Sekeping Kenangan

Sekeping Kenangan
Storia 11 : Ulang Tahun


__ADS_3

Aku tahu aku telah menyerahkan sepenuh hatiku kepada Sarah. Dengan harapan ia juga melakukan hal yang sama terhadapku. Bahkan aku telah menyusun banyak jadwal untuk bisa bertemu. Aku mengusahakan diriku untuk terus berada di dalam kontak. Sebisa yang ku lakukan. Karena aku yang memang harus menjalani separuh waktuku di tempat yang aku takkan bisa menghubunginya bukan? Jadi karena itulah kemudian setidaknya sekali dalam sepekan aku akan menyelinap diam-diam ke Welmina. Dan kesemuanya hanya untuk mengiriminya salam atau bertanya kabarnya. Seraya menghitung mundur kapan waktu bertemu itu tiba.


Kemudian di saat kami akhirnya bisa bertatap muka kembali, aku tidak bisa menahan diriku untuk tidak bersikap lebih antusias lagi. Aku akan banyak bercerita tentang apa yang ku lalui selama beberapa hari terakhir. Kejadian apa saja yang mungkin menarik di sana. Bahkan tidak jarang aku akan bercerita tentang berapa banyak pasien yang ku tangani selama itu, atau mengapa pekerjaan lapangan jauh lebih menantang daripada bekerja di atas meja, atau cerita tentang penjelajahan hutan pertamaku. Tentang bagaimana menjadi bagian dari kehidupan setempat. Aku tahu aku sangat bodoh dengan apa yang ku lakukan. Namun aku tak tahu apa lagi yang mungkin berguna bagi kami. Satu-satunya yang ku pahami adalah aku yang harus tetap membuatnya terkesan. Dengan melibatkan bagian yang ia sukai, dengan menjadikan diriku sebagai bagian dari dunianya. Sifat dasar dari alam, sensasi dari hidup di dalamnya. Inilah poin utama yang harus ku perhatikan secara menyeluruh.


Aku tahu aku mungkin telah menyeret diriku sendiri untuk mengikuti kemauannya. Tapi jujur saja, jika aku sudah menemukan kesempatan yang tepat, ku rasa aku takkan ragu lagi untuk menarik dirinya mengikuti cara hidupku. Mungkin terdengar egois saat aku menjejalkan pikiranku secara paksa. Tapi semua itu ku lakukan demi hubungan yang lebih baik lagi di antara kami bukan?


Tapi sekali lagi, aku perlahan merasa ada yang berbeda dari cara Sarah memperlakukanku belakangan ini. Ia tiba-tiba menjadi seorang gadis seperti yang tidak pernah ku kenal sebelumnya. Dia yang dulu adalah orang yang paling aktif bicara di antara kami, sekarang tiba-tiba saja berubah pendiam. Di mana dia mulai bisa menyikapi kebersamaan kami secara pasif. Bahkan aku tidak bisa melihat sikapnya yang penuh dengan rasa antusias lagi sekarang. Meski ini adalah pertama kalinya sejak aku menyadarinya. Kemudian sebagai tambahan pula, jika ia juga tidak pernah menyempatkan dirinya lagi untuk mampir ke rumahku seperti dulu. Ia tidak pernah memasakkan sesuatu untukku, atau berinisiatif untuk sekedar duduk di dekatku. Itulah kenyataan pertama yang tiba-tiba ku pahami. Yang menjadikannya seperti kebiasaan lama yang tiba-tiba hilang.


Tapi tentu saja aku tak pernah berharap lebih. Hanya saja, saat dua orang saling mencintai, ku rasa hal-hal yang memicu kedekatan, sesuatu yang lebih romantis, harusnya lebih sering terjadi bukan? Aku tahu aku tidak bisa menyalahkannya atas semuanya. Akan sangat salah jika aku melakukan itu. Karena hingga saat itu pun, aku masih belum pernah menunjukkan kemesraanku tepat di hadapannya. Aku tidak pernah menggandeng tangannya, atau bahkan berkeinginan untuk itu. Satu-satunya yang ku lakukan sepertinya hanya duduk berdua atau sekedar bicara, itu saja. Yang jelas sekali masih belum cukup untuk membuktikan seluruh perasaanku untuknya.


