Sekeping Kenangan

Sekeping Kenangan
Storia 14 : Menutup Hati


__ADS_3

Dia tidak pernah menyangka jika takdir akan membawanya kembali ke tempat masa kecilnya. Yang rasanya berlalu begitu cepat. Bahkan baru tiga tahun saja lamanya sejak dia tidak pernah datang lagi ke rumah. Namun yang paling kentara tentu saja perkembangan di sana. Saat di Welmina perubahan yang nampak hanya dirasakan oleh padang rumput yang semakin lebat, di Bandung justru semakin sesak oleh gedung-gedung yang terus berdiri. Yang seakan mengepung kehidupan kecil di sekitarnya. Namun tempat tinggalnya, tentu saja masih tetap seperti rumahnya dahulu. Kecil, kumuh, lusuh, penuh sesak dengan barang tak berharga.


Langit hampir saja gelap sesaat ia tiba. Penerangan bahkan belum dinyalakan sesampainya ia di sana. Dengan rerumputan liar yang semakin banyak menumbuhi bagian halaman. Bahkan sesaat, dia hampir saja terpikir salah alamat karena lingkungan yang tidak sepenuhnya lagi ia kenal. Namun design dari kamar tamu, kemudian tetangga sebelah yang ia lihat sepintas, membuatnya yakin dengan tujuannya. Di luar, dia terpaku sebentar sebelum mengetuk pintu. Dan memang tidak butuh waktu lama untuknya menunggu di luar. Sebelum ibunya yang kemudian membukakan pintu.


Dia tahu ibunya terkejut melihat kedatangannya, dan sama seperti keterkejutannya saat melihat penampilannya. Ia nampak tua dan lemah. Wajahnya pucat, rambutnya juga terlihat lebih tipis lagi dari yang sebelumnya ia ingat. Meski ini baru tiga tahun sejak mereka terpisah. Namun ia juga tidak mengatakan apa-apa. Bahkan nampak sekali jika ibunya tidak tahu cara memulai pembicaraan. Yang menandakan jika perpecahan itu memang masih ada. Di sini, ia menghadapi segala persoalannya seorang diri. Dan tidak tahu masalah apa lagi yang akan dibawa anaknya ke hadapannya. Namun Ryan tidak peduli.


Sebetulnya, keadaannya memang tidak terlalu canggung seperti yang ia duga sebelumnya. Dan tentu, dia juga tidak datang dengan memberikan kabar. Sepertinya memang tidak ada seorang pun yang mengharap kehadirannya di sini. Baru setelah kakaknya Yuri muncul, suasana jadi sedikit di luar kendali. Dan sama seperti ibunya, ia juga sama tercengangnya saat melihat kehadirannya di sana. Tapi kata-katanya yang keluar justru membuat seluruh hatinya meradang.


“Kenapa kembali lagi?” Gertaknya, sesaat dia berdiri di ambang pintu.


Hal pertama yang ingin ia lakukan adalah memukulkan tangannya ke arah sesuatu. Apa pun itu, untuk membuat situasinya memanas. Namun sebelum sempat ia melakukannya, ibunya segera menjadi penengah di antara mereka berdua.


“Ryan juga anak ibu, Yuri!” Ujarnya lembut. Nyaris dengan nada yang tidak pernah ia kenal sebelumnya. Ia merasa bahkan baru kali ini ibunya memanggilnya anak. Yang seketika mendinginkan emosi yang saat itu ia rasakan.


Dia juga tidak mengatakan apa pun sebagai balasan. Dan memilih melewati mereka untuk kemudian masuk ke dalam kamar. Yang ternyata keadaannya memang tidak banyak berubah sejak pertama kali kamar itu ia tinggalkan. Hanya letak perabotannya saja yang terlihat berpindah. Hati kecilnya mengatakan jika mereka mungkin masih memperuntukkannya untuk kedatangannya. Yang seakan tengah mengharap kehadirannya di sana. Meski pemahaman itu juga pada kenyataannya tidak serasa membesarkan hatinya walau sedikit pun.


