
Dia tidak tahu harus berbuat apa kemudian. Tidak saat emosinya sedang buruk. Bahkan sekedar bicara sudah terasa menyakitkan. Semua yang ia inginkan adalah menyendiri dari dunia ini. Menjadi tidak terlihat. Karena yang ia rasakan sekarang, sepertinya bukan lagi persoalan sakit hati. Melainkan juga aib. Dikhianati oleh wanita yang sangat ia cintai di hadapan teman-temannya, menerima kenyataan bahwa ia akan dinikahi orang lain, tentu saja merupakan jalan terbaik menuju depresi. Dan masih, dia tetap menunggu penjelasannya di sana. Kenyataan yang takkan ia dapatkan dengan mudah. Yang jawabannya tidak akan pernah datang hingga mereka benar-benar bertemu.
Pada akhirnya di hari minggu, tepat enam hari sebelum pernikahan Sarah kemudian berlangsung, Ryan sengaja menunggunya di tempat pertemuan mereka yang terakhir. Di tempat yang sama di saat Sarah mengajaknya ke tepian sungai waktu itu. Dia juga memilihkan lokasi yang persis sama untuknya. Tepat di bawah pohon akasia besar dengan satu bangku panjang tepat di bawahnya.
Siang baru saja berlalu, dan langit tidak lagi cerah seperti beberapa saat sebelumnya. Suhu udara mungkin sekitaran 26 derajat Celcius. Meski hujan takkan turun saat itu juga. Bahkan dia tidak perlu menantinya hingga setengah jam atau lebih. Ryan tahu jika ini adalah tempat yang buruk bagi mereka berdua, dan waktu yang buruk pula jika Sarah memutuskan datang, namun semua akan menjadi semakin terang dari sini. Meski ini yang akan jadi akhir dari kebersamaan mereka.
Namun di sanalah dia sekarang. Seorang wanita dengan rambut hitam sebahu. Kali ini dengan sedikit riasan di wajahnya. Kulitnya bahkan terlihat lebih segar dari yang sebelumnya pernah ia lihat. Ia bisa merasakan aroma wewangian dari tubuhnya sesaat mereka dekat. Seakan dia yang baru saja menjalani perawatan tertentu. Mungkin perawatan pra-pernikahan. Kenyataan itu tiba-tiba saja membuat hatinya terasa berat. Dan jarak yang sebelumnya sempat menyusut di antara mereka tiba-tiba saja serasa melebar kembali.
Tak seorang pun di antara mereka segera bicara saat mereka kembali bertatap muka. Untuk sesaat, semua terasa tidak masuk akal sekarang, tak terasa pantas. Jelas sekali jika pertemuan ini tidak seharusnya terjadi. Semua kenyataan itu tiba-tiba saja membuatnya tersadar, jika sekarang mereka hanyalah orang asing layaknya sedia kala.
“Hai… Sarah,” ucapnya akhirnya. Dan untuk pertama kalinya saat ia mendengar suaranya, sepertinya Sarah juga tidak tahu bagaimana caranya bersikap. “Aku minta maaf karena memintamu bertemu seperti ini. Aku tahu kamu sangat sibuk, tapi aku sangat berterima kasih karena kamu mau mempertimbangkannya. Ini sangat penting untukku. Kau pasti mengerti maksudku kan?”
Sarah hanya memandangnya sekilas, dan tidak memberi jawaban, sebelum memandang ke bawah lagi. Jelas sekali sedang berusaha menenangkan emosi yang saat itu tengah bergejolak, meski semua itu juga sebetulnya takkan berpengaruh. Namun Ryan tahu, ia hanya ingin menyelesaikannya secepat mungkin. Bahkan setelah kata-kata terakhirnya pun, Sarah juga masih belum mengatakan apa pun. Ryan lalu mulai duduk. Sementara Sarah mulai mengikutinya.
“Jadi itu benar?” Tanyanya, langsung ke pokok persoalaan. “Setelah hari ini, kita tidak akan bisa bertemu lagi? Maksudku secara leluasa.”
“Ya…, ku rasa begitu.”
