Sekeping Kenangan

Sekeping Kenangan
Storia 19 : Bahagia Untuk Berdua


__ADS_3

Jadi di sinilah aku sekarang, saat aku baru saja menyelesaikan separuh ceritaku. Cerita yang baru ku tulis beberapa jam sebelumnya. Namun ada satu hal lagi yang perlu ku lakukan sejenak. Sama halnya seperti cerita-ceritaku yang lain. Sebab di sinilah saat aku harus menceritakannya secara rinci padanya.


Dia, akan selalu jadi pembaca pertama untuk setiap cerita yang aku buat. Aku suka saat ia melakukannya. Karena dia yang selalu punya selera yang baik untuk sebuah cerita. Dan dia benar-benar menjadi penyelamatku di sini. Seseorang yang membuat keseluruhan kisah ini terasa sempurna. Bahkan tidak hanya untuk kumpulan kisah yang tercipta melalui penaku saja, tapi juga untuk keseluruhan cerita yang jadi bagian dari hidupku. Sebab sejak pertama kali aku mengenalnya, aku tak pernah merasakan perasaan apa pun melainkan hanya perasaan bahagia.


Kami tinggal di suatu kompleks perumahan yang berada tepat di tengah-tengah kota Bandung. Yang juga menjadi salah satu impian terbesarku sejak lama. Dan itu bukan hanya karena kembali ke tempat masa kecilku saja sebetulnya, tapi juga karena kehidupan yang memaksa kami harus melakukan ini. Kami selalu punya gambaran yang baik jika masa depan selalu dimulai dari dalam kota, karena itulah kami perlu mengusahakan segala hal di sana.


Malam telah lama turun, dan hujan telah berhenti sejak beberapa jam yang lalu, namun cahaya langit masih belum terlihat. Aku tidak tahu apakah hujan akan berlanjut lagi, tapi yang jelas udara akan semakin dingin lagi mulai dari sekarang.


Dengan mata yang sedikit lelah, aku mulai menatap jam di tangan kiriku. Sudah hampir pukul sembilan malam sekarang. Ku kira sudah saatnya aku meninggalkan ruangan kerjaku sejenak, dan menuju ruangan di lantai bawah. Aku harus meniti sejumlah anak tangga lagi untuk sampai di sana, sebelum aku bisa menemuinya di dalam kamar. Dan di dalam, ia juga tidak sedang tidur atau melakukan apa pun.


Aku tidak mengetuk pintunya sebelum masuk, seperti yang biasa ku lakukan. Hubungan kami benar-benar membuatku bebas melakukan itu. Aku juga tahu jika ia merasakan hal yang sama terhadapku. Ia tersenyum lembut padaku, dan aku membalas senyumnya dengan segenap perasaanku. Suatu kesempurnaan lagi dari cinta kami berdua. Sebuah perasaan yang sampai kapan pun takkan pernah berubah.


Dan di sanalah dia sekarang, duduk di tempat tidurnya, sementara selimut menutup hampir separuh tubuhnya. Bahkan di dalam, aku masih bisa merasakan suhu dingin yang merambah dari luar. Kami tidak punya penghangat ruangan apa pun di rumah ini. Lagipula tempat tinggal di iklim tropis memang tidak didisain bersama benda yang satu itu. Aku mungkin bisa tahan untuk kondisi yang sekarang, tapi mungkin tidak dirinya.


Istriku, dia tengah hamil anak keduanya sekarang. Satu bulan sebelum memasuki trimester akhir. Dan ini adalah tahun-tahun kesekian bersama pernikahan kami. Enam bulan lagi akan jadi tahun kami berikutnya. Dia telah membawa begitu banyak kebahagiaan ke dalam keluarga kecil ini. Terlebih setelah kelahiran putri pertama kami empat tahun yang lalu. Dan aku tak pernah merasa terberkati lebih daripada itu.


Seminggu yang lalu, dokter melakukan sejumlah pemeriksaan padanya. Sebelum mengatakan jika ia mungkin akan melahirkan bayi perempuan lagi. Kenyataan yang mungkin sedikit bertentangan dengan pengharapan. Namun aku selalu belajar untuk tidak menaruh kepercayaanku begitu saja. Karena ada kalanya kenyataan bisa terasa membingungkan. Jadi akan lebih bijak jika membiarkan waktu yang kemudian menjawabnya. Terlebih laki-laki atau pun perempuan, pada akhirnya tetap terasa sama.


Aku kembali melangkahkan kakiku ke arahnya, sebelum duduk tepat di samping kanannya, dan menggunakan selimut yang sama untuk menutupi kami berdua. Aku mencium kedua pipinya, dan dia memberi senyuman yang teramat lembut ke arahku. Dan ini benar-benar terasa menyenangkan. Saat dua orang saling mencintai, pernikahan adalah satu-satunya hal sakral yang bisa menyatukan kedua hati. Yang menjadikan segalanya tiba-tiba terasa indah. Ku rasa aku benar-benar pria yang paling beruntung di muka bumi.


"Apa Alicia sudah tertidur?" Suaranya seakan hipnotis di telingaku. Yang aku ingin mendengarnya lagi dan lagi.


"Ya," kali ini aku menjawabnya dengan tersenyum.


Aku menyentuh tangannya secara lembut, melingkarkan lenganku yang satu di pinggangnya, sebelum menariknya ke arahku. Aku membiarkannya meletakkan wajahnya di dadaku, mengistiratkannya sejenak di sana, membiarkannya mendengar detak jantungku. Yang kini berasa kuat dan teratur seiring perasaan cintaku yang tumbuh untuknya. Aku percaya, dialah satu-satunya alasan yang membuatku terus hidup dan bernyawa.


"Apa ini?" Tanyanya, saat aku menyerahkan bukuku padanya.


"Itu... cerita yang baru ku tulis tadi...,"


Jadi ia bergumam sekarang, "Oh..., begitukah? Jadi bercerita tentang apa lagi kali ini?" Dan ia tersenyum.


"Um... sedikit kisah nyata..., dan sedikit imajinasi tentu saja."


Kali ini ia mulai mempelajari ekspresiku. "Jadi kau menggabungkan keduanya?"


"Ya. Sebenarnya..., tapi itu adalah cerita yang dulu pernah ku janjikan,"


Ia memalingkan wajahnya untuk menatapku, dan aku kembali menciumnya secara lembut di sana.


