
Suatu hari di bulan Agustus, Sarah mengajaknya melewatkan waktu sebentar di tepian sungai Mara. Yang baginya adalah suatu kejutan. Karena Sarah yang tidak pernah menawarkan ide-ide semacam itu sebelumnya. Mereka pernah berkali-kali jalan berdua. Tapi ide-ide tersebut tetap Ryan yang merencanakannya. Lagipula kenyataan laki-laki memang harus lebih aktif dalam membuka hubungan, bukan? Dan saat Sarah yang pertama kali mencetuskannya, ia merasa ini benar-benar sesuatu. Ryan mungkin tidak terlalu memperhatikan sifat pendiamnya di detik pertama pertemuan mereka. Dan dia yang masih menganggapnya sebagai berita yang bagus untuk perkembangan ini. Dia hanya merasa bahwa Sarah mungkin merasa penat karena terus berada di rumah. Karena itulah dia kemudian membutuhkan seseorang untuk sharing perasaannya.
Dia menjemput Sarah tepat sesuai jadwal, dan mereka memutuskannya lagi dengan berjalan kaki. Dia juga tahu jika Sarah baru bersiap-siap sesampainya ia di sana. Rambutnya masih kelihatan basah, dan dia bisa merasakan aroma farfum terpancar dari arah tubuhnya. Yang menjadikan kecantikannya semakin berasa lebih. Sebelumnya, Ryan sempat memberanikan diri untuk menemuinya langsung di rumah. Meski dia tidak tahu apa Otto akan mengizinkannya untuk mengajak putrinya pergi atau tidak. Seperti biasa, dia selalu mengetuk pintu rumahnya setiap ia datang, meski rumahnya dalam keadaan terbuka. Namun kali ini, dia langsung berhadapan dengan Otto di depan. Dan segera meminta izinnya untuk mengajak Sarah keluar. Beruntung, ia juga tidak memperlihatkan tanda penolakan. Meski wajah sinisnya masih belum sepenuhnya hilang. Dia merasa, mungkin jika bukan karena Sarah, dia pasti takkan melihat keramahannya di sini. Dia juga tahu jika Otto takkan keberatan jika ada yang mengajak putrinya jalan-jalan. Tapi tetap saja bukan dia yang jadi salah satunya.
Tempat yang mereka tuju adalah dataran banjir yang ada di tepian sungai Mara kali ini. Lokasinya berada tepat di salah satu tikungan sungai. Selama ratusan tahun, sungai Mara membawa banyak lumpur ke tempat itu. Yang akan mengering di saat musim kemarau panjang datang. Sebelum meninggalkan endapan halus yang berasa seperti gundukan tanah berpasir. Dulu, tempat itu hanyalah bentuk keunikan alam tersendiri yang sempat terabaikan. Tapi sekarang, tempatnya hampir selalu ramai jika suasana libur baru saja tiba. Penduduk Welmina, tua atau pun muda, biasa melepas santai di tempat itu. Di mana mereka sering melakukannya tanpa menggunakan alas kaki. Memang sih, orang-orang takkan pernah memenuhi setiap titiknya sejauh mata memandang. Tapi tetap saja takkan mengurangi saat-saat sempurna saat mereka berada di sana.
“Bagaimana? Kau menyukai tempatnya kan?” Kali ini Sarah membuka pembicaraan saat mereka baru saja tiba.
“Jika aku bersamamu.” Godanya padanya. Dan dia bisa melihat senyumnya melebar. Tahu jika cara itu cukup berhasil.
Keduanya duduk di dekat pohon akasia besar sekarang, dengan satu bangku panjang tepat di bawahnya. Sementara mulai merasakan angin yang terus menerpa wajah mereka. Hingga pertanyaan tentang ayahnya Sarah kembali melintas di benaknya Ryan.
“Ayahmu, sepertinya tidak banyak berubah,” ujarnya.
“Maksudmu?”
“Tadi, saat aku bertemu dengannya di rumah…”
“Tidak perlu kau pikirkan. Lagipula dia kan mengizinkan.” Sahut Sarah. Tidak sepenuhnya menjawab apa yang ia tanyakan.
Dia lalu terdiam sebentar. “Apa ayahmu melarangmu dekat dengan seorang pria, Sarah?” Lalu tanyanya lagi.
“Tidak. Kenapa?”
“Termasuk aku?”
Dia tersenyum sebelum menjawab. “Ayahku tidak pernah melarangku dekat pada siapapun Ryan… Termasuk dirimu.” Sahutnya lembut. “Tapi kalau dia tidak suka dengan orang lain, dia memang bisa memendam lama.”
“Oh…, aku tidak tahu apa dia akan terus begitu. Lagipula aku sudah berani berhadapan dengannya, kan? Saat aku meminta izin untukmu.”
“Ya, kalau itu yang kau cemaskan, aku akan membicarakannya nanti.” Sahutnya, seakan bisa membaca pikirannya. Meski entah mengapa, saat Sarah mengatakan itu padanya, dia tidak merasa jika ia akan menepatinya. Tapi tentu saja dia tetap menjaga pemikiran itu untuk dirinya sendiri.
