yang membelikanku banyak pakaian. Karena kebanyakan adalah pemberian tante Maya, atau tetangga yang tinggal di sebelah rumah. Bahkan aku sengaja menggantung semua pakaian sobekku di luar agar kalian melihat. Benar kalian selalu melihatnya, tapi hati kalian tidak. Aku layaknya seorang pengemis. Dan jangan pernah lupakan masa lalu, bu!”


Ibunya nampak terkejut dengan kata-katanya. Menurutnya, ucapannya benar-benar mengenainya. Meski Ryan tidak tahu itu akan berpengaruh padanya atau tidak. Di lain hal, dia juga sengaja menyuarakan kekesalannya dengan keras. Yang ia lakukan agar semua orang bisa merasakan kemarahannya. Bahkan jika itu termasuk ayahnya. Dia tidak peduli lagi jika itu memperburuk keadaannya.


Namun kali ini Ryan melihat ibunya mengangguk kemudian. Seakan berusaha menguatkan diri. “Baiklah, kalau itu adalah balasan yang ibu dapatkan. nak.” Sahutnya lagi. “Ibu tahu jika ibu dan ayah bersikap keras padamu, tapi itu untuk memberimu pelajaran. Dan lihat hasilnya sekarang? Apa kau jadi gelandangan? Apa kau tinggal di kolong jembatan? Tapi sekarang, kau tiba-tiba kembali melewati pintu depan, kemudian membawa masalah lagi ke rumah ini?” Lanjutnya lagi. Sementara Ryan menekankannya pada kalimat yang terakhir.


Saat ia menyebutnya pembawa masalah.

__ADS_1


“Oh…, jadi begitu kah?” Lalu sahutnya, enteng saja. Dan dia kembali tertawa sinis.


Kali ini dia mulai bangkit. Ingin segera pergi dari sana. Menjauh darinya. Dan dia benar-benar benci atas sikap keras kepalanya yang seperti ini.


“Mau ke mana kau, Ryan?” Dia mendengarnya berteriak. Namun dia mengabaikannya.


Kali ini ibunya mulai mengikutinya.


“Merapikan barang-barangku. Besok aku akan berangkat.” Sahutnya ketus.


“Tidak bisa kah kau menunggu sebentar? Beberapa hari, atau mungkin seminggu lagi?”


“Bukan kah ibu ingin saya keluar dari sini?” Balasnya, masih berusaha mengabaikannya.


“Kamu masih belum mengerti juga, ya?” Sahutnya lemah. Dan dia sudah tidak tahu bagaimana cara menghadapinya lagi di sini.


“Saya mengerti, bu. Sangat mengerti. Jadi mengapa bukan ibu yang mengendalikan ego ibu sejenak, kemudian mengakui kesalahan ibu sekali saja? Kalian selalu beranggapan bahwa kalian selalu benar. Apa semua orang harus mengikuti kemauan ibu? Dan memaklumi apa yang ibu perbuat?”


“Jangan menyalahkan ibu atas semuanya!” Protesnya.


“Lalu siapa?” Balasnya lagi. Dan dia benar-benar muak menanggapinya begini. “Dan asal ibu tahu, saya kemari bukan karena keinginan saya, bu. Bukan karena saya kasihan pada ayah, atau peduli pada hidupnya, tapi karena paman David atau tante Maya yang terus mendesak untuk pulang ke Bandung. Jadi saya tidak punya pilihan.” Lalu katanya lagi. “Dan satu-satunya alasan yang menyebabkan ayah begini adalah ibu sendiri. Karena ibu yang terus menolak pengobatan yang harusnya diberikan!”


“Itu karena efek sampingnya…”


Ryan segera memotongnya dengan bantahannya.


“Mereka orang-orang pintar, bu.” sahutnya marah. “Puluhan tahun mereka melakukan penelitian, dan sudah banyak yang berhasil disembuhkan. Jadi mengapa ibu yang merasa punya pemahaman yang lebih baik dari mereka?”


Dia kembali mengingatkannya pada keputusan yang pernah diambil. Kemudian menggunakannya untuk melawan dirinya sendiri. Dan di sinilah untuk pertama kalinya ia mulai telihat menyadari apa yang terjadi. Namun Ryan masih belum mau berhenti. Dia lalu menatap ke arah lain sejenak, menghela nafasnya sekali, sebelum tatapannya kembali ke dirinya lagi.


“Jadi jika terjadi sesuatu pada ayah nanti, ibulah yang harusnya bertanggung jawab. Dan dulu, sewaktu dia sehat, dia bisa semena-mena terhadapku. Tapi sekarang, kenapa dia bisa seenaknya meminta maaf, dan berlagak seakan aku memaafkan. Lagipula jika kalian ingin memperbaiki segalanya, harusnya kalian sudah melakukan sejak awal, kan?”


Ryan tahu ibunya sangat sakit hati mendengar ucapannya. Tapi inilah yang telah lama ia pendam. Bahkan perlu waktu seumur hidup hanya untuk mengungkapkan itu. Sebelum yang terdengar kemudian hanyalah suara tangisnya dari arah kamarnya.


Sebagian dirinya juga masih mempertanyakan kewajarannya dalam melakukan semua itu. Terlebih menaikkan nada bicaranya terhadap orang yang dituakan, bahkan itu ibunya sendiri, adalah hal yang tidak pantaas dilakukan di dunia ini. Tapi seperti inilah jika kemarahan dan dendam mengambil alih kendali. Yang ada hanya perasaan tidak peduli.


Dan dia harus melalui ayahnya lagi sebelum sampai ke dalam kamar. Dan dia juga tidak mengatakan apa-apa di saat ia melaluinya. Sementara Ayahnya yang hanya terdiam di tempat tidurnya. Kesedihan dan ketakutan semakin terbayang dari wajahnya sekarang.


Di dalam kamar, dia kembali mengunci dirinya lagi. Kemudian tanpa sadar mulai merasakan matanya yang kembali berkaca-kaca. Benci karena semua masalah yang harus ia hadapi. Benci karena terlahir di keluarga ini.


Malam baru saja larut, dan bulan sudah tak ada lagi di atas langit, di saat Ryan harus mempersiapkan keberangkatannya. Namun di sinilah dia menangkap pemandangan yang mungkin takkan pernah ia lupakan seumur hidup. Dia tahu tidak ada orang lain lagi yang mengawasinya ketika itu, melainkan hanya ayahnya seorang. Dan dia hanya menatapnya dengan ekspresi yang nyaris tidak pernah ia kenal sebelumnya. Sorot matanya masih dipenuhi kehampaan, sekaligus ketidakberdayaannya. Namun Ryan tahu jika ayahnya coba menghindari tatapannya saat dia balik menatapnya. Seakan dia yang tidak pernah mengetahuinya. Bahkan dia bisa melihat tangannya yang bergetar saat ia berpura-pura memainkan remot televisi di tangannya.


Dia tahu ayahnya tengah mencari cara untuk mengatakan sesuatu. Apa pun itu untuk membuatnya bertahan sejenak. Yang selama itu menyita pikirannya. Yang ia tidak bisa mengatakannya sendiri.


Dan matanya terus menatap Ryan seakan ia yang takkan pernah melihatnya lagi untuk selamanya. Namun justru Ryan lah yang kelak akan benar-benar kehilangannya.

__ADS_1


__ADS_2