
Dia tidak datang ke rumahnya lagi di malam berikutnya. Karena Sarah yang memintanya melakukan itu. Ia yang mengatakan bahwa ayahnya baru saja datang. Jadi tidak ada pilihan lain selain merelakan perasaannya sejenak. Namun hari-hari yang ia lewati kemudian tiba-tiba terasa berat di sini. Waktu seakan memanjang. Yang setiap detiknya semakin menyiksa. Di dalam rumah, saat dia sendiri, hampir tidak ada waktu luang yang tersisa selain hanya memikirkan Sarah lagi. Dia akan mulai memikirkannya di saat akan tertidur, dan kembali memikirkannya di saat terbangun. Cukup aneh memang saat perasaannya berubah secepat itu. Bahkan belum genap tiga minggu sejak perasaan itu ia rasakan. Lebih dari sekali ia mengulang-ulang kejadian beberapa malam terakhir. Mengulangnya dalam gerakan lambat. Inikah yang disebut cinta sempurna? Hal itu bahkan membuatku hari-harinya semakin tidak berdaya.
Di malam keempat, sekembalinya dia ke tempat tugasnya di Dulin, yang bisa ia lakukan berikutnya sepertinya hanyalah memandangi foto Sarah lagi yang ada di ponselnya. Kadang dia tersenyum sendiri, teringat setiap kenangannya pada saat foto tersebut diambil. Saat cahaya merekam kebersamaan mereka, di hari yang sepenuhnya diisi oleh tawa, dan dia benar-benar bisa melihat wajahnya secara jelas di sana, yang sengaja Sarah dekatkan ke arahnya. Kemudian bersama senyum lembutnya pula, keduanya mengabadikan momen tersebut bersamaan.
Namun yang sebetulnya paling menarik perhatiannya adalah tentu saja foto Sarah saat dia sendiri. Dan inilah satu-satunya gambaran terbaik yang ia miliki. Dengan sinar matahari yang memantul lembut di wajahnya, udara sejuk yang ada di sekitar mereka, yang membuat pesonanya memancar lebih jelas lagi. Dia lalu teringat saat memainkan komputernya, bermaksud melihat-lihat foto yang dimaksud, sebelum dia memutuskan untuk mencurinya diam-diam.
Dia juga tahu jika Sarah sebetulnya menangkap apa yang ia lakukan, namun dia juga sama sekali tidak melakukan apa pun untuk menghentikan itu. Yang menunjukkan jika dia juga menyukainya. Lalu di bawah penerangan bulan separuh, dan di antara penerangan lampu minyak remang-remang, dia berusaha mencermati semua bagian wajahnya secara menyeluruh. Mengamati semua titik yang belum ia sadari sebelumnya. Yang mungkin bisa membuatnya lebih cantik lagi untuk dilihat.
Sarah, seingatnya dia memiliki tahi lalat kecil tepat di bawah bibir kirinya, yang berseberangan dengan tahi lalat di bawah mata kanannya, suatu tanda yang sebelumnya jarang ia perhatikan. Namun anehnya, justru keberadaannya di sanalah sekarang yang membuatnya tiba-tiba semakin manis dilihat. Ada kalanya dia kehabisan daya di ponselnya kembali. Karena yang di sana tidak ada pasokan listrik atau semacamnya. Kenyataan inilah yang sebetulnya sangat ia benci.
Sebagian dari dirinya juga bertanya-tanya apa Sarah merasakan hal yang sama untuknya. Satu kenyataan yang dia takkan pernah tahu. Dan lebih dari sekali pertanyaan tersebut menghantuinya, membuatnya merasa seakan mengambil keputusan yang salah. Mereka bisa bertemu di tempat lain. Di mana pun tempat yang hanya untuk mereka berdua. Untuk sesuatu yang romantis mungkin. Tapi inilah yang terjadi. Dia tahu dia harus melanjutkan kehidupannya, karena dia juga punya tanggung jawab yang harus ia penuhi sekarang.
