
Tidak seorang pun menginginkan cuaca buruk hari itu. Begitu pun mereka berdua. Tapi dengan keadaan mereka yang saat ini terlalu jauh dari kehidupan, pilihan terbaiknya adalah tentu saja segera mencari perlindungan. Dia tidak ingin masih berada di luar di cuaca buruk begini. Terlebih lagi dengan angin kencang yang bertiup di sekeliling mereka. Bahkan pepohonan rindang bukan lagi tempat yang aman untuk bernaung.
Mereka juga sedikit mengubah posisi mereka di saat perjalanan pulang. Dengan Ryan yang sekarang berpasangan bersama Sarah. Dan mereka benar-benar memacu kendaraannya dengan sangat cepat seiring awan hitam yang terus menebal di atas kepala mereka. Dia tahu dia juga takkan bisa menyusul teman-temannya yang jauh di depan. Dikarenakan Sarah yang saat itu berada di belakangnya. Seperti gerakan-gerakan yang ia timbulkan atau semacamnya. Namun mereka baru menempuh separuh perjalanan saat petir terdengar di kejauhan. Tidak terlalu keras sebelumnya, namun mulai terdengar berulang-ulang.
Berikutnya, angin kencang mulai membuat pohon-pohon besar berayun kencang kali ini. Dan langit telah sepenuhnya berubah gelap gulita. Dan hanya perlu sekian detik hingga dia merasakan kecemasannya kembali. Pada akhirnya, hujan perlahan mulai turun. Rintik kecil awalnya, yang perlahan semakin deras. Dia mulai bisa merasakan air yang segera merembesi pakaiannya. Bahkan di saat ia mengenakan jaket. Beruntung, mereka menemukan pondok tidak sebeberapa jauh dari sana. Bentuknya memang tidak sempurna. Tapi hanya itu satu-satunya pilihan. Terlebih dengan petir yang terus menyala-nyala di atas kepala mereka, jadi tidak ada pilihan lain selain hanya mengalah kepada alam sejenak.
Ryan segera memarkir motornya di halaman depan kemudian, berlari ke arah tangga, seraya menudungkan jaketnya di atas kepala mereka berdua. Di selasar, dia sejenak memeriksa pintu, namun tidak menemukannya dalam kedaan terkunci kali ini, jadi dia merasa tidak perlu meminta izin pemiliknya lagi karena penghuninya tidak ada. Dengan ragu keduanya melangkah masuk. Air menetes dari ujung-ujung pakaian mereka.
“Harinya semakin buruk.” Sarah mulai bicara. Sementara Ryan menanggapinya dengan mengangguk. Dia lalu menaruh jaketnya di gantungan pakaian, berharap waktu yang kemudian mengeringkannya.
Di dalam, udara terasa sedikit pengap. Dan Sarah membuka jendela untuk menyegarkannya, membiarkan cahaya sore meneranginya sejenak. Di pojokan ruang, tepat berseberangan dengan pintu, Ryan melihat sisa-sisa kayu pembakaran. yang kemudian ia gunakan sebagai penghangat.
Ada sedikit perasaan aneh saat mereka terjebak di tempat itu. Dan rasanya seperti alam sekarang yang seakan berkonspirasi terhadap mereka, dengan membuat mereka terus sendiri. Namun dia juga tidak ingin terlalu jauh memperhatikan Sarah pada saat-saat itu terjadi. Hanya saja, dia yang sebelumnya hanya menatap datar ke luar jendela, tiba-tiba menangkap bayang-bayang Sarah saat ia mengeringkan rambutnya. Yang entah bagaimana caranya membuatnya enggan berpaling. Dan untuk pertama kali sejak pertama dia mengenalnya, ia tiba-tiba kelihatan seperti hampir-hampir cantik. Bahkan dia tidak sadar jika dia baru saja mengaguminya.
Dia tahu dia harus segera memalingkan wajahnya dengan segera. Dan dia benar-benar akan segera melakukannya ketika itu terjadi, sebelum Sarah kembali menangkap apa yang ia lakukan. Tapi ia hanya tersenyum lembut di sana. Jelas sekali jika ia juga menyukainya.
“Sepertinya kita akan sedikit kemalaman di sini. Kau tidak takut ayahmu mencarimu?” Lalu ujarnya. Berusaha mengatakannya sewajar mungkin.
Mendengar pertanyaannya, Sarah malah memalingkan wajahnya sebentar. Kemudian melihat ke arah langit lagi. Di dalam hatinya, dia sudah menduga jika jawabannya pasti akan terdengar buruk.
“Tidak juga,” namun sahutnya.
“Maksudmu, ia takkan mencemaskanmu?”
“Ku kira begitu. Tapi sepertinya ia takkan marah.” Lalu ia bergumam sebentar. “Sebetulnya… ia juga tidak tahu kalau aku jalan-jalan,”
Jawaban yang terdengar mengejutkan. Dan tentu saja membuatnya sedikit waspada.
“Kenapa bisa begitu?”
