Serendipity Next Door {Lee Jeno}

Serendipity Next Door {Lee Jeno}
Perasaan Yang Tulus


__ADS_3

"Jen..."


Dia melamun, bahkan panggilan Jaemin pun tak terdengar di telinganya.


"JENO !!" Teriak Jaemin sekali lagi dan itu berhasil menyadarkan lelaki bermarga Lee itu.


Jeno menatap Jaemin dengan wajah bodohnya seolah bertanya ada apa.


"Urusan hati itu bisa di pikirkan nanti, sekarang kita jalanin misi dulu." Kata Jaemin.


Lelaki itu memang paling memahami Jeno. Bahkan tanpa Jeno bicara pun Jaemin sangat tau kondisi hatinya.


"Sorry."


"Kita di kepung." Kata Haechan.


Bukankah ini terbalik?


Harusnya pihak kepolisian yang mengepung dan bukan malah sebaliknya.


Lucas membawa beberapa orang penembak jitu dan anak buahnya lumayan banyak. Ini di luar dugaan. Bisa dibilang Jeno dan tim nya terlalu gegabah melakukan penyerapan.


"Jen, kau ke rooftop sekarang, biar aku,Haechan dan Jaemin yang menahan mereka. "


"Cuma bertiga? Mustahil, bahkan rompi anti peluru pun memiliki kapasitas." Jeno mematahkan argumen Mark.


Mereka yang berpikir Lucas pergi sendirian sama sekali tidak memprediksi keadaan ini. Lelaki itu memiliki  komplotan  yang tidak sedikit rupanya.


"Jangan banyak berpikir, kau mau dia membawa Sela?"


Jeno akhirnya bergerak, dia keluar dari persembunyiannya dan hendak mencapai lift tapi suara tembakan lagi-lagi  membuat langkahnya terhenti. Peluru itu hampir mengenai pundaknya jika saja Jeno tidak sigap.


"Sial." Dia mengumpat kesal. Sekali lagi dia harus bersembunyi di balik konter minuman yang sudah di tinggalkan penjaganya.


Haechan, Mark dan Jaemin yang bersembunyi di balik dinding toilet itu pun saling berbalas tembakan dengan anak buah Lucas bahkan Jaemin sudah kehabisan peluru. Pengunjung Mall sudah berhamburan keluar ketika dentuman senjata itu mulai beradu.


Beruntung para penjahat ini tidak berniat mencelakai warga sipil. Jadi bisa di pastikan tidak akan ada korban lain selain dari tim mereka sendiri atau mungkin tim kepolisian.


"Jeno sudah di lift?" Tanya Mark dengan nafas gusar.


Jaemin menoleh kebelakang. Melihat bayangan Jeno yang bersembunyi di belakang stand.


"Belum. Kita tidak bisa bergerak."


"Sudah telepon bantuan?" Mark kembali menoleh pada Jemin.

__ADS_1


"Ponsel kita di sadap."


"Menyerahlah dan biarkan bos kami lewat maka tidak akan ada pertumpahan darah."


Salah seorang dari tim penembak Jitu Lucas bersuara.


"Melepaskannya?? " mark berusaha tertawa sarkastik tapi entah kenapa malah terdengar jenaka di telinga Haechan dan membuat lelaki tan itu ikut tertawa geli.


"Kalian pikir kami sebaik itu melepaskan seekor pembunuh?"


"Seorang  bang." Celetuk Haechan yang membuahkan satu geplakan hangat dari tangan berotot Jaemin.


"Bercanda mulu ya heran deh. Ga tau apa malaikat maut lagi jadi juri disini sekarang."  Jaemin memelototi Haechan yang masih tertawa.


"Kalau memang begitu, tidak ada jalan lain. Tembak mereka...  "


Doorrrr....door..


Rasanya sia-sia Haechan bersembunyi karena tidak ada satupun peluru yang mengarah ke tubuhnya?


Apa ini meleset?


Mereka amatiran ya?


"Renjun???" Keempat orang itu memekik bersamaan.


Renjun nyatanya memiliki pemikiran yang lebih matang dari teman-temannya. Lelaki berwajah manis itu membawa banyak pasukan hingga tim kepolisian berhasil membalikkan keadaan.


"Jen..  sekarang." Teriak mark.