Tambah sakit hatinya mendengar itu. Dan tanpa melihat ke arahnya pun, Sarah sudah tahu seperti apa responnya. Saat ia bertanya, “Kenapa?”
“Aku tidak pernah tahu alasannya, Sarah. Aku ingin mendengarnya langsung darimu. Kau melewatkan sebagian besar waktumu bersamaku, kau membuatku berjanji untuk membuatmu bahagia, tapi sekarang, kau tiba-tiba menikah dengan orang lain. Apa kau telah merencakan semuanya?” Sambungnya.
Dia bisa merasakan kata-katanya sejenak melayang di udara, sementara membayangkan Sarah bagaimana akan menjawabnya. Tapi sekali lagi, ia tidak juga memberi respon yang selama ini ia butuhkan. Dan dia bisa melihat Sarah melipat bibirnya kemudian. Sebelum menggelengkan kepala.
“Aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya, Ryan. Ini tidak seperti yang kau pikirkan! Semua tiba-tiba menjadi rumit seperti ini.” Sahutnya.
“Aku maksudmu? Kenapa kau tidak berterus terang saja padaku? Kenapa kau tidak mengatakannya dengan bahasa yang mudah ku mengerti? Apa ayahmu yang membuatmu sampai harus melakukan ini?”
“Tidak. Ayahku tidak ada hubungannya dengan ini. Lagipula ini bukan tentang berterus terang, Ryan…” Sahutnya lagi dalam nada kecil. Namun Ryan sudah terlalu kecewa saat tahu dia masih coba menyembunyikan kenyataannya. Seakan ia yang berusaha menghindar. Dan matanya terus menatap ke bawah, hingga ia melanjutkan lagi.
“Maksudku, kau telah salah memahamiku sejak awal. Kita tidak pernah ada hubungan apa pun. Kita hanya berteman...” Sambungnya, kali ini dengan menatap matanya. Yang seketika saja membuat pikirannya terguncang.
Ryan menarik dirinya ke belakang, tiba-tiba perlu waktu untuk menjernihkan pikiran sejenak, dan juga sedikit jarak. Rupanya seperti itulah dirinya di hadapannya. Jika semua kedekatan yang selama mereka mainkan tidak lebih dari sekedar sandiwara.
“Bagaimana bisa kau bicara seperti itu?” Lalu sahutnya. Hampir tak bisa menahan dirinya lagi.
“Itu hanya… Kita memang tidak pernah lebih daripada itu kan? Kau tahu, selama ini aku berteman dengan siapa pun. Dan ini tidak seperti kami berkencan atau semacamnya, tapi kami memang sudah berteman akrab sejak lama. Hingga akhirnya dia melamarku…”
“Dan kau menerimanya begitu saja?”
Sarah kembali tidak menyahut. Namun Ryan tahu ia akan mengatakan ya. Dan dia kembali melanjutkan. “Aku mengerti sekarang.” Ujarnya, dan lagi dia mengangguk. “Jadi seperti itulah ternyata, semua ini artinya untukmu. Kau hanya bermain-main dengan semua pria yang ada di sekelilingmu, tapi setelah kau mendapat apa yang kau inginkan, kau pergi begitu saja? Itu kah yang selama ini kau rencanakan…”
“Tidak…,”
“Lalu kenapa Sarah? Kenapa semuanya tiba-tiba terjadi? Kenapa kau tidak pernah mengatakannya sejak awal? Apa itu benar-benar cerita yang sebenarnya?”
Kali ini dia mulai menekankan suaranya pada ucapannya. Dan untuk pertama kalinya sejak mereka berada di sana, Sarah mulai terlihat menyeriuskan perhatiannya. Membuatnya terlihat berpikir sekali untuk menjawab. Meski di waktu yang sesingkat itu pula, entah mengapa, Ryan melihatnya seperti ingin menangis.
Dan di situlah dia mengerti jika ada yang tengah membebani pikirannya sekarang. Hal-hal yang juga membuatnya sakit hati. Dan dia tidak bisa terus mendesaknya tanpa tidak membuat perasaannya semakin terluka. Karena itulah dia coba mengubah pembicaraannya dengan cara yang lebih halus lagi.