Di hari-hari berikutnya, saat langit telah sepenuhnya gelap gulita, sering ia temukan dirinya yang tengah meratapi langit malam, merasakan dirinya yang lenyap di kehampaan mereka yang tiada batas. Sebab mereka hanya terpisah beberapa kilometer jauhnya, namun terlalu sulit untuk bisa bersatu.
Kadang, dia juga tidak bisa menyembunyikan kekecewaannya dari orang-orang di sekitarnya. Terutama saat mereka punya sedikit masalah dengan kesehatan mereka, di mana dia hanya bisa menangani mereka dengan separuh hati. Karena konsentrasinya yang tengah terbagi untuk yang lain. Dia tidak punya seorang pun teman yang bisa ia ajak bicara di sana. Terlebih kenyataan bahwa dia juga seorang penyendiri. Dan inilah yang membuat perasaannya menderita lebih lama lagi. Tiga minggu, dia mengulang-ulangnya di dalam hati, dan itu berarti 504 jam lagi hingga ia bisa bertemu. Namun pada kenyataannya, dia bahkan sama sekali tidak bisa menahan lebih dari setengahnya.
Hari kamis, saat dia akhirnya menginjakkan kaki di Welmina lagi, di sinilah ia bisa melepas rasa rindunya sejenak. Dia segera mengatakan jika dia baru saja datang. Dan cukup menyenangkan baginya, saat balasan ia terima dalam hitungan detik. Meski responnya tidak selalu sama seperti yang sebelumnya ia harapkan. Ini baru seminggu, kenapa sudah kembali? Ayahku akan mengamuk jika sampai melihatmu di sini! Yang Sarah katakan melalui pesan. Dia tahu jika Sarah juga tidak benar-benar mengharap kedatangannya di sana. Tapi itu sudah cukup untuk sedikit menghibur dirinya sendiri.
Berikutnya, dia akan mengatakan jika Sarah lah yang menyebabkannya begini. Dan di saat Sarah menanyakan mengapa dia menyalahkannya, dia justru menahan dirinya untuk tidak berterus terang. Dia tahu jika Sarah juga mengerti arah perkataannya. Dan sepertinya, Sarah juga sedang menjajaki situasi yang ada di antara mereka.
Ryan tidak pernah meneleponnya secara langsung. Meski dia juga ingin mendengar suaranya di sana. Sebab bicara dengannya, hal itu justru membuatnya merasa semakin gugup. Mungkin ini untuk seseorang yang akrab dengan penolakan di sini, rupanya menghadapi ketidakpastian itu lebih menakutkan daripada menerima penolakan secara langsung. Jadi inilah yang ia lakukan selama minggu-minggu tersebut berakhir. Dia akan bolak-bolak dari dan kembali ke Welmina lagi. Dalam rentang waktu yang hanya sehari atau dua. Dia mungkin terlihat bodoh untuk pekerjaan yang satu itu. Tapi cinta benar-benar mengubah segalanya, bukan? Bahkan siapa pun bisa melihat perbedaan itu dengan mudah.
Barulah di hari kamis berikutnya, yang berarti sudah tiga kali sejak dia pulang pergi dari dan ke Welmina lagi, dia mulai memberanikan diri untuk meneleponnya. Dan di sinilah saat pertama kalinya dia berterus terang. Dia mengatakan jika hidupnya tiba-tiba berasa aneh selama beberapa hari terakhir. Dan dia juga bercerita bahwa dia terus memikirkan kebersamaan mereka. Dari saat makan malam di pinggir sungai di malam tahun baru itu, saat pergi ke air terjun kemudian terjebak hujan bersama, hingga beberapa malam yang ia habiskan di rumahnya. Dia mengatakan jika semua itu benar-benar berarti untuknya. Yang berasa semakin indah di saat ia bisa terus memikirkannya. Sarah, mungkin ia tidak mengatakan apa pun sebagai jawaban. Tapi dia juga senang saat Ryan bisa bercerita. Dia bahkan bisa mendengar tawanya di sana. Yang seakan tengah menantikan keajaiban atau apa pun.