"Maksudmu, kau mulai membuat cerita tentang kita berdua?" Tanyanya, nadanya penuh dengan nada antusias lagi. Aku bahkan bisa melihat matanya berbinar di saat ia menanyakan itu. Sebuah cerita yang telah ia nantikan sejak lama.


"Ya, cerita sesudahnya." Sahutku cepat. "Maksudku..., ceritanya masih belum selesai. Ku kira aku perlu bantuanmu untuk menyempurnakan semuanya."


Ia mengambil waktu lagi untuk berpikir sejenak, membayangkan apa yang baru saja ku katakan.


"Baiklah," lalu sahutnya. Dan bersama senyumnya, ia mulai mengambil buku itu dari tanganku. Kemudian dalam keheningan mulai membacanya.


Menit berlalu. Dan aku bisa melihat keseriusannya di sana. Saat ia memfokuskan perhatiannya pada kata demi kata. Aku mungkin ingin memuji kecantikannya malam itu. Namun aku justru berusaha keras untuk menahan diriku. Kadang keindahan akan terasa lebih baik jika dinikmati dengan ketenangan. Seorang pemikir sekaligus penyendiri sepertiku, ku rasa orang-orang seperti kami selalu bisa menemukannya dengan cara yang lebih mudah.


Buku adalah dunia yang lain. Dan kami tidak sekedar menikmatinya hanya dengan membacanya saja. Kami mencermatinya berdua, menemukan sesuatu yang menarik dari sana, dan terkadang, kami juga mendiskusikan setiap karakter yang kami temukan. Tentang bagaimana mereka membangun alur cerita, serta bagaimana jika ceritanya harus berakhir dengan cara yang seperti ini. Inilah yang membuat ide-ide kami bisa terus mengalir. Hal-hal aneh, yang tiba-tiba memancing begitu banyak kedekatan, dan membuat segalanya terasa romantis.


Tapi sekali lagi jarum jam terus berdentang. Dan kenyataannya sama sekali tidak bisa ku elakkan.


"Apa ini?" Ujarnya tiba-tiba. Bahkan ia belum menyelesaikan separuh dari ceritaku. "Katamu ini bercerita tentang kita? Tapi aku tidak pernah mengenal cerita yang semacam ini?"


Dan akhirnya kini terjadi lagi.


**********


Cerita akan selalu berbeda antara kisah nyata dengan imajinasi. Yang kebanyakan adalah tentu saja tentang banyaknya drama yang dimasukkan ke dalam cerita. Di mana berimajinasi berarti lebih bebas memasukkan lebih banyak drama, sementara kisah nyata menjadi kebalikannya. Tapi bagaimana pun juga, cerita yang hebat selalu berasal dari imajinasi yang besar. Tentang bagaimana memainkan perasaan seseorang, logika, hingga emosi yang ada di dalam dirinya. Mereka bahkan bisa menyentuh jiwa seseorang tanpa melakukan fisik. Membuat orang lain tanpa sadar merasakan keindahan.


Aku tahu aku lebih banyak menuliskan kisah berdasarkan masa laluku. Potongan cerita yang memang ada kaitannya bersama orang lain. Tapi jarang sekali ia bisa menerimaku begitu saja. Karena dia yang selalu menunggu kisah kami berdua. Yang bahkan aku masih belum bisa memberikannya hingga detik ini.


Mungkin itu terdengar konyol bagi kalian. Namun aku tahu alasan yang membuatnya begini. Saat ia tidak merasakan itu adil, padahal dia lah yang selama ini ada terus untukku. Istriku, dia benar-benar bisa membangkitkan jiwa terpendam yang ada pada diri seseorang, yang bahkan orang lain takkan bisa menemukannya. Dan dialah yang membuat diriku seperti diriku yang sekarang. Ku rasa wajar saja jika ia mengharap balasan yang setimpal.


Tapi sekali lagi, "Ini belum waktunya sayang," itulah yang biasa ku katakan padanya. Meski ia tidak pernah bisa menerimanya dengan baik. Aku mungkin bisa maklum pada sikapnya. Tapi ku rasa ia tidak bisa selamanya begini juga kan?


"Siapa Sarah? Sepertinya dia tokoh utama dalam cerita ini." Kali ini ia mulai cerewet. "Tadi kau bilang ini cerita tentang kita kan? Dan ini, Welmina? Sepertinya ini tempat kamu bekerja dulu? Kau tidak memberiku sinopsis yang bisa ku mengerti. Apa dia termasuk salah satu dari mantan-mantanmu?"


Wajahnya mengisyaratkan ketidakpercayaannya kepadaku. Ku kira sikap lemah lembutku lenyap begitu saja dari dalam kepalanya.


"Dia bukan mantanku...? Kau terlalu melebihkannya. Mantanku kan tidak banyak?" Aku coba tertawa.


"Lalu siapa dia? Kau harus menjelaskannya padaku?"


Aku tahu aku tak bisa menyembunyikannya lebih lama lagi. Lagipula tidak ada alasan bagiku untuk menutupinya bukan? Terlebih di dalam pernikahan, sudah seharusnya tidak ada kerahasiaan.


"Kau ingat wanita yang kita temui seminggu yang lalu?" Ujarku, akhirnya mengatakannya. "Dia yang memakai gaun biru di seminar kalian malam itu. Saat aku memperkenal kalian di lobby? Sebelum kita makan malam?"


Setiap profesi, sepertinya selalu punya cara tersendiri dalam mengembangkan kegiatan kerja mereka. Dan inilah yang ku lakukan saat aku menemaninya ke salah satu hotel di Bilangan Jakarta. Saat ia harus menghadiri pertemuan seperti yang ku maksud. Ku kira acara itu memang dihadiri perwakilan dari seluruh Indonesia. Karena itulah aku bisa bertemu lagi dengannya pada malam itu.


Dan aku bisa melihatnya mengulang kejadian yang terjadi pada malam itu sebelumnya. Menempatkan dirinya kembali berada ke sana. Bahkan sekilas, aku segera tahu apa yang ia pikirkan.


"Oh..., wanita yang waktu itu?" Ia menembakku dan mulai bergumam. Ku kira nadanya penuh kecurigaan sekarang. "Aku mulai mengerti. Karena itulah kau menatapnya cukup lama kan? Kau bahkan bisa betah sekali memegangi tangannya."


