Serendipity Next Door {Lee Jeno}

Serendipity Next Door {Lee Jeno}
Kekecewaan


__ADS_3

Semuanya terasa hampa, otaknya, tubuhnya, dan juga hatinya kini terasa aneh. Sela seperti berdiri di awang-awang. Berdiam sendirian di tengah ruang gelap yang sunyi.


Secercah cahaya membuat Sela membuka lebar kedua matanya. Menatap bayangan seseorang yang tersenyum manis lalu mengulurkan tangan seolah ingin mengajaknya keluar dari kegelapan itu.


Sela bangkit, bahkan berjalan tanpa ragu mendekati sosok itu.


"Lucas...." Suara Sela menggema, namun semakin dia berteriak bayangan itu semakin menjauh.


"LUCAASSS !!"


Sela mulai berjalan cepat dan perasaan khawatir itu membuatnya mulai berlari untuk mengejar sosok itu, namun langkah kakinya tak membuat jarak di antara mereka menyempit.


"LUCAAASSSS..."


Bayangan tubuh Lucas perlahan menghilang, meninggalkan dirinya seorang diri dalam kegelapan.


Sela jatuh terduduk bersama genangan air matanya yang meleleh di pipinya.


Namun kegelapan itu tak serta-merta membuat Sela ditelan kesunyian. Bersamaan dengan suara langkah kaki yang mendekat gadis itu mulai kembali mengangkat kepalanya.



Jeno berjongkok tepat di hadapannya. Tatapannya begitu sayu dan terlihat teduh. Lelaki itu mengulurkan tangannya pada Sela.


"Lee Jeno...?"


Flashback...


Lucas sudah memperhitungkan ini, Jeno tidak akan membiarkan gadis itu jatuh. Lelaki itu pasti akan mengorbankan tubuhnya untuk menjadi alas pendaratan Sela.


Dan detik berikutnya terasa seperti slow motion.


Dentuman keras bersumber pada helikopter milik Lucas.


Benda terbang itu berubah menjadi gumpalan api yang mengambang di udara, bersama serpihan-serpihannya yang mencuat kemana-mana.


Jeno merentangkan tangannya di bawah. Dia berlari, berusaha menangkap tubuh Sela yang terjun bebas dari ketinggian 10 meter.

__ADS_1


Meskipun tampak mustahil tapi nyatanya Jeno berhasil menangkap tubuh Sela lalu keduanya jatuh dengan keras kebelakang. Hal terakhir yang Jeno rasakan adalah ketika kepalanya membentur lantai beton dan membuatnya tidak sadarkan diri.


...💮💮💮...


Sela terlonjak dan mendadak duduk hingga membuat ranjang pasiennya bergeser. Seorang perawat yang sedang menggantikan infusnya juga ikut terkejut melihatnya.


"Aku akan memanggil dokter, tunggu sebentar." Kata perawat itu sebelum pergi.


Sela mengamati sekitar. Suasana rumah sakit ini memang sangat familiar dengannya, namun suara dengungan ventilator membuatnya sedikit berpikir, apa dia ada di ruang ICU sekarang?


Seseorang yang sangat Sela kenal masuk ke ruangan. Rasa trauma membuat Sela sempat terkejut namun gadis itu berhasil mengendalikan dirinya.


"Dr. Lee Taeyong."


"Yah.. kau tau kan pekerjaanku hanya memeriksa orang mati bukan orang hidup, tapi Dr.Jaehyun yang bertugas memeriksamu sedang pergi makan siang.. jadi... Yah...."


Taeyong tersenyum jenaka, dengan satu tangan yang meraba tengkuknya sendiri. Namun Sela sedang tidak dalam kondisi bisa bercanda. Gadis itu hanya bisa menatapnya dengan segudang pertanyaan yang mengantri untuk dia lontarkan.


"Apa yang terjadi padaku?"


"Benturan di kepala yang mengenai batang otak membuatmu tak sadarkan diri dan koma selama... Mmm... Yah.. 5 hari kurasa." Taeyong menatap ponselnya untuk melihat kalender digital.