Dia memang belum mengatakan jika dia benar-benar mencintainya. Bahkan dia tidak pernah memujinya cantik atau apa lah. Barulah tiga hari kemudian, hari minggu yang merupakan waktu terpendeknya di Welmina, dia benar-benar tidak bisa menahan diri lagi untuk tidak berterus terang.
Di dalam pesan, yang ia kirimkan dalam lima atau enam bait paragraph, dia akhirnya mengatakan jika dia sangat mencintainya. Dialah yang membuat hidupnya begini, dialah yang ia inginkan untuk menemani waktu-waktunya ke depan, bukan hanya untuk sekedar waktu senggangnya, tetapi untuk seluruh waktunya tersisa. Dia ingin menatap masa depan bersamanya. Bahkan dia katakan pula jika dia akan menikahinya kelak. Dia sadar jika itu adalah hal terbodoh lain yang pernah ia lakukan demi perasaan. Karena memang tidak pantas bukan, jika dia hanya mengungkapkannya melalui pesan? Yang bahkan dia tidak pernah berharap untuk melakukannya. Ketakutan akan kehilangan benar-benar membuatnya tak tahu harus melakukan apa lagi.
Dengan kata lain, dia hanya ingin Sarah tahu seperti apa perasaannya. Kemudian memberinya kesempatan untuk benar-benar mengutarakannya. Dengan harapan agar ia tidak pergi ke lain hati. Bahkan dia berjanji untuk mengucapkannya secara lisan di pertemuan mereka yang akan datang nanti. Sebagian dari dirinya juga merasakan cemas, takut, namun senang sepanjang waktu. Meski yang sama mengejutkannya juga adalah Sarah yang tidak pernah merespon tiap bait pesan yang ia kirimkan padanya. Dia tidak tahu apa yang ia rasakan. Mungkin menurutnya ia hanya belum sepenuhnya siap. Lagipula ada bermacam skenario yang mungkin bisa terjadi. Dan di dunia ini memang tak ada yang mustahil, bukan?
Di hari minggu, beberapa hari sebelum masa-masa menyakitkan itu berakhir, Ryan akhirnya memutuskan untuk menginjakkan kakinya di Welmina lagi. Dia segera membuka ponselnya sesampainya di sana. Kemudian mengirimkan pesan jika dia ingin segera menemuinya. Bahkan dia tidak perlu menunggu lama lagi hingga Sarah memberi jawaban. Dan segera melangkahkan kakinya ke rumah Sarah hingga detik penuh drama itu berakhir. Dia bisa merasakan sinar matahari yang menyengat di sekujur tubuhnya. Bahkan tidak perlu waktu lebih lama lagi hingga ia benar-benar berkeringat. Namun di sinilah pertemuan mereka yang pertama sejak delapan belas hari terpisah. Yang baginya, bahkan seperti seumur hidup.
Di luar, kendaran Otto terparkir tepat di samping rumahnya. Yang menandakan jika dia ada di dalam sekarang. Namun, dia tetap memaksakan diri untuk terus melangkah masuk. Di depan pintu, dia mengetuk pintunya sebelum mengetuk lagi. Seraya menenangkan perasaan cemas yang menjadi-jadi di dalam dirinya. Dan itu bukan hanya karena Otto saja yang membuatku begini. Melainkan juga lebih ke arah Sarah yang sekarang sudah sangat tahu seperti apa perasaannya. Dengan kata lain, dia tidak bisa selamanya bersikap seperti biasa kali ini. Dia tidak bisa berlagak keren di hadapannya, atau sekedar berpura-pura. Karena memang tidak ada yang perlu ditutup-tutupi lagi sekarang.
