
"**Bagaimana hasil tes DNA nya??" Mark menatap Haechan yang baru saja tiba. Lelaki itu baru saja ke rumah sakit untuk mengambil hasil autopsi.
"Cocok. Bayi itu adalah anaknya." Dahi Haechan berkerut. Tatapannya berubah miris.
"Wanita itu di siksa sebelum bayinya di ambil paksa. Lehernya di jerat diduga hanya untuk menggertaknya, lalu ada beberapa jarum suntik yang tertanam di bawah kulitnya. "
"Sudah tes jarumnya ??"
"Ya, ada serpihan kulit yang terjebak di dalam, dan itu milik pelaku. Selain itu dia pecandu morfin."
"Waaaahhh ini luar biasa.." Jeno mendesah. Dia membalik lembaran hasil autopsi dengan wajah tak percaya.
"... Tulang leher dan rusuk patah, tulang panggul retak, robekan rahim dan ****** hingga anus, kulit paha melepuh, jarum suntik di bawah kulit, memar di perut dan punggung, cidera abdomen... Dia benar-benar sadis."
Jaemin merebut laporan itu dari tangan Jeno. Lelaki itu memeriksa ulang apa yang di katakan Jeno lalu berdecak.
"Dia pasti pecandu berat."
"Kebetulan aku dapat laporan dari Renjun, ada pengiriman morfin dalam jumlah besar ke Korea dan berhasil tertangkap devisi obat terlarang." Kata Mark.
"Pelakunya?" Jeno menatapnya serius.
"Kurir masih diinterogasi, sampai saat ini kita masih mengantongi informasi pemasok. Barang berasal dari Hongkong."
Jaemin memutar bolpoin di tangannya dengan wajah berpikir.
__ADS_1
"Haruskah kita ke kantor Renjun? "
"Bukan ide yang buruk." Jawab Haechan. Lelaki itu sudah berdiri lebih dulu untuk menuju ke ruang divisi obat terlarang.
🌱🌱🌱
"Kalian datang?" Renjun menyapa keempat rekannya tanpa senyuman.
Mereka kini berada di ruang pengawas interogasi dengan dinding kaca satu arah sebagai pembatasnya.
"Apa dia mengaku?"
"Awalnya tidak."
"Lalu??" Jeno menatap lekat seorang pria paruh baya dengan pakaian lusuh dan wajah kotor. Pria itu sudah babak belur sekarang.
"... Yang dia tau ini perintah seseorang dari Inggris. Orang itu baru masuk ke Korea dan menginginkan barangnya yang tertinggal di Hongkong."
"Barang yang tertinggal?" Dua alis Mark saling bertemu.
"Maksudnya dia punya semacam gudang atau...." Haechan menggantung kalimatnya.
"Ya. Orang itu bandar besar di Hongkong. Dia lama tinggal di Inggris dan tidak bisa membawa serta morfin dalam jumlah besar ke Inggris. Akhirnya dia menyimpannya di Hongkong. " Jelas Renjun.
"Aku sudah menyuruh orangku memeriksa cctv bandara. " Renjun menunduk untuk menyalakan komputer di hadapannya. Lelaki itu menarik kursi dan duduk disana.
__ADS_1
Sebuah rekaman cctv hitam putih keluar dari sana. Renjun melakukan zoom lalu mencocokkan ciri fisiknya dengan data penumpang yang dia curigai.
Jeno adalah satu-satunya orang yang shock melihat orang itu. Dia melotot dengan mulut menganga.
"Di-dia... Dia... Aku tau dia.."
Ke empat rekannya itu menoleh pada Jeno.
" Kau tau ?"
"Ya, dia mantan pacar Sela di Inggris."
"Aku sudah punya firasat tapi ini baru dugaanku saja. "Jelas Renjun.
"Jadi namanya Wong Lucas." Gumam Jeno. Dia tidak terlalu mendengarkan saat Sela mengenalkan Lucas padanya tempo hari.
"Haishhh.. kenapa semua pelaku kriminal ada di sekitar Sela. " Haechan menggeleng dengan kedua tangan bersedekap.
"Iya juga ya." Tambah Mark.
"Kita cari dia sekarang."
Entah kenapa Jeno jadi gusar. Tidak ingin kejadian Lee Taeyang terulang pada Sela. Lelaki itu harus secepatnya mencari Lucas sebelum dia berbuat macam-macam pada Sela.
Meskipun ini baru dugaan, tapi Jeno patut waspada. Karena yang dia hadapi sekarang bukan hanya seorang pecandu morfin tapi juga seorang pembunuh sadis.
__ADS_1
BERSAMBUNG**....