Dan rasanya memang cukup aneh saat ia menyadarinya di sini, di tempat di mana dia punya kenangan masa lalu di dalamnya, yang keseluruhan penghuninya adalah keluarga sendiri, namun dia juga tidak bisa melakukan apa pun selain hanya bisa menyendiri. Konflik di antara mereka membuat segalanya serasa mustahil. Bahkan hanya untuk sekedar bicara. Kemudian mudah sekali untuknya menyadari jika seharusnya dia tidak pernah kembali.


Di luar, derap langkah kaki seseorang berulang kali terdengar setiap kali ada yang melintas di depan pintu. Bahkan dia masih bisa mendengar samar-samar percakapan dari ruang tengah. Namun tentu, tidak ada seseorang pun yang coba memanggil atau mengusik keberadaannya. Bahkan hanya untuk mengetuk pintu. Barulah di malam hari, saat suasana mulai sedikit lengang, dia mulai bisa melangkahkan kakinya keluar kamar sejenak. Dan dia sama sekali tidak berniat untuk menjelajahi ruangan itu satu-persatu sebelumnya, namun nyatanya itulah yang kemudian ia lakukan. Untuk ini dia sangat yakin jika semua orang tengah tertidur lelap. Jadi dia bisa melihat-lihat dengan leluasanya. Namun saat dia melangkahkan kakinya ke arah dapur, barulah dia menemukan pemandangan yang jadi sebab kedatangannya kemari.


Itu adalah ayahnya. Dan dia tengah tertidur lelap sekarang. Di salah satu kamar yang mungkin dikhususkan untuknya. Yang bahkan ruangannya jauh lebih sempit dari semua ruangan yang ada di rumah itu. Tapi yang membuatnya terkejut adalah tentu saja keadaannya di dalam. Tubuhnya tiba-tiba kelihatan kurus. Warna kulitnya telah sepenuhnya memucat sekarang. Dengan nafas yang lebih cepat dan lemah dari yang seharusnya. Sementara slang di tangannya mengalirkan obat-obatan yang ia butuhkan. Yang menurutnya, bahkan tidak memberi efek kesembuhan meski sedikit pun. Pemandangan itu tiba-tiba saja membuat hatinya menciut. Namun reaksinya kemudian hanyalah terdiam selama beberapa menit lamanya. Sebelum tanpa sadar berjalan menjauh.


Tahu jika ia benar-benar sekarat.


Dalam tiga hari, Ryan segera mengenal rutinitas ayahnya di rumah. Yang keseluruhan harinya lebih banyak diisi oleh tidur. Sebab ayahnya, ia bahkan hampir tidak bisa berjalan lagi sekarang.

__ADS_1


Tak ada perawatan apa pun di rumah. Setidaknya yang ia perlukan. Yang ada hanya cairan infus itu saja mengalir di tangannya. Bahkan ia tidak mendapat obat penghilang rasa sakit. Kadang dia merasakan kekhawatirannya untuknya. Dan tidak sekali dua dia akan mengintip ke kamarnya di saat ia terlelap. Sebelum terdiam lama di sana. Dengan perhatiannya yang akan terus tertuju ke dadanya. Takut seandainya dia tidak bernafas lagi.


Cukup beruntung sebetulnya, saat dia bisa melihat ayahnya tidur nyenyak seharian penuh. Sebab tak jarang, ia bisa mengeluhkan nyeri perut atau nyeri di beberapa tempat yang lain. Yang membuatnya tidak bisa makan banyak lagi selain hanya seteguk air. Tapi hingga saat itu pun juga, dia tak pernah mendengar kabar ayahnya akan mendapat perawatan di rumah sakit. Atau keinginan untuk itu. Ryan tidak tahu apa yang terjadi, tapi berkaca dari semua pengetahuan yang ia miliki, harusnya ayahnya bisa mendapat perawatan yang lebih baik. Sebab bagaimana pun juga, ia adalah pensiunan pemerintahan. Dengan sejumlah jaminan kesehatan. Jadi tidak ada alasan baginya untuk tidak mendapat perawatan terbaik. Bahkan untuk pengobatan yang biayanya sedikit lebih mahal.