__ADS_1
Pada akhirnya, Sarah lah yang keluar ke hadapan pintu. Dan dia hampir selalu sama terkejutnya di setiap ia datang. Meski tetap terlihat antusias melihat kehadirannya di sana.
“Astaga. Ayahku ada di rumah. Kamu yakin berani bertemu dengannya?” Sambutnya sembari tersenyum. Kali dengan nada nyaris berbisik.
“Aku tahu. Karena itulah aku datang.” Lalu balasnya. Dan ia tersenyum lagi sebelum mengiyakan.
Ia mengenakan dress panjangnya kali ini. Dengan rambut panjang yang ia ikatkan di belakang. Namun Ryan sempat menolaknya saat ia mengajak masuk. Jadi mereka hanya duduk di teras rumahnya lagi. Meski dia juga tidak bisa memulai pembicaraan dengan segera sesaat ia di sana.
“Jadi, apa yang menyebabkanmu kemari?” Ujar Sarah, seketika membuat kesadarannya kembali. “Dan jangan katakan kamu tidak tahu alasannya kenapa ya!" Tambahnya lagi dan ia tertawa.
Sepertinya Sarah bisa menangkap sikap gugup Ryan di sini. Karena itulah dia yang membuka percakapan. Namun bukannya menjawab persis seperti yang ia tanyakan, Ryan justru membawanya untuk membicarakan hal lain.
“Kau tidak menerima pesanku?”
“Pesan yang mana…?”
“Pesan yang ku kirim beberapa hari yang lalu. Um… kau ingat kan… saat aku mengungkapkan perasaanku?” Sahutnya. Tergagap. Masih merasa cemas untuk segera memulai. Dia merasakan darah segera membanjiri wajahnya.
Berikutnya, ada jeda sebelum Sarah bicara lagi. Tapi jawabannya lagi-lagi membuatnya tegang.
Dia tahu semua ketololan itu. Bahkan dia sangat sadar jika dia akan segera merasakan dampaknya nanti. Tapi jatuh cinta padanya benar-benar berbeda dari seluruh pengalamannya sebelum ini. Yang tiba-tiba menjadikannya semacam obsesi, prioritas terbesarnya, yang dia tidak bisa menahannya lagi. Apa yang ia rasakan membuatnya selalu takut untuk melakukan sesuatu yang salah. Sesuatu yang mungkin menyakitinya. Tapi anehnya, ketakutan itu justru membuatnya tak mampu menguasai dirinya lagi. Bahkan hanya untuk sebentar.
“Aku tahu. Tapi maafkan aku… Aku... aku hanya tidak punya pilihan. Karena kita yang tidak bisa segera bertemu. Jadi…, aku terpaksa melakukannya, kan? Aku hanya ingin kau tahu Sarah, itu saja. Maksudku perasaanku.” Agar kau tidak pergi ke lain hati, ujarnya lagi dalam hati. “Tapi aku memang punya rencana untuk mengatakannya nanti. Maksudku secara lisan.” Kali ini dengan nada lugas.
Dia melihat Sarah berpaling sebentar. Mencoba menghindari tatapannya. Nampak sekali sedang mempertimbangkan sesuatu. Namun hingga detik-detik mendebarkan tersebut berakhir, ia tetap tidak mengatakan apa pun. Dari sinilah dia tahu jika dia tengah mempermainkan perasaannya.
“Lalu bagaimana Sarah? Maksudku…, aku butuh jawabanmu sekarang?” Akhirnya dia bertanya lagi.
Kali ini ia kembali tertawa. “Aku tidak tahu… Aku jadi malu sekarang...” Hanya itu yang diucapkannya. “Tapi…, bisakah kita tidak membahasnya lagi? Maksudku tidak sekarang?” Lalu lanjutnya lagi.