Sebagian diriku masih mengatakan jika aku akan memperbaikinya di saat kesempatan itu ada. Namun berapa banyak sudah yang ia beri untukku. Sementara waktuku yang tersisa semakin terasa sempit. Dan di samping semua perkara di atas, ia juga tidak pernah membatasi pergaulannya dengan orang lain. Aku mungkin bisa memberi toleran pada yang lain, tapi pada Randy, yang jelas-jelas menaruh harapan besar padanya. Sekali, aku melihat Randy memegang erat tangannya, sementara Sarah juga sepertinya tidak merasa terganggu sedikit pun. Bahkan cukup lama ia melemparkan kata rayuannya di sana, yang sebetulnya sedikit membuatku muak. Aku tahu aku cemburu. Lagipula siapa yang tidak. Maksudku, jika ia benar-benar mencintaiku, dan benar seperti yang selama ini ku harapkan, harusnya ia bisa menjaga perasaanku itu untuknya bukan? Terlebih ia sudah sangat tahu seperti apa perasaanku selama ini untuknya. Hanya saja, aku memang belum punya kuasa penuh untuk menghentikan itu.


Dasar pemikiran itu, sebetulnya terbentuk dari kenyataan sederhana. Maksudku, memang benar jika aku telah mengungkap seluruh perasaanku, namun belum ada kepastian jika Sarah benar-benar menerimaku apa adanya bukan? Jadi hal inilah yang membuatnya masih bebas pergi ke mana pun yang ia mau. Lagipula cinta bukan hanya tentang perasaan semata, melainkan juga tentang ucapan dan janji. Namun Sarah selalu sedikit lebih tua dariku di saat semua itu terjadi. Aku baru berusia 25 tahun dan dia hampir 26. Tapi dari sanalah ceritanya akan segera berubah mulai dari sekarang.


Untuk ini aku sangat tahu jika waktu berjalan begitu cepat. Dan ini sudah hampir sepuluh bulan sejak pertama kali aku mengenalnya, meski aku baru merasakan cintaku untuknya selama lima bulan terakhir. Aku masih berusaha untuknya, dan itu tentu saja melebihi apa yang bisa ku lakukan. Bahkan aku tidak hanya sekedar mengajaknya jalan-jalan atau sekedar makan malam. Akan akan selalu meneleponnya tepat pukul delapan malam di setiap hari, kemudian coba menemukan tanda kerinduan dari nada suaranya. Apa ia benar-benar menantikan teleponku, apa ia juga menikmatinya saat bisa mendengar suaraku. Pada awalnya, aku tahu ia hampir selalu ada di saat aku menghubunginya. Tapi di beberapa kali di kesempatan yang lain, ia hanya membiarkan teleponku tak terjawab. Aku tahu jika ia bisa melihat panggilanku. Mengingat catatan itu tentu ada di tampilan layar ponselnya. Namun ia tidak melakukan apa pun untuk balik menghubungiku atau sekedar berniat untuk itu. Bahkan hingga beberapa hari berlalu.


Aku tahu aku tidak bisa menyembunyikan kemarahanku dari diriku sendiri. Karena aku yang tidak merasa dipentingkan lagi sekarang. Bahkan mungkin aku bisa menanyakan alasannya saat kami bertemu di hari-hari berikutnya. Sekaligus menyampaikan kegelisahanku. Namun aku tidak juga melakukan itu. Dan memilih untuk memendamnya demi diriku sendiri.


Tapi di suatu hari, saat aku tengah berkumpul bersama teman-temanku, aku melihat Sarah yang hanya duduk diam di ruang kerjanya. Kursi kerjanya model kursi kantor yang bisa diputar. Yang juga bisa ditinggikan sesuai dengan keinginan. Ia meletakkan kedua tangannya di atas meja, sedang wajahnya menghadap ke luar jendela, terus memandang ke kejauhan. Aku tahu jika ini tidak biasanya saat ia tiba-tiba begini. Karena itulah aku masuk ke ruangannya, dan memilih duduk tepat di sebelahnya. Aku bisa merasakan hangat lengannya yang tanpa sengaja bersentuhan dengan ujung lenganku. Ia menatapku sejenak kemudian tersenyum lembut padaku. Sebelum kami terhanyut lagi dalam keheningan.


"Ada apa denganmu?"


"Apa maksudmu?"


"Kau pendiam sekali hari ini?"


"Aku tidak apa-apa. Sungguh."


Aku melihat ke arahnya saat ia mengatakan itu. Memastikan ia mengatakan yang sebenarnya. Meski diriku yang lain seakan mengingatkanku bahwa memang ada yang tengah ia sembunyikan.


"Aku pernah mendengarnya sebetulnya," lalu ujarku. Membuatnya kembali menatapku. "Di suatu artikel. Maksudku, saat seseorang ditanyakan ada apa namun ia menjawab tidak apa, berarti itu ada sesuatu. Aku hanya tahu jika kau tidak ingin mengatakannya padaku."


