Serendipity Next Door {Lee Jeno}

Serendipity Next Door {Lee Jeno}
END


__ADS_3

Seorang gadis manis meletakkan selembar kertas pemberitahuan di atas meja makan. Gadis itu naik ke atas kursi dan menatap punggung ibunya yang sedang mencuci piring.


"Mama."


Wanita itu menoleh dan tersenyum.


"Jena sudah pulang, mau makan ??" Sela menghampiri putri semata wayangnya. Tatapannya jatuh pada lembaran yang ditinggalkan Jena di atas meja. Dia sempat mengelap tangannya dulu sebelum mengambil benda itu.


"Nanti saja, Jena belum lapar." Gadis itu menyangga pipi gembulnya dengan kedua tangan. Tatapannya berbinar, menunggu tanggapan Sela.


"Jena ada pertandingan Minggu depan mah."


"Taekwondo lagi?? Luka lebam di pahamu saja belum hilang Jena. Kamu yakin tidak mau berhenti saja dari taekwondo?" Sela duduk dan menatap putrinya dengan lembut. Gadis kecil itu menggeleng.


"Jena suka taekwondo."


" Tapi kan kamu perempuan sayang, apa tidak lebih baik ikut balet saja daripada Taekwondo??"


Jena menggeleng lagi, dia menggerakkan jari telunjuknya kekanan dan kekiri.


"No..no.. Jena ingin kuat seperti papa dan cantik seperti mama."


Sela hanya bisa tersenyum menanggapi putri kecilnya. Putri hasil ketidaksengajaan Lee Jeno itu memang agak lain. Dimana kebanyakan anak perempuan usia 5 tahun lainnya suka bermain boneka tapi Jena malah lebih memilih latihan menembak.


Lalu dia juga menolak saat Sela mencoba mendaftarkannya kursus balet atau piano dan dia lebih memilih Taekwondo. Sebenarnya Sela agak khawatir dengan perkembangan Jena yang terlalu tomboy. Gadis itu juga lebih suka bergaul dengan anak laki-laki daripada perempuan.


Selain itu sifatnya juga sangat mirip dengan Jeno. Suka kekerasan.


"Mah... Papa kapan pulang sih? Sudah 2 bulan papa pergi. " Jena cemberut. Dia menyangga kepalanya dengan satu tangan sementara tangannya yang lain mencoba menggambar pola abstrak di atas meja.


"Papa kan lagi kerja sayang."


"Ya tapi kapan pulang? Jena kan kangen."


Sela menghela nafas. Wanita itu berjalan mendekati putrinya dan mengusap kepala Jena.


"Mama juga kangen, tapi kerjaan papa belum selesai. Kita harus sabar."


Lee Jeno sedang dalam misi yang serius. Seorang buronan negara kabur ke Korea Utara dan Jeno bertugas untuk membawanya kembali ke Korea Selatan. Ini bukan perkara yang mudah, bahkan sebelum pergi Jeno sudah berpesan pada Sela untuk tidak menunggunya kembali. Karena semua orang tau kalau hubungan kedua negara itu sedang panas.


"Jena kan mau papa lihat Jena tanding Minggu depan." Gadis itu menunduk dalam dan menahan tangisnya.

__ADS_1


Jena itu jarang menangis, dia akan selalu berpura-pura kuat. Tapi disaat dia benar-benar tak bisa menahan air matanya itu artinya hati Jena benar-benar sedang terluka.


Sela tidak bisa melakukan apapun selain hanya memeluk putrinya untuk menenangkan gadis itu. Dia sendiri juga tidak bisa menghubungi Jeno karena semua alat komunikasi di sita pihak Korea Utara. Yang bisa Sela lakukan hanyalah mendoakan keselamatan suaminya itu.


...💮💮💮...


Hari dimana Jena bertanding harusnya menjadi hari yang paling berkesan untuk gadis kecil itu. Namun ternyata dia merasakan sebaliknya. Seseorang yang spesial baginya tidak datang. Jena terus murung sejak pagi sampai dia masuk ke stadium.


Sela sempat menguatkan putrinya itu sebelum dia pergi ke kursi penonton. Satu kursi kosong di sampingnya adalah milik Jeno. Sela sendiri terus menghela nafas ketika menatap kursi kosong di sampingnya.


