Serendipity Next Door {Lee Jeno}

Serendipity Next Door {Lee Jeno}
The Devil's Grip


__ADS_3

Jeno baru saja memarkirkan motornya di halaman rumah sakit ketika Jisung berlari dengan wajah panik ke arah Jeno.


"Kak.. kak... kau polisi kan..." kata Lelaki itu dengan nafasnya yang memburu.


"Ada apa?"


"Tolong.... kak Sela... disandera..."


"Apa ???"


"Seorang mirip ketua Lee Taeyong menyanderanya."


Mata Jeno langsung melotot seperti akan keluar dari bingkainya.


"Ayo... !!"


Jeno berlari mengikuti Jisung ke lorong paling ujung di rumah sakit. Rahangnya mengeras dan tangannya mengepal. Dia harusnya tau kalau lelaki itu cepat atau lambat akan membahayakan Sela. Dan Jeno menyesal dirinya hanya bisa pasrah tanpa bisa mengendalikan situasi ini.


Ketidakcakapannya dalam memecah kasus ini sampai tuntas telah membuahkan penyesalan terbesar dalam hidupnya.


Dan hari ini emosinya benar-benar meluap. Dia tidak akan memaafkan dirinya sendiri kalau sampai sesuatu yang buruk terjadi pada Sela.


Jeno dan Jisung berdiri 5 meter jauhnya dari tempat Sela disandera. Dari kejauhan Jeno bisa melihat bagaimana lelaki itu membelenggu Sela baik itu melalui fisiknya maupun psikisnya.


Jisung sempat memperingatkannya kalau laki-laki itu bersenjata. Bahkan Jisung pun sangat ingin membawa tubuh tak berdaya Chenle dan Yuka lalu melarikan 2 rekannya itu ke UGD namun dia sadar, kalau dia mendekat akan ada korban lagi yang tumbang.


"Mundur." Jeno memperingatkan Jisung dan lelaki itu menurut untuk mengambil langkah mundur.


Jeno meraih pistol dari holster di pinggangnya dan bergerak maju tanpa takut seperti seorang warior.


Tatapannya tajam, menyimpan kemarahan tapi lelaki itu tidak akan membiarkan emosi merenggut sisi rasionalnya. Dia perlu berpikir logis untuk menyusun rencana daripada harus menyerang dengan membabi buta.


"Beraninya kau menyentuh wanitaku." Suara Jeno berat dan terkesan mengancam.


Tapi lelaki bringas yang memunggunginya itu malah tersenyum sinis.


Dia berbalik, menatap Jeno dengan  senyum jenakanya. Lidahnya menjulur seperti seorang joker yang haus darah.


Mata Jeno mengarah pada Sela yang tak berdaya. Pengalihannya membuat tangan lelaki itu mengendur dan wajah membiru Sela perlahan kembali normal. Sungguh Jeno tidak sanggup melihat gadisnya kesakitan seperti itu.


"Dia pengantinku, bukan wanitamu." Balas lelaki itu.


Ini adalah pertarungan satu lawan satu yang akan berjalan dengan sulit karena ada 1 nyawa yang harus Jeno lindungi.


Dalam kasus penyanderaan harusnya berargumen dengan tersangka adalah penanganan yang harus dia utamakan, sayangnya Jeno terlanjur sakit hati. Dia mungkin tidak akan segan menembak mati laki-laki itu.


"Je..no.." lirih Sela.


Kesadarannya mulai berangsur normal dengan masuknya pasokan oksigen ke seluruh pembuluh otaknya.


Sela bisa melihata Jeno menatapnya dengan rasa bersalah dan juga khawatir. Gadis itu masih belum bebas.


Laki-laki  bernama Lee Taeyang itu masih membelenggunya. Dia menarik kasar tubuh Sela ke dalam dekapannya. Memeluk sela dari belakang secara posesif dengan moncong pistol yang mengarah ke kepalanya.

__ADS_1


Tidak ada bedanya dengan tadi, Sela masih merasa bahwa malaikat maut kini sedang tertawa di depan wajahnya dan menunggu saat-saat kematiannya.