“Dengar Sarah, aku bisa melihat itu berat bagimu? Dan aku juga tahu jika kau merasa terbebani dengan itu semua. Tapi… maksudku, jika ini terjadi karena kau yang harus memaksakan perasaanmu, mungkin aku bisa membantu. Kita bisa mencari jalan keluarnya bersama. Aku janji.” Ujarnya padanya. Berusaha agar nadanya terdengar seyakin mungkin. “Pernikahanmu? Kau tidak melakukannya karena kau akan Bahagia, kan?” Lalu sambungnya lagi.
__ADS_1
Sejujurnya, hanya itulah yang terlintas di pikirannya. Dan satu-satunya alasannya tentu saja karena ayahnya lagi. Terlebih setelah melihat sikap ayahnya belakangan. Kenyataan itu menjadikannya terlihat lebih masuk akal.
Ada jeda sebelum ia bicara lagi. “Tidak. Aku melakukan ini karena keputusanku?”
“Lalu apa maksud dari semua ini?” Balasnya lembut, kembali menuntutnya. “Kenapa kau bicara seolah-olah tidak ada yang perlu dikhawatirkan dari kita? Kenapa kau bisa bersikap setenang ini? Apa kau memang berniat mempermainkanku sejak awal…?”
Situasinya jadi lebih emosional sekarang. Dan Ryan bisa melihat matanya memerah saat Sarah balik menatapnya. Yang kadang juga berisi..., penyesalan mungkin? Yang ia tidak bisa menjelaskan.
“Karena kau akan segera membenciku.” Lalu ia menyahut. “Aku tahu itu. Dan aku tidak ingin kita bermusuhan. Aku tidak ingin kau tidak mau bicara lagi padaku. Aku tidak ingin hubungan kita rusak karena semua ini. Maksudku persahabatan kita…”
Jawaban itu terdengar menyakitkan. Dan dia tidak yakin jawaban itu benar-benar menjawab semua pertanyaan yang ia ajukan padanya. Meski untuk beberapa alasan ucapan tersebut ada benarnya.
Namun kali ini Ryan yang tidak langsung menjawab. Seketika saja membuatnya tanpa sadar berdiri. Membuat Sarah tiba-tiba balik menatapnya.
“Itu tidak selalu terjadi seperti itu…” Ujarnya, saat dia bisa bicara lagi. “Kau tahu seperti apa perasaanku, kan? Bukan kah kau sendiri yang membuatku seperti ini, Sarah… Menyukaimu. Apa kau mengerti dengan apa yang kau katakan? Kita telah terlibat terlalu jauh sekarang. Dan kita tidak punya alasan untuk melepasnya begitu saja, kan? Apa yang kita miliki terlalu indah untuk dilupakan. Aku tidak bisa membayangkanmu menjalani hidupmu bersama orang lain.”
Sekilas, dia masih melihat keraguan dari sinar matanya. Mata yang lembut, yang ia harap bisa menatapnya seumur hidup. Dan dia takkan ragu lagi untuk membuat semua keraguan itu hilang. Kemudian sekali lagi, dia masih berusaha untuk membuatnya bahagia. Dengan mengambil apa yang saat itu mengganjal hati dan pikirannya.
“Maafkan aku karena terus mendesakmu, Sarah.” Ujarnya, sekali lagi memulai. “Aku tahu aku membuatmu tidak nyaman. Tapi semua ini karena aku benar-benar takut kehilanganmu, sungguh. Aku hanya ingin kita hidup berdua. Tiada lain yang ku inginkan selain menjalani sisa hidup bersamamu. Aku bahkan sudah sering mengatakannya, bukan? Kaulah satu-satunya yang ku inginkan. Aku tahu aku bukanlah pria yang baik sebelum ini, namun aku benar-benar berubah sekarang. Kau lah yang mengubahku seperti ini. Aku tidak peduli pada apa yang akan orang katakan nanti, dan aku berjanji untuk membuatmu selalu bahagia. Namun aku butuh jawabanmu. Jadi, maukah kau mempertimbangkannya sekali lagi untukku?” Ujarnya lembut. Kata-kata yang muncul lewat hatinya terdalam.