Cukup bodoh sebetulnya, saat ia mengartikannya seperti itu. Namun aku belajar untuk tidak terlihat lemah di hadapannya. Pengalaman menjadikan insting bertahanku berkembang lebih baik. Terlebih bertahun-tahun sudah lamanya kami hidup bersama, ku rasa aku bisa memahami situasinya dengan begitu mudah.


"Baiklah, ku kira aku mendengar nada kecemburuan sekarang?"


"Aku tidak cemburu." Sahutnya balik. Kali ini nadanya terdengar bertahan.


"Benarkah?" Lalu sahutku. "Tapi aku tidak mendengarnya begitu..." Bahkan, aku masih coba menunjukkan senyumku di sana. Berharap itu juga berpengaruh padanya.


Namun, aku tidak melihatnya sedikit pun.


"Aku hanya..., itu hanya tidak adil. Kau selalu membuat cerita tentang orang lain, dan ternyata kau pernah jatuh cinta pada mereka. Padahal kan kau sudah berjanji untuk tidak melakukannya lagi?"


"Jadi apa yang harus ku lakukan?" kali ini aku memprotesnya. "Kita tahu, itu adalah pekerjaanku sekarang kan? Dan kita sama-sama mengerti jika ini bisa saja terjadi. Kau kan tidak bisa berubah begitu juga?" Aku bicara padanya. Tapi ia terlihat enggan menanggapiku sama sekali.


Aku lalu menariknya ke arahku. Membuatnya kembali bersandar di dadaku.


"Dengarlah sayang, kau tidak perlu meragukannya kan? Maksudku," ia membuat gerakan untuk menatapku. "Seperti apa perasaanku padamu. Itulah mengapa aku menikahimu. Aku hanya senang saat kita menatap masa depan bersama. Kau memberiku hidup yang terlalu indah. Semua ini sama sekali tak ada bandingannya. Aku selalu mencintaimu. Kau adalah impian terbaikku selama ini. Kau lah satu-satunya alasan yang membuatku bahagia. Jadi untuk apa aku memilih kembali ke masa laluku. Mungkin itu terdengar melebihkan bagimu, tapi begitulah perasaanku padamu."


Wajahnya memerah bersama senyumnya. Komentarnya berikutnya, bahkan ia tidak mampu menutupi perasaan senangnya.


"Tapi kamu selalu berbohong."


"Bagian mana memang aku yang selalu membohongimu?"


"Saat kau berjanji untuk tidak membuat cerita tentang orang lain, kau kan harusnya menepatinya." Ujarnya lagi. Aku baru tahu jika ia bisa seegois ini.


"Bukan begitu maksudnya. Aku sebetulnya juga sudah berencana menuliskannya pada akhir cerita. Maksudku kisah kita berdua. Karena itulah aku butuh bantuanmu kan?"


Ia melirikku sepintas. Namun masih menunjukkan wajahnya kesalnya di sana. "Kamu selalu berjanji, tapi pada akhirnya juga bohong lagi,"


"Ya, kan aku tinggal minta maaf lagi."


Ia tidak menjawabku lagi. Tapi tetap meresponku dengan cubitannya.


*********


Tinggal di sebuah kota semacam Bandung, membuatmu harus punya rencana yang ekstra dalam menghadapi esok hari. Karena aktivitas hidup yang berjalan sangat padat. Semua adalah tentang waktu. Dan kalimat waktu adalah uang benar-benar berlaku di sini.


Aku sering melihat orang-orang yang berlomba mencari kerja. Mereka yang harus terlempar dari gedung yang satu ke gedung lainnya. Dan tak pernah keluar membawa apa pun dari sana. Bahkan pengantar surat perlu berebut jasa untuk jadi yang tercepat. Pendidikan, tidak selalu memberi jaminan untuk status kehidupan yang lebih baik. Orang-orang bahkan bisa dengan mudah terlempar dari jalur yang sama sekali bukan bidangnya. Ahli ekonomi yang tiba-tiba menjadi penata rias, ahli IT yang menjadi penjaga taman, atau sarjana hukum yang mencoba peruntungan di bidang fotografi. Atau bahkan yang mungkin nasibnya sama menyedihkannya sepertiku. Aku mungkin pernah bekerja sebagai pegawai pemerintahan, jika itu bisa dijadikan catatan. Yang sebelumnya bisa sedikit memberi suntikan harga diri. Tapi sekarang, kisah tersebut sepertinya memang tidak bisa dilanjutkan lagi.


Keluarga kami mungkin sedikit beruntung karena istriku. Karena status dan hak kerja yang dimilikinya. Kami membangun apotek kecil yang juga menjadi penopang kehidupan keluarga. Dan ini merupakan bagian dari mimpi-mimpinya yang akhirnya terwujud. Meski ia juga tidak banyak membantuku di dalam proyek. Aku tahu ia punya penghidupan yang jauh lebih baik dariku. Yang membuatku merasa tidak terlalu cukup di hadapannya. Mungkin buku yang ku tulis bisa membuatku tidak sepenuhnya kehilangan muka. Tapi hari ini, aku tahu aku tidak bisa membawa ide-ide dari ceritaku lagi. Setidaknya selama beberapa waktu.


Aku tahu di saat pertama kali menunjukkan itu padanya moodnya memang sedang tidak baik. Atau mungkin dia saja yang membutuhkan itu untuk lebih memanjakan diri. Kadang, seorang wanita menginginkan perhatian lebih dan tanpa pernah mereka katakan. Mungkin ini merupakan salah satunya. Tapi sekali lagi, aku hampir saja melupakan hal terpenting di dalam hubungan kami.

__ADS_1


"Di mana kita akan berliburan nanti?" Ia tiba-tiba menanyakannya di tengah waktu kami bersantai. Yang seketika membuatku heran.


Satu-satunya pilihan, sepertinya aku takkan membawanya pergi jauh-jauh dari kota Bandung. Tapi saat aku sibuk memikirkannya, ia justru lebih dulu menjawabkannya untukku.


"Kau pasti sudah lupa kan, sebentar lagi hari apa?" Tanyanya lagi, kali ini dengan wajah sedikit kesalnya.


Dan, ups.


Aku tahu ia akan menyalahkanku. Sebelum kesadaranku benar-benar kembali. "Oh..., ya. Tentu saja aku ingat ..." Ujarku. Dan aku coba mengumpulkan alasanku. "Maksudmu perayaan pernikahan kita? Aku juga sedang memikirkannya. Tapi sepertinya kita takkan ke mana-mana." Aku mulai berpura-pura.


"Kenapa?"


"Itu karena bayi di dalam perutmu kan?"