Kadang slang infus di tangannya yang tidak berfungsi. Sedikit sumbatan mengganggu alirannya. Tapi mereka memang tidak pernah memanggil Ryan untuk masalah yang sesepele itu. Di samping dia juga tidak punya keinginan untuk menawarkan diri. Mereka bahkan hanya memanggil tetangga sebelah rumah untuk membantu. Seorang perawat yang bekerja di rumah sakit setempat, dan memintanya untuk merawat ayahnya sesekali setiap hari. Meski dia juga tidak bisa terus hadir di sana setiap saat. Karena dia yang katanya punya pekerjaan atau harus mengurus keluarganya sendiri.


Pada akhirnya, tantenya Maya lah yang mengubah segalanya.


Mendekati akhir September 2012, ayahnya akhirnya masuk ke rumah sakit untuk pertama kalinya. Di mana ia bisa mendapat perawatan yang ia butuhkan. Terutama untuk sejumlah hal-hal yang vital. Ia menghabiskan beberapa minggu lagi untuk di rawat di sana. Di mana kondisinya terus di pantau sejumlah perawat dan seorang dokter sepanjang waktu. Keadaannya memang sempat membaik selang beberapa hari kemudian, namun kondisi tersebut juga tidak berlangsung lama.


Di awal Oktober 2012, kondisinya kembali memburuk. Sebab pengobatan yang harusnya ayahnya terima, tidak pernah diberikan sebagaimana mestinya. Namun ini bukan karena biaya yang tidak sanggup mereka bayar. Bahkan asuransi sangat bertanggung jawab terhadap semua pengobatan yang diberikan. Termasuk jika ada biaya tambahan. Biasanya, mereka akan memberi kemoterapi sebagai standar pengobatan, tapi karena penolakan yang ibunya lakukan, mereka terpaksa jadi tidak bisa melakukannya.


Dokter dan perawat telah berulang-kali menjelaskannya padanya. Tapi tidak pernah sekali pun ibunya mau mendengarkan. Dan dia terus mempersoalkan efek samping terapi yang menurutnya tidak bisa diterima. Dan lebih mempercayakannya pengobatan alternatif sebagai jalan keluar. Untuk sesaat, Ryan mungkin berusaha memahami apa yang sebenarnya terjadi. Mungkin ia memang sedang kalut, atau semacamnya di sini. Yang membuatnya tidak tahan atas tekanan yang harus dihadapinya sendiri. Sementara pemikiran orang yang sehat harus segera diambil untuk keputusan yang satu itu. Terlebih di sisi lain, waktu yang tersisa kini semakin menipis.


Tapi kenyataan yang menyedihkannya adalah tentu saja ayahnya sendiri, dia bahkan tidak terlalu peduli atas pengobatan apa pun yang akan diberikan. Dengan kata lain, ia akan tetap menerima apa pun terapinya selama itu memberinya kesempatan untuk sembuh. Yang sekaligus memperlihatkan keinginan hidupnya yang masih tinggi. Namun karena sikap keras kepala yang terus ibunya lakukan, hal itu sama seperti membuatnya melihat tanda kematiannya sendiri.


“Kemoterapi tepat diberikan jika prognosisnya masih bagus.” Ia memulai. “Tapi kalau terus ditunda, kemungkinan berhasilnya juga semakin kecil. Kondisinya akan terus memburuk seiring waktu. Setelah itu kita takkan bisa bergantung pada kemo lagi untuk mengendalikannya. Mungkin hanya kamu yang bisa menjelaskan pada keluargamu. Agar mereka bisa lebih mudah mengerti!”


Dia tahu apa yang diucapkannya adalah benar. Dan jauh di dalam dirinya juga, Ryan bisa melihat kepeduliannya. Terlebih dia adalah dokter yang baik. Namun masalahnya sekarang adalah dia yang mungkin tidak akan pernah bisa memenuhi apa yang saat itu ia harapkan.


Sebab bagaimana pun juga, memang akan selalu ada jurang pemisah besar di antara mereka. Bahkan hanya untuk sekedar membuka pembicaraan juga terasa sangat mustahil. Dia tahu persoalannya bukan hanya sekedar kemarahan atau sakit hati. Tetapi juga tentang keadilan, keinginan agar mereka mengakui kesalahan mereka meski sekali saja, kemudian memperbaiki diri. Dan jauh di dalam dirinya juga, bahkan dengan semua kemarahan yang ia rasakan, dia masih bisa merasakan kepedulian untuknya. Jadi tidak jarang dia mulai merasakan ketakutannya. Tersadar jika dia punya peranan yang sangat besar. Yang bahkan, mungkin bisa memperbaiki segalanya. Dan di sinilah dia gagal saat harus menghadapi rasa sakit itu sendiri. Hal itu seakan mendarah daging. Yang bahkan, mungkin dia takkan pernah bisa melupakannya hingga dia mati.