Namun entah mengapa, Ryan masih merasa itu belum cukup. Dia lalu merendahkan badannya di hadapannya, meletakkan kedua tangannya di bahunya, membuat keduanya saling bertatapan. Bahkan dia bisa melihat cahaya sore membias di sinar matanya yang indah.
“Sarah, bisakah kita berjanji untuk terus berkata jujur mulai dari sekarang. Kau dan aku. Aku takkan kecewa. Apa pun yang kau katakan.” Lanjutnya, sebelum dia bertanya lagi. “Apa benar pernikahanmu sekarang adalah keinginanmu, Sarah? Maksudku, kau tidak melakukannya karena terpaksa kan?”
Ia menunggu sebentar sebelum menjawab lagi. Bahkan masih nampak kesulitan dengan kata-katanya sendiri. “Tidak,” tapi sahutnya getir.
“Kau yakin dengan ucapanmu? Aku bisa membantumu kalau kau mau. Aku takkan lari begitu saja. Kau tahu kan, selagi waktu itu masih ada?”
“Ya,” sahutnya. “Maksudku ya dan tidak. Pernikahan ini, ini benar-benar pilihanku. Dan aku tidak bisa membatalkannya lagi.”
Kepalanya tersentak. Dan dia mulai berdiri, seketika saja perlu sedikit jarak. Hingga ia bisa bicara lagi.
“Baiklah. Aku mengerti sekarang.” Sahutnya, berhenti sebentar, kemudian mengangguk. “Jadi seperti itulah selama ini artinya aku untukmu. Kau sengaja mencari kesenangan dengan semua pria di sekitarmu, menebar pesonamu, dan setelah sebagian dari mereka tergugah perasaannya, kau mengambil apapun yang kau suka, lalu pergi begitu saja…” Sahutnya akhirnya, hampir tak bisa menahan dirinya lagi.
Dan Sarah sedikit terkejut menanggapi responnya.
“Tidak,” lalu sahutnya.
“Jangan berbohong padaku…,” kali ini setengah berteriak.
“Aku tidak berbohong.”
“Tapi buktinya begitu kan? Bagaimana kau menghindarinya sekarang? Aku tahu kau sengaja mencari kesenangan dari sana. Dari semua orang yang pernah dekat denganmu. Dan kau terlihat menikmati semua ini, kan? Itu bahkan tidaak menjadi beban untukmu sedikit pun. Aku bisa melihatmu sekarang. Kau hanya lihai berpura-pura.”
Sarah kembali menggeleng. “Aku tidak pernah bermaksud begitu, Ryan...” Sahutnya, nadanya melemah.
“Lalu apa?” Sekarang ia kembali membentak. Baru kali ini dia menaikkan nada bicaranya. Tapi terlambat untuk bisa berhenti. “Jika tidak, ini pasti ada karena ayahmu, kan? Aku tahu dia yang memaksamu…” Lanjutnya lagi.
“Ini tidak ada hubungannya dengan ayahku, Ryan…”
“Tapi alasannya masuk akal, kan?” Balasnya, dan dia tersenyum remeh. “Biar ku katakan padamu, Sarah! Ayahmu, dia bahkan tidak pernah menyukaiku. Karena itulah dia tidak pernah menunjukkan kesenangannya saat kita bersama... Semua ini benar-benar konyol…”
__ADS_1
“Jangan katakan apapun tentang ayahku, Ryan…!” Balas Sarah sekarang. Dan dia mulai gusar.
Sementara Ryan masih melanjutkan. Dan rasanya memang lebih mudah meluapkannya, saat dia benar-benar kecewa.
“Satu-satunya alasan yang paling masuk akal adalah dia yang hanya mengikuti keinginannya sendiri… Yang bahkan tidak menghargai perasaanmu sedikit pun. Jika bukan karena itu, lalu untuk alasan apa lagi?”
“Hentikan…!”
