
Sela tidak pernah mengira dirinya akan merasa segelisah ini karena mengkhawatirkan seseorang.
Gadis itu berjalan mondar mandir di ruang tamunya dan mendesah beberapa kali dalam 1 menit.
Itu membuat Sungchan jengah. Sejujurnya suara Sela mengganggu konsentrasinya dalam bermain game. Sungchan menekan tombol pause pada joysticknya, lalu menatap Sela.
Dengan tanpa belas kasihan dia mengulurkan kaki panjangnya di tengah alur jalan Sela dan menjegal langkah gadis itu. Sela tersandung tapi tidak sampai jatuh. Detik berikutnya sebuah pukulan bertubi-tubi menghantam punggung Sungchan.
"Bedebah sialan, kembalilah ke asramamu." Umpat Sela dalam nada tinggi.
Sungchan tertawa keras, dan melindungi kepalanya dari amukan gorila betina. Lelaki itu menatap wajah kesal Sela yang memerah seolah ada asap imajiner yang mengepul dari kedua telinganya.
"Lagian, kenapa kau begitu gelisah. Lee Jeno itu kan punya 9 nyawa, jadi tenang saja."
"Kau pikir dia kucing ?"
Sungchan tergelak. Dia memegangi perutnya ketika tertawa terbahak-bahak. Sela benar-benar jengah ketika menatapnya. Gadis itu pada akhirnya menyerah setelah 4 jam menunggu Jeno lalu memilih pergi ke kamarnya.
******
Satu jam menjelang tengah malam Jeno datang. Dia merasa tidak enak harus bertamu di waktu yang sangat larut. Tapi dia juga tidak bisa mengingkari janjinya pada Sela.
"Oh.. Jeno.. " Krystal mempersilahkannya untuk masuk.
"Sela mungkin sudah tidur."
Bahu Jeno langsung merosot, dia yang awalnya sangat bersemangat karena akan bertemu Sela kini kehilangan semangatnya.
Sela mungkin akan marah padanya, gadis itu juga mungkin sudah menunggunya sejak sore. Tapi karena pekerjaan Jeno yang belum selesai, dia tidak bisa menemui Sela lebih cepat.
"Kalau begitu.. mmm.. aku akan datang lagi besok."
Krystal menggeleng,
"Kenapa harus pulang? Ini sudah larut, menginap saja disini." Kata Krystal.
Jeno menggaruk belakang kepalanya dengan wajah polos. Sebenarnya dia juga ingin menginap tapi dia merasa canggung terutama karena dia dan Sela baru bertunangan, belum menikah.
"Tapi..."
"Sela akan kecewa kalau kamu pulang. Sana naiklah, Sela tidak pernah mengunci kamarnya." Krystal tersenyum lalu mendorong punggung Jeno ke arah tangga.
Sebenarnya ini bukan pertama kalinya Jeno tidur dengan Sela, tapi dia benar-benar belum terbiasa. Sebelumnya juga Jeno terjaga semalaman dan hanya menunggui Sela tidur karena dia terlalu tegang.
__ADS_1
Jeno memutar kenop pintu kamar Sela dengan sangat perlahan, dan berjalan mengendap-endap persis seperti saat ia sedang mengintai musuh.
Namun usahanya itu tampak sia-sia. Sela tidak tidur, dia tidak ada di ranjangnya. Jeno menatap ke sekitar untuk mencarinya bahkan menengok ke kamar mandi untuk memastikan keberadaannya.
Langkahnya terhenti ketika melihat sosok tubuh dengan pakaian terbuka yang tengah berdiri di balkon.
"Kenapa di luar malam-malam? Tidak dingin?" Jeno menghampirinya.
"Jeno? Akhirnya kau datang."
"Maaf." Jeno menatapnya penuh penyesalan lalu berjalan ke arah Sela.
"Iya."
Hawa dingin ini mulai terasa menusuk ketika angin malam berhembus. Sela mengenakan baju tidur yang cukup tipis dan tanpa lengan, itu membuat bulu-bulu di lengannya meremang ketika di terpa angin.
Sela menoleh kesamping. Melihat Jeno yang berdiri sejajar dengannya di pagar balkon. Lelaki itu masih mengenakan jaketnya. Sialnya Jeno benar-benar tidak peka.
Sela pernah mendambakan memiliki pacar seseorang yang romantis seperti yang ada di dalam drama. Tidak muluk-muluk, hal sesederhana seperti memakaikan jaket di pundaknya itu sudah akan membuatnya tersipu. Sayangnya Jeno tidak begitu. Dia sangat kaku dan tidak tau apa-apa soal hal romantis.