"Tolong... jangan sakiti Jeno.." Cicitannya itu tak berguna, Sela tau itu. Tapi meski begitu dia ingin mencoba memohon satu hal pada bajingan ini jika saja nanti dia tidak selamat.


Taeyang menatap wajahnya dengan seringaian jahat. Bibir lelaki itu menyentuh cuping telinganya lalu dia berbisik dengan suaranya yang berat.


"Tidak menyakitinya?? Ah sayang sekali, menembak kepalanya mungkin akan jadi kegiatan yang paling menyenangkan honey..." 


Jeno geram, melihat bagaimana Taeyang mencium paksa Sela dengan kurang ajar. Lelaki itu gegabah. Dia tersulut emosinya dan melepaskan sebuah tembakan yang mengenai lengan Taeyang.


Satu tembakannya bersautan dengan tembakan lain milik Taeyang dan memaksa Jeno harus bersembunyi di ujung loker.


Mereka saling membalas dan bersembunyi. Taeyang masih menahan Sela dan menyeretnya ke balik dinding.


Lengannya mengeluarkan darah akibat tembakan Jeno tapi lelaki itu tidak terlihat kesakitan.


Dorr... dorrr...


Suara sahut-sahutan senjata api menggema dimana-mana. Tidak ada orang yang berani keluar. Keadaan sangat mencekam disini.


"MENYERAHLAH !!!!"


Bantuan datang, tampaknya Jisung berhasil menghubungi pihak kepolisian. Terlihat disana Jaemin, Mark, dan Haechan ada di garis depan. Mereka dalam posisi siap menembak ketika mata Jaemin teralih pada genangan darah yang membanjiri tubuh Yuka dan Chenle.


"Yu-yuka..." bola mata Jaemin bergetar, dia terkejut dan kehilangan kata-katanya. Bahkan Jaemin menjatuhkan senjatanya begitu saja dan berjalan menghampiri tubuh Yuka tanpa perhitungan.


"HEY!! Na Jaemin itu berbahaya." Teriak Mark.


"Maju, lindungi Jaemin !! " Jeno bergerak lebih dulu. Menjadi tameng untuk tubuh Jaemin yang memeluk nanar tubuh tak berdaya Yuka.


"Bagaimana situasinya?" Bisik Mark pada Jeno.


Mereka tengah menunggu Taeyang untuk menyerang karena tiba-tiba saja lelaki itu bersembunyi di balik dinding.


"Aku menembak lengannya, selebihnya tembakanku hanya untuk memancingnya menghabiskan peluru...." Jeno membuka pistolnya untuk menghitung peluru terakhir pada pistolnya.


"Terlalu sulit melumpuhkannya karena Sela ada bersamanya, aku takut salah tembak. " lanjut Jeno.


"Sepertinya dia sudah kehabisan peluru. Dia terpojok dan memilih bersembunyi." Mark mempersiapkan dirinya.


"Aku memakai rompi anti peluru. Berdirilah di belakangku, kita akan mendekat." Lanjut Mark.


Kedua orang itu saling tatap dan mengangguk mantap. Berjalan mengendap seperti predator yang siap menghadapi mangsanya.


Suara tawa jahat kembali bergema, entah apa yang lucu disini tapi samar Jeno bisa mendengar rintihan Sela disana yang membuat konsentrasinya buyar.


"Fokus Lee Jeno." Mark memperingatkannya.


Jeno kembali fokus mengangkat senjatanya.


Lelaki itu keluar dari  persembunyian.


Tepat seperti dugaan Jeno, dia kehabisan peluru dan memilih meninggalkan pistolnya.

__ADS_1


Sebaliknya dia kini justru memegang belati tajam yang mengarah ke tenggorokan Sela.


Ujung belati itu bahkan telah menggores permukaan kulit Sela hingga darah segar mengalir disana.


Taeyang kembali terbahak keras mendengar rintihan Sela. Lelaki itu mengangkat belatinya dan menjilat tetesan darah Sela dari pinggiran belati.