“Aku tahu kau pasti berpihak padanya. Tapi kau harusnya tahu, semua orang bahkan tidak pernah ada yang menyukainya. Ada apa dengan tempat menyedihkan ini? Kenapa semua pemikiran primitif masih ada di sini?” Akhirnya ia mengatakannya. Dan nadanya benar-benar menyakitkan.
Tapi inilah sumber dari segalanya, semua kekesalan yang telah lama ia pendam. Tentang tempat ini, semua masalah yang ia hadapi, yang sebetulnya tidak ada kaitannya dengan Sarah. Ryan tahu dia telah bertindak terlalu jauh. Dan ia juga merasa tidak pantas saat terus menekan perasaannya seperti ini. Yang menjadikan situasinya semakin memburuk. Yang dia tidak bisa menarik kata-katanya lagi.
Pada akhirnya Sarah tiba-tiba bangkit kemudian, dan mulai mengikuti kemarahannya. Sebelum mendorongnya dengan sekuat tenaganya.
“Jangan bicara seenaknya tentang ayahku!” Ujarnya. Meninggikan volume suaranya. “Kau tidak tahu apapun tentang dia! Sudah ku katakan bukan, dia tidak hubungannya dengan ini…?”
“Aku hanya mengatakannya,” sahutnya ketus. Dan Sarah segera memotongnya dengan gelengan kepala.
“Tidak… tidak… Kau tidak tahu apa pun tentang dia. Kau juga tidak tahu apa pun tentangku. Kau sudah salah paham sejak awal. Dengar Ryan! Aku mau menikah dengan siapa pun itu keputusanku. Tidak ada seorang pun yang bisa memaksakan kehendakku. Dan kau jangan salah paham tentang hubungan kita, kita tidak pernah punya hubungan apa pun. Kita hanya teman… Sudah ku katakan bukan, sebelumnya?”
Ia menghela nafasnya lagi, sebelum melanjutkan.
“Dan kau juga harus tahu, jangan hanya karena seseorang menghabiskan waktunya bersamamu, atau ingin bicara padamu, atau bahkan sedikit peduli padamu, lantas kau menganggapnya menyukaimu. Aku bahkan tidak pernah memberimu kesempatan apa pun. Kau saja yang telah salah paham sejak awal!” Sahutnya, untuk terakhir kalinya.
Dan lagi, kata-katanya terasa menyakitkan. Dia merasakan ketegangan pada otot-otot rahangnya. Dan hampir saja dia melampiaskan kemarahannya sekarang, sebelum kembali bisa mengendalikan diri. Sebagian dirinya masih tidak percaya kalau Sarah mengatakan yang sebenarnya. Tapi tidak ada cara untuk mengoreknya lebih jauh. Yang membuatnya terdiam seribu bahasa.
“Lalu kenapa kau tidak mengatakannya sejak awal?” Sahutnya, nada suaranya perlahan melemah.
“Karena kau tidak akan siap menerima semua itu. Aku tidak ingin kau membenciku. Aku hanya ingin kita terus berteman. Kau sudah mengerti aku sekarang, kan?”
Kalimatnya kembali memukulnya. Bahkan dia masih bisa merasakan kata-katanya yang seakan tergantung di langit-langit mulutnya. Yang dia tidak bisa mengatakannya lagi. Sebab entah mengapa, semuanya tiba-tiba berasa lebih masuk akal. Kebaikannya, perhatiannya, semua waktu yang rela ia luangkan agar bisa berdua, semua kedekatan tersebut ternyata tak lebih dari sekedar sandiwara. Untuk sesaat, dia mulai memahami apa yang terjadi. Semua pemahaman itu bahkan bisa menjelaskan tentang bagaimana ia bisa terlibat hingga sejauh ini. Sebagian dirinya yang lain masih mengatakan jika ia mungkin juga merasa bersalah karena membuatnya tiba-tiba menyukainya, dan tak tahu harus melakukan apa lagi. Selain hanya mengikuti alur untuk menjaga perasannya lebih lama lagi. Tapi justru pemahaman semacam itulah yang membuatnya semakin benci.