Sejujurnya, dia sempat kecewa mendengar jawabannya. Di samping semua kecemasan yang ia rasakan. Hanya saja, dia tidak tahu cara mempersoalkan semua itu dan tanpa memaksakan perasaannya. Dan lebih memilih untuk memendamnya untuk dirinya sendiri. Sepertinya memang bukan saatnya untuk melangkah lebih jauh. Karena itulah dia mulai sibuk memikirkan topik pembicaraan baru. Agar mereka bisa bicara lagi. Tapi Otto tiba-tiba hadir ke hadapan mereka. Yang sejenak menghentikan kebersamaan mereka berdua.
“Kapan datang Ryan?” Tanyanya segera. Dan mereka sama-sama menoleh ke arah pintu sesaat mendengar suaranya.
__ADS_1
“Oh…, baru saja pak…!” Sahutnya, seraya menawarkan senyum yang teramat lembut.
“Dari kemaren belum ke tempat kerja?”
“Sudah pak. Saya baru…”
“Kenapa kembali lagi?” Tanyanya lagi. Sementara dia merasakan ketegangan yang mulai berkumpul di dalam perutnya. Rupanya sikap ramahnya tidak memberi efek apa pun. Dan memang seperti itulah pembawaannya pada setiap orang. Yang membuatku diam seribu bahasa.
“Dia mau belanja sebentar! Mungkin besok akan kembali!” Sahut Sarah, sebelum dia sempat meresponnya. Yang membuat seluruh interogasinya berhenti. Sarah baru saja menyelamatkannya di sini.
Akhirnya Otto menggeluyur pergi tanpa menjawab. Selain hanya menyuruhnya untuk segera kembali jika urusan sudah selesai.
“Jangan terlalu lama meninggalkan tugas. Sakit mataku terus melihatmu di sini!” Tambahnya pula. Tanpa senyum, dan masih dengan sikap kakunya.
Keduanya melihat Otto berjalan ke arah motornya kemudian. Sementara Sarah dan Ryan mengawasi di belakang. Dan tak lama kemudian, dia hanya melihat Sarah yang tertawa lepas.
Sepertinya dia bisa bernafas lega sekarang.
“Ayahmu, sepertinya tidak menyukaiku?” Ujarnya, segera memahami situasinya.
“Ya, kau tahu sendiri kan,”
“Tapi kan ia sudah tahu kalau aku baru saja dari tempat kerja.”
“Mungkin karena sikapmu dulu. Karena kau masih suka membolos. Lagipula ini belum akhir bulan. Jadi wajar saja ia tidak senang melihatmu di sini!”
Dia mengangguk. Tidak tahu harus berkata apa lagi. Sepertinya, dia hanya bisa berterima kasih. Meski dia tidak merinci lebih lanjut saat Sarah menanyakannya kenapa.
Dia merasa beruntung karena pertemuan tadi benar-benar pertemuan mereka yang terakhir untuk hari itu. Dan dia tidak bisa membayangkan akan seperti apa kejadiannya, andai saja Otto masih menemukannya di rumahnya. Sarah mungkin telah menyelamatkannya untuk saat-saat kritis tadi. Tapi hal itu tidak akan terjadi kedua kali.
Mereka juga sempat membahas beberapa hal sebelum keduanya berpisah. Dan Ryan kembali menanyakan apa dia bisa mengajaknya jalan-jalan. Sementara Sarah menjawabnya tanpa banyak pertimbangan. “Aku akan sangat menyukainya”. Itulah yang ia katakan, bersamaan dengan sikap penuh antusiasnya. Sejenak, dia juga mungkin sedikit kesulitan dalam menemukan tempat yang cocok.
Tapi sekali lagi, Sarah kembali bisa menebakkan isi pikirannya yang saat itu terhenti. Sekaligus menyinggung kebiasaannya untuk sering keluar rumah atau semacamnya. Sementara di dalam hati dia mulai menyadari jika sebetulnya dia adalah pria yang payah. Namun tentu saja dia tidak pernah berharap agar Sarah menyadarinya.
__ADS_1
Jadi inilah yang mengakhiri kebersamaan mereka sore itu.