Ia melirik sebentar ke arah perutnya, memikirkan jawabanku, sebelum akhirnya bicara lagi. "Dia akan baik-baik saja. Aku bisa menjaga diriku. Sungguh." Kali ini ia tersenyum.


"Ummm.... Aku tidak tahu. Tapi aku tetap tidak menganggap itu sebagai usul yang bagus," ujarku lembut. Meski aku tahu ia tidak akan menerimanya begitu saja. Dan ia memang selalu punya alasan yang bagus untuk terus mendebatku.


Kami punya semacam rutinitas untuk selalu merayakannya di setiap tahun. Dan kami tidak pernah melewatkan momennya meski sekali pun. Di tahun pertama, kami melewatkan suasana bulan madu kami di pulau Bali. Di tahun ketiga, kami pernah melewatkan malam-malam yang menenangkan di Yogyakarta. Kami juga pernah pergi ke singapura sesekali. Yang merupakan salah satu perjalanan kami ke luar negeri. Bahkan di waktu yang lain, aku pernah mendengar keinginannya pergi ke Paris. Tapi aku tidak bisa mengabulkan permintaannya untuk yang sekarang. Tidak jika kondisinya seperti ini.


"Jadi kau ingin mengurungku seharian di rumah? Lagipula, ini kan bukan kemauanku sendiri." Ujarnya lagi, dengan mengangkat bahunya.


"Maksudmu kemauan bayi?"


"Ya, memang seperti itu kan?" Dan ia kembali tertawa.


Ku rasa ia memang sudah menyiapkannya jauh-jauh sebelumnya. Seakan ia bisa melewatinya dariku.


"Kita bisa pergi ke Bali lagi jika kau tidak keberatan. Lagipula mereka punya pelayanan terbaik. Bahkan ada spa khusus untuk wanita hamil. Aku bisa memesan tiketnya sekarang. Termasuk jadwal perjalanannya."


"Tidak...,"


Ia menelan ludahnya. Tapi aku belum melihatnya menyerah. "Uh, kalau kau tidak mau, bagaimana kalau ke puncak? Udara segar kan baik untuk perkembangan janin."


"Kau suka berdebat ya, sekarang?"


"Tidak juga... Ku rasa, aku hanya lebih tahu apa yang terbaik untukku. Dan kau harusnya percaya padaku kan? Lagipula wanita memang lebih kuat daripada pria." Sahutnya, seakan itu memberiku kesenangan dengan kata-katanya.


Lalu ia menunggu sebentar, sebelum aku mengatakan sesuatu. Dan ia meletakkan kedua tangannya tepat di dadaku. Ku rasa aku bisa merasakan kecantikannya selamanya sekarang. "Lalu, apa jawabanmu sayang?" Ia kembali berbisik.


Berikutnya, ia membawakan wajahnya dekat ke arahku. Pandangan kami saling mengunci sekarang. Dan aku kembali mencium bibirnya sebelum ia yang melakukannya padaku.


"Aku tidak tahu. Tapi kau benar-benar enggan menyerah ya! Aku tidak ingin menyakitimu, tapi aku tidak bisa mengubah keputusanku. Jadi jawabanku tetap saja tidak. Dan... jangan katakan apa pun lagi! Ok!" Aku coba tersenyum. Namun ia sudah nampak kesal dengan jawabanku. Tapi anehnya, inilah yang membuatnya semakin menarik. Aku mengulurkan tanganku untuk meraihnya, lalu merangkulnya lagi ke arahku.


"Kau tidak bisa marah begitu juga kan! Lagipula aku hanya melakukan ini untukmu. Aku tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi." Aku meletakkan jariku di bawah pipinya, membuatnya kembali menatapku. "Tapi..., sebenarnya aku juga sudah punya rencana untuk merayakannya. Jika itu yang kau inginkan. Mungkin bisa saja akan sedikit berbeda dari hari-hari sebelumnya, tapi semuanya akan tetap terasa spesial."


"Benarkah?"


"Ya," ujarku lembut, dan aku kembali melihat senyumnya.


Di waktu yang sama, aku juga mulai mempererat genggaman tanganku padanya. Sementara ia mulai membalas genggamanku. Ku rasa ia juga takkan lagi meragukan cintaku.


********


Suatu keistimewaan tentu saja, saat aku bisa menikahinya lima tahun yang lalu. Terlebih kebahagiaan yang ku dapat jauh lebih berharga dari yang pernah ku rasakan seumur hidupku. Dan aku tidak mengatakan jika perubahan tersebut hanya berlaku untukku saja. Sebab untuk pertama kalinya, ia berhasil memperbaiki retak yang pernah ada di tengah keluarga kami.


"Kau harus memperbaiki hubunganmu dengan keluargamu. Kalau tidak, aku tidak akan menikahimu!" Ujarnya, saat aku menyatakan lamaranku padanya.


Aku tahu itu tidak terasa adil bagiku. Tapi apa yang bisa ku lakukan? Dan ia sama sekali tidak memberiku pilihan lain di sana.


Aku tahu sebagian dari kalian pasti berpikiran jika aku melakukannya karena terpaksa. Dan ku rasa, sebagian diriku yang lain juga sempat mengatakannya begitu. Tapi apakah benar jika aku kemudian menikahinya dengan cara berbohong padanya. Ku rasa aku bisa saja melakukannya dengan cara berpura-pura. Sekedar hanya untuk memenuhi ambisiku. Tapi sekali lagi, sesuatu mengatakan kepadaku jika cinta dan keterbukaan adalah dua hal yang tak terpisahkan. Terlebih jauh di lubuk hatiku, aku juga menginginkan kedamaian yang sama. Hanya saja, untuk situasiku, aku juga tidak ingin menjadi pihak yang memulainya terlebih dahulu. Karena memang bukan aku yang pertama kali melakukannya. Dengan kata lain, aku baru bisa melakukannya saat semua masalahku benar-benar terangkat dariku. Tapi inilah yang ia berikan. Yang aku tidak bisa menawar-nawarnya lagi.


"Hidup tidak sesederhana yang kita pikirkan. Tak jarang kita berbuat kesalahan, yang di antaranya mungkin tanpa kita sadari. Jika saja nanti kau menemui banyak masalah di kehidupan kita, apa kau juga akan membenciku? Aku tidak mengatakan itu demi diriku sendiri! Tapi demi kita berdua. Mungkin kau bisa belajar sesuatu dari sana. Membuktikan jika kau benar-benar berbeda. Maksudku, jika kau menganggap mereka gagal, kau tidak harus seperti mereka bukan? Pengetahuan, harusnya menjadikan seseorang hidup dengan cara yang lebih baik." Jelasnya lagi.


