
Sela bimbang. Bukan karena dia tidak mempercayai Jeno tapi dia sulit untuk percaya kalau Lucas pelakunya.
Maksudnya .....yah... Lucas memiliki reputasi yang baik di Inggris. Semua orang kenal dia sebagai pribadi yang supel dan berhati malaikat.
Sela yakin penilaiannya terhadap Lucas tidaklah salah. 4 tahun mereka berpacaran sudah cukup membuat Sela mengenal lelaki itu luar dan dalam.
'Mungkin Jeno salah orang '
Itu kesimpulan Sela.
"Meskipun bukan kita yang membayar tagihan air, setidaknya kita juga harus menghemat air buat kelangsungan alam." Taeyong tidak pernah tidak mengejutkannya. Lelaki itu selalu berjalan dalam senyap dan tiba-tiba muncul di belakang Sela.
"Kenapa?" Tanya Taeyong dengan wajah polos saat melihat Sela memegangi dadanya.
"Kau mengagetkanku."
"Kamu trauma ya?? " Taeyong terkekeh. Lelaki itu berdiri di wastafel sebelah Sela dan mencuci tangannya.
"Tentu saja, apalagi wajahmu sangat mirip dengannya. Aku jadi terbayang-bayang."
"Membayangkan wajah pria lain saat kau sudah bertunangan itu tidak bagus."
"Konteksnya berbeda Lee Taeyong." Sela mendengus. Dia meletakkan tangannya di bawah mesin pengering lalu mengambil selembar tisu.
"Ketua Lee..." Panggil Sela dengan nada serius.
Taeyong menoleh saat mengeringkan tangannya.
"Menurutmu orang yang kelihatan baik bisa berbuat kriminal?"
Dahi Taeyong berkerut. Lelaki itu bersedekap dan tampak berpikir sebelum menjawab.
"Ya semua bisa saja terjadi. Terkadang orang baik bisa melakukan kejahatan karena terpaksa. Ada juga yang hanya pura-pura baik sebagai alibi untuk menutupi kejahatannya. "
Penilaian kedua Taeyong sama persis dengan argumen Jeno. Entah kenapa Sela jadi semakin resah.
"Kau tau, Taeyang dulunya orang yang baik. Dia bekerja di tempat pemotongan daging dan sering membagi daging yang dia dapat ke kucing dan anjing liar. Dia sangat pintar beralibi hingga akupun tidak tau kalau dia menjadi pembunuh bayaran."
Sela memejamkan matanya rapat-rapat. Lalu kembali membukanya dengan sorot mata yang tidak tenang. Hatinya berusaha menyangkal segala kemungkinan yang bisa saja terjadi. Berusaha meyakinkan dirinya kalau penilaiannya pada Lucas tidaklah salah.
"Aku duluan ya." Kata Taeyong. Sela mengangguk.
Gadis itu keluar rumah sakit. Dia tidak pulang bersama Jeno hari ini karena lelaki itu masih ada tugas seperti biasanya.
Seperti biasa Sela akan menunggu taksi di halte bus depan rumah sakit. Kejadian terakhir di dalam bus umum membuat Sela trauma naik bus.
Gadis itu duduk dan bermain ponsel. Dia bahkan tidak sadar saat ada mobil Porsche hitam yang berhenti di depannya.
Seseorang di dalam mobil itu menurunkan kacanya dan menyapa Sela.
"Baru pulang?" Sela mendongak dengan wajah terkejut.
"Lucas?? I-iya aku baru pulang "
Lucas tersenyum lalu membuka pintu mobilnya.
__ADS_1
"Mau bareng?"
"Mmm...." Sela terlihat berpikir sesaat lalu mengangguk.
"Boleh."
Gadis itu masuk ke mobil Lucas tanpa ragu, bahkan tanpa berpikir dua kali. Sela akan membuktikan kalau Lucas tidak ada hubungannya dengan kasus itu.
"Kamu kelihatannya sibuk ya akhir-akhir ini ? "
"Iya, ada kasus pembunuhan yang aku tangani."
"Apa akhir pekan juga kerja?" Lucas merogoh saku jaketnya dan membagi permen mint nya dengan Sela. Gadis itu menerimanya dengan senyuman.
"Iya, aku belum bisa cuti 2 Minggu kedepan. "
"Wah.. sayang sekali, padahal aku mau ajak kamu jalan-jalan sebelum kembali ke Hongkong. " Lucas mendesah kecewa.
"Aku punya sedikit waktu besok sebelum sift siang. Mau pergi nonton?"
"Boleh. Aku jemput di rumah besok pagi. "
Sela mengangguk.