Sekarang ia tersenyum. "Aku tidak tahu. Menurutmu apa yang sedang ku pikirkan?" Sahutnya. "Dan kenapa pula kau memilih datang kemari?" Lalu sambungnya lagi.


"Entahlah. Aku hanya melihat kau sendirian, dan itu tidak biasa. Jadi ku pikir aku harus menemuimu."


Dia masih tersenyum. "Tidak ada. Hanya urusan pekerjaan." Lalu sahutnya.


"Oh. Ku kira karena pekerjaan yang terlalu banyak hari ini..."


"Tidak juga,"


Ada jeda sebentar sebelum aku bicara lagi. "Apa ayahmu yang menekanmu untuk mengerjakan pekerjaan yang tidak kau sukai?" Kembali tanyaku.


Dan sejujurnya, aku hanya menebak sekaligus bermaksud bercanda padanya. Meski pada kenyataannya semua itu adalah benar. Bagaimana pun juga, pekerjaan kami bukan hanya sekedar kewajiban yang perlu dilakukan di luar kantor semata. Tetapi juga memang ada beberapa hal yang harus dilakukan di atas meja. Yang berarti akan ada lebih banyak banyak laporan dan juga setumpukan kertas. Sementara Otto sendiri adalah orang yang mudah cemas menghadapi persoalan semacam itu. Semua orang tahu itu adalah sifatnya. Dan tidak jarang justru ia arahkan ke orang lain. Ku pikir Sarah juga bukan pengecualian.


Kemudian ia mulai bergumam. "Hanya persoalan kantor. Tapi seperti yang ku bilang, bukan masalah besar juga. Maksudku..., kau tahu kan, pekerjaan kita dituntut untuk sempurna. Tapi ayahku memang bukan orang yang mudah mengerti. Tadi pagi, dia bahkan baru saja menghentikan kontrak kerja dengan gudang farmasi. Padahal dia tahu sendiri persediaan obat-obatan kita tidak pernah cukup. Jadi bagaimana lagi aku melaporkan persediaan obat-obatan. Pada akhirnya nanti aku juga yang dia salahkan."


Aku sedikit tertawa. Tahu jika tebakanku benar. "Ya, akhirnya kebenaran terungkap sekarang." Sahutku, tanpa serius menjawab. Namun Sarah hanya terdiam. Dan kami duduk lagi dalam keheningan selama beberapa saat.


"Bicaralah Sarah!"


"Apa maksudmu?"

__ADS_1


"Bicara saja. Maksudku..., kau lebih banyak diam akhir-akhir ini."


Ia lalu bergumam. "Aku tidak tahu," sahutnya. "Jadi apa yang harus ku bicarakan menurutmu?"


"Um..., bagaimana kalau percintaan. Kau mengatakan pernah jatuh cinta kan? Kalau kau tidak keberatan."


"Aku...?" Ia bergumam lagi. "Ku rasa kamu yang harus bicara dulu." Lalu ia tertawa.


Aku bahkan tidak tahu ia akan bertanya seperti itu.


"Baiklah..., jadi apa yang ingin kau ketahui?"


"Semuanya. Um..., bagaimana kalian bertemu?" Lalu ujarnya.


"Maksudmu mantan terakhirku?" Aku balik bertanya dan ia mengangguk. "Kami berkenalan melalui chatting. Sebelum akhirnya bertemu beberapa minggu kemudian. Ku kira aku menyukainya, dan ia juga merasakan hal yang sama terhadapku. Jadi dari sanalah semua berawal."


Ada jeda sebelum ia bicara lagi. "Jadi seperti apa dia? Dan... siapa namanya? Jika kau tidak keberatan."


Aku suka saat pembicaraan terus begini.


Aku lalu menatapnya. Butuh kehati-hatian dalam melakukan itu. Bukan hanya karena perempuan tidak suka dibandingkan, tapi juga untuk menjaga perasaan Sarah terhadapku. Terutama setelah ia sangat tahu bagaimana perasaanku.


"Maria namanya. Menurutku, dia adalah tipe wanita yang mudah disukai oleh kebanyakan pria." Aku masih menatapnya saat aku berhenti. "Kau ingin aku mendeskripsikannya?"


"Lanjutkan..." Ia terlihat lucu. Membuatku ikut tertawa pula.


"Dia cantik, sexy, ehm... tidak seperti yang kau bayangkan. Maksudku, dia menyenangkan saat dilihat. Dia pintar, dan juga berwawasan ke depan."