Dia hanya ingin pergi dari sana sekarang. Menjauh darinya. Apa pun itu agar tidak melihatnya di sini. Tapi bukannya bangkit, dia bahkan tidak pernah menggeser posisinya sedikit pun. Semua kenyataan baru itu tiba-tiba saja membuat tubuhnya serasa begitu berat. Dan dia bahkan tidak bisa melakukan apa pun lagi selain menunggu hingga keheningan tersebut benar-benar berhenti.
“Ya, aku mengerti sekarang.” Pada akhirnya hanya itu yang ia katakan.
Sarah sejenak mengamatinya untuk kata-katanya yang terakhir. Seakan mencernanya di sana. Tapi ia juga tidak menambahkan apa pun. Kenyataan, jika tahun itu adalah tahun terburuk untuk perasaannya, Ryan takkan menyangkalnya. Setahun berlalu, itulah waktu yang ia perlukan untuk mengenalnya. Dan butuh enam bulan lagi dalam hidup untuk mencintainya. Namun sekarang, dia bahkan akan segera kehilangannya kurang dari seminggu lagi. Dia tidak tahu apakah ini semacam karma. Atas apa yang ia lakukan pada keluarganya. Tapi entahlah. Lagipula sebanyak apa pun ia memikirkan itu, dia takkan pernah mengubah kenyataan yang akan terjadi di depan mereka.
Dan dia segera merasakan udara dingin yang berhembus di antara kaki-kaki mereka sekarang. Dahan-dahan yang dideru angin juga semakin terdengar keras. Bahkan air sungai mulai sedikit meninggikan gelombangnya sekarang. Langit jingga perlahan menyala dari sebelah Barat. Sementara awan hitam yang sejak tadi berdatangan mulai semakin menebal.
Tiga bulan yang lalu, benar-benar masih ia ingat dengan jelas seperti apa perasaannya di sana pada masa-masa itu. Saat mereka menghabiskan waktu di tempat itu berdua. Waktu berikut suasana alamnya, semuanya sama sekali tidak berbeda dari yang sebelumnya pernah ia ingat. Terkecuali perasaannya di kedua waktu tersebut. Dan mengingatnya sekarang tiba-tiba membuat dunianya seketika berubah hampa.
Jauh di lubuk hatinya, Ryan selalu berharap agar Sarah mengiyakan pertanyaannya. Saat dia menanyakan apakah ia yang melakukannya karena terpaksa. Sepertinya itu jauh lebih baik daripada selamanya dipermainkan, dikhinati. Bahkan jika yang dikatakannya adalah kebohongan. Tapi inilah yang ia dapatkan. Dan dia tak bisa mengharapkannya lebih.
“Maafkan aku, Ryan. Aku… aku juga ikut menyesal.” Ujarnya lagi, tiba-tiba memecah keheningan di antara mereka. “Aku mengerti kau akan membenciku, aku takkan menyalahkanmu. Tapi ini benar-benar di luar kendali kita bersama.” Suaranya terdengar serak dan rapuh. “Ku kira aku memang tidak cukup baik untukmu. Dan kau pasti akan mendapat wanita yang jauh lebih baik lagi. Maafkan aku. Sungguh.”
Ryan tidak membalas ucapannya, untuk kata-katanya yang terakhir. Kemarahan, kebencian, dan dia punya begitu banyak alasan untuk membencinya sepanjang waktu. Meski untuk saat yang paling menyakitkan itu pun juga, dia masih belum bisa menghapus perasaan cinta itu untuknya.
“Aku harus pergi, Ryan. Kau tahu kan, aku tidak seharusnya di sini? Dan…,” ia lalu berhenti. “Kau juga tidak perlu memaafkanku jika itu berat bagimu. Tapi sekali lagi ku katakan, aku benar-benar sangat menyesal.”
Dan akhirnya, dia benar-benar pergi sekarang. Tidak untuk kembali lagi. Sebagian dirinya masih ingin memanggilnya di saat ia mulai jauh. Namun dia hanya bisa meneriakkannya di dalam kepalanya sendiri. Jadi beginilah saat cerita mereka harus berakhir. Bersamaan hujan yang mulai turun dari langit. Yang untuk sejumlah alasan, hujan ini seakan takkan pernah berhenti.
__ADS_1
Selamanya.