Dan saat aku mengerutkan dahiku, ia lalu menambahkannya lagi. "Aku juga mengatakan itu karena aku peduli padamu, Ryan. Dan jika kau seperti yang kau katakan, jika kau benar-benar mencintaiku, kau harus membuktikan jika kau bisa membuatku bahagia. Aku ingin kau sedikit berkorban di sini. Aku tidak ingin melihat keangkuhanmu, atau sikap keras kepalamu."


Pada akhirnya satu minggu kemudian, aku lalu membawanya ke tengah keluargaku. Di mana mereka saling memperkenalkan diri.


"Saya Hannah," ujarnya. "Kami sudah berteman lama!"


Dan di sanalah saat ia mulai memasuki kehidupanku. Yang seketika menghentikan semua perseteruan panjang di keluarga kami.


Aku tahu jika hubungan kami mungkin takkan pernah sebaik keluarga yang lain. Karena itu adalah ikatan yang harusnya dibangun sejak awal. Yang mungkin ada kaitannya dengan psikologi, sesuatu tentang trauma, yang aku juga tidak bisa menghilangkan atau coba menjelaskannya. Empat bulan berikutnya, saat aku menikahinya, di situlah hari yang paling membahagiakan seumur hidupku terjadi. Dan aku takkan melupakan hari yang spesial itu, di saat kami saling menukarkan cincin di jari kami masing-masing. Di mana dia mulai melengkapi hidupku, sedang aku melengkapi hidupnya. Dan berdua, kami benar-benar membuat hidup ini terasa sempurna.


Setahun kemudian, ia membawa kebahagiaan kecil lagi ke tengah keluarga ini. Dengan lahirnya putri pertama kami, Alicia. Dan untukku, itu adalah anugerah terbesar yang pernah ia berikan padaku.


Tiga bulan yang lalu, kami baru saja merayakan ultahnya yang ke empat. Ku rasa Alicia juga sangat senang bisa berkumpul bersama neneknya kembali. Dan meski aku tak bisa mengakrabkan diriku bersama mereka, aku masih bisa merasakan kebahagian itu dari dekat. Perhatian diam-diam, dan tanpa disadari orang lain, mungkin sedikit mengembalikan ikatan yang hilang di antara kami. Aku suka saat Alicia tertawa. Aku suka saat ia berkali-kali menyatakan kerinduannya. Hal-hal yang bisa membangkitkan kenangan di masa laluku. Kenangan dalam bentuk luka yang tiba-tiba saja seakan terobati.


Tapi itu tiga bulan yang lalu. Hampir seratus kali saat matahari terbit kemudian terbenam kembali. Dan kini, aku harus menatap waktu yang sama ke depannya. Saat hari jadi pernikahan kami menunggu di depan mata.


*********


Ada banyak perubahan yang terjadi di masa kehamilannya. Yang bukan hanya fisik, tetapi juga psikis. Kadang, ide memulai keluarga membawa lebih banyak stress bagi perempuan. Yang membuatku harus berusaha untuk memberi perhatianku secara lebih.


Ada waktu di mana aku harus mengambil sedikit pekerjaan rumah, atau bahkan sejumlah urusan dapur. Dengan kata lain, aku mulai menggantikan bagian yang memang sedikit vital sekarang. Aku bertanggung jawab untuk sarapan keluarga. Aku yang mengantar jemput Alicia sekolah (dia sudah masuk taman kanak-kanak sekarang), termasuk mengantarnya tidur. Beruntungnya, Alicia juga tidak pernah menuntut banyak. Dia benar-benar gadis kecil paling tenang yang pernah aku lihat.


Sebetulnya, aku juga sempat mencemaskan keadaan Hannah akhir-akhir ini. Karena kehamilannya sekarang yang lebih sulit dari kehamilan pertamanya. Ia harus muntah berkali-kali di bulan-bulan pertama. Kali ini, aku bahkan harus melihat sejumlah edema lagi. Tapi yang membuatku kesal adalah ketakutannya yang tak mendasar pada rumah sakit. Bahkan pergi berbelanja justru lebih menyenangkan daripada memeriksakan kesehatannya.


Kami masih pergi berbelanja sesekali. Yang sebetulnya tidak terlalu banyak yang bisa dibelanjakan. Karena pakaian Alicia yang memang masih bisa diwariskan atau semacamnya. Dan ini seperti baru kemaren saja aku mendengar tangis Alicia saat ia masih bayi, tapi kini yang ditinggalkannya hanya pakaiannya yang semakin mengecil. Kami biasa berkeliling blok demi blok, tangan berpegangan erat, tak peduli semua mata memandang. Tapi khusus di hari itu, aku coba menolak untuk mengikuti kemauannya. Jadi aku berbohong padanya tentang berbelanja, aku berbohong tentang percakapan kami yang barusan. Yang ku lakukan karena aku benar-benar peduli padanya.


Seperti biasa, ia selalu terlihat antusias saat kendaraan melintasi jalanan kota. Meski pemandangan yang sama telah dilihatnya ribuan kali. Namun sedikit rahasiaku akan segera terbuka.


"Ini bukan tempat perbelanjaan. Kenapa kau membawaku kemari?" Tanyanya, saat aku tiba-tiba memarkir mobil di depan klinik. Aku melihat kebingungan sesaat dari wajahnya, yang bercampur dengan perasaan kesal dan sedikit takut.


Namun aku coba tersenyum.


"Aku tahu. Tapi kita harus ke sini dulu!" Lalu sahutku.


Kami sempat berdebat kecil di luar. Tapi aku memang tidak ingin memberinya pilihan lain. Untuk ini aku sangat tahu, jika ia memang tidak suka menarik perhatian. Dan saat semua mata yang mulai sibuk memperhatikan kami, ku rasa itu sudah cukup mendesaknya hingga sampai kemari.


Dr. Risa selalu berempati dan bersahabat. Ku kira setiap pasiennya bisa merasakan ketenangannya. Dan ia selalu terlihat menarik. Tapi jujur saja, ia terlihat lebih mirip seorang ibu daripada seorang dokter.


"Santai saja! Ini kehamilan keduanya kan?" Ujarnya, seraya menyentuh lengan Hannah, kemudian tersenyum.