Ada jeda sebelum dia bicara lagi. “Apa kau pernah kemari sebelumnya, Sarah?” Kali ini ia bertanya lagi.
“Pernah. Sebetulnya, di sini tempat favoritku sejak kecil.”
__ADS_1
“Oh, benarkah? Kau pasti berlari-lari di sini? Kemudian berenang seharian di sana. Mungkin kau melakukannya bersama ayahmu?”
Ia menatapnya serius. Tapi dia bisa melihat senyumnya. “Tidak sepenuhnya benar. Maksudku, aku hanya melakukannya dengan teman-temanku.” Katanya. “Bahkan aku masih ingat saat kami memanjat pohon ini bersama-sama.”
“Maksudmu, pohon di belakang kita?”
Dia tidak bisa menyembunyikan keterkejutan dari nada bicaranya. Kemudian menatap pohon itu sekilas. Membayangkan tangan-tangan mereka yang takkan bisa memeluknya hingga tangan mereka bertemu. Namun dia tidak menemukan satu alasan pun jika Sarah hanya bercanda.
“Ya, pohon di belakang kita.” Dan Sarah terlihat senang dengan keterkejutannya. “Kami bahkan berlomba untuk sampai ke puncak tertinggi. Tapi aku selalu kalah berkali-kali.” Lanjutnya lagi.
“Karena lawanmu anak laki-laki?”
“Ya, begitulah.” Katanya.
Dia mulai memikirkannya kali ini. Dan meski masa-masa itu sudah lama berlalu, tapi bayangan itu terasa menyenangkan.
“Sekarang, apa kau masih senang memanjatnya?”
Ia menatapnya sekilas, dan lagi tersenyum, namun tidak menambahkan apa-apa ke percakapan. Tahu jika Ryan bercanda. Sebelum dia kembali melanjutkan.
“Tidak, dari dulu pun sudah sebesar ini.”
Ia berpaling ke arahnya. “Benarkah?” Sahutnya. Lagi-lagi keterkejutan terdengar terdengar dari nada suaranya, namun kagum di waktu bersamaan. “Jadi ini reuni kalian yang ke sekian. Ku rasa kau harus menyapanya. Mungkin ia masih mengingatmu, Sarah. ‘Hai pohon, aku Sarah kecil dulu! Aku minta maaf karena dulu sering memanjatmu. Kau masih ingat kan?’ Ayo katakan Sarah! Aku yakin dia pasti menyukainya!”
“Kamu melucu sekarang?” Sahutnya, tanpa mempedulikan ekspresinya.
“Sebetulnya, tapi tidak sepenuhnya berhasil. Karena kau tidak tertawa, kan?”
“Tidak juga… Aku benar-benar tertawa sekarang.” Sahutnya. Dan ia benar-benar tertawa.
Keduanya terus duduk di sana, hingga matahari mulai bersembunyi di balik bukit. Dan itu berarti masih ada waktu satu jam lagi sebelum Ryan harus mengantarnya pulang. Yang menjadikan situasinya sedikit berat untuk dijalani. Sebab jelas saja, dia tidak ingin hari yang menyenangkan itu segera berakhir. Tepat di hadapan mereka, orang-orang tak henti-hentinya berlalu-lalang. Di mana mereka selalu melempar senyuman ramah setiap saat mereka melintas. Tapi sekali lagi, Ryan terus merasa ada yang berbeda dari cara Sarah memperlakukannya sepanjang hari. Dia tiba-tiba menjadi lebih pendiam. Dan dia belum tahu apa yang menyita perhatiannya. Padahal Sarah yang mengajaknya pergi berdua.
“Kau tidak berencana melanjutkan pendidikanmu lagi, Sarah? Ku rasa itu bagus untukmu?” Sekarang dia kembali pada percakapan.
Dan dia juga menanyakan itu bukan hanya sebagai dasar pertimbangannya saja. Tetapi juga karena pendidikan Sarah yang memungkinkan ia punya kehidupan yang jauh lebih baik lagi. Dan dia juga merasa ada baiknya jika dia mulai menanyakan masa depan. Karena yang berikutnya, mungkin saja akan melibatkan mereka berdua.
__ADS_1
“Aku tidak tahu. Ku rasa mungkin saja. Jika kesempatan itu memang ada.”
Sekali lagi, dia tidak menangkap perasaan antusias dari jawabannya. Dan itu tidak biasanya saat mereka membahas harapan. Meski dia tidak tahu bagaimana cara memancingnya bicara.
Ada jeda sebelum ia bicara lagi.
“Ku rasa kau harus melakukannya, Sarah. Ku rasa ayahmu juga akan semakin bangga, jika kau benar-benar melakukannya.” Lalu sahutnya.
Namun lagi-lagi, Sarah kembali tidak menjawab. Dan hanya membiarkan komentarnya melayang di udara. Sebelum Ryan yang kembali melanjutkan. “Aku…, sebenarnya juga ingin kuliah Farmasi, atau kedokteran jika perlu, tapi kau tahu kan, biayanya mahal. Jadi… aku hanya bisa mengubur impianku dalam-dalam.”
