Serendipity Next Door {Lee Jeno}

Serendipity Next Door {Lee Jeno}
Past Splash


__ADS_3

Autopsi hari ini terasa sangat berat untuk Sela. Bukan hanya Sela, bahkan Taeyong, Yuka dan duo anak koas Jisung dan Chenle.


Ke-5 orang itu tampak emosional setelah keluar dari ruang autopsi.


Seorang mayat bayi prematur datang ke ruang autopsi pagi ini. Bayi mungil itu tidak datang dalam keadaan utuh. Kepalanya nyaris putus, pergelangan kakinya patah, dan satu tangannya hilang. Tidak hanya itu saja, Sela juga menemukan jarum suntik bekas yang terjebak di tenggorokan bayi, juga pecahan kaca yang ada di anus.


Ini terlalu kejam. Sela tidak bisa membayangkan hal buruk apa yang terjadi pada bayi tak berdosa itu dan dia terlihat menangis saat memberi keterangannya pada Jeno.


"Aku tidak habis pikir ada manusia sekejam itu."


Jeno sangat paham perasaan Sela. Bahkan dia yang tidak mengikuti jalannya autopsi saja merasa ngeri.


Jeno tidak bisa bicara apapun dan hanya memeluk Sela untuk menenangkan gadis itu.


"Kita akan mencari orang kejam itu secepatnya. Dan memberikan anak itu keadilan."


Sela masih juga menangis ketika Jeno akan pergi. Jaemin sudah menunggunya di lobby untuk kembali ke kantor polisi. Ini membuat Jeno tidak tega untuk meninggalkan gadis itu.


"Jangan nangis, aku jadi ngga tega mau pergi."


"Kalau begitu jangan pergi." Rengek Sela.


"Besok deh... aku sekolah kedokteran dulu biar bisa kerja sama kamu."


Sela melepas pelukan Jeno dan merengut saat menatapnya.


"Aku pergi ya?" Tangan Jeno terulur untuk menghapus air mata Sela dan merapikan rambut depan gadis itu.


"Cium dulu."


Jeno melotot. Dia melirik ke kanan dan kekiri lalu menjawab,


"Ini di tempat umum Sel."


"Emangnya kenapa?"


"Ada banyak orang " Jeno menunjuk ke arah pos perawat yang ada di persimpangan.


Ada 6 orang perawat yang berjaga dan mereka semua tengah menatap adegan mesra antara Jeno dan Sela.


" Biar saja. Biar mereka ngga ada yang godain kamu lagi."


"Nanti saja di rumah ya."


Dua sudut bibir Sela turun ke bawah. Gadis itu menurut dan bergerak selangkah kebelakang.


Jeno tersenyum manis  sebelum benar-benar pergi dengan Jaemin sementara Sela masih berdiri di depan ruang autopsi untuk menunggu Yuka selesai membersihkan diri.


"Jaemin dan Jeno sudah pergi?" Yuka melepas gelungan rambutnya dan menatap Sela.


"Sudah baru saja."


"Kalian sudah jadian?"

__ADS_1


Sela mengangguk.


"Kami sudah bertunangan."


Keduanya berjalan lambat menuju cafetaria. Berhadapan dengan mayat setiap hari tak membuat nafsu makan keduanya hilang. Bahkan Sela pernah menemui kondisi mayat yang lebih parah dari mayat bayi tadi. Jadi dia sudah terbiasa.


"Wow.. Jeno bergerak cepat yah.."


Sela hanya meringis dengan canggung. Seandainya saja Yuka tau kalau mereka di paksa bertunangan karena kepergok berbuat mesum di mobil.


Ow... Mau di taruh mana wajah Sela nanti.


"Bagaimana dengan Jaemin?"


Yuka langsung cemberut begitu Sela menanyakannya.


"Yahh seperti biasa, dia selalu sibuk."


"Dia bukan tipe romantis ?"


Yuka menggeleng.


"Tapi Jaemin orangnya sangat sabar, dia jarang marah."


Kalau dipikir-pikir Jeno juga lumayan sabar. Bahkan ketika Sela menggoda hasratnya pun lelaki itu tetap sabar dan tidak terpancing.


"Masih bisa makan setelah yang tadi ya???"


"Sudah biasa." Jawab Yuka.


Ketiga orang itu sampai di depan meja makanan dan mengambil menu makan siang secara prasmanan. Sela memilih nasi dan ayam goreng untuk menunya, juga beberapa salad dan kimchi sebagai sandingan.


