
" Ra, yuk naik kora kora " ajak Amel dengan menarik tangan Rara
" Lo sama lainnya aja, gue mau ke toilet ok" ucap Rara seraya berlari kecil menuju toilet
" yok Rey kita naik, seru kan pasti nya " ucap Andra dengan terkekeh
" Lo pada aja, gue mau nyari minum" ucap Reyhan diangguki Andra dan Reza
mereka bertiga akhirnya naik kora kira, sedangkan Reyhan mengikuti Rara ke toilet
" Bugh... auwww jalan tuh pake mata dong sakit tau " teriak Rara yang berpapasan dengan Reyhan
" sorry, gue nggak sengaja" ucap Reyhan membuat Rara mendongak
" Lo, ngapain?" tanya Rara dengan bingung pasalnya semua sahabat nya naik kora kora
" Lo ngikutin gue?" tanya Rara dengan curiga
" nggak usah GR , gue dari toilet " ucap Reyhan diangguki Rara
" Lo " ucap Reyhan terpotong
" Rara, nama gue Rara Lo dari tadi nggak bisa apa ya manggil nama gue Rara... ranaya Calista, ngertii " ucap Rara dengan kesal membuat Reyhan tersenyum diujung bibirnya sedikit aja
" iya, gue mau ngajak Lo naik wahana tu " ucap Reyhan dengan mengarahkan pandangannya ke arah bianglala
" ok, tapi gue takut kalau macet gitu mesin nya trus nggak bisa muter lagi gimana " ucap Rara dengan tanpa menatap Reyhan
" tenang aja ayo " ucap Reyhan dengan datar seraya menggandeng Rara
" jantung gue , jantung gue kenapa " gumam Rara yang melihat tangannya digandeng Reyhan si ketos dingin
Didalam Rara melihat pemandangan yang berkedip lampu lampu dari atas bisa melihat semua yang ada di bawah sangatlah indah.
" Ra, gue mau nanya ke Lo?" ucap Reyhan dengan tatapan datar
" kenapa?"
" Lo pernah nolongin ibu ibu kecopetan nggak?" tanya Reyhan dengan menelusuri wajah cantik Rara
" emmmm, lupa " jawab Rara dengan enteng membuat Reyhan semakin penasaran
" Lo naik apa kesini nya?" tanya Rara dengan mencairkan suasana
" gue nebeng sama Reza " jawab Reyhan dengan cuek dan jangan lupa tatapan datarnya
" oh, kalau mereka balik duluan gimana? Lo mau naik apaan trusan?" tanya Rara
" mungkin ojek " jawab Reyhan dengan datar
" JLEKKKKK " MESIN MATI
" Lho ini kenapa?" ucap Rara dengan panik
" gue takut naik ginian iya ini, " ucap Rara dengan menoleh kesana kesini membuat Reyhan risi
__ADS_1
*dan segera Reyhan memeluk Rara membawa ke dekapan nya agar Rara tenang
" ngapain Lo?" ucap Rara
" sstttt, diem, Lo takut kan makanya merem " ucap Reyhan dengan masih setia memeluk Rara.
jarak mereka sangatlah dekat Reyhan bisa merasakan aroma rambut Rara yang bawa stroberi, sedangkan Rara merasakan jantungnya berdebar debat membuat merah merona di pipi
" syukurlah gue nggak jadi mati " ucap Rara membuat Reyhan menatap dengan heran
" maksud Lo?" tanya Reyhan dengan heran
" udah ah ayok" ucap rara dengan berjalan mendahului
**Ting...
Ra..
Lo dimana, gue ditelfon nyokap suruh balik cepat, kebetulan kak Reza juga mau balik dulu ada perlu katanya, makanya gue mau nebeng Lo balik sendiri ya.
Ok, Lo hati hati**
Pesan masuk ke ponsel Reyhan.
Bro, gue sama Andra cabut dulu ada perlu Lo gak papa kan balik sendiri?
ok. hanya itu yang dibalas Reyhan.
" Amel udah balik duluan bareng temen Lo kak, Lo mau balik sekarang?" tanya Rara dengan memainkan ponselnya
" gue... emmm yaudah deh yuk pulang udah malam juga kan ya, Lo mau naik apa?" tanya Rara dengan membalas tatapan Reyhan namun segera diputus Reyhan tatapan nya
" gue bisa naik ojek" jawab Reyhan cuek seraya berjalan keluar dari pasar malam
" gue anter, kebetulan gue bawa motor" ucap Rara membuat Reyhan menoleh
" Lo malam malam bawa moto sendiri ? biar gue aja yang bawa motor Lo" ucap Reyhan dengan merebut kunci motor Rara
"emang Lo bisa? " tanya Rara dengan bingung namun tidak dijawab Reyhan
" naik " pinta Reyhan dengan segera Rara naik
perjalanan mereka kurang lebih 35 menit ke rumah Reyhan, nggak sadar Rara kini memeluk Reyhan dengan erat
" thanks" ucap reyhan dibalas anggukan Rara
" malam Tante " ucap Rara menyapa mamanya Rey, "malam, loh kamu sayang " ucap mamanya ngegantung buat Rey sedikit penasaran.