"Ya. Dia selalu membuat daftar panjang untuk rencana ke depannya. Kau tahu kan, apapun yang kita lakukan sekarang adalah persiapan agar hidup semakin baik. Ia membuat banyak pertimbangan tentang karir, tempat tinggal, dan tentu waktu bersamaku. Ku rasa karena itulah ia meninggalkanku. Kau tahu, karena aku yang mungkin terjebak di sini selamanya. Menurutku, ia memang sudah sangat cerdas dengan pemikiran tersebut."


Ia menyandarkan badannya sebentar, meluruskan kakinya lagi, sebelum menyembunyikannya di bawah meja. Namun tidak mengatakan apa-apa, meski sekarang gilirannya bicara.


Jadi aku yang bertanya. "Dan kau sendiri? Bagaimana kisah percintaanmu?"


"Aku?" Ia terlihat sedikit terkejut sekarang. "Sebetulnya, aku tidak pernah punya mantan?"


Kepalaku sedikit tersentak. "Maksudmu... kau tengah bersama seseorang?" Ku kira aku tidak bisa menyembunyikan kecurigaanku dari nada bicaraku. Namun ia coba tertawa.


"Tidak, aku tidak berkata begitu." Sahutnya lembut.


"Tapi kau pernah mengatakan padaku jika kau pernah jatuh cinta kan?"


"Ya, memang benar. Tapi kami tidak pernah bersama." Sahutnya. Dan aku mengangguk tanpa tahu arah ucapannya. "Dia meninggalkanku tiba-tiba. Kemudian menikah bersama orang lain. Karena itulah sekarang aku tidak ingin berharap terlalu banyak. Kau tahu kan, untuk lebih berhati-hati? Ku rasa siapa pun tidak ingin tersakiti lebih dari sekali."


"Oh..., itu pasti menyakitkan untukmu." Lalu sahutku. "Tapi, jika seandainya kau sampai menikah, sepertinya ini akan jadi pacar pertama dan terakhirmu kan, Sarah."


"Ya, ku rasa. Tapi..." ia berhenti sebentar, seakan memikirkannya kata-kata terakhirnya. "Ku kira aku akan melaluinya tanpa pacaran sama sekali." Sambungnya lagi.


Mungkin sedikit aneh saat aku mendengar kata-kata tersebut. Tapi aku tetap menganggapnya luar biasa. Sarah memang tidak punya banyak pengalaman menghadapi pria. Ku rasa karena itulah ia memperlakukanku dengan cara berbeda. Beberapa saat kemudian, pembicaraan kembali berhenti. Dan aku kembali tersadar jika topik yang tadi adalah aku yang memulai. Jadi menurutku sekarang adalah gilirannya. Namun Sarah hanya terdiam lagi setelah ini. Sementara matanya menerawang ke kejauhan lagi.


"Kau tidak apa kan, Sarah?" Lalu tanyaku.


Namun bukannya menjawab, ia justru tersenyum. "Apa kau punya rencana masa depan?" Lalu sahutnya lagi. "Maksudku, apa yang ingin kau lakukan dalam waktu dekat. Selain ingin keluar dari sini tentu saja?"

__ADS_1


Aku sedikit tercengang mendengar pertanyaannya. Bukan hanya karena terdengar biasa. Tapi terkadang, ucapan Sarah memang sulit ditebak. Aku tahu ia sedang menilaiku di sini.


Aku lalu menarik nafasku dalam-dalam. "Manjalani hidupku bersamamu ku rasa." Sahutku, lagi-lagi tanpa serius menjawab.


Kali ini aku melihatnya tersenyum.


"Jangan bercanda!"


"Aku serius," sahutku. "Lalu untuk apa aku terus menghabiskan waktu denganmu, Sarah? Semua tidak terjadi begitu saja kan?" Sambungku pelan. Meski aku tidak menantikan responnya.


"Aku sering memikirkannya belakangan ini. Tentangmu, tentang kita. Kau ingat saat kita pulang dari air terjun sore itu. Saat kita sampai Welmina kemalaman, ku rasa dari sanalah semua berawal. Esok harinya, aku sudah berada di rumahmu. Kita bicara banyak, berikut masa depan. Dan aku mulai berani memimpikan bahwa kau lah hidupku selanjutnya. Aku hanya tidak bisa membayangkan akan bagaimana jika aku kehilanganmu, Sarah." Kembali ujarku.


Bahkan setelah mengucapkan kata-kata itu, Sarah juga tidak mengatakan apa pun. Aku tidak tahu apa yang jadi perhatiannya. Tapi bicara dengannya di sini, sepertinya seakan aku yang bicara sendiri. Sebagian diriku juga mengingatkanku jika Sarah tidak terlalu suka saat aku menyinggung perasaannya. Sesuatu yang sudah ku pahami sejak lama. Tapi ia tidak perlu bertindak sejauh itu juga bukan? Rasanya tidak benar saja untukku, tapi membangkitkan kesan romantis seakan sesuatu yang mustahil bagi kami. Aku jadi merasa serba-salah di hadapannya.