Mereka melakukan sejumlah tes di sana. Sejumlah pemeriksaan yang biasa dilakukan antara dokter kandungan dengan pasiennya. Seraya menyajikannya lewat gambaran monitor. Aku tahu persis apa yang ditampilkannya di sana, meski tidak yakin bisa menjelaskan secara rinci.


Dokter mengatakan jika kandungannya dalam keadaan yang baik. Sebelum menyinggung bayi perempuan yang sedang dikandungnya lagi. Kenyataan yang sebetulnya pernah ku dengar berkali-kali. Aku ingat saat keluar dari ruangan itu dengan perasaan bahagia, tapi aku tidak melihat tanda-tanda tersebut ada pada istriku. Aku tahu ia masih marah padaku. Dan ia benar-benar membenciku atas alasan aku mencintainya.


Waktu berlalu. Kali ini pergerakannya yang semakin melambat. Nafasnya juga terlihat lebih pendek dari pada biasanya. Kadang, ia akan mengeluhkan kepercayaan dirinya yang hilang dikarenakan badannya yang semakin membesar. Kemudian mengatakan dirinya terlihat jelek di hadapan cermin. Namun lebih dari sekali pula aku membesarkan hatinya dengan mengatakan ia tetap cantik. Aku tahu ia berulang kali menanyakan kejujuranku. Tapi bagiku, istriku akan selalu cantik di dalam hatiku.


Berikutnya, aku akan mendengarnya lagi mengeluhkan nyeri punggung atau kram di kakinya. Untuk ini, yang bisa ku lakukan sepertinya hanya memberinya pijatan lembut di sana. Aku tahu ia selalu suka saat aku melakukan itu. Dan menginginkannya lagi dan lagi. Pengetahuan, selalu bisa membuat segalanya berjalan lebih mudah. Tapi sekali lagi, jarum jam terus berdentang. Dan aku tidak bisa mencegah saat-saat yang menegangkan itu terjadi lagi sekarang.


Agustus 2019, Hannah kembali masuk rumah sakit untuk kedua kalinya. Perawat dan dokter terus mengelilinginya. Di saat ia merasakan rasa sakit yang tak tertahankan. Aku mendengarnya berteriak, meringis, sementara urat-urat di sekujur tubuhnya mulai bermunculan. Semua orang berusaha mendukung, para dokter menaruh perhatian, tapi sepertinya hanya aku yang merasakan takut. Kadang sejumlah laki-laki menjadi sangat rapuh saat berhadapan dengan kondisi ini. Aku berharap ada sesuatu yang bisa ku lakukan. Tapi yang bisa ku lakukan sepertinya hanya menemaninya di sana, membiarkan ia memegang tanganku, dan menepikan rasa sakitku saat ia hampir meremukkan tulang tanganku. Aku tahu aku takkan mengambil rasa sakit itu meski kesempatan itu ada. Selain aku takkan sanggup, aku juga tidak ingin kehormatan itu hilang. Karena inilah yang membuat wanita berbeda bukan? Mereka lebih dihargai, dicintai, karena hidup mereka yang memang istimewa.


Dan akhirnya sekali lagi, ia kembali menambahkan kebahagiaan kecil ke tengah keluarga ini. Dengan melahirkan bayi laki-lakinya. Dan ini seperti pengetahuan yang coba menipuku kali ini. Tapi ku rasa aku memang pantas berbangga diri. Karena tidak menyerahkan segalanya pada pengetahuan.


Dokter mengucapkan selamat, para perawat menunjukkan kesenangannya.


"Kau tiada hentinya membawa kebahagiaan untukku. Aku mencintaimu melebihi yang kau tahu." Bisikku, di saat aku mencium keningnya dan juga pipinya.


Aku membawa putra kecil kami ke tengah kami. Pahlawan kecilku. Dan kembali lagi hari itu kami mulai menitikkan air mata bersama.


Aku menghidupkan kembali semua kenangan yang telah terjadi. Saat aku mengenalnya, saat aku menikahinya. Sampai kapan pun, ia akan terus jadi seseorang yang membuatku bersemangat untuk bangun di keesokan hari. Sosok teristimewa yang pernah ada di dalam hidupku. Seseorang yang ku inginkan untuk terus berbagi kenangan indah di sisa waktuku kelak. Dimulai saat ia membelikan kebebasan untukku. Namun bagaimana pun juga, aku tahu ia telah melakukan semua bagiannya. Jadi ku rasa adalah giliranku sekarang.


Dan aku tahu bagaimana cara membuatnya bahagia.


********


Malam sedikit tenang. Suhu juga terasa sedikit lebih hangat. Meski kami tidak bisa melihat bulan di atas langit. Tapi cahaya bintang sudah cukup untuk menyemarakkan malam. Jutaan, miliaran, yang terus memancarkan cahayanya sejak semesta ini berdiri.

__ADS_1


"Malam yang indah," ia mengatakannya. Pandangannya mengarah ke angkasa. Jadi aku tidak bisa melihat wajahnya.


"Ya, tapi kau lebih menakjubkan dari semua itu!" Aku menggodanya, dan ia menyukainya.


Aku menyentuh tangannya, membawanya ke arahku, sebelum tanpa sadar merasakan cincinnya di sana. Aku tahu cincin yang sama juga melekat di jari manisku. Dan ini bukan hanya sekedar hiasan. Melainkan simbol, pengikat, tentang perasaan yang kuat jika kami saling mencintai dan akan selalu mencintai. Karena dari sanalah hari-hari yang hebat terus berdatangan. Dia berusia dua puluh empat tahun saat aku menikahinya, dan aku berusia dua puluh tujuh tahun. Dan hari ini, kami telah menjalani selama enam tahun hidup bersama.


Beberapa jam yang lalu, kami sempat membuat satu kejutan kecil sebagai perayaan. Kali ini melibatkan Alicia. Meski sebenarnya aku juga sempat berbuat sedikit kesalahan.


Alicia, tiba-tiba saja bertanya dengan kepolosannya. Meminta agar ia yang meniup kue ulang tahun yang ku maksud. Sebelum aku menghentikannya dengan jawabanku.


"Kenapa kamu yang mau tiup lilinnya? Kan bukan kamu yang ulang tahun?" Lalu sahutku. Tentu saja aku separuh bercanda. Namun Hannah tiba-tiba menengahiku.