Kali ini pandangannya mulai kembali, dan nampak tersenyum kecil sebelum menjawab. “Tapi kenyataannya tidak terlalu mengecewakan juga, kan? Mengingat kamu sudah punya pekerjaan tetap sekarang.” Akhirnya ia menyahut.
“Bukan kebanggaan bagiku.” Sahutnya kikuk. “Karena aku yang harus hidup di sini. Ini seperti penjara bagiku. Aku hanya ingin kebebasanku kembali.” Dia tahu jika jawabannya kembali bertentangan dengan Sarah. Sesuatu yang tidak dapat ia hindari. Namun Sarah tidak menyanggahnya. Ia malah menggodanya dengan ucapannya, “Ya, tapi tetap saja kan, ku rasa akan ada lebih banyak gadis yang semakin tertarik padamu!” Ia tertawa kemudian.
Dan dia tahu cara terlibat dalam permainannya.
“Ya, ku harap juga begitu. Tapi aku akan lebih senang jika gadis cantik sepertimu jadi salah satunya!” Balasnya.
Dan Sarah kemudian menyikutnya dengan siku. “Kau bercanda.”
“Aku serius. Kau kira untuk apa aku terus melewati waktuku bersamamu, kan? Semuanya tidak terjadi tanpa alasan...?” Sahutnya, dan dia memalingkan sebagian dirinya ke arahnya. Diamnya Sarah membuatnya semakin berani. “Kau menempati tempat teristimewa untukku, Sarah. Kaulah yang ingin terus ku lihat setiap hari. Bahkan di saat aku tak pernah betah menjalani waktuku di sini, kau membuat segalanya berubah. Kaulah yang mengubahku seperti ini.”
Dia masih menatapnya, berharap ia juga melakukan hal yang sama. Namun Sarah juga tidak melakukan apa pun. Matanya terus memandang ke kejauhan lagi, menembus hutan belantara. Namun Ryan masih merasa kata-katanya masih belum cukup. Jadi inilah yang keluar dari hati terdalamnya. Kalimat yang sudah ia pendam sejak lama. Ia bahkan bisa merasakan detak jantungnya berdebar cepat.
“Aku menyukaimu Sarah. Maksudku, aku benar-benar mencintaimu. Aku ingin menikahimu kelak. Aku sangat ingin hidup bersamamu. Itulah yang dirasakan oleh perasaanku selama ini. Jika kau ingin mengetahuinya.”
Untuk sesaat ia mengatakan itu, ia menduga bahwa itu akan sulit. Namun semua tiba-tiba serasa mudah saat ia mengungkapkannya. Dan dia tidak pernah merasa damai lebih daripada sebelumnya. Dia menunggunya mengatakan sesuatu hal. Apapun itu untuk membalas perasaannya. Namun Sarah juga masih belum mengatakan apapun. Meski dia masih terlihat tersenyum samar. Dan inilah yang selalu ia lakukan di saat Ryan secara jelas mengungkap perasaan.
Dia tidak tahu apa Sarah juga memiliki harapan yang sama seperti yang saat itu ia rasakan. Atau sekedar hanya menjadikannya pelarian. Namun untuk kali ini dia tidak terlihat peduli. Jelas sekali dia membutuhkan kepastian. Dan kepastian itu takkan pernah datang jika Sarah tidak mengatakannya padanya.
“Aku tidak tahu.” Tapi hanya itu jawabnya kemudian. Dengan wajahnya yang nampak merona. “Kau membuatku gugup. Aku ingin menikmati waktu sebentar. Dan aku membutuhkan teman. Bisakah kita tidak membahasnya lagi. Maksudku untuk hari ini.”
Dan seperti yang ia pahami sebelumnya, dia memang suka menggantung perasaannya di sini. Dia tidak tahu apa Sarah benar-benar mengerti situasinya. Namun yang jelas, hal itu sama sekali bukan sesuatu yang ia harapkan ada di hubungan ini. Dan rasanya tentu akan lebih mudah bukan, jika ia menyampaikan perasaannya saja? Meski pada akhirnya ia memberi penolakan. Tapi setidaknya itu lebih baik karena dia yang tidak perlu berharap lebih.
Dia benci saat ia tidak mau membuka perasaannya. Dia benci saat dirinya tidak bisa melakukan apa pun lagi dan lagi.
__ADS_1
Namun matahari akan segera menghilang di sebelah Barat sekarang. Dan cahaya langit mulai berupa-rupa dengan warna. Kemudian di waktu yang nyaris bersamaan, kegelapan perlahan beranjak dari seberang Timur nan jauh. Sementara langit jingga berupaya menghalaunya sedikit lebih lama. Namun dia tahu semua itu hanya akan sia-sia, tepat di hadapan mereka. Air sungai yang keruh ikut mencerminkan semua kejadian tersebut. Layaknya permadani yang berjalan di atas air. Hingga Purnama mulai terbangun dari tidurnya yang panjang. Yang menjadi akhir dari kebersamaan mereka sore itu.