Mereka bertiga duduk di satu meja lalu beberapa saat kemudian Chenle dan Jisung turut bergabung.


Pandangan Sela pada Taeyong masih menyisakan kewaspadaan. Entah kenapa dia merasakan trauma yang mendalam saat menatap wajah Taeyong.


Setelah insiden penyekapan itu, Taeyong dirawat selama seminggu. Dan ini adalah hari pertamanya bekerja setelah cuti. Lebam di dagu nya masih samar, dan juga bekas tusukan di pergelangan tangan Taeyong masih di perban tapi pria itu sudah memaksakan diri untuk bekerja.


"Ada hal yang ingin aku bicarakan. " Kata Taeyong.


"Tentang apa?" Sela menatap Taeyong.


"Mayat bayi tadi. "


Gadis itu mengangguk sembari menggigit paha ayam krispi favoritnya.


"Katakan saja. Kami akan tetap makan dengan baik meski pembahasannya menjijikkan." Sambung Chenle.


"Pelaku tidak hanya seorang perokok, tapi juga pengguna narkoba."


"Jarum suntik itu??" Sela sudah menduga itu sebelumnya.


Di dunia ini hanya ada 3 jenis orang yang berhubungan dengan jarum suntik, yaitu tenaga medis, seorang teknisi printer dan juga pecandu narkoba.

__ADS_1


Opsi ketiga adalah kemungkinan terkuat yang sudah Sela tebak sebelumnya.


"Ya. Ada jejak morfin yang mengkontaminasi jarum suntik itu."


"Dia pasti bukan orang biasa, tidak mudah mendapatkan morfin di Korea." Jisung menghunuskan garpunya ketika berkomentar.


Tatapan kelima orang itu tampak serius meskipun mulut mereka sibuk mengunyah.


" Aku akan memberitahu Jeno tentang ini. "


🌱🌱🌱🌱


Jeno ingkar janji, dia bilang akan menjemput Sela saat pulang tapi lelaki itu menelepon setengah jam yang lalu untuk memberitahu Sela kalau dia belum selesai kerja. Jeno sedang mengintai seseorang di luar Seoul.


Yah... Mau bagaimana lagi, Sela tidak bisa cemburu pada tugas negara lelaki itu.


Gadis itu berjalan seorang diri keluar rumah sakit meski ini sudah jam 9 malam.


Karena Jeno belum pulang kerja, Sela memutuskan untuk pulang ke rumahnya sendiri. Dia menaiki bus umum dengan rute yang sudah dia hafal.


Di jam selarut ini pun penumpang bus masih saja padat. Sela bahkan tidak mendapat tempat duduk dan terpaksa berdiri.


Di pemberhentian pertama Sela belum merasakan ada keanehan, tapi untuk rute berikutnya Sela mulai merasa janggal. Seorang pria yang berdiri di belakangnya terus mendesaknya. Dia menempelkan tubuhnya di punggung Sela bahkan hingga organ vitalnya menyentuh bokong Sela.


Saat Sela menoleh untuk memprotes, pria itu menempelkan sebuah pisau lipat di punggung Sela dan membuat gadis itu tidak berkutik. Sialnya dia masturbasi dan memakai tubuh Sela sebagai objeknya.


Sela kesal, dia ingin marah tapi ujung pisau yang menempel di punggungnya membuat nyalinya ciut. Di tambah kondisi bus yang padat membuat gadis itu kesulitan menghindar.


'Sial, aku harus apa? '


Pria itu semakin menggila dengan menekan-nekan miliknya ke tubuh Sela.


'Demi Tuhan ini menjijikkan.'


Sela semakin terdesak dengan posisi yang merugikan dirinya. Mengalami pelecahan di tempat umum juga bukan sesuatu yang bisa dia tolerir.


Namun suasana di dalam bus mendadak memanas ketika seseorang memergoki pria itu dan memukulnya hingga tersungkur.


Orang-orang yang melihat itu sedikit menyingkir hingga pria tadi jatuh ke lantai bus. Mereka bertanya-tanya tentang apa yang terjadi.


"Kamu ngga apa-apa kan? " Tanya seorang lelaki yang memukul pria itu.



Lelaki itu memiliki postur tinggi dan mengenakan masker. Tatapan matanya sungguh tidak asing bagi Sela.


Gadis itu menatap lamat-lamat lalu berujar dengan ragu,


" Lucas ???"


"Loh... Sela ??"


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2