
"Apa aku perlu menyuruh Haechan menemanimu??" Jeno tampaknya khawatir membiarkan Sela bekerja hari ini. Tapi dia juga tidak punya pilihan lain, Jeno tidak libur, dia tidak bisa menemani Sela seharian.
"Tidak perlu, ada banyak orang disini, aku akan memastikan diriku tetap di keramaian." Sela turun dan memberikan helmnya pada Jeno. Tangan Jeno bergerak merapikan rambut Sela.
"Jangan dekat-dekat Lee Taeyong." Jeno memperingatinya.
"Kau tampak seperti suami yang posesif." Sindir Sela.
"Haruskah aku menciummu disini? Biar seperti pengantin baru?"
"Memangnya kau berani??" Sela menatapnya remeh.
Bertepatan dengan itu, mobil rolls royce putih menepi di depan motor Jeno. Dua orang familiar keluar dari sana.
"Yuka." Gumam Sela.
"Yo !! Na Jaemin.." seru Jeno.
Jaemin menyapa dengan anggukan kepalanya pada Jeno lalu berdiri di pinggir trotoar.
"Akan kujemput nanti." Kata Jaemin. Tangannya membelai pipi Yuka lalu menatap Jeno seolah memamerkan semua perilaku mesranya.
Jeno merengut dan tampak tidak mau kalah.
"Aku akan menjemputmu nanti." Jeno mencubit pipi Sela dan membuat gadis itu meringis.
"Akk.. sakit, tidak romantis sekali kau Lee Jeno."
Yuka dan Jaemin yang melihat itu tertawa lepas. Mereka tampaknya tidak mau menyerah melakukan hal konyol di depan umum karena Jaemin tiba-tiba saja memberikan kecupan manis di bibir Yuka yang membuat gadis itu merona.
Jeno mana berani...
Lelaki berotot itu hanya menatap Sela ragu-ragu, seperti akan maju tapi juga mau mundur. Dia malu melakukannya di depan umum. Yah.. jangankan di depan umum, meski hanya berdua saja dengan Sela, Jeno tetap gugup melakukannya.
Sela menyeringai melihat wajah itu. Tidak ingin Jeno kecewa, Sela maju satu langkah dan berjinjit di depan Jeno. Gadis itu meraih tengkuk Jeno lalu memberinya ******* kecil sebelum dia menjauh.
"Bye Jeno.." Sela melambai padanya tanpa menghiraukan tatapan terkejut Yuka dan Jaemin.
"Dia agresif.. ck..ck.." komentar Jaemin ketika Yuka sudah pergi menyusul Sela.
"Memang..."
"Kalian cocok."
"Aku tau itu."
...*********...
"Sela kau berpacaran dengan Lee Jeno??" Yuka mengejar Sela rupanya, Sela menoleh dan sengaja memperlambat langkahnya untuk menunggu Yuka.
"Tidak."
"Tidak? Lalu bagaimana bisa kalian berciuman?"
"Yuka, aku lama tinggal di inggris, hal seperti itu biasa terjadi."
Sela dan Yuka berbaris di depan mesin absensi dan bergantian men-scan id card mereka.
"Ini bukan di inggris Sel, kau tidak boleh begitu, bagaimana kalau Jeno baper?"
"Sudah baper." Sela mengedikkan bahunya.
"Hah?? Lalu kau membiarkannya begitu saja? Kenapa tidak pacaran saja??"
__ADS_1
Sungguh, kenapa Yuka sangat cerewet hari ini??
Sela menghampiri lokernya dan sengaja menunda untuk menjawab pertanyaan Yuka.
"Sel.."panggil Yuka ketika dia merasa di acuhkan.
Sela berbalik menatapnya.
"Aku tidak menyukai Jeno, aku sudah bicara jujur padanya dan aku tidak mau memberinya harapan palsu."
"Lalu Jeno nya bagaimana?"
"Ya tidak bagaimana-bagaimana."
Yuka mengerutkan dahinya, menatap Sela aneh.
"Kau sendiri, sudah balikan dengan Jaemin?"
Yuka mengangguk cepat,
"Iya, saat dia dirawat kami memutuskan balikan."
"Ow.. selamat.." Sela memaksakan senyumannya. Sesungguhnya dia tidak tau harus berekspresi seperti apa.
Saat dua gadis itu bersiap dengan snellinya, tiba-tiba Taeyong muncul. Dia berjalan ke arah lokernya yang berjarak setengah meter dari tempat Sela berdiri.
"Selamat pagi..." sapa Taeyong dengan senyumannya yang cerah.
Sela menatapnya sangat lama, mengamatinya dalam diam. Menatap pancaran wajahnya, matanya, dan perangainya.
Benar, Taeyong versi ini adalah Taeyong yang biasa dia temui. Mata bobanya tampak teduh dan hangat, senyumannya tulus dan wajahnya ramah. Sangat berbeda dengan yang kemarin meskipun wajahnya sama.
"Pagi, Senior Lee..." jawab Sela dan Yuka bersamaan.
Hanya menatap saja tampaknya tidak membuat Sela puas, gadis itu berjalan mendekati Taeyong dengan hati-hati.
