Serendipity Next Door {Lee Jeno}

Serendipity Next Door {Lee Jeno}
Luluh


__ADS_3

Sela tampak lebih menyedihkan dari apa yang Jeno duga. Baginya wanita hamil itu berbeda dengan orang sakit karena kehamilan bukanlah penyakit. Namun yang dia lihat sekarang justru sebaliknya, Sela tampak seperti pasien kanker stadium akhir. Gadis itu sangat kurus dan menyedihkan.


Jeno memang tak langsung menemui Sela setelah mengetahui kalau gadis itu hamil. Dirinya menunggu mentalnya siap untuk menerima Sela kembali dan melupakan segala kemarahannya. Namun saat dia datang mungkin Sela sudah kehilangan harapannya.


Gadis itu duduk seorang diri di taman rumah sakit dengan wajah lesu dan tatapan kosong. Tangannya masih tertancap jarum infus dan dia terlihat sangat menyedihkan.


"Dia tidak mau makan dan terus muntah. Sela mengalami mal nutrisi dan bisa saja mati dehidrasi jika infusnya di cabut, selain itu Janinnya juga tidak berkembang dengan baik karena Sela stress."


Jeno menoleh pada sosok ber-jas putih di sampingnya. Lelaki itu tersenyum dan mengulurkan tangannya.


"Jung Jaehyun, dokter yang menangani Sela." Katanya memperkenalkan diri.


Jeno menjabat tangannya. Tidak ada senyuman apapun yang terpatri di wajahnya selain mimik prihatin dan perasaan bersalah.


"Hal yang paling dibutuhkan oleh ibu hamil adalah dukungan orang yang dia cintai. "


Jaehyun kembali menatap Sela dari kejauhan. Baginya Sela adalah pasiennya yang spesial karena mereka sudah saling kenal cukup lama dan bekerja di rumah sakit yang sama.


Lelaki berlesung pipi itu menepuk bahu Jeno dan kembali berkata.

__ADS_1


"Hampiri dia, dan peluk dia. Katakan kau menyayanginya. Itu adalah satu-satunya cara agar bayinya bertahan hidup. " Jaehyun memutar tubuhnya menatap Jeno.


"Tidak peduli seberapa marahnya kau pada Sela. Gadis itu tetap mau mempertahankan bayimu di dalam tubuhnya dan menolak menggugurkannya meskipun itu akan mengancam nyawanya sendiri."


Jeno menarik nafas panjang. Lelaki itu sedikit tersenyum dan mengenyahkan keraguan dalam dirinya. Dia sempat menatap Jaehyun dan menunduk padanya sebelum menghampiri Sela.


Gadis itu terkejut dengan kehadirannya. Namun dia tak bergeming seolah kehadiran Jeno itu tidak nyata.


Jeno berjongkok di hadapannya dan menggenggam tangan Sela. Punggung tangan gadis itu lebam karena jarum infus.


"Maafkan aku, aku seharusnya tidak membiarkanmu melaluinya sendirian." Kata Jeno.


"J-jen... " Panggilan gadis itu lebih terdengar seperti bisikan. Suaranya serak seperti mau habis.


"Maaf." Gumam Sela.


" Iya. "


Mata Jeno berkaca-kaca. Tangannya terulur untuk mengelus wajah Sela yang sangat tirus dan sedikit keriput. Kantung mata gadis itu juga terlihat menghitam, tampaknya selain stress Sela juga mengalami gangguan tidur.

__ADS_1


"Ayo kembali ke ruanganmu, matahari sudah terlalu tinggi untuk berjemur sekarang." Jeno berdiri di belakang kursi roda Sela dan mendorong gadis itu melalui lorong rumah sakit.


"Sel, temani aku makan ayam ya??"


Melihat senyuman Jeno yang sangat tulus itu membuat Sela mengerutkan dahi. Apa benar itu Lee Jeno?


"Sel... " Jeno memanggilnya lagi karena Sela tidak merespon.


"Kamu ga marah?"


"Ya.. Marah." Jawab Jeno seadanya.


"Tapi aku sudah memaklumi semuanya. Kau sudah memperingatkan ku berulang kali dan menolak ku, tapi aku yang bersikeras untuk bersamamu. Aku anggap ini adalah konsekuensinya." Jeno membuka pintu kamar rawat Sela, lalu kembali mendorong kursi rodanya.


Lelaki itu berjongkok di depan Sela untuk memindahkan tubuh Sela ke atas tempat tidur.


"Jen.."


"Makan yuk. Kita bahas itu kapan-kapan. "

__ADS_1


Sela akhirnya mengangguk. Setelah sekian hari dia menolak makan akhirnya hari ini dia mau makan tanpa paksaan lagi. Semua ini karena Lee Jeno.


Bersambung....


__ADS_2