"Sshhh..., ya... tidak apa-apa. Kamu boleh tiup lilinnya kok, sayang" Balasnya, memberi peringatan dengan menatap mataku.


"Aku hanya bercanda."


"Ya, kau tidak perlu." Ia tersenyum padaku.


Perayaan pernikahan bukan hanya sekedar tradisi, tapi juga pengingat. Kembali mengulas tahun kebersamaan, introspeksi, perbedaan atau mungkin janji yang pernah dibuat. Karena pernikahan memang takkan pernah berjalan tanpa hal-hal tersebut. Rumah tangga layaknya kapal yang berlayar. Di mana aku nakhodanya, sementara dia penunjuk arahku. Dan berdua, kami membangun seluruh isi kapal ini bersama.


Berikutnya, aku mengambil suatu bingkisan kecil yang ada di dalam kantongku. Menyerahkannya untuknya. Isinya tidak seberapa, hanya kalung emas dengan permata merah kecil di matanya. Namun aku tahu itu akan terasa lembut dan manis saat dilihat.


"Lihatlah, hanya ini yang bisa ku berikan!"


Bahkan dengan kejutan sekecil itu pun, ia nampak terpaku sejenak. Dan wajahnya mulai berseri-seri. "Ini cantik sekali!" Suaranya manis dan lembut di telingaku. Ku kira pilihanku sama sekali tidak sia-sia.


"Kau ingin mengenakannya sekarang?" Tanyaku lagi.


Dan ia menjawabku dengan senyumnya.


Aku mulai mengepaskannya di lehernya, memindahkan rambutnya secara lembut, aku bahkan bisa merasakan halus kulitnya di jari-jemariku. Aroma yang ku rasakan dari tubuhnya membuatku hidup kembali.


"Kau terlihat cantik sekali malam ini."


Ia tak menjawabku lagi, namun tetap tersenyum penuh makna di sana.


Cinta memberikan tenaga. Inilah yang aku tahu. Dan itu bukan sekedar reaksi kimia yang terjadi di dalam otakku. Karena ia yang seakan mengalir di dalam darahku sekarang. Aku bahkan bisa merasakan jiwa dan ragaku bergetar.


*********


Kami tidak menutup acara itu dengan makan malam semata. Namun masih ada satu hal yang kami lakukan. Di luar, malam semakin terlelap. Dan bintang semakin menampakkan sinarnya sekarang. Aku bahkan bisa melihat cahayanya membias di matanya yang lembut. Meski suhu udara mulai terasa semakin dingin.


"Apa anak-anak sudah tertidur?" Ia bertanya padaku. Sementara menyandarkan berat tubuhnya di atas bahuku.


"Ya," dan aku mengangguk padanya.


"Dingin sekali di luar,"


"Aku tahu. Karena itu aku di dekatmu kan?" Jawabku lembut.


Aku menariknya ke arahku. Dan ia kembali menatap mataku. Di bawah cahaya bintang, sinar matanya semakin terlihat berkilauan sekarang.


"Apa diriku sekarang membuatmu hangat?" Lagi-lagi ia tidak menjawabku. Tapi aku bisa melihat senyumnya. Beginilah cara ia menunjukkan rasa senangnya.


Kami berada di ruang terbuka malam itu. Halaman kecil tepat di belakang rumah. Ada kolam kecil di sana, lampu taman, dan juga bermacam bunga. Kami menghabiskan waktu dengan duduk di ayunan kursi. Dia berada di sampingku, selimut menutup tubuh kami berdua, lilin menyala di atas meja. Untuk ini, aku sangat tahu jika Hannah masih dalam masa pemulihannya. Bahkan baru dua bulan sejak putra pertama kami, Dicky lahir. Tapi ia akan selalu sama sepertiku. Dengan menganggap hari itu hari yang spesial, dan tentu saja suatu kebanggaan.


Ia menelusuri jari-jemariku, mempererat genggamannya di sana. Aku juga bisa merasakan hangat tubuhnya saat ia kembali bersandar di dadaku. Aku melingkarkan lenganku di pinggangnya, dan lagi mengeratkan dekapanku. Di dalam diriku, aku merasakan diriku yang sepenuhnya bergelora.


Kami bicara tentang kesenangan, sejumlah rahasia, berikut keinginan di tahun-tahun mendatang. Kami juga sempat membicarakan Alicia. Saat gurunya berkata ia bisa mengarang cerita untuk teman-teman bermainnya. Hal-hal luar biasa tiba-tiba saja terjadi. Bahkan di saat ia belum bisa membaca dan menulis dengan benar. Tentu saja aku tahu dari mana bakat tersebut berasal.


Kami bicara selama berjam-jam lagi dan lagi. Hanya ada kami sekarang. Di antara angin malam, dan terjaga dari keramaian. Ini akan selalu menyenangkan. Dan aku tahu momen tersebut akan terus berlangsung selamanya. Namun sebetulnya, aku juga ingin mengarahkan percakapannya langsung ke sana. Terlebih situasinya saat itu memang sudah sangat mendukungku. Tapi sebelum aku sempat melakukannya, Hannah keburu mengarahkan ceritanya kembali seperti ini.


"Tentang ceritamu sebelumnya, apa kau sudah menyelesaikannya?" Lalu tiba-tiba tanyanya.


Tentu saja aku tidak menyangka jika ia akan kembali menanyakannya. Meski aku tetap menganggapnya berita baik. Bahkan, aku sempat tertawa untuk hatiku sendiri. Seraya berusaha keras untuk tidak menunjukkannya.


"Jadi kau masih membacanya?" Tanyaku berpura-pura. Aku tahu aku harus lebih sabar di sini.


"Ya," ia mengangguk. "Aku tidak tahu apa kau sudah menyelesaikannya?" Sahutnya bingung.


Lalu aku pun bergumam. "Sebetulnya... aku juga bingung. Aku tidak tahu apa aku ingin melanjutkannya lagi?"


"Kenapa?"


"Karena kau sendiri kan! Kau mengatakan jika kau selalu supportif padaku, tapi aku tidak melihatnya lagi sekarang."


Ia menarik dirinya ke belakangnya. "Apa? Bagaimana bisa kau berkata begitu? Aku selalu mendukungmu!" Sahutnya. Suaranya penuh ketidak-percayaan.


"Ya, tapi aku tidak melihatnya begitu dari sikapmu yang terakhir. Kau ingat, saat aku meminta bantuanmu, kau malah bersikap tidak acuh begitu saja?"