Di rumah, sepertinya juga tak ada hal lain lagi yang bisa ia lakukan. Dan dku hanya bisa berbaring di dalam kamarnya, membiarkan pikirannya yang terus berkelana, hingga beban tersebut berada pada titik yang ia tidak bisa menahannya lagi. Bahkan selama beberapa malam terakhir, dia hanya bisa melewatkan waktunya tanpa tidur semalaman penuh. Seraya membayangkan berapa banyak waktu yang masih ia miliki.


Namun di waktu yang sama, kadang Ryan juga merasakan sesuatu yang aneh terjadi pada perasaannya. Suatu kenyatan yang juga terjadi tanpa ia sadari. Saat berada dekat, dia tahu kebenciannya yang perlahan terbentuk. Tapi bila saatnya berjauhan, kesedihannya yang tiba-tiba datang. Dan tidak sekali dua saat dia tengah sendirian berada rumah, dia akan menyelinap diam-diam ke dalam kamar ayahnya. Membayangkannya yang seolah masih berada di sana. Bahkan beberapa minggu setelah kamar itu ditinggalkan, dia masih bisa merasakan aroma badannya yang seakan berada di sana. Yang sekarang juga bercampur aroma disinfektan. Semua perasaan itu tiba-tiba saja membuatnya memahami apa yang saat itu ayahnya rasakan. Seakan dia bisa merasakan rasa sakitnya sekarang, kesedihannya, bahkan ketakutannya saat menyadari hari-harinya akan segera berakhir.

__ADS_1


Di rumah, dia masih menolak bicara. Dan tentu saja akan sedikit baik jika ada teman berbagi. Tapi di rumah yang sempit ini, dia bahkan tidak mengenal siapa pun yang mungkin bisa mengerti. Dia lalu menelepon Sarah, untuk kemudian menanyakan kabarnya. Dan saat Sarah kemudian coba menanyakan apa yang terjadi, Ryan juga tidak pernah membicarakannya secara terbuka. Dia tahu dia hanya menggunakan cara itu untuk mengusir kejenuhannya. Untuk memberi kepastian bahwa dia benar masih memiliki pelarian. Bahkan jika yang mereka lewatkan di sana tanpa sedikit pun melakukan pembicaraan. Karena itulah, dia tidak pernah bercerita tentang ibunya yang terus menolak pengobatan yang harusnya diberikan, atau pembicaraannya dengan dr Lisa beberapa hari yang lalu, atau hubungannya dengan keluarganya yang bahkan hingga saat ini pun masih tidak pernah bicara. Tentu saja dia tidak pernah ingin menyampaikan masalahnya padanya. Selain dia yang tidak ingin Sarah terlalu khawatir, dia juga tidak ingin Sarah yang seakan memberinya nasehat atau mengajari bagaimana harusnya bersikap. Karena itu yang biasa dilakukannya tanpa berpikir dua kali. Jadi dia hanya menjelaskan bagaimana perkembangan ayahnya dari waktu ke waktu, dan mengapa pengobatan yang diberikan tidak lagi merespon keadaannya.


Ryan sadar jika Sarah juga berusaha memahami perasaannya, dari caranya yang selalu coba menempatkan dirinya. Bahkan dia bisa memberinya support di saat ia benar-benar diperlukan. Berikut empati dan juga simpati yang bisa ia rasakan secara bersamaan.


“Semua akan berlalu, dan semua akan membaik seperti biasanya. Aku juga akan berdoa sepanjang waktu, dan berharap yang terbaik untuk kalian sekeluarga.” Sesekali ia mengatakan. “Dan jangan lupa kirimkan salahku untuk keluargamu, ya.” Berikut senyum samarnya yang bisa ia dengar dari balik telepon.