"he's psycho.." Geram Mark. Dia sungguh tak habis pikir dengan kelakuan menjijikkan bajingan di depan mereka. 


"Darahmu begitu manis sayang, aku benar-benar suka." Taeyang menyentuh luka di leher Sela dan mempermainkan darahnya.


Sela meringis merasakan rasa perih yang menyiksa hingga dia menggigit bibirnya kuat-kuat.


"Ini akan menyenangkan.. bagaimana kalau kau menemani raja iblis kembali ke neraka hmm???"  kata Taeyang lagi.


"Sial.." Jeno mengumpat, dia sungguh tidak tahan melihat Sela tersiksa. Rasanya dia ingin menembak kepala lelaki itu sekarang juga kalau saja Taeyang tidak menghunuskan belati itu di tenggorokan Sela.


"Mark..." Geram Jeno.


"Tunggu sebentar Lee Jeno.." 


Rahang Jeno mengeras. Giginya bergemeretak menahan emosi. Lelaki itu menatap kedua mata Sela dan berusaha membuat kontak disana tapi Sela tidak fokus. Sela terlalu takut.


Nafas Sela kembali tercekat ketika ujung lancip belati itu ada di depan tenggorokannya. Dua tangan lemahnya mencoba menahan tangan Taeyang dengan pandangan mata Sela yang tertuju pada Jeno.


Ternyata Jeno juga tengah menatapnya dan seolah memberitaunya sesuatu yang Sela tidak mengerti itu.


Jeno tampaknya paham kalau Sela mencoba membacanya, jadi lelaki itu memperjelas gerakan di kakinya.


'Apa..?? Apa yang coba jeno katakan??' Batin Sela.


'Posisi itu... posisi itu...'


Posisi yang Jeno tunjukkan membuat Sela teringat akan posisi Taekwondo yang Jeno ajarkan padanya. Gadis itu mengerti. Jeno menyuruhnya membanting biadab ini. Tapi bagaimana dia melakukannya sementara ujung belati ini menancap di permukaan kulitnya??


Sela menunggu,


sangat menunggu momen dimana Taeyang menjadi lengah. Gadis itu jadi terpikir ide gila untuk mengalihkan perhatian Taeyang.


"Baik, aku akan menyerahkan diriku padamu. Mari kita bersenang-senang di neraka..." Sela berkata dengan yakin meski suara gemetarnya sangat kentara.


Sela meraih pipi Taeyang dengan tangannya yang gemetar, lalu perlahan mendaratkan ciumannya di rahang tegas lelaki itu. Taeyang menyeringai, dia menanggapi bahasa tubuh Sela dan meladeni ciuman gadis itu.


Tangannya melemah seiring dengan bibirnya yang menyentuh bibir Sela. Sebuah ******* berhasil membasahi bibir kering Sela yang sedikit berdarah dan saat itu tiba Sela bergerak.


Dia membanting tubuh Taeyang ke lantai lalu berlari ke arah Jeno.


Mark dan Haechan memberondongnya dengan tembakan hingga Taeyang terkapar. Sementara Jeno diam di belakang, menyembunyikan tubuh Sela di belakang tubuhnya dan membiarkan gadis itu memeluknya dari belakang.


Jeno mengatur nafasnya, ketegangan membuat ritme nafasnya memburu tapi perlahan dia bisa merasa relax ketika tubuh Taeyang tak lagi bergerak. Jeno kemudian berbalik dan memeluk Sela.


"Kau mau membuatku terkena serangan jantung hmm? Bagaimana  bisa kau mencium pria lain di depan tunanganmu?"


"Aku hanya mencintaimu Lee Jeno." Pernyataan Sela terdengar seperti rayuan. Gadis itu membalas pelukan Jeno dengan sangat erat.

__ADS_1


Jeno mendadak tersenyum mendengar pengakuan itu. Dia membuang senjatanya dan  memberikan gadis itu ciuman beruntun.


Bersambung ...


__ADS_2