Aku sangat tahu sekarang. Satu-satunya cara untuk membuatnya terdesak adalah dengan membalikkan kata-katanya sendiri. Sesuatu yang berlawanan darinya. Tapi bukannya mengena, ia justru membalikkan keadaannya kepadaku.


"Aku tidak berkata begitu." Protesnya. "Aku hanya tidak suka kau terus membuat cerita tentang orang lain. Apa lagi itu cerita tentang mantanmu kan?"


"Dia bukan mantanku. Ku kira kau sudah membacanya...?"


"Ya..., aku sudah membacanya." Sahutnya lagi, tanpa ekspresi. "Tapi itu yang sebetulnya lebih mengecewakan lagi." Komentarnya kembali membuat kepalaku sedikit tersentak. Bahkan sejenak, aku tidak tahu apa yang mesti ku katakan. Sikap tubuhnya telah sepenuhnya berbeda.


Namun aku tahu cara memperbaiki sedikit perasaannya.


"Karena itulah aku ingin memasukkan cerita tentang kita bukan? Di akhir cerita. Untuk mengatakan jika aku bahagia dengan hidupku yang sekarang. Tapi kau tidak memberiku kesempatan untuk menyelesaikannya."


Ia mengamati wajahku, sebelum menarik kesimpulan dengan kata-katanya. "Oh..., jadi begitu kah..." Lalu ia tertawa. "Tapi..., apa itu tidak terdengar seperti pembalasanmu?"


Ku kira ia memang tidak memahami maksudku di sini. Tapi setelah ku pikir sekali lagi, ku kira ia memang coba memojokkanku. Meski dalam artian yang baik.


"Tentu saja tidak. Yang benar saja." " Sahutku tanpa pikir panjang kemudian menertawakannya. "Lagipula untuk apa juga kan, aku menyesali seseorang yang tidak ditakdirkan untukku?" Nadaku jelas sekali terdengar tidak peduli. Tapi mendapati responnya, ku kira Hannah masih mengartikannya lain.


"Ya..., tapi ku rasa aku bisa menangkap kekesalanmu sekarang!" Kali ini ia yang tertawa.


Aku tidak tahu mengapa, tapi ku kira aku baru saja membayangkan seseorang yang berbeda sekarang, sedang duduk di hadapanku. Aku membalikkan tubuhnya. Membuatnya sekali lagi menatapku.


"Kau selalu membuat segalanya rumit ya? Tapi aku hanya mengatakan semua kebenarannya padamu, Hannah. Sungguh. Aku juga tidak ingin kau menganggapku berlebihan. Namun kau benar-benar yang teristimewa untukku. Dan kau takkan pernah tergantikan. Jadi mengapa aku harus marah jika aku mendapat kebahagiaan yang jauh lebih hebat daripada itu kan? Kau harusnya tahu, dan aku takkan pernah menyesalinya. Kita bisa berubah, dunia bisa berubah, tapi tidak untuk perasaanku padamu kan? Cerita itu, aku hanya menjadikannya sekedar cerita. Yang menurutku adalah sesuatu yang bagus. Dan memang satu hal yang perlu ku lakukan. Tidak ada alasan yang lain."


Aku menatapnya sekarang. Wajahnya masih terlihat berkilauan. Aku bahkan tahu jika tidak ada satu alasan pun ia akan meragukan kata-kataku. Suatu tanda yang takkan pernah berubah. Namun aku masih menganggapnya belum cukup. Yang membuatku melanjutkan lagi.


"Aku hanya ingin menikmati waktu kita berdua, Hannah. Dan betapa bahagianya aku sekarang. Kau adalah impian seumur hidupku. Aku mencintaimu, dan akan selalu mencintaimu. Kau adalah keindahan terhebat yang pernah ku miliki sekarang. Tahun-tahun yang kita lewati bersama adalah masa-masa terbaik yang pernah ada dalam hidupku. Aku takkan melupakannya. Saat kita menua, aku akan kembali menghidupkan tahun-tahun yang mengagumkan tersebut, mengenang semuanya. Karena hanya inilah satu-satunya yang membuatku bahagia. Bahkan untuk apa pun yang ada di dunia ini, aku masih akan tetap memilihmu..."


"Aku tahu. Aku hanya menggodamu juga kan?" Suaranya lembut. Ku kira baru kali ini ia mengungkapkan perasaannya. Yang kedengarannya manis sekali. "Tapi bisakah kita tidak membahasnya lagi?" Namun lanjutnya lagi.


Aku tahu ia coba menyembunyikan perasaannya lagi. Meski sebetulnya ia juga tidak harus melakukan itu. Tapi ku kira wanita selalu punya cara tersendiri dalam menunjukkan perasaannya. Terlebih Hannah juga bukan pengecualian.


Sejenak, kami duduk sebentar lagi di tengah keheningan. Sementara merasakan embun malam yang perlahan mulai turun. Bahkan di saat separuh malam hampir berakhir pun, kami masih enggan beranjak dari sana. Tepat di hadapanku, aku masih membiarkan Hannah mengistirahatkan wajahnya di dadaku. Kemudian mengusap lembut rambut yang menutupi wajahnya. Dan di bawah cahaya remang-remang, ia terlihat semakin mempesona sekarang. Namun aku nyaris mencium bibirnya lagi ketika itu, sebelum ia yang justru melakukannya lebih dulu padaku.


"Jadi, bagaimana lagi kelanjutan kisahnya? Maksudku, kelanjutan dari buku yang kau tulis?" Tanyanya lagi dan ia tersenyum.


"Um.., jadi apa yang ingin kau ketahui sekarang?"


"Semuanya? Pernikahan mereka. Apa kau hadir di sana? Dan juga tentang jam tangan itu. Kau berjanji memberikannya kan?"


Aku tersenyum padanya. Dengan sepenuh hatiku. "Aku senang kau menanyakannya. Tapi..., ku rasa aku tidak bisa mengatakannya sekarang," aku bermaksud bercanda.


"Jadi kau ingin menyembunyikan rahasianya dariku?" Rengutnya lagi.


"Bukan begitu...! Maksudku kan, kau juga akan mengetahuinya nanti..."


"Kau tidak memberiku petunjuk?"


Aku mendiamkannya sejenak. Seakan itu memberinya kesenangan sebelum aku mengatakannya. "Ya, aku tetap memberikannya. Tapi aku tidak bisa datang ke pernikahan mereka..." Sahutku akhirnya.

__ADS_1


__ADS_2