"Apa yang sedang kau pikirkan?" Ujarku akhirnya.


"Apa maksudmu?"


"Dengar Sarah, aku tidak tahu apa yang terjadi. Tapi jika ini tentang pekerjaan, aku bisa membantumu."


"Tidak ada,"


"Kau yakin tidak ingin menceritakannya padaku."


"Aku baik-baik saja. Sungguh." Sahutnya pelan.


Aku menunggunya menambahkan sesuatu hal, namun ia tidak berkata apa pun. Kemudian tiba-tiba saja aku menyadari jika Sarah tidak menginginkanku di sana. Dan membiarkan diri kami terenyak ke dalam keheningan yang tadi. Aku bahkan sudah hampir menyerah menghadapinya. Namun sebelum sempat aku memikirkan topik apa lagi untuk memancingnya bicara, Sarah kembali membawa kejutan baru lagi ke hadapan kami.


"Aku ulang tahun." Ujarnya tiba-tiba.


"Oh..," nadaku mengingatkanku jika itu bukan sesuatu yang mungkin terjadi.


"Kau tidak tahu kan? Padahal kau bilang kau menyukaiku." Lanjutnya lagi, tanpa memberiku kesempatan meresponnya.


"Bukan begitu..." Sahutku. "Aku... maksudmu dua minggu lagi kan?"


Sarah menatap mataku dalam-dalam. Seakan-akan ingin mempercayai ucapanku atau tidak.


"Aku tidak memintamu untuk melakukan apa pun. Aku hanya ingin mengatakannya saja." Ujarnya, dengan sedikit penekanan pada kata-katanya. Dan berlagak seakan tidak peduli.


"Tidak. Aku akan tetap melakukannya. Apa pun jika itu untukmu. Lagipula itu akan menyenangkan. Aku janji." Ucapku akhirnya.


Sarah menceritakan ulang tahunnya padaku, ku rasa ini membuktikan jika harapanku masih benar-benar ada. Dan meski semua orang bisa mengetahuinya dengan mudah, tapi kenyataan bahwa aku saja yang diberitahunya secara langsung membuatku menduga ada sesuatu dari caranya melakukan itu.


Sejujurnya, aku juga jadi sedikit merasa bersalah karena Sarah yang harus menyampaikannya padaku. Meski aku juga cukup beruntung karena ia tidak terlalu kecewa. Namun aku masih belum tahu apa yang harus ku lakukan.


Aku tidak pernah menghadiahkan sesuatu kepada orang lain. Bahkan untuk keluarga dekatku sendiri. Tapi kalau orang itu memang sangat berarti untukku, tentu saja aku harus mencarikannya sesuatu yang sangat berharga baginya. Sesuatu yang mungkin bisa dikenangnya sepanjang waktu. Pada awalnya, aku mungkin sempat terpikir untuk membelikannya perhiasan. Karena hanya itulah yang pertama kali terlintas di pikiranku. Tapi sesuatu di dalam diriku kembali mengingatkanku bahwa itu bukanlah pilihan yang tepat. Aku tahu Sarah selalu tampil apa adanya. Ia bahkan mengenakan make up hanya untuk menekankan sisi feminimnya, itu saja. Yang menunjukkan jika kecantikannya lebih bersifat alami. Kemudian jika ada masalah lain, sepertinya hidup di Welmina memang tidak bisa dibayangkan seperti hidup di kota-kota besar. Dan seandainya di sana juga ada yang menjual apa yang saat itu aku cari, harganya tentu saja akan sangat selangit. Tapi cinta memang bisa membuat seseorang buta akan segalanya. Satu kata sederhana namun mampu mengubah cara pandang seseorang tentang uang. Dan inilah pertama kalinya aku pernah merelakan kepentinganku sendiri.


Aku tahu aku harus meninggalkan Welmina secepat mungkin. Seraya memperhitungkan waktu yang saat itu ku miliki. 12 September, saat ia mengatakannya padaku, yang bahkan waktunya tidak sampai dua minggu lagi. Aku tidak bisa membayangkannya jika rencana ini sampai gagal. Dan itu tentu saja, demi menebus kesalahanku terdahulu. Ku rasa hanya begini lah caranya agar Sarah bisa memandangku sebagai pria yang baik. Seseorang yang bisa diandalkan. Atau paling tidak sedang menuju ke sana. Setidaknya itulah yang sebelumnya ku bayangkan.


 


 

__ADS_1


__ADS_2