Sela dengan sengaja merapat ke pungung Taeyong dan mengendusnya dari belakang.
"Eoh mayat wanita muda itu? Keluarganya belum ditemukan??" Yuka ikut menyahuti.
"Belum, belum ada orang yang merasa kehilangan datang. Aku akan berikan file nya saat jam istirahat. Apa Jeno yang memintanya? Kurasa itu kasus milik Haechan."
Okey, aroma Taeyong yang ini seperti aroma Musk yang maskulin dan tidak tercium aroma rokok. Aromanya mirip seperti Jeno hanya saja milik Taeyong sedikit lebih lembut dan milik Jeno lebih memabukkan. Ahem..
Lalu Taeyong juga bisa menjelaskan kasusnya dengan rinci. Persis seperti biasanya.
Sela mengambil kesimpulan kalau ini adalah Lee Taeyong yang biasa dia temui. Tapi gadis itu juga mengambil kesimpulan lain barangkali Taeyong memiliki kepribadian ganda atau semacamnya yang membuat dia sewaktu-waktu berubah menjadi orang lain.
"Ah ya, pihak keluarga tuan Lee Dongmin meminta tubuh mayat untuk segera di kremasi. Kupikir kau bisa memberi tau Jeno." Jelas Taeyong. Sela mengangguk.
"Baiklah.."
Taeyong mengusap kepala Sela dan tersenyum sebelum pergi.
"Waaah sepertinya senior menyukaimu." Komentar Yuka.
"Jangan berasumsi."
"Ini adalah spekulasi. "
"Sebaiknya kau instrospeksi sebelum berspekulasi negatif tentang orang."
"Cih. Berdebat denganmu tidak ada habisnya." Yuka terkekeh dan mengikuti langkah Sela ke area kerjanya.
__ADS_1
******
Jung Sungchan merajuk setelah kejadian kemarin dimana dia terlambat menjemput Sela dan ponsel Sela yang tiba-tiba tidak bisa digubungi.
Sela yang berniat melepas penat setelah pulang kerja harus mengurungkan niatnya karena adik laki-lakinya itu.
"Harusnya kalau mau pacaran kabari dulu lah.. jangan seenaknya membuatku panik mencarimu."
"Hey.. ini salahmu sendiri karena terlambat. Aku menunggumu hampir setengah jam tau.."
"Setidaknya kau bisa mengabariku kan Jung Sela."
"Ponselku mati karena terlalu lama menunggumu Jung Sungchan."
"Sudah-sudah, kenapa bertengkar hem.. itu kan sudah kemarin.." Krystal tampak kuwalahan menengahi 2 orang yang saling berteriak itu.
Wanita itu bahkan harus meraih putra bungsunya agar tidak melemparkan sesuatu pada Sela.
"Sungchan..."
"Kakak yang salah mah, seenaknya pergi dengan Lee Jeno dan menginap disana tanpa mengabari, sementara aku panik mencarinya di jalanan sampai larut."
"Sel.. minta maaf.." Krystal menghela nafasnya.
"Kenapa Sela sih mah yang minta maaf? Kan Sungchan juga salah karena terlambat... "
"Aku hanya terlambat sebentar..." Sungchan kembali berteriak.
Ktystal sungguh tidak tahan. Suaranya kalah keras jika di banding 2 orang anaknya yang tengah bertengkar. Tidak ada yang mau mengalah, tidak ada juga yang mau mendengarkannya.
Wanita itu lalu berjalan ke arah dapur dan kembali dengan membanting panci yang menimbulkan bunyi lebih keras dari suara Sungchan dan Sela.
Kedua orang itu menoleh ke arah krystal.
"Saling minta maaf !!! Tidak ada alasan apapun, atau kalian tidak akan mendapat makan malam !!"
Pada akhirnya mereka harus mengalahkan ego masing-masing dan saling bersalaman meski dengan wajah masih cemberut.
"Okey, mama tidak mau ada yang berteriak lagi setelah ini..." Krystal menatap Sungchan dan Sela bergantian.
"Sela ikut mama ke dapur." Kata Krystal. Wanita itu hendak melanjutkan acara masaknya yang tertunda tapi sebelum itu ada hal yang harus ia pastikan dulu dari putri sulungnya itu.
"Sela kemarin menginap di rumah Jeno?"
Sela sudah menduga kalau Krystal akan menanyakan ini.
"Iya, hujannya sangat deras dan mustahil mau pulang."
"Kamu pacaran sama Jeno?"
"Engga kok mah..."
"Kamu suka Jeno???"
Sela kembali menggeleng,
"Kalian terlihat dekat. Kenapa ngga pacaran aja?"
Sela mengedikkan bahu, kenapa semua orang sangat ingin dia berpacaran dengan Jeno. Merepotkan.
"Hatinya belum mau."
"Masa sih? Kamunya belum terasa kali..." sindir Krystal.
__ADS_1
Sela rasanya sudah lelah menyangkalnya. Gadis itu lebih memilih mengambil apel dari dalam lemari es dan memakannya.
Bersambung....