"Jen... dingin..."
Jeno yang awalnya menatap lurus kedepan kini mulai menatapnya.
Sial. Bukan ini yang Sela inginkan. Sela pikir Jeno hanya tidak peka tapi ternyata Jeno itu memang bodoh.
"Ga romantis ih.. " Sela mendengus.
Kalau bukan Sela yang bertindak agresif maka Jeno tidak akan pernah mengerti. Gadis itu merapat ke arah Jeno lalu menunduk melewati bawah lengannya agar ia bisa berdiri di depan Jeno. Kedua tangan Jeno masih memegang pinggiran pagar hingga membuat posisinya kini seperti memeluk Sela dari belakang.
"Mau peluk? Kenapa pakai kode segala Aku kan ga paham." Wajah Jeno kini terlihat sangat menyebalkan. Tapi Sela mengurungkan niatnya untuk membalas argumen Jeno karena merasakan Jeno yang mencium puncak kepalanya.
Lelaki itu mulai mengeratkan pelukannya dan mendekap tubuh sela agar lebih merapat ke dadanya.
"Bagaimana dengan Lee Taeyong?"
Itu adalah hal yang membuat Sela sangat penasaran. Dia memikirkan bagaimana keadaan lelaki itu dan apa hubungan dia dengan Taeyang.
"Dia disekap di basement rumahnya. "
"Lalu Taeyang?"
"Dia adalah saudara kembar Lee Taeyong yang dipenjara 10 tahun lalu karena kasus pembunuhan. Tahun ini adalah kebebasannya dan Taeyong tidak tau kalau saudaranya telah bebas dari penjara."
__ADS_1
"Apa Taeyong baik-baik saja???"
Untuk pertanyaan Sela yang terakhir, Jeno tidak ingin menjawabnya. Dia memilih diam dan itu membuat Sela memprotesnya.
"Jeno.."
"Ga bisa ya kamu ga bahas pria lain saat sedang bersamaku?"
Senyuman Sela perlahan terkembang. Jeno cemburu ternyata, dan itu membuatnya senang. Sela berbalik menghadap Jeno, dan memperhatikan bibir lelaki itu yang terkatup rapat.
"Kamu cemburu?" Harusnya Sela sudah tau jawabannya dan tidak perlu bertanya, tapi mengkonfirmasi ini secara langsung dan membuat Jeno mengakuinya akan memberikan kepuasan tersendiri untuk Sela.
Jeno tetap diam, memandang wajah Sela yang sedikit bersemu. Lalu menatap mata Sela yang memberikan sorot penuh harap padanya, tatapan Jeno berakhir pada bibir peach Sela yang begitu ia rindukan.
Hanya sebatas kata pengakuan kalau dia cemburu mungkin sudah lebih dari cukup untuk membuat Sela senang, tapi Lee Jeno lebih memilih untuk memberikan jawabannya melalui sebuah kecupan singkat di bibir Sela.
Sebuah kecupan yang akhirnya menggoda Sela untuk membalasnya dengan kecupan lagi, lagi, dan lagi kemudian berakhir dengan *******-******* kecil yang menggoda.
Jeno cukup bisa mengendalikan dirinya hari ini, tapi tidak dengan Sela. Gadis itu mulai mengalungkan kedua tangannya di leher Jeno lalu mulai balas mencumbunya dengan posesif. Bahkan Jeno harus menahan tubuh gadis itu ketika dia mulai bertindak agresif.
Sela tampak kecewa ketika Jeno mengakhiri ciuman mereka.
Tapi Sela belum menyerah. Dia kembali menarik leher Jeno semakin mendekat dan menciumnya lagi. Tangan Sela mulai turun meraba-raba dada Jeno dengan nakal, dan melepaskan satu persatu kancingnya.
Jeno yang baru tersadar berusaha mencekal tangan Sela.
"S-Sel..." Nafas Jeno yang memburu membuat lidahnya tidak bisa berkata dengan benar. Jeno menatap sorot mata Sela yang berkabut lalu dia melepaskan genggamannya pada kedua tangan Sela.
"Hmm?? Kenapa? Kita sudah dewasa."
Sela kembali mengusap-usap dada Jeno hingga lelaki itu refleks terpejam dengan menggigit bibir bawahnya.
"Jangan.."
"Ayolah Jeno.. ini tidak akan sakit."
Sela menyeringai, lalu mendorong tubuh Jeno untuk masuk kembali ke kamarnya.
"Sela... jangan...mmmh..."
Bersambung....
__ADS_1