Jeno tak memiliki kesabaran lebih untuk berlari ke arah lift dan menungu pintu lift terbuka. Lelaki itu langsung saja berlari menuju tangga darurat dan berlari ke lantai tertinggi gedung ini.


Pintu rooftopnya terkunci. Jeno tau itu pasti ulah lucas. Namun pintu ringkih itu sama sekali bukan apa-apa bagi Jeno. Lelaki itu berhasil merubuhkan pintunya hanya dalam sekali tendangan.


Brraaaaakkkk....



Dengan nafas tersengal Jeno berjalan perlahan. Aura dinginnya begitu terasa, Jeno terlihat seperti predator yang baru menemukan mangsanya.


Lucas sedang berusaha menarik Sela naik ke atas helikopter saat Jeno datang. Dan Jeno bisa melihat Sela yang kesulitan melawan.


"JENOOO !!!!"  Teriak Sela begitu dia melihat Jeno datang.


"Ga ada waktu lagi." Lucas bergumam.

__ADS_1


Lelaki itu menoleh pada pilot yang duduk di belakang kemudi.


"Cepat jalan. " kata Lucas.


Pilot itu mengangguk patuh. Helikopter pun perlahan naik ke atas dengan setengah tubuh Lucas yang berada di luar dan memegangi tangan Sela yang bergelantungan di kaki helikopter.


"LUCAS KAU GILA??"


"Salah sendiri ga mau nurut." Kata Lucas.


Lelaki itu tidak bisa melepaskan Sela sekarang. Gadis itulah yang memutuskan mengikutinya tadi jadi Lucas akan membuat Sela mengikutinya sampai akhir apapun yang terjadi.


"LEPASKAN DIA !!!" Jeno berteriak dari bawah. Dia sudah bersiap menembakkan senjata laras panjangnya.


"Tembak saja kalau kau berani. Jika aku celaka, Sela juga akan celaka." Lucas tertawa menang. Dia memberi isyarat pada co-pilot untuk menurunkan ketinggiannya.


Sementara Jeno terus menggeram. Lelaki itu fokus membidik mesin helikopter itu. Sekali tembakan saja dia bisa membuat burung besi itu meledak dan berubah menjadi puing-puing.


Tapi ini tidaklah mudah. Sela masih disana,terlalu bahaya bagi Jeno melakukan itu.


Lelaki itu kini dilanda kebingungan luar biasa. Helikopter Lucas masih bergerak meski lambat dan tak memberi Jeno waktu yang lama untuk berpikir.


"Jen.." Sela bergumam. Menatap mata tajam Jeno dari ketinggian.


Apakah hidupnya akan segera berakhir sekarang?


Gadis itu kembali menatap ke atas, ke arah Lucas yang kini menunjukkan wajah bengisnya.


Lengan sela terasa sangat nyeri bahkan gadis itu merasakan otot-ototnya seperti akan robek.


"Lucas..." tatapan memohonnya adalah satu-satunya cara untuk meminta belas kasihan dari lelaki itu agar melepaskannya.


Namun itu tidak berakhir mudah untuk Lucas. Di satu sisi dia tidak bisa melepaskan Sela di daratan. Dia juga tidak setega itu menjatuhkan satu-satunya gadis yang sangat dia cintai.


Tapi di sisi lain, Jeno tampaknya tidak main-main. Sorot matanya mengancam. Lelaki itu bisa saja melepaskan tembakan dan membuat helikopternya meledak.


Lucas menunduk sekali lagi. Tidak ada kata apapun yang terucap baik itu dari mulutnya ataupun dari mulut Jeno. Hanya tatapan tajamlah yang seolah tengah bernegosiasi di tengah deru angin yang berputar di atas baling-baling.


Persis seperti dugaan Lucas. Jeno memang tidak main-main. Lelaki itu benar-benar melepaskan tembakannya ke arah helikopternya yang dalam hitungan detik akan segera meledak.


"Sel ... Aku cuma mau kau tau, aku benar-benar tulus mencintaimu. Selamat tinggal. "


Itu adalah kata-kata terakhir yang Lucas ucapkan dengan senyuman manisnya sebelum dia melepaskan pegangannya dari tangan Sela dan membiarkan gadis itu jatuh.


"LUCASSSS !!!"

__ADS_1


BOOOOOM....


BERSAMBUNG.....


__ADS_2