Taeyong mengedikkan bahu.


"Dia baik-baik saja, sendi di bahunya sempat bergeser tapi itu sudah bisa di atasi tanpa rawat inap. Benjolan di kepalanya juga tidak parah." Taeyong bersedekap lalu melihat ke arah lain.


"Waaah jika dipikir-pikir... Jeno memang hebat, dia bisa menangkap tubuhmu yang jatuh dari ketinggian 10 meter, itu sungguh luar biasa." Taeyong menggeleng-geleng dengan wajah kagum.


Sela mengangguk. Merasa bersyukur karena lelaki itu tidak mengalami luka serius. Namun masih ada 1 hal yang mengganjal di dalam hatinya.


"Lalu.... Lucas ?"


"Ahh... Kriminal itu?" Taeyong menjeda ucapannya, dia kembali menatap Sela, kali ini dengan wajah serius.


"Jeno menembak helikopternya hingga meledak di udara. Baik dia dan pilotnya sama-sama tidak selamat."


Sela memejamkan matanya rapat-rapat seolah ingin menolak fakta ini. Ternyata mimpinya melihat bayangan Lucas yang tersenyum lalu menghilang ditelan cahaya, itu adalah salam perpisahan dari Lucas untuknya.

__ADS_1


"Tubuhnya hancur menjadi beberapa bagian dan tim forensik harus bekerja keras untuk bisa menyatukannya lagi. Jasadnya sudah dikebumikan 3 hari yang lalu."


Rasa sesak perlahan mulai menjalari hatinya. Gadis itu tidak percaya Lucas harus pergi dengan cara seperti ini.


Lucas masihlah seorang malaikat dimatanya meskipun lelaki itu banyak melakukan kejahatan yang keji. Tapi itu tak membuat Sela lupa akan kebaikan-kebaikan yang pernah Lucas lakukan saat Sela susah.


"Sel.. kamu baik-baik saja?" Taeyong menunduk berusaha melihat perubahan ekspresi Sela.


Gadis itu hanya menggeleng sebagai jawaban,


"Mau kuberi obat tidur ? Anti depresan? Atau.... Pelukan???"


Taeyong terlihat ragu dengan penawaran terakhirnya, tapi melihat Sela yang perlahan terisak  membuat Taeyong memilih opsi ketiga untuk menenangkan gadis itu.


...🌷🌷🌷...


"Kenapa tidak jadi masuk?"


Jeno sedikit terkejut ketika melihat Sungchan yang tiba-tiba ada di belakangnya. Lelaki itu tidak berniat masuk ruang ICU dan hanya ingin melihat keadaan Sela dari jauh.


"Pas orangnya koma kakak datang setiap hari, tapi kenapa pas dia sadar kakak tidak menemuinya?" Sungchan menatap Jeno heran, tapi nada bicaranya justru terdengar seperti menyindir.


"Aku cuma mau memastikan keadaannya saja. " Jeno mendorong pintu ICU agar tertutup lebih rapat. Dia tidak mau Sela mengetahui keberadaannya.


"Kenapa tidak masuk saja dan melihatnya dari dekat?"


Jeno masih menatap lurus kedepan, enggan rasanya beradu tatapan dengan mata Sungchan yang tajam. Lelaki itu kemudian menggeleng lemah.


"Aku pergi dulu..." Kata Jeno. Mengabaikan pertanyaan Sungchan dan berjalan pergi dengan terburu-buru.


"Kenapa???" Sungchan menahannya, sedikit berteriak agar Jeno mau menjawab pertanyaannya.


"Bukannya kakak yang bilang mau membuat kak Sela jatuh cinta? Dan karena dia menunjukkan simpati pada mantan kekasihnya jadi membuatmu menyerah? Lemah!!! "


Jeno tidak menoleh tidak juga ingin beradu argumen dengan Sungchan. Lelaki berwajah tegas itu memilih diam dan melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda.


Tidak peduli orang lain menilainya seperti apa, yang jelas Jeno masih menyimpan kekecewaan pada Sela.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2