Hanya saja semua pembicaraan itu, semua sharing perasaan itu, Ryan tahu bahwa semua itu hanya terjadi di saat emosinya sedang sedikit lebih baik. Sebab, tidak sekali pula dia justru tidak bisa menyembunyikan kebingungannya dari nada suaranya, atau dia yang hanya ingin mengakhiri percakapan secepat mungkin. Jadi tidak jarang, dia akan mengatakan dirinya yang sedang tidak enak badan, atau dia yang ingin beristirahat sejenak, atau entah apalah, yang seketika saja menghentikan semua pembicaraan yang saat itu berlangsung.


Dia tahu dia telah bertindak terlalu jauh. Dan ini seakan dia yang coba mengarahkan rasa stresnya untuk Sarah sekarang. Yang memaksanya berdiam diri untuk menghindari perdebatan yang lain. Bahkan dia berulang-kali menjanjikannya kepada dirinya sendiri bahwa dia akan memperbaikinya di percakapan mereka nanti, seraya meminta maaf atas apa yang terjadi. Namun sebanyak apa pun kesempatan itu tercipta untuknya, dia juga tidak pernah berusaha melakukannya.


Seperti hari yang terus berganti, sedikit perubahan juga ikut terjadi pada ayahnya. Meski bukan perubahan menuju perbaikan. Sebab lebih sebulan sudah waktu berlalu, ibunya juga masih terus menentang pengobatan yang harusnya diberikan padanya. Tak peduli berapa banyak mereka memberi penjelasan. Dan memang terlalu bodoh sebetulnya, saat ia terus bertahan dengan pemikiran yang semacam itu. Tapi seperti itulah dirinya.


Kadang, sesekali dia akan melakukan pencarian di internet. Berusaha menemukan kasus-kasus serupa. Sebelum mengelompokkannya ke bagian yang lebih spesifik lagi. Dan dia juga akan membandingkannya dengan stadium yang saat itu dialami ayahnya, melihat-lihat terapi yang memungkinkan, berikut setiap perkembangannya. Namun yang sebetulnya mengejutkannya adalah angka kesembuhannya yang memang masih cukup tinggi. Bahkan untuk pengobatan di masa-masa itu, termasuk jika pengobatannya hanya dilakukan di dalam negeri. Tapi karena semua alasan yang tak masuk akal itu, semua pengetahuan itu seakan tidak berarti lagi sekarang.


Pada akhirnya Oktober baru saja berlalu. Dr. Lisa tiba-tiba saja masuk ke ruangan ayahnya. Dan ini tidak biasanya saat ia tidak memilih berbicara langsung kepada Ryan atau ibunya, kali ini ia justru memilih berbicara langsung dengan ayahnya. Ryan tidak tahu apa yang terjadi, tapi ia memang sempat bicara sebentar dengan ibunya di luar.


“Bapak… Mulai hari ini bapak dirawat di rumah saja ya!” Katanya lembut, seraya meletakkan tangannya di atas lengan ayahnya. “Nanti ada perawat mendampinginya di rumah. Untuk resep obat, bisa diresepkan langsung dari sini.”


Ayahnya tidak mengatakan apa pun saat dr. Lisa bicara. Namun Ryan bisa melihat sinar matanya yang tiba-tiba berubah datar, sebelum dia merasakan ketakutannya yang seakan tenggelam ke dalam dirinya sendiri.


Sebab bagi ayahnya, dia yang bahkan tidak punya pemahaman yang baik sekali pun tentang penyakitnya, ia bisa memahaminya dengan baik di sini. Bahwa rumah sakit baru saja menginginkan kepergiannya sekarang. Yang juga berarti ia baru saja mendengar kalimat kematiannya sendiri.


Hanya keajaiban yang mampu menyembuhkannya sekarang.


Saat dokter selesai, Ryan segera berjalan keluar ruangan. Seketika saja butuh waktu untuk menenangkan diri. Dia mulai meratapi ke sekeliling, coba memahami yang terjadi sekali lagi. Dia tahu dia masih membencinya. Tapi dia juga tidak ingin melihatnya sekarat dan juga kehilangannya. Semua beban tersebut terus menumpuk di dalam kepalanya. Hingga dia tidak bisa menahannya lagi. Yang kemudian tanpa sadar mulai membuat matanya berkaca-kaca. Dan inilah pertama kalinya dia pernah menangis untuk ayahnya sendiri.

__ADS_1


Sadar jika dia akan segera tiada.


__ADS_2