“Karena aku sangat mengenal ayahku kan?” Sekarang ia malah tertawa.
“Bahkan kalau ia tahu aku yang membawamu?” Kali ini Ryan bertanya lagi.
Ryan tahu jika ucapan itu memang dia tujukan karena kecemasannya. Dan Sarah juga sepertinya memahami apa yang dia rasakan. Tapi sekali lagi, dia hanya tersenyum pada dirinya sendiri. Dan tidak memberi jawaban atas apa yang sebelumnya dia tanyakan.
“Kau sepertinya takut pada ayahku?” Malah ujarnya.
__ADS_1
“Ku rasa siapa saja. Lagipula kau pernah mengatakannya kan, jika dia tidak terlalu suka padaku?”
“Aku tidak bilang begitu… Aku hanya bilang kalau dia tidak suka pada kelakuan kalian.” Sahut Sarah sekarang, dengan sedikit penekanan pada kata-katanya. Yang membuat Ryan tidak tahu harus berkata apa lagi.
Benar saja jika membolos adalah kebiasaan yang menyenangkan bagi mereka, tapi semua itu harus tetap dilakukan secara rahasia. Sepertinya, Sarah mulai memiliki pengaruh yang sama seperti ayahnya. Meski dia tidak mengekspresikannya dengan cara yang demikian. Bahkan ia hanya menoleh sekali untuk merespon. Dan tidak menambahkan apa-apa ke dalam percakapan. Tapi Ryan tahu jika berbicara tentang kebiasaan bukan hal yang menarik bagi keduanya. Karena itulah dia kemudian mengganti topik pembicaraannya.
“Kau tidak kedinginan?” Tanyanya akhirnya.
Sarah menoleh ke arahnya sebentar sebelum menjawab. Seakan tidak menyangka dengan pertanyaannya. “Ya, sedikit. Ku kira karena pakaianku basah.” Lalu balasnya.
“Oh…, sebetulnya… aku ingin meminjamkanmu jaketku. Tapi sekarang masih basah. Mungkin akan sedikit kering jika hujannya sudah berhenti. Jadi kau bisa memakainya nanti.” Ujarnya, coba menunjukkan perhatiannya. Seraya mengatakannya sewajar mungkin.
Dia menatapnya. “Aku tidak apa-apa. Sungguh.” Namun balasnya pelan. Dan tanpa memperpanjang masalahnya.
“Maaf karena membuatmu terjebak di sini,” ujarnya lagi.
Kali ini Sarah yang melirik sekali lagi. “Untuk apa? Ini kan karena alam yang berkehendak?” Sahutnya dan ia tersenyum.
Berikutnya, tidak ada kata lagi yang tercipta dari mulut mereka sejenak. Dan mereka benar-benar melewatkan waktu di tengah keheningan selama beberapa saat. Seraya berharap hari juga tidak terus memburuk. Meski bukan itu juga yang sebetulnya terjadi. Kabar baiknya, mungkin kabar baiknya adalah petir yang mulai jarang terdengar sekarang. Meski mereka harus tetap pulang terlambat. Bahkan cahaya langit hampir-hampir tak terlihat.
Namun jarak di antara mereka pada awalnya memang sedikit jauh. Di saat Sarah berada ujung ruangan, sementara Ryan di sisi yang lain. Namun tidak seperti sebelumnya saat Sarah yang biasa lebih dulu datang padanya, kali ini justru Ryan yang memulai langkahnya lebih dulu. Benar saja, memang tidak terjadi apa-apa setelah itu. Karena keduanya yang hanya menggunakan itu untuk duduk bersebelahan. Seraya membiarkan api di perapian yang kemudian mengeringkan pakaian-pakaian mereka. Tapi entah mengapa, Ryan semakin tidak bisa menahan diri untuk tidak memandanginya lagi sekarang. Sekali saat tatapan mereka bertemu, dan Sarah juga tidak berusaha memalingkan wajahnya saat dia menatap matanya lekat. Dia bisa melihat matanya yang sedikit melebar. Cahaya buram di sekitar mereka benar-benar membuatnya terlihat lebih cantik lagi untuk terus dilihat.
“Apa yang biasa kau lakukan saat membolos kerja?” Tanya Sarah, berusaha mengusir kegelisahannya. Bahkan, dia tidak tahu mengapa itu menarik baginya.
“Maksudmu di Welmina?”
“Ya…, memangnya kau membolos ke mana saja?” Tanyanya lagi.
Kali ini Ryan bergumam. “Tidak ada.” Sahutnya. “Hanya di Welmina saja. Teman-teman, sebetulnya pernah mengajakku ke luar kota sesekali. Tapi aku tidak tahu tempat yang layak dituju. Jadi aku tidak pernah ikut. Mungkin di lain waktu. Itu juga kalau kesempatannya ada.”
“Oh..., jadi apa yang kau lakukan kemudian?”
“Maksudmu saat aku bersantai? Tidak ada. Hanya bermain internet.”