Lucas tersenyum lalu duduk bersandar. Menatap supirnya yang sedang fokus menyetir. Pandangannya lalu beralih ke kaca dashboard nya.
Lelaki itu lalu tersenyum miring ketika menyadari ada yang mengikuti mobilnya.
"Lucas..."
"Ya??"
Sela sedikit menggeser tubuhnya. Dia menatap Lucas menyelidik.
"Apa kamu pikir aku terlibat pembunuhan itu? Apa kekasihmu menuduhku?"
Sela terperanjat. Lucas bisa menangkap maksud pertanyaannya dengan cepat. Sebenarnya Sela merasa tidak enak karena pertanyaannya terkesan seperti dia menuduh Lucas.
"Ahh.. tidak, bukan seperti itu..."
"Aku punya seorang anak angkat di Korea, anak itu tinggal denganku di inggris, tapi akhir-akhir ini orang tua kandungnya meminta anak itu untuk kembali, jadi... yah .. aku tidak bisa apa-apa selain membantu mengurus dokumen kepindahan anak itu. "
"Aahh... Jadi itu alasan kamu di Korea. Kerja bagus Wong Lucas.. kau memang orang baik." Sela tersenyum bangga dengan tangan kanan terulur untuk mengusap rambut Lucas.
Sela sudah menduganya. Lucas yang berhati malaikat ini tidak akan mungkin melakukan pembunuhan. Jeno pasti salah orang. Kini Sela yakin itu.
"Mau mampir makan dulu??"
"Ah.. engga, aku lelah mau langsung pulang."
Lucas mengiyakan permintaan Sela meskipun dia ingin lebih lama bersama gadis itu tapi Lucas tidak akan memaksa.
Seperti permintaan Sela, Lucas meminta supirnya langsung menuju rumah Sela. Gadis itu tersenyum dan melambai sebelum dia masuk halaman rumah.
"Sel.."
__ADS_1
Sela yang berada di depan pagar rumahnya kembali menoleh.
"Ya??"
"Kalau kamu berubah pikiran dan mau balikan tolong kasih tau aku ya, aku akan setia menunggumu." Lucas mengerlingkan sebelah matanya dan tersenyum sumringah.
Sela hanya terkekeh untuk menanggapinya. Dia pikir Lucas bercanda.
"Aku masuk yah.. terima kasih tumpangannya." Kata Sela.
Lucas menyalakan rokoknya setelah memastikan Sela benar-benar masuk ke rumahnya. Lelaki itu kembali menatap supirnya.
"Mereka masih mengawasi kita ?"
"Ya tuan. Tapi Hendery berhasil mengecoh mereka."
"Bagus. Jangan biarkan mereka tau persembunyian kita sampai aku meninggalkan Korea besok."
...🌷🌷🌷...
"Seneng ya pulang bareng mantan?" Pertanyaan Jeno itu lebih terdengar seperti sindiran di telinga Sela.
Sela tidak menduga Jeno akan berada di rumahnya saat dia pulang. Pasalnya tadi Jeno bilang ada tugas pengintaian jadi tidak bisa menjemput Sela.
"Kok kamu disini? Katanya ada tugas pengintaian?" Sela duduk di sebelah Jeno, gadis itu menunduk untuk memijat tumitnya yang nyeri.
"Iya, tugasku mengintai mantan pacarmu." Jeno enggan menatap Sela. Wajah kesal lelaki itu terlalu kentara. Jelas dia cemburu.
"Ga usah ngambek, kan kamu sendiri yang ga bisa jemput. Lagipula kamu juga menyuruhku mendapatkan dna Lucas."
Sela mengambil selembar tisu di meja ruang tamunya lalu meletakkan sehelai rambut Lucas yang terselip di bawah kukunya.
"Bagaimana caramu mendapatkan ini?"
"Dengan membelai kepalanya."
Okey. Jeno semakin merengut sekarang. Wajah merajuknya justru membuat Sela ingin tertawa.
"Aigooo.. nyenyo ngambek hmm..??" Sela mencubit kedua pipi Jeno.
"Sela jahat." Protesnya.
"Jeno mau di belai juga hmm? Sini.. sini... " Sela merangkul leher Jeno lalu mengusap kepala lelaki itu dengan sayang.
"Kepala yang bawah juga mau di belai." Lelaki itu masih merengut manja pada Sela.
Gadis itu terdiam beberapa saat untuk mencerna permintaan Jeno. Sela lalu tersenyum miring begitu otaknya masuk koneksi 18+.
"Boleh, tapi tidak disini hmm."
"Ada mama papa kamu ya?"
Sela menggeleng.
"Ga ada. Cuma ada Sungchan. Ayo ke kamar."
__ADS_1
BERSAMBUNG....