Serendipity Next Door {Lee Jeno}

Serendipity Next Door {Lee Jeno}
Hati Yang Beku


__ADS_3

"kak.. makan." Sungchan sudah berusaha untuk membujuk Sela sejak setengah jam yang lalu namun gadis itu terus menggeleng.


"Kalau kakak tidak makan bagaimana mau sembuh?"


"Jeno kemana? Kenapa dia tidak menjengukku?"


Itu adalah hal sepele yang sangat mengganggu pikiran Sela. Bahkan setelah 2 hari dia siuman, gadis itu langsung di dera perasaan khawatir dan stres.


"Dia marah." Jawab Sungchan apa adanya.


Adik lelakinya itu memang sangat frontal, tidak seharusnya dia mengatakan yang sebenarny pada orang yang baru siuman dari koma. Tapi toh Sungchan tidak mau membohongi Sela dan memperpanjang jarak di antara Sela dan Jeno.


"Sudah kuduga." Gumam Sela. Gadis itu menunduk dengan air matanya yang menggenang.


Sela sempat berpikir dia pantas disebut wanita yang tidak tau diri. Sudah memiliki tunangan tapi malah dekat dengan mantan. Sela tau itu, Sela juga sadar bagaimana perasaannya pada Jeno yang hanya sebatas rasa sayang. Dan perasaan itu juga tak sedalam perasaannya pada Lucas. Namun saat Jeno seperti ini sejujurnya Sela sangat takut. Takut Jeno akan meninggalkannya.


"Dia sangat mencintaimu.... " Sungchan meletakkan kembali semangkuk bubur yang dia pegang ke meja di sisi ranjang.


Tatapannya begitu teduh dan menenangkan saat menatap Sela.


"Saat kau koma, Jeno setiap hari datang  dan mengelap wajahmu. Diam-diam dia juga menangis di sisimu. Tapi saat kau sudah siuman, dia tidak datang lagi."


Sela mengangguk mengerti. Jeno pasti sangat kesal padanya hingga pesan singkat yang dia kirimkan padanya tak satupun Jeno balas.


"Permisi...." 


Sungchan dan Sela menoleh bersamaan ke arah pintu.


Dr.Jaehyun langsung masuk begitu mendapat atensi dari kakak beradik itu. Lelaki tinggi dengan lesung pipi itu tak canggung memamerkan senyuman menawannya pada Sela.


"Ini hasil observasi tentang kondisi otakmu. Semuanya sudah lebih baik sekarang." Jelasnya.


Dr.Jaehyun memberikan map besar berisi hasil CT scan yang Sela lakukan kemarin.


"Tubuhmu itu benar-benar hebat ya, kau masih bertahan hidup meski jatuh dari ketinggian, selain itu janin dalam kandunganmu juga sangat kuat. Benturan tempo hari tidak ber-efek padanya. "


Sela awalnya diam, namun setelah menelaah kembali kalimat Jaehyun gadis itu langsung melotot. Sungchan pun tak jauh beda dengannya.


"Apa? Janin?"


"Kak, sejak kapan kau hamil?" Sungchan menatapnya menyelidik.

__ADS_1


"Iya, perkiraan usia janinnya sudah 8 Minggu. " Jelas Jaehyun.


Lelaki berlesung pipi itu menatap Sungchan dan Sela bergantian.


"Kau tidak sadar sedang hamil?"


Sela menggeleng dengan cepat.


"Wahh... Ibu macam apa kau." Jaehyun tersenyum manis dan menunjukkan deretan gigi putihnya yang berjejer rapi.


Tapi begitu dia menyadari wajah muram Sela, Jaehyun akhirnya sadar kalau gadis itu tidak sedang dalam mood yang baik.


"Aku akan meresepkan beberapa vitamin untuk janinmu. Sebaiknya perbanyak istirahat dan kurangi stress."  Jaehyun mengusap punggung Sela dan menyapa Sungchan melalui tatapannya sebelum dia pergi.


"Jadi.... Itu anak Lee Jeno kan?" Sungchan berkata lirih.


Gadis itu tidak menjawab tapi diamnya Sela dia anggap sebagai pengakuan gadis itu.


Sungchan bergerak mendekat. Lelaki itu mendekap tubuh Sela dan memberikannya pelukan hangat.


"Aku janji akan bawa dia kesini. Jangan sedih lagi."


...🌱🌱🌱🌱...


Lelaki itu bosan berada di kamar terus. Dia tidak nafsu makan bahkan tidak bersemangat bermain game. Jeno akhirnya memutuskan untuk naik ke rooftop. Tempat yang dulu pernah ditinggali Sela.


Jeno duduk di sofanya dan seketika teringat kembali saat dia pertama kali mencium Sela. Lelaki itu tersenyum tipis dengan jantungnya yang tiba-tiba berdebar. Jeno sadar dia merindukan Sela bahkan amat sangat merindukannya. Tapi sisi emosionalnya selalu mencegah hatinya luluh.


Meskipun begitu tidak pernah sedetik pun Jeno tidak mengkhawatirkan keadaan Sela. Apa gadis itu baik-baik saja? apakah dia makan dengan baik? apakah Sela juga merindukannya?


Ahh... Pertanyaan ketiga nampaknya Jeno sudah tau jawabannya. Sela mungkin akan lebih memikirkan tentang kepergian Lucas daripada sibuk merindukannya.


Sekali lagi Jeno harus tersenyum miris.


"Jeno.."


Jeno tersadar ketika suara ibunya terdengar dalam jarak dekat. Tiffany muncul dari ujung tangga dia menatap Jeno dengan lembut seperti biasanya.


"Sungchan mencarimu." Katanya.


"Bilang saja Jeno tidak ada mah.."

__ADS_1


Tiffany tidak langsung pergi. Wanita itu  bisa mencium sesuatu yang tidak beres sekarang.


"Kamu bertengkar dengan Sela ya?" Tiffany bersedekap lalu menghampiri Jeno.


Namun putra semata wayangnya itu hanya diam dan menunduk. 


"Kamu tau kenapa Sungchan datang?" 


Jeno tetap diam dan tak bergeming. Tanpa bertanya pun Jeno bisa menebak kalau Sungchan ingin memintanya bertemu Sela.


"Sela hamil. Dan itu anak kamu kan..?"


Jeno melotot dan langsung menatap ibunya.


"Se-sela hamil???"


"Iya."


Jeno diam selama beberapa saat lalu rautnya kembali masam.


"Yakin itu anak Jeno mah??"


Diluar dugaan Tiffany langsung memukul paha Jeno dengan sangat keras. Jeno yang memakai celana pendek itu bisa merasakan panas di pahanya yang membekas kemerahan.


"Akkk... Ahh.. kenapa Jeno dipukul? "


"Mama dan papa tidak pernah mengajarimu menjadi laki-laki kurang ajar yah Jen."


Tiffany memberikan wajah tegasnya ketika bicara. Wanita itu memutar tubuhnya untuk menatap mata Jeno.


"Kamu yang melakukannya kan???"


"I-iya.."


"Ya kalau begitu kamu harus tanggung jawab, jangan lepas tangan seperti pria brengsek."


Jeno semakin menunduk dan merengut.


"Iya mah.."


"Sana pergi temui Sela, jangan buat menantu dan cucu mama sedih."

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2