" ini Lo Rey, Rara yang mama ceritain, jadi kamu pacarnya Rey sayang? Ra Tante nggak nyangka bisa ketemu sama kamu Lo Disini" ucap Dewi dengan antusias
" hehe, Rara bukan pacarnya Rey Tante. iya ma, Rara bukan pacar Rey dia adik kelas Rey tadi nggak sengaja ketemu dipasar malam " ujar Rey di angguki Rara
" udah nggak papa, ayo masuk sayang" ajak Dewi dengan menarik lembut lengan Rara namun ditolak
" maaf ya tente ini sudah malam, Rara pamit dulu ya Tan, nanti mami nyariin " ucap Rara dengan halus
__ADS_1
" Hem... iya udah kamu hati hati ya, apa perlu di antar Rey aja pake mobil ini udah malam sayang. " nggak perlu Tan, Rara udah biasa ko yaudah Rara pamit yuk Rey duluan " ucap Rara dengan menyalami Dewi dan berlalu menggunakan motor.
" mama ngapain malam malam gini diluar?" tanya rey dengan penasaran kenapa mamanya diluar
"mama nungguin papa kamu nak, kan papa pulang dari meeting katanya nanti malam jam 10 kemungkinan tiba dirumah, tapi sekarang jam berapa mama coba telfon nggak aktif mam khawatir Rey" ucap Dewi dengan menatap luar pagar
" ayo masuk ma, kita tunggu papa didalam " ajak Rey dengan menggandeng mama nya
Diperjalanan Rara melihat keributan dijalan yang memang sepi tak jauh dari perumahan rumah Reyhan. nampak ada seseorang bapak bapak Yang sedang tarik tarikan dengan perampok kurang lebih 4 orang berbadan besar semua, dan dilihat lagi supir tergeletak jauh dari mobil yang ditumpangi. dengan cepat Rara segera menepi dan menghampiri mereka.
" Serahkan tas itu atau kami akan membunuhmu?" ancam salah perampok
" nggak akan, kamu boleh ambil harta ku, tali jangan dengan tas ini mau apa kamu, suruhan siapa kamu ha ?" teriak bapak bapak tersebut
" brengsek, hajar dia " seru pimpinan perampok namun terhenti dengan adanya motor yang menerjang ditengah tengah mereka.
" siapa dia bos?" tanya anak buah perampok
" kurang ajar, siapa kamu?"
" bapak nggak papa kan?" tanya Rara yang menghampiri Wira.
" nggak papa nak, kamu jangan kesini ini bahaya" tutur wira dengan menyuruh Rara pergi namun tak dijawab rara
" heh, bocah tengil siapa kamu? mau apa kamu, mau main main dengan kita?" ucap pimpinan perampok tersebut
" ck, berani nya keroyokan dasar pecundang, ayo kalau bisa lawan gue" ucap Rara dengan masih membawa helm nya ditangan.
" bruk, dag, bruk.... " terjadilah perkelahian satu lawan empat.
" ssttt, kurang ajar tangan gue " ucap Rara dengan meringis kesakitan akibat terkena sabetan senjata tajam, namun tidak membuat Rara menyerah dan terus melawan perampok tersebut dan akhirnya perampok tersebut tumbang dan polisi segera datang, karena sebelumnya Wira yang melihat Rara terkena sabetan senjata tajam dengan segera menelfon polisi.
" tulit.. tumit..tulit, angkat tangan" ucap polisi segera membawa mereka ke kantor polisi
" nak, kamu nggak" ucap Wira dengan membantu memegang lengan rara.
" nggak papa kok om, ini cuma luka ringan, besok juga kering " ucap Rara dengan tersenyum membuat mata Wira berkaca kaca.
" om, om kenapa ? tanya Rara dengan terkejut melihat lelaki seumuran papi nya memerah mata nya seperti ingin menangis.
" terimakasih ya nak, kalau nggak ada kamu, mungkin saya nggak tau bagaimana lagi nasip saya dan keluarga saya " ucap Wira dengan memeluk Rara dengan erat
" iya udah om, sekarang om pulang ya disini rasane begal hati hati ya om, Rara pamit dulu daa om " ucap Rara dengan berlari kecil menuju motor nya.
Tiba dirumah pukul 23.30 wib
" RARA. " Teriak sara dengan jengah
" darimana kamu? jam segini baru pulang, mau jadi apa kamu? mami udah bilang apa ke kamu berulang kali,jangan keluyuran tadi kamu pamitnya jam berapa pulang nya haa... " omel sara dengan kesal melihat putrinya tersayang pulang larut malam,
" papi mana mi?" tanya Rara dengan tanpa rasa bersalah
" papi tidur, kamu buru tidur bersih bersih besok sekolah. " pinta sara dan diangguki Rara dan berlalu
" huuuu, akhirnya bisa rebahan juga gue, mami gue kalau dah ngamuk kaya macam betina yang nggak makan setahun " gerutu Rara dengan terkekeh sendiri.
__ADS_1
" gue tidur ah, males juga mau mandi. " ucap Rara dan tertidur dengan nyenyak.