“Kau membolos hanya untuk itu?” Sahutnya, dan ia tertawa lepas.
“Ya, begitu lah. Kenapa?” Balasnya heran.
__ADS_1
“Tidak, ku kira kau menelepon keluargamu atau semacamnya.” Kali ini dia tidak menjawab. Sebelum Sarah melanjutkan. “Kau tidak berencana pulang ke Bandung, Ryan?”
Ada jeda sebelum Ryan menjawab lagi. “Sebetulnya, kadang-kadang. Tapi karena pekerjaanku di sini, ku rasa sulit untuk bisa kembali.” Sahutnya, namun kali ini Sarah tidak meresponnya. Perhatiannya lebih sering mengarah ke luar jendela.
Ryan tidak tahu apa yang ia pikirkan. Mungkin ada hubungannya dengan hujan di luar. Sementara hari telah sepenuhnya gelap gulita. Percikan api di tempat ini membuat keadaannya begitu kontras dengan pemandangan di luar. Namun dia tidak terlalu memikirkannya ketika itu.
Hingga akhirnya dia bicara lagi. “Ku rasa aku perlu mengajakmu membolos sekali-kali,” ujarnya memulai. Sementara Sarah menatap dan tersenyum padanya.
“Kenapa kau mau mengajakku?”
“Tidak…, aku hanya mau melihat respon ayahmu saja. Apa sikapnya akan sama seperti kami?” Ucapnya bercanda.
Sepertinya Sarah sedikit terkejut saat Ryan membawa nama ayahnya. Meski ia tidak memperpanjang dan tidak juga menanggapinya. Dia malah hanya berujar bahwa setiap anak pasti pernah dimarahi orang tuanya di sini. Meski yang jadi perbedaan adalah seberapa sering. Pelajaran berharga tentu tidak selamanya di dapat di luar rumah. Namun percakapan lagi-lagi terhenti ketika itu. Dan Ryan perlahan tahu jika ada yang tengah mengganggu pikirannya.
“Kau yakin ayahmu tidak akan marah, Sarah?” Lalu dia bertanya lagi.
“Kalau sampai kemalaman begini, aku juga tidak tahu,” sahutnya, ekspresinya jelas menunjukkan kecemasan. Padahal tadi ia baru saja berkata tidak.
Ryan jadi sedikit bingung menanggapinya di sini.
“Kau mau kita menerobos hujan sekarang?” Kemudian tanyanya.
“Entahlah. Menurutku…, kita bisa menunggu dulu! Tapi kalau hujannya tidak berhenti setengah jam lagi, ku rasa aku tidak punya pilihan.” Sahutnya ringan. Pandangannya masih ke luar jendela.
Tapi cuaca memang sedikit lebih baik ketika itu. Hujan tidak lagi sederas seperit sebelumnya. Meski masih perlu waktu sedikit lebih lama lagi untuk sepenuhnya reda. Di sisi lain, Ryan justru mulai merasakan kecemasannya lagi kali ini. Dia tahu Otto akan menggunakan alasan apa pun untuk menyalahkannya. Karena itu adalah sesuatu yang biasa dilakukannya tanpa berpikir dua kali. Benar saja, situasinya tidak terlalu buruk seperti yang ia bayangkan. Karena semua orang tahu bukan, dengan siapa dia akan terjebak sekarang. Bahkan jika harus berlama-lama lagi dengannya di sana juga dia takkan lagi keberatan. Meski situasinya tidak harus sama seperti ini. Tapi hujan benar-benar berhenti ketika itu.
Yang menandai jika sisa sore itu harus berakhir.
Mereka mengemasi barang-barang mereka sesaat akan kembali, merapikan semua seperti semula, dan berangkat lagi ke Welmina selagi bisa. Beruntungnya, pakaian mereka juga sudah mulai sedikit mengering. Dan Ryan membiarkan Sarah yang kemudian mengenakan jaketnya. Karena udara yang akan terasa semakin dingin lagi.
Berikutnya, mereka benar-benar tiba di Welmina nyaris sebelum pukul delapan malam. Dan Ryan segera menghentikan kendaraannya tepat di depan rumahnya. Yang sekarang terlihat tanpa penerangan sedikit pun. Dia menatap Sarah sebentar, untuk mengucap terima kasih padanya. “Terima kasih sudah menemaniku Ryan!” namun nyatanya dia yang justru mengucapkan lebih dulu.
“Um…, kau bisa menjelaskannya pada ayahmu kan?” Balasnya. Masih menunjukkan kegelisahannya.
“Tenang saja, dia akan mengerti.” Lalu Sarah menjawab.
Mereka terdiam sebentar lagi di depan rumah, hingga tak ada lagi kata-kata yang keluar dari mulut keduanya, sebelum Sarah yang perlahan menjalankan kendaraannya. Dan Ryan terus mengawasinya dari belakang sampai ia benar-benar hilang dari pandangan.
__ADS_1
Pada akhirnya yang tersisa kemudian hanyalah aroma badan Sarah yang terus melekat dari balik jaketnya.