Pertandingan di mulai sudah lebih dari setengah jam, dan Jena berhasil mengalahkan beberapa lawan hingga masuk ke final. Sayangnya pancaran kegembiraan itu sama sekali tak terpatri di wajah manisnya.


Sela hanya bisa memberinya senyuman. Berharap kehadirannya bisa mengobati kekecewaan Jena. Sela sedikit melamun saat jeda pertandingan berlangsung, dan saat itu pula dia menyadari ada seseorang yang baru masuk ke tribun dan menduduki kursi milik Jeno. Sela berinisiatif untuk menegurnya.


"Maaf, kursi ini sudah di pesan."


Seorang pria dengan pakaian serba hitam dan mengenakan masker itu menoleh. Dia berkata dalam nada rendah.


"Iya aku tau, kursi ini milikku kan??"


Suara itu...


Sela mengenalinya. Wanita itu membulatkan matanya dan mengamati lamat-lamat wajah pria di hadapannya.


"Jeno???" Sela masih terkejut. Dia menutup mulutnya yang menganga dan itu membuat Jeno gemas. Jika saja bukan di tempat umum mungkin Jeno sudah mencium Sela sekarang.


"Iya aku Jeno, suamimu yang paling..paling.. tampan."


"Kapan kamu kembali?"


Jeno melirik jam tangannya.


"Sekitar 21 menit yang lalu."


Sela tidak mengatakan apapun setelah itu dan hanya terpaku menatap wajah Jeno yang tidak pernah gagal membuatnya terpesona. Rambut lelaki itu sudah bertambah panjang, dan jenggot tipis yang menghiasi wajahnya sungguh membuat Sela pangling.


"Kenapa? Masih tidak percaya kalau aku disini??"


Sela mengangguk. Bola matanya berkilauan karena air mata. Wanita itu menghambur ke pelukan Jeno.


"Maaf baru bisa pulang. Itu pun kalau bukan karena papa kamu aku tidak akan disini sekarang."

__ADS_1


"Papa?"


Jeno mengangguk. Dia melepaskan pelukannya dan mengusap rambut Sela dengan tangan besarnya.


"Iya, dia komandan yang menjaga perbatasan. Kau tidak tau?"


Sela menggeleng. Yunho tidak pernah mengatakan apapun padanya. Sela bisa memaklumi itu karena sebagian besar tugas tentara itu sangat rahasia.


"Hey, bukankah itu malaikat kecil kita?" Jeno menunjuk ke tengah stadium. Jena sudah bersiap akan bertanding lagi.


"Iya. Dia kuat dan berani kayak papa nya." Gumam Sela. Wanita itu tersenyum bangga menatap putrinya.


"Dan cantik seperti mamanya." Jeno melirik Sela dengan senyuman manis yang amat sangat Sela rindukan.


Dan ketika mata lelaki itu kembali ke tengah stadium, tatapannya bertemu dengan milik Jena. Gadis kecil itu tak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Jena melambai dengan wajah sumringah ke arah Jeno.


"Bukankah dia lucu ??" Jeno berbisik pada Sela dan membalas lambaian tangan Jena.


"Iya lah, dia kan putriku."


"Sel.." Jeno mendekat ke arah Sela dan menunggu respon istrinya.


"Hm??"


"Mau bikin satu lagi yang seperti itu ?"


"Aishh..."


Jeno terkekeh atas respon penolakan yang di buat Sela. Tapi Jeno masih belum mau menyerah menggoda istrinya.


"Ayolah.. biar Jena tidak kesepian di rumah."


"Aku maunya laki-laki." Sela berkata sangat pelan dengan pandangan teralih. Wajahnya juga sedikit merona.


Merasa mendapat lampu hijau Jeno duduk semakin rapat ke arah Sela dan merengkuh pinggang wanita itu.


"Boleh, nanti aku bikinin laki-laki yang tampan sepertiku."


Sela membuang mukanya dan menyembunyikan senyumannya.


"Duh.. jadi pingin cepat pulang."

__ADS_1


"Aish.. maunya."



__ADS_2